Minimalisasi Risiko Bencana Melalui Inovasi

By | August 10, 2016

Upami nu di luhur masihan terang mah, panginten moal dugi ka aya korban jiwa, Neng”, ujar Pak Burhan ketika menceritakan kronologis banjir bandang di Subang beberapa bulan yang lalu.

banjir bandang cisalak

Pak Burhan, sedang istirahat setelah memperbaiki saluran air yang rusak (dokpri)

Ya, banjir bandang yang terjadi di Desa Sukakerti, Cihideung, Cisalak, Subang menjelang bulan puasa kemarin memang seolah datang tiba-tiba.

Beberapa jam sebelum kejadian, warga sempat mendengar dentuman keras dari arah bukit di belakang perkampungan. Namun warga desa sama sekali tidak menyangka akan datang bencana.

Siang teh kadangu aya sora sapertos guludug”, lanjut Pak Burhan.

Setelah mendengar suara besar seperti petir, hujan deras pun turun sejak sore sampai malam.

Derasnya hujan tidak menghalangi niat warga untuk menghadiri acara malam Nisfu Syaban di masjid Al-Ikhlas, satu-satunya masjid yang ada di desa itu. Selepas Isya (Minggu, 22 Mei 2016) seluruh warga kembali ke rumahnya. Belum sempat mereka memejamkan mata, terdengar suara gemuruh dari arah bukit. Jam 9 malam, air menerjang dari arah bukit, memenuhi seisi rumah warga sampai ke langit-langit. Banyak yang terpaksa memecahkan kaca jendela agar bisa keluar dari rumah dan menyelamatkan diri.

Warga desa terpaksa harus berbondong-bondong menyelamatkan diri dari terjangan banjir di tengah kegelapan. Selang 2 jam kemudian, bencana yang lebih besar datang.

Kali ini banjir membawa serta kayu-kayu berukuran besar. Kayu-kayu ini menghantam apa saja yang ada di depannya, meluluh lantakkan hampir seluruh rumah yang ada di Desa Sukakerti. Sebanyak 16 rumah hancur total.

IMG_8003_wm

Beruntung, banyak warga yang masih sempat menyelamatkan diri. Dahsyatnya banjir bandang ini tak hanya menghancurkan Desa Sukakerti. Terhitung ada 6 korban jiwa, termasuk Rizal (9 tahun) yang terbawa hanyut dan ditemukan di Indramayu yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer dari Cisalak.

banjir bandang

Pak Burhan kemudian berandai-andai, andai saja sebelum kejadian ada peringatan dari warga yang berada di kampung yang ada di daerah hulu. Karena suara dentuman yang didengar warga Kampung Sukakerti sebelumnya ternyata merupakan suara longsor dari bukit yang berada dekat dengan kampung di hulu.

Tapi musibah dan takdir memang tidak dapat dihindari. Curah hujan yang tinggi seharian membuat air terbendung oleh longsoran sampai akhirnya ambrol tidak tertahan. Bencana banjir bandang di Cisalak menjadi bencana terbesar yang terjadi di Jawa Barat di tahun 2016.

Hanya berselang beberapa hari setelah kejadian, anak usia sekolah yang berada di Desa Sukakerti terpaksa menjalani ujian kenaikan kelas, tanpa alas kaki, tanpa persiapan yang memadai. Jangankan alas kaki, baju seragam, tas, buku dan pensil pun semua terbawa hanyut.

banjir bandang cisalak

Sisa banjir bandang, sepatu yang hanya sebelah (dokpri)

Hampir 3 bulan setelah kejadian banjir bandang, Desa Sukakerti kini mulai bebenah. Menyongsong kehidupan yang baru dari kondisi yang boleh dibilang masih berantakan dan trauma yang menghinggapi sebagian besar warga ketika hujan turun.

banjir bandang cisalak

Warga Desa Sukakerti bergotong royong membersihkan saluran air (dokpri)

Potensi ancaman bencana di Indonesia

Secara geografis Indonesia terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Kondisi ini membuat Indonesia berpotensi sekaligus rawan mengalami bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor.

Potensi bencana di Indonesia (Sumber BNPB)

Potensi ancaman bencana di Indonesia (Sumber : BNPB)

Indonesia juga terletak di daerah iklim tropis dan sering mengalami perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini ditambah dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam (secara fisik maupun kimiawi) menghasilkan kondisi tanah yang subur. Sayangnya, kondisi ini juga bisa menimbulkan beberapa bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan.

Jumlah kejadian dan intensitas bencana hidrometeorologi diperparah dengan semakin massifnya kerusakan lingkungan hidup.

Pada tahun 2006 misalnya, terjadi bencana tanah longsor dan banjir bandang di daerah Jember, Banjarnegara, Manado, Trenggalek dan beberapa daerah lainnya. Bahkan dari data Kementerian Pekerjaan Umum, terhitung 90 persen bencana alam yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan air (Sumber: Kaleidoskop Kementrian Pekerjaan Umum, Tahun 2011)

Jumlah bencana alam yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2016 (Sumber BNPB)

Jumlah bencana alam yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2016 (Sumber BNPB)

Jumlah kerugian akibat bencana banjir, banjir & tanah longsor, tanah longsor sepanjang tahun 2016 di Indonesia (Sumber BNPB)

Khusus bencana banjir bandang, di tahun 2016 tercatat beberapa daerah di Indonesia mengalami bencana banjir bandang, yaitu Bireun, Aceh (10 Februari 2016), Merangin, Jambi (25 Februari 2016), Merangin, Jambi (26 April 2016), Subang, Jawa Barat (22 Mei 2016), Jawa Tengah (18 Juni 2016), Gampong Beureunut, Aceh (20 Juni 2016), Serang, Banten (25 Juli 2016), dan Kepulauan Sangihe (20-21 Juni 2016).

Jumlah kerugian yang ditimbulkan akibat bencana banjir bandang ini tidak sedikit. Misalnya saja yang terjadi di Subang, Jawa Barat, bencana banjir bandang mengakibatkan kerugian sebesar kurang lebih 15 miliar (Sumber: Tempo)

SS 2016-08-10 at 12.19.47 AM

Sementara banjir bandang yang terjadi di Jawa Tengah dan Sangihe mengakibatkan kerusakan secara nilai ekonomi yang mencapai nilai 302,37 miliar (Sumber: BNPB)

SS 2016-08-10 at 12.23.26 AM

Bencana tidak hanya mengakibatkan kerugian secara nilai ekonomi, bencana yang terjadi juga berdampak pada seluruh aspek kehidupan masyarakat mulai dari kesehatan, pendidikan, sampai korban jiwa dan psikososial.

Minimalisasi Risiko Bencana Melalui Inovasi

Meski tak semua bencana dapat dicegah, namun pengembangan berbagai hasil penemuan dan inovasi mampu meminimalisir risiko bencana yang lebih besar.

Di Pekan Sains Teknologi yang diadakan dari tanggal 9-11 Agustus 2016, kita bisa melihat beragam inovasi infrastruktur terbaru Litbang PU.

Pembangunan rumah berbahan bangunan berbasis limbah

Perkembangan pembangunan tidak dapat dilepaskan dari peningkatkan kualitas infrastruktur. Tidak hanya untuk fasilitas umum namun juga untuk hunian. Begitu juga di tempat terjadinya bencana seperti di Desa Sukakerti kemarin, di mana 16 rumah rusak berat. Tentu saja para pengungsi memerlukan hunian yang baru. Biaya yang diperlukan untuk membangun hunian yang aman dan nyaman juga terhitung tidak murah. Sementara materi yang diperlukan sebagai bahan bangunan (kayu, batu kapur, dan lain-lain) semakin sulit untuk didapatkan. Kendala lain adalah waktu yang sempit dan tenaga yang terbatas.

Sebagai solusi, Puslitbangkim KemenPUPR ini berhasil mengembangkan teknologi pembangunan rumah yang sangat fleksibel; cepat dibangun, dapat berpindah tempat dan tahan terhadap gempa, yaitu RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat).

Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan hunian pasca bencana, RISHA juga diharapkan mampu memenuhi back log perumahan. Pada tahun 2002, target pembangunan sebanyak 130.000 unit hanya 39.797 unit yang terealisasi. Sementara di tahun 2003, target pembangunan 92.500 unit, hanya tercapai 15.126 unit.

Risha dikembangkan dengan sistem modular dengan teknologi konstruksi sistem pracetak yang dapat dibongkar pasang (knock down) dengan menggunakan sistem sambungan kering. waktu yang diperlukan untuk pembangunan setiap  modul adalah 24 jam oleh 3 pekerja. Saat ini telah memiliki 67 aplikator dan diterapkan sebanyak + 10.000 unit di Aceh paska Tsunami (Sumber Puskim PU)

RISHA (Sumber puskim.pu.go.id)

RISHA (Sumber puskim.pu.go.id)

Selain Risha, Litbangkim KemenPUPR juga memiliki RIKa (Rumah Instan Kayu). RIKa merupakan rumah instan yang berbahan dasar kayu kelas rendah yang cepat tumbuh seperti kayu sengon, karet, akasia mangium. Hanya saja kayu-kayu ini diproses dan diolah terlebih dahulu sehingga kualitasnya setara dengan kayu kualitas kelas satu. RIKa ini telah teruji dan diterapkan di daerah rawan bencana.

Di Pekan Inovasi Sains Teknologi, PuslitbangKim KemenPUPR juga mempresentasikan bahan bangunan pracetak berbasis limbah untuk mengurangi masalah lingkungan. Misalnya saja dari Limbah Batubara (Fly ash, bottom ash), Drilling Cutting, Limbah Tambang (tailing/pasir sisa tambang).

Komponen bahan bangunan dari limbah batubara (Sumber Litbang PU)

Komponen bahan bangunan dari limbah batubara (Sumber Litbang PU)

Pengolahan tailing emas Antam menjadi bahan bangunan (Sumber Mongabay)

Pengolahan tailing emas Antam menjadi bahan bangunan (Sumber Mongabay)

Sebagai tambahan, beberapa waktu yang lalu sekelompok pemuda sekelompok pemuda dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjajaran (Unpad) berhasil menciptakan bahan bangunan dengan memanfaatkan materi organik, yaitu dari limbah baglog dan limbah tapioka.

Bahan bangunan organik yang berasal dari limbah (Sumber goodnewsfromindonesia)

Bahan bangunan organik yang berasal dari limbah (Sumber: goodnewsfromindonesia)

Bahan bangunan organik berbasis limbah ini diklaim bisa menggantikan materi batu bata, papan, dan kayu. Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku kayu, bahan bangunan organik juga bisa lebih murah dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Konservasi Tanah dan Air

Banjir bandang di Desa Sukakerti kemarin diawali oleh adanya erosi tanah di lereng bukit. Dari hasil pengamatan tim geologi, ada 100 titik rawan longsor dan 3 titik longsor diantaranya mengakibatkan bendungan di Sungai Cihideung (Sumber: Koran Sindo)

Perlu upaya memperkuat lereng sesegera mungkin untuk mencegah kelongsoran, seperti memasang bronjong, trap terasering, atau dinding penahan sesuai dengan keadaan di lapangan.

Trap terasering dengan bebatuan

Trap terasering dari batu, teras bisa ditanami pohon untuk memperkuat (Sumber : Vetiver Indonesia)

Dinding penahan longsor bisa dibuat dari sabut kelapa yang dibentuk menjadi jaring pengaman.

Pemasangan jaring pengaman dari sabut kelapa

Pemasangan jaring pengaman dari sabut kelapa di Cilacap (Sumber : Mongabay)

Penggunaan jaring pengaman dari sabut kelapa bisa dikombinasikan dengan tanaman Vetiver hidup (Vetiveria zizanioides) atau yang dikenal sebagai Miracle grass oleh para peneliti. Vetiver memiliki kerapatan akar yang sangat baik, mampu mengikat dan memperkuat tanah karena fungsinya menyaring dan memadatkan tanah tempat ia tumbuh (Sumber: Lipi).

Vetiver juga bisa mengurangi beban yang diterima tanah saat mengalami tumbukan dengan hujan, karena air hujan yang jatuh akan disaring terlebih dahulu oleh daun-daun vetiver.

Pusjatan telah memanfaatkan tanaman vetiver untuk menangani erosi di permukaan lereng jalan.

Konservasi vegetatif melalui Vetiver dapat dianalisis terlebih dahulu melalui Aplikasi VETIVER yang bisa diakses di http://rhk.pusjatan.pu.go.id/vetiver/vetiver.php#program.

Flood early warning system

Banjir yang terjadi di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau merupakan indikasi nyata rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS).

Flood Early Warning System yang merupakan salah satu produk unggulan Balitbang PUPR juga perlu diterapkan di daerah hulu sungai.

Seperti yang dituturkan oleh Pak Burhan, terjadinya bencana banjir bandang di Desa Sukakerti diawali oleh tanah longsor beberapa jam sebelumnya. Curah hujan yang tinggi membuat air yang seharusnya mengalir dari hulu sungai, tertahan oleh longsoran tanah, membentuk bendungan sampai akhirnya ambrol dan menerjang Desa Sukakerti.

Pak Burhan berharap adanya pemantauan mengenai kondisi tanah dan hulu sungai yang berada di lembah perbukitan.  Sehingga ketika sungai di daerah hulu sudah mendekati batas aman, warga yang tinggal di daerah aliran sungai menerima peringatan dari flood early warning system dan bisa segera menyelamatkan diri.

Selain itu perlu diberikan edukasi terpadu agar masyarakat memahami cara konservasi tanah dan air, serta mengetahui gejala-gejala bencana alam.

Pemetaan Jalur Evakuasi

Saat terjadi banjir bandang di Desa Sukakerti, Cihideung, Cisalak, warga sempat mengalami kebingungan sebelum akhirnya melarikan diri ke bukit yang ada di samping. Selama berjam-jam warga terisolasi di atas bukit ini dengan kondisi yang memprihatinkan. Beruntung salah satu warga membawa alat komunikasi dan segera mengabarkan kondisi warga ke aparat.

Untuk daerah rawan bencana, perlu segera dibuat jalur evakuasi dengan kondisi jalan yang memadai. Karena ada beberapa rute jalur evakuasi yang kondisi jalannya cukup sempit.

Selain itu, masyarakat mengalami kesulitan dengan penentuan tempat evakuasi sementara. Ketika bencana banjir bandang di Desa Sukakerti kemarin terjadi, selama masa tanggap darurat bencana sebagian besar warga mengungsi di fasilitas umum (Kantor Desa), sebagian lagi mengungsi ke rumah saudara/kerabat.

Untuk masa tanggap darurat yang lebih lama, pengungsi bisa memanfaatkan tenda darurat Huntara temuan Litbang PU yang bisa dibangun dalam beberapa menit saja. Huntara, sebagai inovasi terbaru di bidang kebencanaan dipresentasikan pada Pekan Sains Teknologi 9-11 Agustus 2016 di Jakarta.

Huntara yang dipamerkan di (Sumber Kompasiana)

Huntara, salah satu inovasi Litbang PU di bidang kebencanaan (Sumber Kompasiana)

Minimalisasi risiko bencana memang bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi perlu kerjasama dari berbagai pihak, baik lembaga, industri, institusi pendidikan, swasta, dan juga masyarakat.

Pengaplikasian inovasi terkait kebencanaan temuan Litbang PU di seluruh daerah rawan bencana di Indonesia pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit. Namun jika inovasi bisa mencegah risiko bencana yang lebih besar terjadi, tentunya dampak kerugian yang ditimbulkan pun tidak akan terlalu banyak.

One thought on “Minimalisasi Risiko Bencana Melalui Inovasi

  1. Nia Haryanto

    Wah… baru tahu kalo limbah banyak juga dipergunakan untuk bahan bangunan. Semoga inovasinya semakin berkembang, ya, biar bencana seperti yang terjadi di Subang kemarin tidak terjadi lagi. Kasihan penduduk di tempat rawan bencana begini. Gak bisa tenang…

Leave a Reply