#Kurbanesia Dompet Dhuafa, Berkurban dan Memberdayakan

Pemandangan di jalanan beberapa hari terakhir ini nampak berbeda. Selain umbul-umbul berwarna-warni dan beragam spanduk serta poster ASIAN GAMES, nampak juga hewan-hewan seperti domba dan sapi yang berjajar di tepi jalan.

Salah satu pemandangan yang seringkali dijumpai menjelang Idul Adha

Wah… iya, lebaran haji memang sebentar lagi! Itu artinya sebentar lagi Pak RT juga bakal keliling kampung mengantar keresek berisi daging kurban dari pintu rumah warga yang satu ke pintu rumah lainnya. Jumlah daging kurban yang dibagikan biasanya bertambah dari tahun ke tahun, karena jumlah pekurban yang juga meningkat.

Tapi pernah kebayang gak sih… kalau ada yang seumur hidupnya belum pernah merasakan daging kurban?

Bagi kita yang hidup di perkotaan rasanya gak mungkin ya kalau sampai gak kebagian daging kurban. Apalagi jauh sebelum waktu kurban tiba, biasanya sudah ada data-data siapa saja yang berhak menerima daging kurban.

Dulu, ketika Abah masih sehat dan menjadi panitia kurban di masjid dekat rumah, ratusan kupon daging kurban dibagikan kepada warga dan kaum dhuafa di sekitar masjid. Sampai sekarang juga masih ada pembagian kupon daging kurban. Nyaris tidak ada yang terlewat karena stok hewan kurban di perkotaan memang cukup melimpah.

Jujur saja, tak jarang saya juga mendapat beberapa bungkus daging kurban dalam sehari. Dari Pak RT yang membagikan hewan kurban yang dipotong secara kolektif di masjid, juga dari beberapa tetangga yang memotong hewan kurban sendiri.

Teman-teman sendiri, dapet berapa kilo nih? Lumayan lah ya stok daging seminggu aman hihi…

Bagaimana dengan di desa-desa, terutama yang letaknya terpencil? Atau di daerah yang sedang terkena bencana seperti di Lombok? Atau di daerah konflik seperti di Gaza?

Ternyata ada lho warga desa yang sama sekali selama belasan tahun gak pernah makan daging kurban. Seperti di daerah Tambora misalnya, masyarakatnya selama 15 tahun belum pernah berkurban dan merasakan daging kurban.

Gak perlu jauh-jauh ke Tambora, di Sukabumi saja yang masih terbilang dekat dengan ibukota Jakarta, masih ada warga yang belum pernah merasakan daging kurban.

Koq bisa? Karena memang gak ada penduduk di daerah itu yang mampu berkurban. Distribusi daging kurban pun hanya terpusat di perkotaan atau di sekitar tempat pekurban.

Kurbanesia, #TebarHewanKurban Hingga Ke Pelosok Indonesia

Sejak tahun 1994, Dompet Dhuafa menggagas program #TebarHewanKurban yang menyebarkan hewan kurban ke berbagai wilayah di Indonesia.

Pertama kali, program ini bernama Menebar 999 Hewan Kurban, dan di tahun 1998 berubah nama menjadi Tebar Hewan Kurban (THK).

Di tahun 2017, hewan kurban tersebar di 1310 Desa, 455 Kecamatan, 118 Kabupaten, dan 19 Provinsi di Indonesia. Sebanyak 683.760 jiwa dapat merasakan manfaat dari kurban yang telah disalurkan melalui Dompet Dhuafa.

Untuk tahun ini Dompet Dhuafa menargetkan dapat menyebar sedikitnya 25.000 hewan kurban ke berbagai pelosok negeri. Daerah-daerah yang menerima penyaluran hewan kurban program #TebarHewanKurban mayoritas adalah yang tinggal di pelosok-pelosok Nusantara, rawan gizi, terbelakang, miskin, daerah yang terkena bencana dan kerusuhan, wilayah perbatasan, kawasan dalam pegunungan, pesisir pantai, hingga pulau terluar.

Tak hanya di dalam negeri, sebagian hewan kurban juga akan didistribusikan ke beberapa negara di dunia, seperti ke Mindanao di Filipina, Myanmar, Timor-timur dan Gaza di Palestina.

Dengan program THK, diharapkan daging kurban bisa terdistribusi secara lebih merata, tidak lagi menumpuk di perkotaan saja.

Untuk memudahkan masyarakat atau donatur dalam berkurban, Dompet Dhuafa sudah menyiapkan berbagai layanan. Antara lain melalui kurban.dompetdhuafa.org, kanal perbankan, payment online, serta kerja sama dengan puluhan konter di mal, perkantoran dan pusat perbelanjaan.

Jangan khawatir, setelah melakukan pembayaran untuk kurban, teman-teman donatur akan langsung mendapakan informasi melalui surat elektronik atau pesan singkat seluler terkait kurban, akan didistribusikan dan disembelih di mana. Setelah proses kurban selesai, teman-teman donatur juga akan mendapatkan laporan kurban lengkap dengan foto.

Hmmmm… ragu dengan kualitas hewan kurban karena teman-teman sama sekali gak “bertemu muka” dengan hewan kurbannya?

Ada kan yang merasa kurang afdhol jika belum melihat sekaligus memegang bagaimana wujud hewan yang akan dikurbankan. Wajar. Karena pastinya kita juga menginginkan yang terbaik.

Nah, soal ini juga gak perlu dikhawatirkan.

Minggu kemarin saya dan teman-teman Blogger kembali berkunjung ke Kawasan Kebun Agroindustri @dompet_dhuafa Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang.

Itu tuh… kebun buah naga yang dikelola dari hasil wakaf.

Sudah tahu donk kalau di kawasan perkebunan ini tidak hanya ditanami nanas, buah naga dan pepaya. Tetapi ada juga Sentra Ternak Domba.

Kalau belum tahu apa dan bagaimana asal usul kebun Agroindustri Dompet Dhuafa ini, baca dulu tulisan saya yang satu ini ya…

WAKAF PRODUKTIF DOMPET DHUAFA, #MEMBENTANGKEBAIKAN DENGAN 5000 RUPIAH SAJA

Kali ini kunjungan kami untuk melihat, bagaimana kondisi hewan-hewan kurban yang dikelola oleh mitra THK di Desa Cirangkong.

Proses QC yang Ketat dan Rutin, Kualitas Kurban Terjamin

Seperti kita tahu, sedikitnya ada tiga hal yang harus diperhatikan saat memilih hewan kurban, yaitu, umur yang mencukupi (untuk domba sudah berumur 6 bulan/kambing sudah berumur 1 tahun), sehat/tidak cacat dan berat yang mencukupi.

Sebelum pelaksanan kurban, Dompet Dhuafa memiliki standar terhadap hewan yang akan didistribusikan. Berikut adalah standar yang harus dipenuhi hewan kurban Dompet Dhuafa:

1. Bobot sesuai standar
Agar kebermanfaatannya semakin luas, domba yang akan dikurbankan harus memenuhi bobot yang terbagi menjadi dua kelas, yaitu:
– Standar: 23-28 kg
– Premium: >29 kg

Sementara bobot sapi harus memenuhi standar 250-300 kg

2. Kesehatan
Hewan kurban harus dalam keadaan tidak cacat dan sehat, yang ditandai dengan wajah dan mata cerah, hidung tidak berair, badan lincah, dan tidak ada borok.

3. Umur yang mencukupi
Hewan kurban yang sudah cukup umur bisa dilihat dari giginya yang sudah mengalami pergantian.

Dompet Dhuafa melakukan Quality Control yang ketat dan rutin agar tiga hal di atas bisa terpenuhi.

Di Sentra Ternak Domba Cijambe, ada 3 kandang besar yang diisi masing-masing 80 ekor domba, jadi total ada 240 ekor domba di sana.

Satu kandang besar untuk pembibitan, berisi 6 ekor jantan dan sisanya betina.

6 ekor pejantan yang ada semuanya merupakan bibit unggul dari Garut.

Sementara dua kandang besar lainnya digunakan untuk penggemukan.

Jika diperhatikan, domba yang ada di Sentra Ternak Dompet Dhuafa ini ada yang dilingkari biru dan merah.

Yang dilingkari biru artinya sudah memenuhi bobot standar (23-29 kg). Sementara yang dilingkari merah bobotnya lebih dari 29 kg dan memenuhi bobot premium.

Bagaimana jika sampai waktunya didistribusikan bobot domba ternyata belum mencukupi?

Jika ditemukan masih ada hewan yang belum memenuhi bobot minimal tersebut, mitra wajib mengganti ternak dengan dengan bobot yang memenuhi syarat berat minimal. Jika tidak, hewan yang tidak memenuhi bobot minimal akan menjadi pengurang kuota mitra

Sepanjang pengamatan saya kemarin, nyaris semua domba yang ada di kandang penggemukan sudah mendapatkan tanda biru maupun merah. Domba-domba juga nampak bersih dan terjaga kesehatannya.

Meski saat ini masih terhitung musim kemarau, namun tidak ada kendala berarti dalam memenuhi kebutuhan pakan domba. Karena pakan domba tidak bergantung pada rumput yang sulit dicari di musim kemarau, melainkan memanfaatkan hasil perkebunan di sekitar.

Karena berada di kawasan perkebunan buah nanas dan buah, peternak mengolah limbah kulit nanas menjadi pakan hewan yang dicampur dengan jerami, gula/kecap manis, dedak padi, bakteri (soc).

Dari beberapa hasil penelitian, diketahui kulit buah nanas dapat digunakan sebagai sumber energi untuk kebutuhan produksi ternak.

Jadi kulit nanas hasil produksi tidak dibuang begitu saja. Melainkan dimanfaatkan untuk pakan domba dan juga pupuk buah naga.

Karena merupakan kawasan perkebunan terintegrasi, kotoran domba yang dihasilkan juga digunakan sebagai pupuk di perkebunan.

Menarik, karena baik limbah perkebunan maupun limbah peternakan, di Kawasan Kebun Agroindustri Dompet Dhuafa ini semua bisa dimanfaatkan.

#TebarHewanKurban Dompet Dhuafa, Berkurban dan Memberdayakan

Selain 240 domba yang ada di kandang utama Sentra Ternak Domba Cijambe,Dompet Dhuafa juga melakukan program intiplasma yaitu bermitra dengan warga sekitar untuk memberdayakan masyarakat.

Ada 147 ekor domba yang dipelihara oleh 30 kepala keluarga di sekitar Desa Cirangkong. Masing-masing kepala keluarga memelihara 5 ekor dan bibitnya disiapkan oleh Dompet Dhuafa. Tak sekedar mendapat bibit, mereka juga mendapat penyuluhan dan dikontrol terus menerus dalam proses pemeliharaannya agar kualitas ternaknya sama dengan yang dipelihara di sentra ternak.

Ketua Kelompok Sentra Ternak Desa Cirangkong, Pak Amud (56 tahun) menjelaskan, bahwa berbekal ilmu yang diperoleh dari para pendamping, beliau yang bertanggung jawab melakukan pemeriksaan sekaligus memberikan arahan kepada anggota kelompok ternak di Desa Cirangkong.

Upami pas dikontrol aya nu kirang sehat atanapi beuratna kirang, ku bapa dipasihan terang kedah kumaha, ujar Pak Amud.

Pak Amud sangat merasakan manfaat yang didapat dari adanya program mitra Dompet Dhuafa ini.

Mulai dari hal kecil seperti cara mencukur domba agar terlihat bersih dan rapi, menjaga kesehatan domba, mengolah limbah nanas agar bisa dimanfaatkan menjadi pakan domba, sampai meningkatnya penghasilan rata-rata keluarga mitra.

Selain meningkatkan penghasilan rata-rata, para anggota kelompok ternak juga bisa menikmati peningkatan kepemilikan asset produktif berupa ternak yang diperoleh dari bagi hasil program.

Tebar Hewan Kurban yang digagas Dompet Dhuafa ini adalah bukti nyata, bagaimana kurban bukan hanya sekedar berkurban dan pendistribusian daging kurban yang merata, namun juga bisa memberdayakan peternak lokal seperti Pak Amud agar bisa mandiri.

Jadi, sudah gak ragu lagi kan meski kurban gak pegang-pegang hewannya secara langsung? Yang penting kan keikhlasan dan kebermanfaatannya… Selamat berkurban ya!

oRiN

oRiN, emak 3 anak, bloggergoler.

4 Comments

  1. Baru tahu klo sentra ternak dan sentra pertanian bisa saling melengkapi… limbah tani bisa jadi makanan domba, limbah domba bisa jadi kompos…

Leave a Reply

Your email address will not be published.