Cinta yang tak pernah pudar

By | December 17, 2015

“Koq gak ikut GAku? Takut ya?”, komentar Pakde di statusnya.

Duh, bukannya gak mau ikut GA Pakde sih. Masalahnya, saya memang jarang berfoto berdua dengan Nene. Bukan jarang lagi, seingat saya sih memang gak ada tuh foto kami yang hanya berdua. Selalu saja ada orang ketiga, keempat atau malah berdesakan seperti ini, ketika kami berkumpul bersama lebaran kemarin. Itu pun Nenenya sedikit terhalang oleh Abah.

11058494_10153489623144747_3787024192232490767_o

Foto berdua dengan ibu yang diminta sebagai syarat ikut GA Pakde Abdul Cholik rasanya seperti mengingatkan saya, ada gak ya foto berdua dengan Nene?

Kembali saya membongkar koleksi foto di laptop dan di galeri facebook, salah satu media penyimpanan foto yang saya gunakan… tapi tak satu pun saya temukan foto sedang berdua dengan Nene. Ada sih, foto di Kampung Gajah tahun 2010 yang lalu. Tapi ah, sayang… Nene malah gak lihat kamera…

2010-10-10 18.12.11

Kemana saya selama ini? Kenapa tidak pernah berfoto berdua dengan Nene? Padahal jaman sudah semakin modern. Mau welfie kapan saja gampil.

Sekarang tiap hari saya masih bisa mendengar suara Nene lewat telepon. Mulai dari saling bertanya kabar hari ini sampai curhat kesana kemari. Kalau saya sih tidak bisa menyembunyikan seperti apa perasaan saya saat sedang berbicara di telepon dengan Nene. Kalau sedang senang, ya kami berdua tertawa di telepon. Tapi kalau sedang sedih, saya pun tersedu di telepon dan Nene menasihati saya agar bisa lebih sabar.

Sebaliknya, sejak dulu Nene tidak mau berbagi kesedihan dengan saya. Kalau masih bisa diatasi sendiri, saya tidak perlu tahu. Misalnya ketika Abah harus dirawat di Rumah Sakit, saya baru diberi tahu ketika Abah sudah pulang dan beristirahat di rumah. Padahal tiap hari kami bertukar kabar, lewat telepon ataupun lewat SMS. Nene bilang tidak mau membuat saya khawatir, kasihan anak-anak kalau harus saya tinggal menengok Abah di Rumah Sakit katanya.

Begitulah Nene. Sejak saya masih berada dalam kandungan, sampai saya sekarang punya anak-anak, Nene selalu memikirkan perasaan dan keadaan saya terlebih dahulu.

Benar apa yang dikatakan Melly Goeslaw di lagunya…

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Ah, ya… ingat lagu Bunda, jadi ingat kalau saya pernah punya foto berdua bareng Nene, jaman masih pakai foto cetak. Foto yang disimpan dengan baik oleh Nene ini mulai buram dan menguning. Meski warna fotonya mulai pudar, tapi saya yakin cinta dan kasih sayang Nene masih sama besarnya, tak pudar sedikitpun. Tak perlu diuji, cinta dan kasih sayang Nene memang sepanjang masa…

62782_445521683648_1189806_n

Saya akan selalu mengingat senyum bahagia Nene. Siapa sangka foto di atas diambil saat Nene sedang tidak punya beras karena Abah masih tugas di Semarang dan saat itu belum musim transfer via bank? :))

Duh, diminta pakai penjelasan dikit malah jadi curhat. Maaf ya, Pakde. Sedih soalnya, mendadak sadar kalau saya ini egois, banyak foto selfie sendiri tapi gak ada foto berdua sama Nene. Sebentar lagi liburan ke rumah Nene, pasti foto berdua.

Foto ini diikutsertakan dalam GA sehari : Aku dan Ibuku

10 thoughts on “Cinta yang tak pernah pudar

  1. Adelina

    Semoga nene dan abah sehat selalu yach mbak. Perjuangan mereka sungguh amat besar, dan tidak sedikitpun kegelisahan ditunjukkan diwajah mereka. Sangat terharu membacanya.

  2. harga printer brother

    memang cinta itu selalu kekal dan abadi..
    semoga saya juga mendapatkan cinta yang sesunguh nya seperti itu

  3. Klinik Gracia

    Keluarga adalah segalanya yang bisa membuat kita merasa senang dan semangat dalam menjalani segala aktifitas kita.

Leave a Reply