Nasionalisme Jaman Now, Menjahit Kembali Merah Putih

Teman-teman, permisi ya… saya left dari grup ini karena pembicaraan sudah mulai kurang nyaman“, pesan seorang teman yang disusul kemudian dengan notifikasi keluar dari grup.

Satu per satu teman lain pun menyusul keluar grup. Ada yang pamit, ada yang keluar begitu saja tanpa pamit. Padahal tadinya susah payah teman-teman ini dikumpulkan dalam satu grup setelah berbelas-belas tahun tidak pernah bertemu. Sedih? Ya tentu saja sedih. 

Apalagi penyebab keluarnya ini hanya karena berbeda pendapat dan pandangan politik. Perbedaan yang seharusnya tidak sampai jadi perpecahan.

Seperti biasa, layaknya berita yang dengan cepat menyebar di grup maupun di media sosial, ada yang menyebarkan berita hasil kopas. Entah berita itu dibaca terlebih dahulu, atau hanya diambil kesimpulan dari judulnya saja, yang jelas berita itu sukses membuat grup jadi panas. Padahal jika mau ditelusuri, berita yang disebarkan di grup pun hanya hoax.

Kalau saya perhatikan sih, hal-hal seperti ini tidak hanya terjadi di grup yang saya ikuti saja. Di media sosial, hampir tiap hari saya melihat kubu A dan kubu B saling serang tiada henti. Apa mereka gak capek ya? Jadinya saya sebagai kubu C yang pusing sendiri.

Dan tahukah teman, kalau hal-hal seperti inilah yang membuat merah putih terkoyak. Duh

Hal ini disampaikan oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, melalui acara “Ngobrol Bareng MPR RI” yang berlangsung pada tanggal 11 Desember 2017 di Bandung. Bersama Sesjen MPR RI, Bapak Ma’aruf Cahyono, Pak Zul memberikan kesempatan kepada para Netizen Bandung untuk dapat bersilaturahmi dan berdiskusi langsung. Saya, salah satu diantara Netizen Blogger Bandung yang beruntung mendapatkan kesempatan ini.

Ngobrol Bareng MPR RI – Netizen Bandung, dari curhat sampai ajakan menjahit merah putih kembali

Di acara Ngobrol Bareng MPR RI kemarin, para Netizen seolah dipertemukan dengan bapaknya yang sudah sekian lama tidak terpisah. Salah seorang netizen, Ambu Maria G. Soemitro mengungkapkan bahwa MPR itu sepertinya susah dijangkau, tidak seperti Ketua RT ataupun RW yang bisa dengan mudah ditemui. Padahal kan MPR itu wakil rakyat ya?

Beruntung jaman dan teknologi sekarang sudah berkembang, sehingga komunikasi dengan makhluk seperti MPR ini jadi jauh lebih mudah. Tapi tetap saja, bertatap muka dan berdiskusi langsung lebih seru rasanya.

Di acara Gathering Netizen MPR dan BloggerBdg ini, Pak Zul memberikan kesempatan kepada para Netizen untuk bertanya sebanyak-banyaknya. Alhasil para netizen Bandung menumpahkan segala unek-unek dan keluh kesah, mulai dari kelangkaan elpiji 3 Kg, keluhan pajak penulis, masalah sampah, masalah Papa… eh, Setya Novanto yang terjerat kasus e-KTP hingga persekusi terhadap Ustadz Abdul Somad.

Menanggapi pertanyaan Netizen terkait langkanya gas elpiji 3 Kg, Pak Zul menjawab bahwa tentu saja MPR tidak tinggal diam dan berdiskusi dengan Pertamina serta pihak terkait lainnya untuk mengatasi persoalan yang sedang terjadi, dan diharapkan segera ada solusi dari masalah ini.

Menanggapi pajak penulis, Pak Zul menjelaskan bahwa Anang, melalui Komisi X sedang gencar memperjuangkan pajak royalti untuk penulis, termasuk pencipta lagu.

“Untuk kasus Setnov, yang bersangkutan sudah mundur (dari Ketua DPR), selebihnya biarlah itu menjadi urusan Partai Golkar,” tandasnya saat menjawab pertanyaan Netizen.

Pak Zul kemudian menyentil sikap masyarakat dalam menyikapi kasus korupsi yang sebenarnya sudah banyak kasusnya itu. Pak Zul pun menyoroti penanganan kasus korupsi yang gencar ditegakkan, naamun di sisi lain kasus korupsi ini seperti tak pernah  surut. “Penangkapan terus dilakukan, korupsi pun jalan terus,” kata Pak Zul.

“Kalau menghadapi kasus seperti ini, kita suka marah-marah, tapi di Pemilu (partainya) malah menang lagi, kadang-kadang ini merupakan paradok, karena ini menyangkut kesadaran pemilih,” tandasnya.

Sementara itu Pak Zul mencontohkan apa yang terjadi di Skandinavia. Meski tidak ada lembaga anti korupsi atau komisi pemberantasan korupsi, namun masyarakatnya sudah sangat maju dan berpedoman pada nilai-nilai yang luhur.

Tak heran, ketika ada orang yang menemukan smarthphone keluaran terbaru, maka smartphone ini akan segera kembali ke pemiliknya. Karena masyarakat di sana cukup sadar untuk tidak mengambil apa yang bukan miliknya.

Selain itu, beliau juga mencontohkan, kalau di negara Skandinavia, di mana mereka tak memiliki menteri koperasi, namun Skandinavia memiliki koperasi yang pengelolaannya terbaik di dunia. Bayangkan, terbaik di dunia. Duh… padahal di negara kita jumlah koperasi sampai ribuan ya?

Pak Zul banyak memberikan contoh-contoh nilai luhur yang justru berkembang dan diimplementasi dengan baik di negara-negara maju. Sayangnya, di negara kita yang berpedoman pada Pancasila, nilai-nilai seperti ini justru seperti luntur.

Tak hanya lunturnya nilai-nilai luhur budaya Indonesia, kesatuan bangsa Indonesia saat ini pun mulai terpecah.

Pak Zul mengibaratkan kesatuan bangsa Indonesia dengan bendera merah putih yang terkoyak. Adanya pihak yang bermaksud memecah belah, disambut oleh masyarakat yang begitu mudah terhasut dan terprovokasi, situasi pun menjadi panas dan semakin memprihatinkan.

Oleh karena itu, Pak Zul mengajak netizen di Bandung untuk menangkal maraknya ujaran kebencian yang beredar di media sosial. Sebab, ujaran kebencian bisa memecah-belah persatuan bangsa.

Pak Zul menilai, peran pegiat media sosial dalam meredam ujaran kebencian di dunia maya sangat penting. Karena netizen punya kekuatan pengaruh besar untuk melawan ujaran kebencian tersebut di media sosial.

“Itu yang saya minta ke netizen, mari kita akhiri kebencian itu. Mari kita gunakan energi medsos ke energi positif”, ujar Pak Zul

Menurut Pak Zul, tak jarang ujaran kebencian yang terjadi di dunia maya juga berdampak terhadap kehidupan nyata. Ya, seperti yang dialami di grup yang saya ikuti. Bahkan kemungkinan terburuk mengakibatkan permusuhan antar agama karena ulah oknum tidak bertanggungjawab.

Pak Zul mencontohkan, persekusi yang dialami ustad Abdul Somad di Bali hanyalah ulah segelintir orang tak bertanggungjawab. Meski tak dipungkiri juga muncul kesan ketidakharmonisan antar agama akibat adanya tindakan tersebut.

“Itu tadi misalnya di Bali ribut, bukan berarti orang Bali jahat semuanya, itu oknum. Itu peran teman-teman netizen penting. Ini peran kita warga negara meredam itu,” tuturnya.

Pak Zul berharap penggiat media sosial bisa bersama-sama mengedukasi masyarakat untuk tidak mudah terhasut atau ikut menyebarkan ujaran kebencian kepada seseorang atau kelompok tertentu. Sehingga, bisa tercipta kerukunan dan persatuan.

“Teman-teman netizen penting meluruskan agar timbul peradaban baru. Peran kawan-kawan besar mengedukasi masyarakat. Jangan lagi berbicara SARA atau mem-bully. Kita jahit kembali merah putih utuh dan memperkuat persatuan,” kata Zulkifli.

Ya, tantangan Indonesia saat ini adalah menjahit kembali merah putih yang hampir koyak karena Proses Politik dan Pilkada.

Dalam acara bincang santai ini, Pak Zul juga kembali menyinggung 4 Pilar MPR, yaitu UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Disebutkan bahwa 4 pilar ini akan membuat negara Indonesia aman, tenteram, dan sentosa jika difungsikan dengan baik.

Jaman now seharusnya bukan hal yang sulit menerapkan 4 Pilar MPR di atas. Begitu pun dengan menjahit kembali merah putih yang terkoyak. Bagaimana caranya?

Cukup dengan tidak mudah diadu domba, jangan mudah terhasut dan terprovokasi. Saling bully, saling cerca di media sosial seperti ini sama sekali tidak memberikan keuntungan. Yang ada kita kehilangan teman dan saudara.

Yuk ah, kita jahit kembali merah putih melalui jari-jari kita. Membuat postingan positif, tidak ikut share berita-berita hoax, menelusuri berita dengan benar sebelum share, menahan diri untuk tidak ikut-ikutan ribut, dan lain-lain. Daripada ribut-ribut, mending kita happy-happy… misalnya dengan welfie seperti ini. Setuju kan???

Foto bersama bareng Pak Zul (Foto: Bang Aswi)
Foto bersama bareng Pak Zul
(Foto: Bang Aswi)

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.