Kisah Si Beling #1

By | October 12, 2016

The greatest wealth is health ~ Virgil

Demikian bunyi sebuah pepatah. Ya, yang namanya sakit, apapun bentuknya, bisa mengganggu kekayaan, kesejahteraan dan kemakmuran. Termasuk sakit karena terluka oleh beling! Maka ingatlah 5 perkara dalam hidupmu.

Pasca terkena pecahan beling kemarin (baca Tragedi Pecahan Gelas, #bungkusrapisampahbelingmu), Minggu malam saya mulai mengigau. Suami beberapa kali memegang kening dan mengusap-ngusap kaki saya ketika tidur. Gak ada demam, mungkin saya mengigau karena menahan sakit. Sebelum tidur saya sudah minum pereda nyeri dan antibiotik dari Puskesmas, dan Fever yang dibawa suami untuk mencegah demam. Perban yang sudah diganti di Puskesmas Minggu sore juga nampak bersih. Antibiotik dan antinyeri diminum sesuai dosis dan jadwal, tiap 8 jam sekali.

Senin pagi. Saya masih bisa berjalan ke teras, dapur dan toilet tanpa bantuan siapa-siapa. Meski bolak balik ke toilet, perban tetap saya usahakan tidak kena air sama sekali, sesuai pesan perawat dari Puskesmas kemarin.

Melihat saya masih bisa beraktivitas, suami yang harus bekerja pun tidak terlalu khawatir. Sebelum ngantor, suami hanya meminta agar saya tidak terlalu banyak bergerak. Hmmm… yang bener aja. Mana ada bisa diem seharian  -_-

Suami sempat meminta resep dari temannya yang dokter. Saya mendapat antibiotik dan antinyeri Tramal. Katanya sih Tramal ini memang obat antinyeri sangat kuat, jadi harus pakai resep dokter (menurut info yang lain, biasanya Tramal ini juga dipakai mabuk hahaha).

Selasa sore. Gak sengaja Ade menindih kaki saya ketika Ade hendak turun dari kasur. Awwww… sakitnya, subhanalloh! Kaki saya berdenyut-denyut gak karuan. Darah mulai terlihat rembes ke luar. Tapi sakitnya gak saya rasa terlalu lama, soalnya saya harus menenangkan Ade yang ikutan nangis. Shocked sudah membuat Mamahnya kesakitan… malah nangisnya lebih heboh dari saya yang kesakitan hahaha

Tapi ah, Rabu kan ganti perban ke Puskesmas. Jadi gak usah terlalu khawatir. Karena jadwal ganti perban ini pula, suami jadi menginap dulu di Bandung. Kasian juga sih kalau harus bolak balik Bandung-Subang. Rencananya Rabu siang suami sudah pulang dan mengantar saya ke Puskesmas.

Selasa malam. Saya mulai menggigil, demam. Agar demam tidak berlanjut, kembali saya minum Fever. Kaki juga terasa nyut-nyutan. Tapi bukan di bagian lukanya. Yang tadinya hanya mengandalkan Ponstan buat meredakan nyeri, akhirnya Selasa malam saya minum obat dari teman suami yang dokter itu, Tramal. Agak mendingan sih.

Rabu shubuh. Nyeri kembali saya rasakan. Segera saya ambil Tramal dan segelas air yang memang sudah siap di samping kasur. Tapi tak lama setelah itu, saya merasa mual, badan mengigil, kepala malah kliyengan, dan akhirnya saya pun muntah. Terpincang-pincang menahan muntah sampai ke kamar mandi.

Jelang siang, perban di kaki mulai penuh lagi oleh darah.

img_20161005_060811_edit

Kali ini ada yang gak biasa. Baunya sangat menyengat. Duh. Segera saya kirim pesan ke suami. Suami bilang, mungkin itu karena bau darah yang menempel di perban. Tapi ah, saya pikir ini bukan bau biasa, tapi bau busuk. Kaki saya juga nampak bengkak sekali. Sementara badan tetap menggigil dan terasa lemas, keringat dingin mulai mengucur, kepala kliyengan. Gustiiii… setelah 3 hari terkena pecahan beling, akhirnya Rabu siang saya merasa sangat tidak berdaya.

Beberapa pesanan yang masuk ke akun jualan online saya hari itu sama sekali tidak bisa saya respon. Udah gak mikirin reputasi toko, yang penting konsumen tetap bisa belanja online aman, kalau gak saya respon uangnya pasti tetap kembali. Jangankan mikirin jualan, buat buka medsos pun sudah gak sanggup. Berarti beneran sakit ini mah…

Rabu sore. Untungnya suami juga pulang lebih cepat. Waktu itu suami menanyakan, mau ke mana? Buka perban ke Puskesmas atau ke klinik? Ah, terserah deh kemana… saya mah udah pasrah.

Suami akhirnya membawa saya ke klinik. Sampai di klinik saya disambut oleh satpam dengan kursi roda dan diantar ke UGD. Di UGD, beberapa perawat dan dokter jaga segera memeriksa saya. Perban dibuka, dan nampak kaki yang bengkak dan mengeluarkan nanah di sana. Hiks… rupanya selama beberapa hari dibungkus perban, kakinya infeksi dan kemarin nanahnya keluar paksa karena tertekan sama Ade. Byarrrr gitu…

img_20161005_160110-02

Dokter Febri, dokter jaga di Klinik segera mengkonsultasikan luka saya ke dokter bedah melalui foto=foto yang dikirim lewat messenger. Dokter bedah menyarankan agar kaki saya dibersihkan dari nanah. Caranya? Dipencet-pencet biar semua nanahnya keluar.

Rasanya? Subhanalloh… Nyeri pisaaaaann!!!!

Nanah yang ada di kaki ternyata gak cuma sedikit. Ketika ditekan-tekan oleh perawat, nanah dan darah yang keluar dari sela-sela jahitan ini sampai muncrat-muncrat. Hiyyyy… mending kalau gak bau. Ini mah udah bau pake banget pula. Darahnya hitam pekat, istilahnya apa ya… saya lupa. Maklum lagi panas dingin heuheu

Sambil dibersihkan, saya diambil darah untuk diperiksa di lab. Hasil lab menunjukkan kalau Leukositnya sampai 15.000, jauh lebih tinggi dari nilai maksimal 10.000 berdasarkan uji yang dilakukan.

Koq bisa sih sampai infeksi? Penyebabnya bisa jadi sebelum dijahit di Puskesmas, luka saya memang belum bersih dicuci, ada material yang tertinggal di dalam, atau malah alat di Puskesmas yang gak bersih. Huhuhu…

Sebenarnya waktu ganti perban di Puskesmas Minggu sore kemarin itu saya ditanya sih sama Teteh perawat, apa ada beling yang tertinggal di dalam? Duh, nya teuing atuh…. nyampe ke Puskesmas dengan keadaan berdarah-darah juga sudah uyuhan. Yang seharusnya memastikan apakah luka saya sudah dicuci dengan bersih, ada material yang tertinggal atau alatnya steril atau gak ini kan seharusnya petugas Puskesmas ya? Huehue…

Mau gak mau, saya harus dirawat, begitu kata dokter. Karena untuk menurunkan Leukosit yang tinggi ini, harus dihajar antibiotik terus menerus. Selain itu lukanya juga harus setiap hari dibersihkan.

Kira-kira berapa lama, dok?”, tanya saya sambil cemas memikirkan anak-anak.

Biasanya sih perawatan luka seperti ini perlu waktu kurang lebih tiga hari”, jawab dokter Febri.

Baiklah…. saya pun terpaksa memilih menginap di klinik untuk dirawat (selain karena perdarahan saat hamil dan melahirkan) dan meninggalkan anak-anak selama kurang lebih 3 hari. Sing balageur, saroleh...

img_20161005_174248

12 thoughts on “Kisah Si Beling #1

  1. Sandra

    Ya Allah mbaa.. aku baca & liat fotonya aja merinding, kebayang sakit banget ituu.. huhuhu. Kok kena belingnya bisa banyak gitu mba? Semoga lekas sembuh yaa… Pasti anak2nya balageur & saroleh lah!

    1. oRiN Post author

      Aamiin… aamiin. Makasih banyak doanya ya. Ini jatuh dan kena pecahan gelas (yang sisanya setengah gelas), nancep semua ke betis ^_^

  2. Djangkaru Bumi

    Bisa separah itu ya, karena terlalu lama dibawa kerumah sakit.
    Rasa nyeri yang membuat kepala pening dan akhirnya mual dan muntah.
    Sakit memang mengganggu segalanya. Tapi hikmah dari sakti ,kita disuruh istirahat. Lebih perduli sama kesehatan.

  3. nola

    Aku udah baca tulisan sebelumnya, terus baca yang ini, rasanya pasti bukan cuma sakit, tapi pasti sedih juga karena ngarep bisa sembuh cepet ehh malah begini ya mbak.. 😐 btw, itu lucu banget ya pas ditanya pegawai puskesmas: “apa ada beling yang tertinggal di dalam?” meneketehe ya mbak, wong kita lagi celaka mana sempet ngecek beling di kaki yang luka.. semoga lekas sembuh ya mbaaaak.. 🙂

Leave a Reply