Terdiagnosa TB, Bukan Akhir Segalanya

By | April 6, 2014

Bicara tentang Tuberculosis membuat saya teringat seorang teman, sebut saja Indri. Status Indri di facebook maupun twitter beberapa bulan yang lalu hanya seputar kondisi kesehatan yang bolak-balik panas – batuk – dokter, bahkan rawat inap di rumah sakit. Seringkali Indri bilang kalau badannya berkeringat tanpa sebab. Dari foto-foto yang diunggahnya, perubahan fisik Indri sangat jelas terlihat. Hanya perlu waktu sebulan, Indri kehilangan berat badan sebanyak 8-10 kg. Sampai suatu hari Indri menuliskan status dengan nada putus asa…

SS 2014-04-01 at 9.06.59 PMDari status berikutnya saya akhirnya tahu, kalau Indri ternyata didiagnosa menderita Tuberculosis (TB).

SS 2014-04-02 at 1.55.41 AMYang kemudian terpikirkan oleh saya, bagaimana dengan kedua anaknya yang masih kecil? TB merupakan penyakit yang menular secara langsung melalui udara, sementara Indri sudah cukup lama mengidap TB tanpa terdeteksi. Jadi wajar saya mengkhawatirkan kondisi anak-anaknya, karena anak-anak mudah tertular penyakit ini. Wajar pula kalau Indri berputus asa begitu dinyatakan menderita TB, karena TB saat ini merupakan penyakit pembunuh nomor satu di antara penyakit menular, dan merupakan peringkat 3 dalam daftar 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia (SKRT 2004).

Dulu saat saya membawa anak berobat ke Puskesmas, saya pernah mendapatkan pertanyaan dari dokter. Ketika itu anak saya mengalami demam disertai batuk berdahak selama hampir dua minggu. Dokter menanyakan, “Siapa penderita TB di sekitar Ibu?”

Dokter kemudian menjelaskan, bila anak menderita demam disertai batuk selama lebih dari dua minggu dan di sekitar kita ada penderita TB, ada kemungkinan si anak terpapar TB. Sungguh penjelasan yang mengejutkan.

Saya berusaha mengingat-ingat, kira-kira siapa penderita TB yang pernah berinteraksi dengan anak saya. Lalu, saya teringat bibi saya, penderita TB karena diabetes melitus. Penderita diabetes memang lebih rentan terhadap infeksi TB karena daya tahan tubuhnya yang rendah. Tetapi saya tidak mau gegabah menuduh Bibi saya sebagai “penular TB“, karena intensitas pertemuan kami boleh dibilang jarang, apalagi anak saya belum pasti menjadi “suspect TB“. Agar diagnosa dapat segera ditegakkan, anak saya menjalani serangkaian pemeriksaan di laboratorium, mulai dari rontgent dada sampai uji mantoux. Hasilnya negatif. Penyebab batuk yang diderita anak saya “hanya” bronchopneumonia.

Bibi saya sendiri beberapa tahun kemudian menyerah. Diabetes yang juga menyebabkan komplikasi penyakit yang dideritanya (TB paru, TB tulang, kebutaan, dan gagal ginjal) akhirnya menghantarkan Bibi berpulang.

Kembali ke Indri, kedua anaknya menjadi penyemangat bagi Indri untuk tetap berusaha lepas dari jeratan penyakit mematikan ini. Anak-anaknya mau tidak mau juga menjalani tes TB dan hasilnya negatif. Sejauh ini, kondisi anak-anak Indri tetap sehat. Secara rutin Indri meminum obat TB. Hasilnya sekarang Indri sudah terbebas dari TB dan menjalani aktivitasnya dengan normal.

Mengenal Tuberculosis lebih jauh

Keputusan Ikatan Dokter Paru Indonesia (sekarang PDPI) istilah “TBC” untuk Tuberculosis menjadi TB maka istilah P2TBC menjadi P2TB (1973). TB merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosisBakteri ini berbentuk langsing seperti silinder, akan tetapi bisa juga berbentuk benang. Keistimewaan M. tuberculosis adalah sekali menangkap zat warna maka sukar terlepaskannya, tahan terhadap asam dan mineral, karena itu dikenal dengan sebutan “Acid Fast Staining” atau Bakteri Tahan Asam (BTA) (Sumber : PPPL Depkes).

Mycobacterium tuberculosis

TB umumnya menyerang paru-paru (TB pulmoner). Selain menyerang paru-paru, TB juga bisa mempengaruhi bagian lain dari tubuh, termasuk tulang belakang, ginjal, dan otak. Gejala TB bervariasi tergantung organ yang terlibat. Misalnya TB tulang belakang menimbulkan sakit pada punggung, atau TB ginjal yang bisa menyebabkan urine berdarah (Sumber : Liputan6). Kadang-kadang, TB juga bisa menyebabkan meningitis.

TB tidak hanya menyerang paru-paru, tapi juga dapat menyerang organ tubuh lain. Sumber gambar : klik di sini
TB tetap menjadi pembunuh utama karena peningkatan dalam obat yang tahan dengan strain bakteri. Sejak antibiotik pertama digunakan untuk melawan TB 60 tahun yang lalu, beberapa kuman TB mengembangkan kemampuannya untuk bertahan hidup. Dan kemampuan itu diteruskan ke keturunannya. Ketika antibiotik gagal membunuh semua bakteri, obat menjadi resisten terhadap TB. Itulah sebabnya, mengapa minum obat TB tidak boleh terputus. Karena jika obat TB terputus, maka bakteri yang hidup menjadi resisten terhadap obat.

Bagaimana gejala Tuberculosis?

Secara umum gejala yang ditunjukkan penderita TB antara lain rasa sakit pada dada dan sesak nafas, demam lebih dari sebulan, nafsu makan berkurang, batuk berdahak selama tiga pekan serta berkeringat pada malam hari tanpa sebab yang jelas.

Seperti Indri yang tidak menyadari sudah terinfeksi TB, banyak orang yang mengalami satu atau dua gejala ringan dan tidak mengenalinya sebagai gejala TB, karena gejalanya yang hampir sama dengan penyakit lain. Gejala TB dimulai secara bertahap dan berkembang dalam jangka waktu beberapa minggu hingga berbulan-bulan.

Gejala TB aktif

Gejala TB Aktif

Bagaimana penularan Tuberculosis?

Penyakit TB dapat menyerang siapa saja, anak-anak atau orang dewasa dengan tingkat penyebaran yang tinggi. Satu penderita dapat menularkan TB pada 10-15 orang per tahun.

Jumlah penderita penyakit Tuberculosis di Indonesia masih terbilang tinggi. Bahkan, saat ini jumlah penderita TB di Indonesia menempati peringkat empat terbanyak di seluruh dunia setelah China, India, dan Afrika Selatan. Prevalensi TB di Indonesia pada 2013 ialah 297 per 100.000 penduduk dengan kasus baru setiap tahun mencapai 460.000 kasus. Dengan demikian, total kasus hingga 2013 mencapai sekitar 800.000-900.000 kasus.

Diperkirakan 1/3 penduduk dunia terjangkit TB Laten (tidak aktif), di mana saat kuman TB masuk ke dalam tubuh orang sehat, bakteri akan mendapatkan perlawanan dari sel darah putih, dan bakteri menjadi tidak aktif atau tertidur. Saat tidak aktif ini TB tetap bersarang di paru-paru  tanpa menimbulkan gejala apapun, dan TB akan berubah menjadi aktif saat kondisi tubuh sedang lemah.

TB Aktif, TB Laten

Bisa jadi pada kasus Indri, tanpa disadari Indri tertular TB saat kondisi kesehatannya baik. Oleh karena itu, ketika Indri dinyatakan positif menderita TB, Indri pun berinisiatif memeriksakan kedua anaknya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Departemen Kesehatan, di kota saya sendiri, Subang, Jawa Barat, tingkat persentase sembuh TB berada di angka 88,1%. Ini artinya, masih ada penderita TB yang tidak sembuh total dan memungkinkan penularan kepada orang di sekitarnya.

Penularan TB akan lebih mudah terjadi, antara lain disebabkan oleh:

  • Hunian padat dan hunian yang kurang berventilasi,
  • Malnutrisi, pelayanan kesehatan yang buruk dan tuna-wisma,
  • Pekerjaan yang beresiko, misalnya petugas laboratorium.

Bagaimana kita bisa menemukan penderita Tuberculosis di sekitar kita?

Untuk mengatasi dan mengurangi jumlah penderita tuberkulosis, Indonesia menerapkan DPS (Dokter Praktik Swasta) dan menerapkan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) yang direkomendasikan oleh WHO dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. Strategi DOTS digunakan sebagai satu-satunya strategi pemberantasan tuberkulosis di Indonesia (Sumber : tuberkulosis.org).

Jika kita menemukan orang di sekeliling kita yang memiliki gejala seperti ditunjukkan di atas, ada baiknya kita segera membawa orang tersebut ke layanan kesehatan terdekat untuk diperiksa lebih lanjut. Tidak mudah memang, karena ini menyangkut masalah privasi. Beberapa alasan yang sering dikemukakan adalah malu dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya mengidap TB, ketiadaan biaya untuk diperiksa lebih lanjut, menganggap remeh penyakit karena gejala TB yang kurang terlihat, dan kurangnya pengetahuan tentang bahaya TB.

Karenanya penanggulangan TB pun menggunakan strategi seperti berikut ini:

  • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah
  • Masyarakat (sukarela)
  • Perusahaan dan swasta melalui pendekatan Public-Private Mix dan menjamin kepatuhan terhadap International Standards for TB Care

Banyak faktor yang menghambat perjalanan penderita menuju ke tempat pelayanan DOTS. Hambatan tersebut berada di dua tempat: Yang satu ada di penderita dan masyarakat, sedang satunya lagi ada di sistem kesehatan itu sendiri.

Jadi, mari lebih peduli lingkungan sekitar kita. Temukan TB dan Sembuhkan TB agar Indonesia Bebas TB.

Stop TB, Sumber gambar : klik di sini

Referensi :

 

5 thoughts on “Terdiagnosa TB, Bukan Akhir Segalanya

  1. efi fitriyyah

    Detail banget nih, mak. Adik saya dulu juga pernah kena TB. Untungnya ibu saya rajin bawa ke dokter buat kontrol. Alhamdulillah sekarang pada sehat. Meskipun posturnya pada kurus, emang udah bawaan. Bukan karena TBnya.

    1. oRiN Post author

      Alhamdulillah adiknya udah sehat ya 🙂

      Kalau soal kurus, kakakku juga kurus banget, sudah bawaannya 😀

    1. oRiN Post author

      iyes mama Raffi… sekarang mah mesti waspada, soalnya menularnya mudah sekali dan udara di luar belum tentu bersih…

Leave a Reply