Pendidikan di Mata Sukanto Tanoto dan Jack Ma

Pendidikan di Mata Sukanto Tanoto dan Jack Ma – Pendidikan di mata pengusaha Sukanto Tanoto dinilai sangat penting. Oleh sebab itu, pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle (RGE) ini senantiasa mengejarnya kapan dan di mana pun ia berada.

Arti penting pendidikan di mata Sukanto Tanoto diungkap oleh putranya Anderson Tanoto. Ia mengaku diajari oleh sang ayah agar selalu mengejar ilmu tanpa pernah malas.

“Kita harus selalu lapar untuk belajar. Bapak Sukanto Tanoto pernah bilang bahwa hari ketika kamu berhenti belajar adalah hari kejatuhanmu,” kata Anderson Tanoto.

SUKANTO TANOTOSikap seperti ini yang menjadikan Sukanto Tanoto seperti sekarang. Ia sukses mengubah hidupnya. Dari menjalani kesulitan hidup, pria kelahiran 25 Desember 1949 ini mampu bangkit dan meraih keberhasilan dalam dunia usaha.

Kisah itu sebenarnya bukan hal baru. Banyak orang sukses di dunia yang berhasil dalam berbagai bidang karena rasa lapar terhadap pendidikan. Contoh menarik adalah pengusaha asal Tiongkok, Jack Ma.

Ma dikenal sebagai pendiri perusahaan marketplace online ternama di dunia, Alibaba. Berkat itu, ia mampu meraih kekayaan besar. Forbes mencatat per Maret 2017, Ma memiliki aset dan harta senilai 39,8 miliar dolar Amerika Serikat. Akibatnya ia termasuk sebagai salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia.

Kesuksesan tersebut diraih Ma berkat hasrat tinggi untuk belajar. Ia telah memilikinya sejak masih kecil. Dulu ia sangat ingin bisa berbahasa Inggris. Ma kemudian mencoba belajar sendiri dengan mendatangi hotel Huangzou International. Di sana ia berharap bertemu orang yang bisa berbahasa Inggris agar dirinya bisa belajar.

Untuk ke sana, Ma rela bersepeda selama 70 menit. Sesampainya di sana ia akan menawarkan diri sebagai pemandu yang menemani wisatawan berkeliling kota. Ma melakukannya tanpa imbalan karena hanya ingin bisa mempraktikkan berbahasa Inggris secara langsung.

Berkat itu, kemampuan bahasa Inggris Ma berkembang. Pria dengan nama asli Ma Yun ini juga mendapat nama panggilan Jack dari salah satu orang asing yang kesulitan mengingat namanya.
Rasa lapar Ma terhadap pendidikan juga terlihat nyata melihat upaya kerasnya untuk masuk ke sekolah. Pada tingkat sekolah dasar, Ma harus ikut ujian dua kali sebelum lolos diterima. Di tingkat sekolah menengah, ia perlu tes tiga kali agar bisa masuk ke sekolah tujuannya.

Ketika masuk ke perguruan tinggi, Ma tetap harus bekerja keras. Di Tiongkok, ujian saringan dilakukan setahun sekali. Ma perlu waktu empat tahun agar diterima.

Dari kisah ini, terlihat betapa kuatnya mental Ma. Ia tidak pernah mau menyerah. Meski sudah pernah gagal, ia akan terus mencoba sampai benar-benar bisa.

Selain itu, tergambar pula betapa dirinya selalu haus untuk mempelajari hal baru. Itu yang akhirnya membawa Ma terjun ke bisnis digital yang membesarkan namanya.

Semua dimulai dari pengalaman Ma bersinggungan dengan internet untuk pertama kalinya pada 1995. Ia melihatnya saat bepergian ke Amerika Serikat. Di sana temannya memperlihatkan internet dan cara pemakaiannya.

Kala itu, Ma mencoba mengetik kata kunci bir. Ia menemukan banyak hasil pencarian terkait bir. Namun, ia merasa aneh karena tak satu pun berasal dari Tiongkok.

Ma kemudian melakukan percobaan. Ia membuat situs sederhana terkait bir dengan bahasa Tiongkok. Ia meluncurkan website tersebut pada pukul 9.40. Pada pukul 13.30 ia sudah mendapatkan email terkait website yang dibuatnya tersebut.

Hal itu menyadarkan Ma tentang potensi internet. Ia segera tahu bahwa internet memiliki potensi besar. Akibatnya ia mulai kian serius mempelajarinya hingga akhirnya mendirikan Alibaba.

Sesudah itu, semua adalah kisah sukses. Ma berhasil membesarkan Alibaba hingga membuatnya menjadi salah satu pengusaha tersukses di muka bumi

SAMA-SAMA MAU BELAJAR SENDIRI
Kisah Ma sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan Sukanto Tanoto. Ia juga biasa mempelajari apa saja secara otodidak. Hal itu tidak lepas dari pendidikan formal yang tidak diperolehnya hingga tuntas.

Ketika masih muda, Sukanto Tanoto putus sekolah. Sekolahnya ditutup karena insiden G30S meletus. Saat itu, ayah Sukanto Tanoto masih berstatus sebagai warga negara asing. Ini membuat kesempatannya bersekolah di sekolah negeri pupus sehingga mesti belajar sendiri.

Akan tetapi, kondisi itu tidak berarti semangat untuk meraih pendidikan yang lebih baik pudar di dalam diri Sukanto Tanoto. Ia tidak menyerah dengan keadaan. Sebisa mungkin dirinya selalu berusaha belajar dengan cara apa pun.

Misalnya ketika masih bekerja mengelola toko keluarganya. Ia kerap memanfaatkan waktu senggang dengan membaca koran maupun buku. Bahkan, Sukanto Tanoto juga belajar bahasa Inggris secara mandiri. Dengan memanfaatkan kamus Mandarin Inggris yang dimilikinya, ia mempelajari cara berbahasa Inggris dengan sendirinya.

Selain itu, bagi Sukanto Tanoto, belajar tidak harus di dalam ruang kelas. Ia tahu bahwa pelajaran dapat diperoleh dari mana saja. Bahkan, dari kegiatan sehari-hari, pembelajaran dapat diperoleh.

Ini dipraktikkan secara nyata oleh Sukanto Tanoto. Untuk menambah wawasan yang penting dalam mengelola bisnis, ia tidak segan bertanya tentang hal yang ingin diketahuinya kepada siapa saja.

Bertanya kepada karyawannya sendiri juga bukan dirasa sebagai hal memalukan oleh Sukanto Tanoto. Ada sebuah contoh menarik. Ketika pernah mendapat kontrak untuk memperbaiki air conditioner (AC) saat masih mengelola perusahaan general contractor, Sukanto Tanoto tak segan bertanya seluk-beluk AC kepada para karyawan.

Sukanto Tanoto bahkan akhirnya menjadikan kebiasaan bertanya untuk belajar. Ia terus melakukannya hingga saat ini meski sudah mampu membesarkan RGE menjadi korporasi skala internasional.

Terkait dengan semangat untuk belajar supaya bisa meraih pendidikan lebih tinggi, Sukanto Tanoto ingin menularkannya kepada banyak pihak. Ia selalu mengingatkan kepada siapa pun termasuk anak-anaknya agar tidak pernah bosan untuk belajar.

Sukanto Tanoto membuktikannya secara nyata. Meski tidak memperoleh pendidikan formal dengan tuntas, ia segera memburunya ketika memungkinan. Terbukti saat sudah mampu untuk membiayai pendidikan, ia segera menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Ketika semakin disibukkan dalam mengelola RGE, Sukanto Tanoto pun tidak meninggalkan kebiaaan untuk belajar. Ia melakukannya lewat dua cara. Pertama Sukanto Tanoto rajin memburu pendidikan dengan mengikuti beragam kursus bisnis. Tak tanggung-tanggung, ia rela belajar hingga sejumlah institusi pendidikan bisnis terkemuka seperti The Wharton School di University of Pensyvlania ataupun INSEAD.

Ia mengaku kebiasaannya itu membuatnya memiliki profesi. “Saya ingin menjadi siswa abadi,” katanya.

Adapun cara kedua yang biasa dilakukannya untuk mendapat pendidikan ialah dengan membaca. Ketika bepergian, Sukanto Tanoto biasa memanfaatkannya untuk melahap buku-buku.

Kebiasaan itu membuat wawasannya semakin luas. Manfaatnya amat besar. Sukanto Tanoto mampu mengambil keputusan tepat demi perkembangan RGE.

Maka, jangan pernah meremehkan arti pendidikan. Kejarlah ilmu dengan beragam cara. Orang-orang sukses seperti Sukanto Tanoto dan Jack Ma bisa berhasil dalam hidup karena tidak pernah malas belajar.

*Sumber :

https://www.forbes.com/profile/sukanto-tanoto/
http://www.inspirasidaily.com/kisah-dibalik-kesuksesan-sukanto-tanoto/

oRiN

oRiN, emak 3 anak, bloggergoler.

Leave a Reply

Your email address will not be published.