Wakaf Produktif Dompet Dhuafa, #MembentangKebaikan Dengan 5000 Rupiah Saja

Waah… kapungkur mah dugi ka begadang dua dinten, Neng. Panen nanas sampai malam hari. Soalnya harus memenuhi permintaan pembeli buat diekspor. Kejar waktu, sebab setelah panen pun harus disortir dulu. Bapak sama teman-teman yang lain sampai kewalahan“, ujar Pak Ade Suherlan (59), mitra petani #IndonesiaBerdaya ketika saya temui di Kebun Agroindustri Dompet Dhuafa yang berada di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang.

Pak Ade nampak sedang mengenang masa lalunya bersama PT. Morelli Makmur, pabrik pengolahan nanas yang sempat jaya pada masanya.

Pak Ade Suherlan, Petani #IndonesiaBerdaya Desa Cirangkong, Cijambe, Subang

Nanas dan Sisa Kejayaan PT Morelli Makmur

Tugu Nanas Subang

Jika teman-teman kebetulan berkunjung ke Kota Subang dan melewati Jalancagak, pastinya teman-teman akan menemui sebuah tugu berupa patung Nanas. Di sepanjang jalan jalur Subang Selatan pun, teman-teman akan dengan mudah menemui kios-kios yang menjual nanas.

Subang Kota Nanas

Ya, Subang memang dikenal sebagai kota Nanas. Wajar saja jika Subang mendapatkan julukan tersebut. Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu produsen nanas terbesar di Indonesia mempunyai sebaran produsen nanas yang terpusat di Kabupaten Subang (Sumber Setjen Pertanian).

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Subang, luas perkebunan nanas di tahun 2009 adalah 19.826 Ha. Sayangnya luas kebun nanas di Subang mengalami penyusutan dari tahun ke tahun. Di tahun 2012 lalu, luas kebun nanas hanya tinggal 10.721 Ha.

Dalam lima tahun terakhir produktivitas nanas Indonesia cenderung menurun yang disebabkan oleh turunnya tingkat produktivitas nanas di Jawa. Penurunan produksi nanas di Jawa Barat sejalan dengan rendahnya produktivitas nanas yang disebabkan ketidakmampuan petani untuk menggunakan teknologi seutuhnya (Lubis, et al., 2014).

Pak Ade dan petani nanas lain di Subang adalah salah satu contoh petani yang tidak mampu menggunakan teknologi seutuhnya. Selain itu keterbatasan permodalan sampai ke pemasaran, membuat Pak Ade dan petani lain gulung tikar.

Dahulu, PT. Morelli Makmur (PT MM) mengelola lahan HGU milik pemerintah seluas 2.474 ha dan menjadi pabrik olahan nanas terbesar di Subang.

Pabrik PT MM  berdiri pada tanggal 14 Oktober 1988 dan terafiliasi dengan keluarga Cendana, yakni keluarga Soeharto. Pabrik seluas 5 Ha tersebut dibangun dengan modal Rp5 miliar, sebagai bentuk komitmen pemerintah pusat mengembangkan dan mengolah hasil perkebunan rakyat.

Selain menanam nanas sendiri, PT MM juga membeli nanas dari para petani dan mengadakan program Pola Inti Rakyat, di mana perusahaan mendampingi petani, memberikan suplai bibit, hingga pelatihan pola tanam dan panen. Dalam sehari pabrik tersebut memproduksi 20-40 ton nanas untuk diolah menjadi produk nanas kalengan dengan target pemasaran di dalam dan luar negeri.

Di tahun 1991, NU menjalin kerja sama dengan PT MM dan melepas ekspor perdana sari nanas sebanyak sembilan peti kemas ke Taiwan (Sumber Tempo)

Sayangnya, karena kondisi krisis politik dan ekonomi,PT MM akhirnya bangkrut di tahun 1998.

Bisa dibayangkan apa yang terjadi pada Pak Ade dan puluhan petani lain, juga para pekerja yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung jika kebun nanas seluas 2 ribuan hektar yang dikelola oleh PT MM ini bangkrut.

Ibarat anak yang kehilangan bapaknya, warga yang selama ini menggantungkan hidup dengan mengandalkan hasil kebun pun kehilangan mata pencaharian. Tak hanya itu, ribuan hektar lahan bekas PT MM pun menjadi lahan tidur yang tidak terurus dan tidak produktif.

Masa-masa kejayaan di mana Pak Ade dan teman-teman sampai harus begadang berhari-hari demi memenuhi pesanan pun tinggal kenangan.

Kebun AgroIndustri Dompet Dhuafa, memberdayakan kembali lahan yang mati suri

Beruntung selama 3 tahun ini Pak Ade dan 31 petani lain di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang ini mendapatkan pembinaan dari Dompet Dhuafa.

Melalui Wakaf Produktif yang dikelola oleh Dompet Dhuafa, kini Pak Ade dan teman-temannya bisa kembali mengembangkan senyum.

Di tahun 2014, Dompet Dhuafa melalui program Indonesia Berdaya (IB) membeli lahan seluas 10 Ha di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang untuk dijadikan Klaster Terpadu. Dengan pembelian lahan ini, lahan yang seharusnya produktif tidak jatuh ke tangan asing dan yang paling penting masyarakat di sekitar juga kembali berdaya.

Klaster Terpadu Indonesia Berdaya adalah salah satu dari program Wakaf Produktif Dompet Dhuafa dalam bidang ekonomi dan pemberdayaan petani. Di Klaster Terpadu ini sudah tertanam berbagai jenis buah-buahan seperti buah naga, nanas, pepaya, jambu kristal.

Karena merupakan kawasan pertanian terpadu, Kebun Agroindustri Dompet Dhuafa Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang tidak hanya ditanami berbagai jenis buah-buahan seperti buah naga, nanas, pepaya, jambu kristal. Tetapi ada juga peternakan domba dan ayam.


Saat ini ada 7 ekor pejantan yang semuanya merupakan bibit unggul dari Garut. Indukan dan domba pedaging ditempatkan dalam kandang yang terpisah. Total ada 150 ekor domba di sini, 80 diantaranya dijual untuk memenuhi kebutuhan selama Idul Adha kemarin.

Pakan domba memanfaatkan hasil perkebunan di sekitar. Selain rumput untuk domba pejantan dan indukan, juga disediakan pakan khusus untuk domba pedaging. Yaitu pakan yang dibuat dari fermentasi jerami dan kulit nanas.

Jadi kulit nanas hasil produksi tidak dibuang begitu saja. Melainkan dimanfaatkan untuk pakan domba dan juga pupuk buah naga. Kotoran domba dan ayam yang dihasilkan juga digunakan sebagai pupuk di perkebunan.

Tidak berhenti di aspek pemberdayaan petani lokal untuk mengolah lahan yang ada. Dompet Dhuafa juga mengembangkan industri olahan buah dan telah memberdayakan 15 orang ibu-ibu dari daerah setempat untuk mengupas dan mengolah nanas di Rumah Pengolah Nanas (RPN). Sayangnya ketika saya berkunjung ke RPN, hari sudah sore dan ibu-ibu yang mengolah nanas di RPN sudah pulang.

IMG_20171225_000236

Nantinya, nanas tersebut akan dijual di pasaran dalam bentuk minuman atau produk olahan lainnya seperti selai. Lokasi home industri ini tidak jauh dari lahan sehingga memudahkan akses dan proses produksi.

Saat ini hasil panen dari Klaster Terpadu Indonesia Berdaya di Subang, sudah bisa dibeli di De Fresh, mini market milik Dompet Dhuafa yang berada di Jalan Raya Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ikhtiar ini dilakukan untuk mendukung produk-produk hasil petani lokal dapat berkembang dan terus meningkat di pasaran.

Sekarang, Pak Ade dan petani lain kembali menemukan harapan.

Musim panen kemarin, ke bandar paling diterima 3-4 juta. Kalau di sini saya bisa dapat 5 juta. Yaaah… ada lah beda 1000 per kilo”, kataPak Ade.

Hasil Panen Kebun Agroindustri Dompet Dhuafa Cijambe

Dulu petani tidak berdaya sama sekali. Ketika bandar mengatakan bahwa di musim hujan konsumen buah-buahan terutama nanas jauh berkurang, mau tidak mau nanas dari petani dijual murah ke bandar“, ungkap Pak Ade.

Bapak baru tahu kalau ternyata dulu itu kita dibohongi. Jadi kalau dulu bandar bilang konsumen berkurang di musim hujan, kenyataannya di musim panas maupun hujan, konsumen nanas tidak pernah berkurang“, ujar Pak Ade.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar, menurut Agung Kharisma, pendamping Program Indonesia Berdaya yang menurut saya salah satu contoh Hero Jaman Now karena rela mendampingi para petani di Desa Cirangkong yang letaknya sangat terpencil, sekarang panen nanas tidak mengenal musim karena menggunakan teknik forcing untuk mengatur tumbuh bunga. Sejak diberi perlakuan forcing, bunga keluar dalam waktu dua bulan dan matang lima bulan kemudian. Jadi, total 7 bulan untuk waktu untuk panen.

Screenshot_20171225-000601_1

Dalam sekali panen mampu menghasilkan 1 hingga 1,5 kg nanas perbuahnya. 1 hektar bisa 40 ribu buah. Kalau ditotal bisa 40 ton per hektare,” ungkap Agung

Sementara untuk buah naga, satu pohon bisa menghasilkan sampai 10 kg. Berarti ada 10 ton buah naga tiap hektarnya sekali panen.

Kalau buah naga masa panennya selama November hingga April. Sebulan sekali keluar bunganya, mekar, dari mekar sampai panen butuh 33 hari,” katanya.

Untuk melengkapi potensi pariwisata Kebun AgroIndustri Dompet Dhuafa, ada cottage yang disewakan dengan harga Rp. 200.000,-/malam. Saat ini sudah ada dua cottage dan menyusul 4 cottage lain yang sedang dibangun.

Wakaf Produktif Dompet Dhuafa, #MembentangKebaikan Dengan 5000 Rupiah Saja

Dari mana Dompet Dhuafa mendapatkan dana untuk membeli dan mengelola lahan seluas 10 Ha tersebut? Dananya berasal dari wakaf yang dikumpulkan oleh para donator.

Seperti kita tahu, wakaf adalah harta yang mengalir abadi sampai meninggal dunia. Harta yang diwakafkan akan menjadi amal jariah yang tidak terputus.

Dalam sejarahnya, wakaf pertama kali diserahkan dari Sayyidina Umar bin Khattab kepada Rasulullah SAW. Namun keika itu, Rasulullah kembali menyerahkan dengan pesan,

Engkau tahan pokoknya, dan ambil hasil di atasnya untuk mereka yang berhak (mawkuf alaihi)

Saat ini cukup banyak harta wakaf yang terlantar dalam pengelolaannya, bahkan ada harta wakaf yang hilang. Salah satu penyebabnya adalah umumnya wakif hanya mewakafkan tanah dan bangunan sekolah. Sementara biaya operasional sekolah kurang dipikirkan. Selain itu nazhirnya kurang profesional.

Kurang berperannya wakaf dalam memberdayakan ekonomi umat di Indonesia karena wakaf tidak dikelola secara produktif.

Tak hanya itu, selama ini wakaf juga identik dengan ibadah tersier yang hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang the have. Mustahil rasanya jika wakaf dalam jumlah yang kecil.

Dompet Dhuafa mengubah paradigma ini dengan mengkolektifkan Dana Wakaf, sehingga Wakaf tidak lagi dalam dana besar, tapi dalam bilangan kecil.

Masyarakat umum, bahkan menengah ke bawah sekali pun, bisa melakukan wakaf.

Bahkan menurut Pak Bobby Manulang, Senior Manager Penghimpunan Direktorat Wakaf Dompet Dhuafa, sebanyak 51% wakaf yang diterima oleh Dompet Dhuafa berasal dari donasi sebesar 5ribu-50ribu rupiah saja.

Screenshot_20171224-235846_1

Dengan uang yang jumlahnya “tidak seberapa” itu, kita sudah bisa membantu masyarakat sekitar, baik secara ekonomi maupun sumber daya manusia.

Bukan hanya Pak Ade dan warga di sekitar Kebun AgroIndustri Dompet Dhuafa yang merasakan manfaat Wakaf Produktif ini, karena wakaf produktif dikembangkan dalam 4 pilar dasar  Dompet Dhuafa, yaitu

  • Ekonomi, dengan mendirikan minimarket seperti Daya Mart dan De fresh.
  • Kesehatan, dengan membangun sarana kesehatan yang mengutamakan pelayanan kepada kaum dhuafa seperti RS Sehat Terpadu dan RS Qatar Charity.
  • Sosial agama, misal membangun ruang serbaguna yang disewakan.
  • Pendidikan, dengan mendirikan sekolah unggulan seperti Smart Exelentia.

Melalui wakaf produktif ini, suatu saat nanti akan semakin banyak sektor-sektor produktif, dan Dompet Dhuafa pelan-pelan sudah meninggalkan menarik donasi dari masyarakat karena punya sumber abadi berupa surplus wakaf yang dapat digunakan sebagai dana abadi untuk umat.

Sekarang sudah terbayang, bagaimana uang sebesar lima ribu rupiah saja bisa #MembentangKebaikan mulai dari pelosok desa seperti Desa Cirangkong hingga bisa membuat Indonesia Berdaya?

Jika para pahlawan dulu berjuang dengan mengorbankan nyawa, tak ada salahnya jika kita mulai menyisihkan sedikit harta untuk diwakafkan agar Indonesia bisa semakin berjaya.

oRiN

oRiN, emak 3 anak, bloggergoler.

10 Comments

  1. Thumbs Up untuk Dompet Dhuafa. Menebar kebaikan dengan memberdayakan ummat. Semoga istiqomah dan amanah dalam mengelola dana.

  2. Waduh, nanas Subang! Boleh dong kirimin Teh, barang satu truk atau dua kontener gitu. Sejak dulu Dompet Dhuafa berperan aktif dan kasih solusi ya buat pemberdayaan rakyat. Perlu banyak aksi positif seperti ini agar tidak banyak yang cuma pandai berkoar di medsos saja. Semoga saya bisa meniru walau mungkin kecil dan sederhana. Makasih infonya soal kebun nanas ini Teh.

Leave a Reply

Your email address will not be published.