Atasi Demam Pada Anak Dengan Tepat

“Awwwww…”, jerit suami membangunkan saya yang baru saja terlelap sambil memeluk Ade yang sedang panas tinggi.

Sontak saya memeluk Ade lebih erat.

Di samping saya, suami meringis kesakitan. Rupanya jarinya digigit Ade.

Aduh! Ade kejang demam! Padahal saya sudah mengompres dahinya sebelum saya terlelap.

Sudah dua malam suhu tubuh Ade meninggi. Selama itu juga saya waspada. Tidur hanya sebentar-sebentar. Tapi saya tetap kecolongan.

Untungnya suami masih terjaga. Melihat Ade menunjukkan gejala kejang, suami lantas memasukkan jari telunjuknya ke mulut Ade. Alhasil, suami kesakitan digigit Ade yang giginya sudah penuh. Suami bilang daripada nanti lidah Ade yang tergigit?

Iya sih. Saat sedang kejang demam, bisa saja Ade mengigit lidahnya sendiri. Ketika Ade kejang demam pertama kali, suami juga melakukan hal yang sama, memasukkan jari ke dalam mulut Ade. Bedanya, saat itu gigi Ade belum penuh. Padahal ini salah, karena bisa menghalangi jalan pernafasan anak yang sedang kejang.

Kejang demam pertama kali dialami Ade Juni 2013. Jelas panik. Karena kedua anak saya yang lain, Ceuceu dan Teteh tidak pernah kejang demam.

Masih teringat, saat suhu mencapai 41, badan Ade kejang selama 3-5 menit, disusul muka dan badan yang membiru, bola mata terbalik ke atas, sampai kehilangan kesadaran selama hampir 30 menit. Segera kami bawa ke Puskesmas. Karena di Puskesmas belum tersedia obat untuk mengatasi kejang demam, kami dirujuk ke RSUD. Berbekal surat rujukan dari Puskesmas, tengah malam kami menuju RSUD. Padahal besoknya suami saya ulang tahun. Kado yang mengesankan.

Selang 1,5 tahun kemudian, awal Januari 2015, Ade kembali kejang demam. Kami pun segera membawa Ade ke Puskesmas. Sampai di Puskesmas Ade masih belum siuman. Suster segera memberi Ade oksigen. Ade juga diberi diazepam dan diinfus.

10386281_620721361390682_6088998863798104664_n

Dokter yang menangani Ade menanyakan riwayat kejang demam dan mewanti-wanti agar jangan sampai terjadi kejang demam ketiga.

Seharusnya kejang demam pertama juga tidak perlu sampai terjadi. Karena begitu anak terkena kejang demam untuk pertama kali, ini berarti membuka jalan untuk terjadi kejang demam berikutnya,” begitu pesan dokter.

Penyebab demam pada anak bisa macam-macam. Orangtua perlu waspada jika anakĀ  sering mengalami kejang demam. Karena saat anak kejang demam, susunan syaraf di dalam otak juga terganggu. Selama dua kali Ade kejang demam, 2 kali pula wajah dan badan Ade membiru karena kekurangan oksigen. Sementara otak memerlukan asupan oksigen yang memadai. Tak hanya itu, kejang demam juga bisa mengakibatkan kematian.

Wajar jika banyak orang tua yang panik ketika anaknya diserang kejang demam.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mencegah anak kejang demam?

Berbekal pengalaman menghadapi anak kejang demam, saya meningkatkan kewaspadaan saat Ade mulai demam. Berikut cara saya mengatasi demam pada anak :

1. Selalu sedia termometer. Suhu tubuh tidak bisa diukur hanya menggunakan tangan. Sebaiknya gunakan termometer digital untuk pengukuran lebih akurat dan aman untuk anak.

2. Jangan panik berlebihan. Jika pada suhu tidak terlalu tinggi anak masih riang, aktif dan mau main, maka kita tidak perlu panik.

3. Beri obat jika perlu. Batas toleransi kejang demam pada anak berbeda-beda. Beri obat penurun panas bila suhu tubuh mencapai lebih dari 38.5. Jangan tunggu suhu tubuh yang lebih tinggi jika anak sudah pernah menderita kejang demam sebelumnya.

4. Kompres dengan air hangat di bagian dahi dan ketiak untuk membantu menurunkan panas. Jangan gunakan air dingin, karena bisa memicu stress pada otak akibat perbedaan suhu yang ekstrim.

5. Berikan anak baju yang sejuk dan nyaman. Jangan membungkus anak dengan selimut yang terlalu rapat.

6. Usahakan anak tetap minum yang cukup untuk mencegah dehidrasi.

7. Jika anak kejang demam, segera kunjungi layanan kesehatan terdekat.

Minggu kemarin, Ade kembali panas. Tak hanya Ade, Ceuceu dan Teteh juga.

11018088_687059401423544_5070787088915454193_n
Ade dan Teteh kompak :D

Ketiga alat di bawah ini harus selalu ada di meja dekat tempat tidur. Termometer, oksigen, dan Tempra.

IMG_20150608_213334

Alhamdulillah, kali ini Ade tidak mengalami kejang demam. Tiap kali suhu tubuh Ade mencapai lebih dari 38.5, saya segera memberi Ade Tempra. Begitu juga dengan Teteh.

Kenapa Tempra? Tempra mengandung parasetamol yang direkomendasikan banyak dokter dan terbukti aman karena tidak merusak lambung dan tidak menyebabkan diare. Tutup botol Tempra yang berdesain CRC (Child Resistant Cap) unik dan tidak mudah dibuka oleh anak-anak. Pemberian obat dengan dosis yang tepat bisa lebih terjaga dengan gelas takar yang disertakan pada kemasan.

Sekarang anak-anak sudah kembali sehat dan tersenyum. Senyum ceria yang membuat ibu bahagia. Terimakasih Tempra.

You may also like

8 Comments

  1. Wah aku kemaren juga ngalamin anak demam tinggi.. kasihan teh Orin ya kalo anak anak demam ::((

    Untuk preventif aku sediain tablet kunyah juga, plus minyak kayu putih karena membuat panasnya menguap

Leave a Reply

Your email address will not be published.