Cara Sukanto Tanoto Mengejar Pendidikan

Sukanto_Tanoto
Image Source: Sukantotanoto.net http://www.rgei.com/about/our-leadership/sukanto-tanoto
Image Source: Sukantotanoto.net
http://www.rgei.com/about/our-leadership/sukanto-tanoto

Sukanto Tanoto terbukti tidak pernah menyerah. Semangatnya untuk selalu berusaha tergambar nyata dalam banyak hal. Salah satunya ketika berupaya terus mendapat pendidikan usai putus sekolah.

Jika belum mengenalnya, Sukanto Tanoto merupakan pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle. Perusahaannya ini ia dirikan pada 1973 dengan nama Raja Garuda Mas.

Sekarang Royal Golden Eagle dikenal sebagai korporasi kelas internasional. Mereka bergerak dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam mulai dari industri pulp dan kertas, kelapa sawit, selulosa spesial, viscose fibre, hingga pengembangan energi.

Saat ini, Royal Golden Eagle dikenal sebagai pemain global dalam industri yang ditekuninya. Asetnya ditaksir mencapai 18 miliar dolar Amerika Serikat dengan karyawan sebanyak 60 ribu orang di berbagai belahan dunia.

Melihat kesuksesan yang diraih saat ini, tidak ada yang menyangka bahwa Sukanto Tanoto merupakan korban putus sekolah. Pada masa mudanya, ia sempat berhenti dari pendidikan formal.

Nasib mengenaskan itu dialami Sukanto Tanoto pada 1966. Saat itu, ia baru duduk di kelas tiga sekolah menengah atas. Namun, setahun sebelumnya meletus tragedi G30S PKI. Sukanto Tanoto terkena dampaknya, sekolahnya ditutup.

Kejadian itu membuat Sukanto Tanoto tidak bisa meneruskan sekolahnya. Maklum saja, status ayahnya yang merupakan imigran asal Tiongkok membuatnya tidak bisa bersekolah di sekolah negeri.

Bersamaan dengan itu, sang ayah sakit keras. Sebagai sulung dari tujuh bersaudara, Sukanto Tanoto harus mengambil tanggung jawab. Meski baru berumur 17 tahun, ia harus bekerja mengelola usaha keluarga berupa toko kecil yang menjual onderdil kendaraan, minyak, serta bensin.

Langkah itu membuat Sukanto Tanoto harus pindah dari kota kelahirannya di Belawan ke Medan. Otomatis kesempatannya untuk bersekolah lagi terpaksa hilang.

Lebih dari itu, Sukanto Tanoto juga harus mengubur impian masa mudanya, yakni mengejar karier sebagai dokter. Tanpa pendidikan formal, mimpinya itu jelas mustahil digapai. Belakangan, Sukanto Tanoto mengakui hal tersebut sebagai salah satu pengorbanan terbesarnya dalam hidup.

“Saya ingin menjadi dokter ketika saya muda, tapi harus berhenti sekolah untuk bekerja dan mendukung keluarga saya pada usia 17 tahun. Saya tidak mempunyai kesempatan untuk menerima pendidikan yang pantas begitu saya mulai bekerja,” kenang Sukanto Tanoto.

Akan tetapi, Sukanto Tanoto tidak menyerah terhadap keadaan. Tidak bisa bersekolah tidak membuatnya mengabaikan pendidikan. Ia tahu persis ilmu tetap harus diburu sepanjang hidup.

Ada salah satu trik yang dilakukannya untuk mengejar pendidikan. Sukanto Tanoto rajin membaca. Ia tahu persis bahwa di setiap bacaan terdapat ilmu yang dapat ditimba tanpa perlu bersekolah.

Maka, begitu harus bekerja mengelola usaha keluarga, Sukanto Tanoto semakin rajin membaca. Ia melakukannya di sela-sela kesibukannya. Namun, ini bukan hal baru baginya. Sejak dulu, pria kelahiran 25 Desember 1949 ini memang telah gemar melahap berbagai buku.

“Seperti pepatah lama, tidak ada akhir untuk belajar dan pengetahuan tidaklah terbatas. Meskipun saya tidak bisa menyelesaikan pendidikan saya di sekolah, saya sangat suka membaca sejak saya masih muda,” ujar Sukanto Tanoto.

Jenis bacaan yang diambil Sukanto Tanoto tidak terbatas ke salah satu bidang saja. Pada masa kecil, ia senang terhadap sejarah Revolusi Amerika dan apa pun terkait Perang Dunia. Namun, berbagai informasi menarik lain di koran tetap ia santap.

Kebiasaan itu tetap dilakukannya hingga saat ini. Sukanto Tanoto melakukannya di sela-sela kesibukannya memimpin Royal Golden Eagle. Biasanya ia membawa buku bacaan dalam perjalanan bisnis yang dilakukannya. Kala itu, ia mencuri-curi kesempatan untuk membaca.

“Saya melanjutkan membaca berbagai jenis buku hingga hari ini; saya membaca novel, biografi selebriti dan orang-orang kaya. Pada tahun-tahun terakhir ini, saya lebih menyukai mempelajari peradaban kuno dan membaca buku-buku yang berkaitan dengan filosofi, sejarah, sastra, dan sebagainya,” ucap Sukanto Tanoto.

Ia melakukannya sebagai “kompensasi” atas ketiadaan pendidikan formal yang didapat. Buku merupakan cara terbaik untuk menuntut ilmu tanpa keberadaan seorang guru yang memberi pelajaran.

“Saya berharap untuk memperoleh lebih banyak pengetahuan melalui buku, karena saya tidak memiliki akses selama tahun-tahun sekolah saya,” ujar Sukanto Tanoto.

Manfaat nyata yang diperolehnya dari membaca buku adalah kemampuan berbahasa Inggris. Sukanto Tanoto mampu menguasainya dengan baik setelah belajar secara otodidak.

Cara yang ditempuh sungguh unik. Bermodal kamus Tiongkok Inggris yang dimilikinya, ia biasa mencoba menerjemahkan beragam bacaan seperti dari Reader Digest, Life, serta Newsweek.

RAJIN IKUT BERAGAM JENIS KURSUS

Image Source: Sukantotanoto.net http://www.sukantotanoto.net/
Image Source: Sukantotanoto.net
http://www.sukantotanoto.net/

Bacaan yang dilahap terbukti membuka wawasan Sukanto Tanoto. Meski tidak mengenyam pendidikan formal hingga tuntas pada usia muda, ia sanggup memiliki pandangan yang luas. Tanpa itu, sulit bagi Sukanto Tanoto untuk mengambil beragam keputusan bisnis penting.

Buahnya terlihat nyata. Kini Royal Golden Eagle telah berkembang pesat menjadi korporasi global. Kini mereka memiliki anak perusahaan atau cabang di berbagai belahan dunia mulai dari Singapura, Brasil, Tiongkok, Filipina, serta Finlandia.

Keberhasilan itu malah tidak membuat Sukanto Tanoto berpuas diri. Ia tetap saja terus giat memburu ilmu. Cara yang ia lakukan kini berbeda. Selain tetap membaca buku, Sukanto Tanoto berusaha mencari pendidikan fomal.

Ia melakukannya dengan mengikuti beragam kursus. Biasanya Sukanto Tanoto selalu mencari waktu agar bisa mengikuti kursus di sejumlah institusi bisnis ternama dunia seperti INSEAD dan The Wharton School.

“Saya pun mengikuti berbagai kursus di sekolah-sekolah bisnis terkenal di dunia selama tiga minggu setiap tahun. Saya juga mengambil kursus singkat di berbagai universitas terkenal di seluruh dunia. Hal ini dapat membantu menebus pengorbanan saya akibat berhenti sekolah ketika saya masih sangat muda untuk mendukung keluarga saya,” ujar Sukanto Tanoto.

Sukanto Tanoto pun tak lupa terhadap saudara-saudaranya. Ketika kehidupannya mulai membaik, ia menyekolahkan mereka ke berbagai institusi pendidikan terbaik.

“Saya tidak mempunyai kesempatan untuk menerima pendidikan yang pantas begitu saya mulai bekerja. Setelah membangun sebuah bisnis yang sukses, saya berhasil mengirim adik laki-laki saya ke Singapura untuk menerima pendidikan terbaik,” ucap Sukanto Tanoto.

Rasa haus terhadap pendidikan terbukti mampu mengubah kehidupan seseorang. Sukanto Tanoto telah membuktikannya sendiri. Dari hidup yang keras sehingga putus sekolah, ia mampu menjadi seorang pengusaha sukses berkat tekad besarnya untuk menuntut ilmu.

Semangat itu rupanya ingin disebarkan oleh Sukanto Tanoto kepada khalayak. Ia melakukannya lewat Tanoto Foundation. Yayasan sosial ini didirikannya pada 2001 untuk menghapus kemiskinan dari Indonesia.

Sukanto Tanoto meyakini ada tiga cara utama dalam menghapus kemiskinan. Selain pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas hidupnya, ia percaya bahwa pendidikan sebagai salah satu solusi untuk memutus rantai kemiskinan di Indonesia. Ketiga hal itu pula yang akhirnya menjadi fokus utama kegiatan Tanoto Foundation.

Maka, jangan pernah menyepelekan arti pendidikan. Tuntutlah ilmu di mana saja tanpa harus di sekolah formal. Langkah Sukanto Tanoto dapat menjadi inspirasi bagi Anda agar selalu mengejar pendidikan setiap saat.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.