Sholat memang membuat tubuh sehat, bagaimana sholat kilat?

Beberapa hari yang lalu, media massa dan tentu saja media sosial, dihebohkan dengan adanya berita tentang “Sholat Tarawih Kilat” di sebuah Pesantren di daerah Blitar, Jawa timur.

Bagaimana tidak kilat, 20 rakaat tarawih + 3 rakaat sholat witir mampu diselesaikan dalam waktu 15 menit saja! Malah beberapa berita menyebutkan kalau waktu yang diperlukan untuk sholat tarawih 23 rakaat di pesantren ini hanya 7 menit. Wow!

Takjub tentu saja. Karena dulu, ketika masih kecil sampai menjelang menikah, saya terbiasa sholat tarawih di mesjid dekat rumah orang tua, 11 rakaat. Dan ini memerlukan waktu kurang lebih 1 jam 45 menit. Tentu saja waktu selama itu bukan hanya digunakan untuk sholat tarawih, tapi termasuk sholat Isya, ceramah plus antri tanda tangan penceramah.

Setelah menikah, saya pun pindah mengikuti suami. Di mesjid dekat rumah kami sekarang ini sholat tarawihnya 23 rakaat. Tapi tidak ada ceramah di mesjid ini. Jadi hanya sholat Isya dan tarawih. Ini memerlukan waktu kurang lebih 1 jam 20 menit. Itu pun sudah dengan antrian tanda tangan imam sholat.

Kadang kalau kebetulan kebagian giliran imam yang “ngebut”, waktu yang diperlukan cukup 1 jam. Tapi ada resiko yang harus dibayar di balik waktu sholat yang semakin cepat ini. Apalagi kalau bukan dengkul yang terasa mau copot!

Di video sholat tarawih kilat itu terlihat betapa cepatnya gerakan imam. Yang terbayang oleh saya, baru juga sujud dan duduk tasyahud, imam sudah berdiri rakaat kedua. Belum juga selesai salam, imam di depan sudah takbiratul ihram. Haduhh… buat ibu-ibu seperti saya, ini jelas sangat menyiksa.

Padahal katanya dari berbagai penelitian, diperoleh kesimpulan kalau gerakan sholat bisa membuat tubuh sehat. Asalkan dikerjakan dengan tumaninah.

Sholat tarawih kilat bisa jadi tidak mengurangi ataupun menyalahi rukun sholat. Hanya saja sewaktu kemarin sholat Jumat di mesjid samping rumah, khotib mengingatkan kalau pengertian sholat tarawih sendiri secara bahasa adalah istirahat/santai. Karena dalam sholat tarawih terdapat waktu istirahat di sela-sela rakaat. Misalnya, setelah dua kali salam, jama’ah biasanya menenangkan diri dengan berdzikir atau kegiatan lainnya, tidak langsung melaksanakan rakaat berikutnya.

Di sela-sela rakaat sholat tarawih, saya pun melirik ibu-ibu separuh baya di sebelah saya, yang memakai sajadah tambahan yang dilipat-lipat sebagai ganjalan untuk lututnya. Duh, jangan-jangan beberapa tahun lagi, saya juga seperti itu?? Sekarang saja saya sudah merasa memerlukan pelindung lutut agar saat saya sujud dan bangun dari sujud lutut saya tidak terasa nyeri -_-

Sambil memijat lutut yang terasa nyeri, saya membayangkan… kalau saya ikut sholat tarawih di Pesantren di Blitar itu, bisa-bisa dengkul saya bukan hanya terasa mau copot. Tapi benar-benar copot!

oRiN

oRiN, emak 3 anak, bloggergoler.

4 Comments

  1. Berhubung akhir2 ini kudet, barutau soal terawih kilat ini stlh videonya di share suami. Entah ya, bagiku ibadah itu ya harus rileks & syahdu, kecuali benar2 emergency harus cepat.

  2. Kalau sholat cepat bgitu, kasian jamaah orang tua (lansia). Bisa2, imam uda salam, jamaahnya ini tadi masih rukuk rakaat pertama..

Leave a Reply

Your email address will not be published.