You will never walk alone, Bima!

By | March 6, 2015

Jujur saja, ketika tahun kemarin mengikuti lomba blog berseri (sampai 8 seri, satu seri tiap 2 minggu) yang diadakan oleh TBIndonesia khususnya seri ke 5 yang bertema TB HIV, saya sudah hampir putus asa. Tema yang diajukan panitia semakin kesini semakin berat. Kalau saja saya Barbie, kepala saya sudah pusing berkeliling-keliling.

Ditambah saya belum pernah merasakan indahnya kemenangan dari 4 seri sebelumnya. Kesal, sedih, kecewa dan bau jadi satu. Eh, koq bau? Soalnya saat mengerjakan tulisan berseri untuk lomba yang ini, saya seringkali lupa mandi. Biasanya ide datang pas mau masuk kamar mandi. Kalau diteruskan mandi, nanti idenya hilang terbawa sabun.. begitu 😛

Tapi masih ada 4 seri di depan dan saya tidak akan menyerah begitu saja. Tanggung basah, nyebur sekalian. Untuk menghibur diri, jelas saya berharap salah satu dari 4 seri berikutnya bisa saya menangkan.

Akhirnya tulisan tema TB HIV yang diminta panitia selesai juga. Apa yang ada di dalam tulisan tema ke lima itu hanya dialog dan kejadian imajiner sebetulnya. Makanya saya bilang kejadian yang saya ceritakan itu bukan kejadian sinetron… heuheuheu.

Belum lagi tema berikutnya tentang Stigma dan Diskriminasi terhadap TB. Waduh, tanpa pengalaman sendiri rasanya sulit. Perlu waktu berhari-hari menyelesaikan tulisan seri Stigma dan Diskriminasi sampai akhirnya disetor beberapa detik menjelang deadline. Lalu, tulisan seri yang ini menang? Tentu saja tidak… huahahaha…

Selama ini saya tidak pernah membayangkan akan berhadapan langsung dengan pasien TB apalagi TB-HIV. Pun ketika saya memutuskan untuk mengikuti workshop #SahabatJKN #LawanTB selama 3 hari di Bandung kemarin.

Di Klinik DOTS RSHS, saya bertemu seorang ibu dari anak perempuan usia 12 tahunan yang didiagnosis TB otak. Ibu itu bercerita, kalau anaknya terkena TB otak sejak Maret 2014. Sayangnya anaknya itu sudah tidak mau minum obat selama 3 bulan. “Tos putus asa neng, bingung ibu oge, diolo kumaha-kumaha oge meni sesah”.

Belum puas saya mendengar cerita beliau, dokter memanggil anak perempuan itu ke meja konsultasi. Buyarlah tangisan anak itu di sana.

IMG_5585

Pasien TB Otak di Klinik DOTS RSHS, ibunya bilang sudah menyerah… hiks

Ah, ibu… saya mengerti apa yang ibu rasakan. Ketiga anak saya saja tidak ada yang mau minum obat. Seringkali saya merasa jengkel ketika dihadapkan pada kondisi anak-anak harus minum obat dan mereka menolaknya.

Sementara ibu, setiap hari harus memaksa anak perempuan ibu untuk mau minum obat TB. Yup, mau tidak mau pasien TB memang harus minum obat, setiap hari! Selama berbulan-bulan! Bayangkan ketika setiap hari mereka harus meminum obat yang berefek samping macam-macam, mulai dari mual, nyeri sendi, sampai berhalusinasi ada yang mengajak ke suatu tempat untuk bunuh diri! Jenuh, bosan, pastilah dirasakan mereka. Belum lagi stigma dan diskriminasi dari lingkungan sekitar yang menganggap “penyakit” yang diderita mereka adalah penyakit kutukan dan sangat berbahaya. Sampai-sampai mereka harus dikucilkan dan diasingkan. Benar, TB dan juga HIV adalah penyakit yang menular dan berbahaya, bahkan mematikan. Dengan catatan, tidak ditangani dengan tepat.

Tanpa keinginan yang kuat agar mereka bisa sembuh, tanpa dukungan keluarga dan orang-orang di sekeliling mereka, rasanya mustahil mereka bisa melewati setiap tahap pengobatan sampai tuntas.

Di sesi sharing dengan mantan pasien TB di hotel setelah kunjungan ke RSHS, saya duduk semeja dengan beberapa mantan pasien TB. Bahkan duduk bersebelahan dengan mantan pasien TB HIV. Baru kali ini saya berinteraksi langsung dengan ODHA. Takut? Hmmm… rasa takut yang dulu sempat terbayang ketika saya harus berhadapan dengan ODHA dan juga TB HIV, kemarin mendadak sirna. Bukankah mereka juga sama seperti saya? Malah mereka jauh lebih hebat dari saya.

Mendengar cerita bagaimana mereka berjuang menghadapi stigma dan diskriminasi dari lingkungan sekitar karena penyakit yang dideritanya, membuat saya dan juga peserta workshop lain menangis.

Bagaimana tidak, di depan saya terpampang nyata kalau beban mereka begitu berat. Saat satu persatu dari mantan pasien TB-MDR dan juga TB-HIV itu bercerita, rasanya saya juga bisa merasakan apa yang mereka alami. Selama ini saya seringkali mengeluh tentang apa yang sudah saya alami, tapi ketika mendengar cerita mereka, heyyy… hidup saya mah gak ada apa-apanya dibanding mereka.

Di sesi sharing ini, saya duduk di sebelah anak kecil, mantan pasien TB-HIV. Sebut saja namanya Bima, anak laki-laki usia 9 tahun. Seusia Ceuceu, tapi badannya tidak lebih besar dari Teteh yang berusia 6 tahun. Tubuhnya ringkih sekali, tapi semangatnya luar biasa. Bima selalu tersenyum dan menanggapi setiap pertanyaan dengan ceria. Bima tertular HIV dari ibunya. Ibunya sudah meninggal setahun yang lalu. Sementara Ayah Bima yang sudah meninggal lebih dulu, juga didiagnosis mengidap HIV.

Saat ini Bima tinggal bersama Neneknya, nenek yang mencintai Bima sepenuh hati. Nenek Bima memiliki banyak cerita tentang Bima. Sampai sekarang Bima tidak bisa bersekolah seperti anak yang lain. Satu hari masuk sekolah, dua hari sakit sampai masuk UGD. Begitu terus menerus. Bima juga tidak bisa beraktivitas seperti anak lain yang seusianya. Ketika Bima ingin bermain ke rumah saudaranya, Bima tidak boleh menginjakkan kakinya di halaman rumah saudaranya itu. Ketika saudaranya mengadakan hajatan, Bima juga tidak boleh diajak. Ketika ayah Bima meninggal, hanya ada 5 orang yang mengantar ayah Bima ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Bisakah kita membayangkan kalau kita sendiri yang berada di posisi Nenek Bima dan juga Bima yang masih kecil diperlakukan seperti itu? Apakah masalah akan selesai jika kita mengucilkan dan mengasingkan mereka? Sama sekali tidak.

Kenapa? Karena “TB bisa disembuhkan, dan HIV bisa dikendalikan”, begitu kutipan twit Eyang @anjarisme saat bersama-sama mengikuti workshop kemarin. ODHA ataupun pasien TB, baik itu TB biasa, TB MDR, TB XDR bahkan TB HIV masih sangat bisa disembuhkan. Kuncinya hanyalah telaten dan disiplin.

Karena telaten dan disiplin itu pula, kondisi Bima kemarin sudah lebih baik dari sebelumnya bahkan sudah sembuh dari TB.

Seperti juga anak kecil yang lain, Bima memiliki impian. Salah satunya adalah menjadi ustadz, agar bisa sholat di mesjid dan berdo’a untuk banyak orang.

Rasanya seperti tertampar. Bima yang mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan, malah ingin mendo’akan mereka. Cita-cita Bima yang lain adalah menjadi dokter, agar kelak ketika Neneknya sakit, Bima lah yang mengobati.

“Bima sayang Nenek”, tutup Bima mengakhiri sesi sharing Workshop #SahabatJKN #lawanTB kemarin.

Bima, hidup dan bertahanlah dengan impian kamu. You will never walk alone! (catatan : bukan fans Liverpool, tapi suka dengan taglinenya)

11046923_645623005567184_8607320382964257470_n

6 thoughts on “You will never walk alone, Bima!

  1. Mang Yono

    Semoga menang ya Mak…. Kalau saya sepertinya gak ada bakat untuk menulis… Jadi saya gak ikutan lomba berseri ini … Tapi boleh juga semangatnya Mak yang satu ini saya tiru … tapi jarang mandinya gak saya tiru ah hehehe

  2. Elisa Koraag

    Sangat banyak pesan moral yang menohok ulu hati saya. Workshop kemarin, membuka kesadaran baru, bahwasannya di atas langit ada langit dan di bawah tanah masih ada tanah. Satu hal yang pasti saya harus lebih mensyukuri apa yang sudah saya miliki.

  3. Ranii

    workshop kemaren emang berkesan banget yah mak..
    banyak pelajaran yang bisa kita ambil, salah satunya banyakin lagi rasa syukur :))

Leave a Reply