Tabung Gas Sering Bocor? Awas, Jangan Salah Pilih Regulator!

2017_1031_13220500

Beberapa minggu yang lalu, dapur nyaris kebakaran. Meski saat itu saya tidak panik, nyatanya pasca pengalaman mengerikan ini saya jadi sedikit trauma. Orang Jerman bilang, reuwas kareureuhnakeun. Bawaannya semakin malas saja beraktivitas di dapur. Padahal beragam peralatan untuk mengantisipasi kejadian serupa sudah tersedia. Mulai dari APAR (Alat Pemadam Api Ringan) sampai beli kamera cctv.

Koq CCTV? Yaaa.. kadang kan rumah ditinggal barang sebentar. Jadi walaupun sedang berada di luar, keadaan di rumah masih bisa terpantau melalui CCTV.

Cuma belakangan ini makin was-was saja nih masuk ke dapur. Soalnya pernah setelah jemput anak-anak, pas masuk ke rumah tercium bau gas yang sangat menyengat. Huhuhu…

Anak-anak otomatis gak saya ijinkan masuk ke rumah. Saya sendiri langsung ke dapur, mencabut regulator gas dari tabung. Pintu dan jendela saya buka semua. Tidak lupa, semua aliran listrik pun saya matikan.

Setelah dirasa aman alias tidak tercium bau gas, anak-anak baru saya ijinkan masuk.

Parahnya lagi kejadian seperti ini terjadi berulang kali. Pernah ketika malam hari saya dan anak-anak sudah tidur, Ceuceu ke dapur untuk minum tiba-tiba saja lari ke kamar dan membangunkan saya. Panik.

“Mamah, di dapur bau gas!”

Kali ini anak-anak gak saya minta keluar dari kamar. Cukup matikan aliran listrik selain yang di kamar, cabut regulator, dan saya tinggal tidur. Jam 12 malam duh… Mana tahan kalau harus angkut anak-anak yang sudah terlelap ke luar rumah. Mana anak-anak juga sedang agak pilek. Ceuceu sih jadi gak pulas tidurnya. Sebentar-sebentar terbangun dan menepuk punggung saya,

“Mah, masih bau gak???”

Huufffftttt….

Besoknya Ceuceu update status di Whatsappnya,”Gak betah di rumah. Takut, bau gas terus”.

Haha… ampun deh #kidsjamannow.

Tapi memang ngeri juga sih kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Karena banyak kejadian tabung gas yang tiba-tiba meledak karena adanya kebocoran gas yang tidak disadari pengguna. Alhamdulillah, yang ini masih bisa saya sadari, itu artinya Allah masih sayang sama saya dan keluarga.

Tahu gak, kalau sejak 2007 sampai Juni 2010 ada sekitar 67 juta tabung tiga kilogram dan 12 kilogram yang beredar dan terjadi 36 kasus ledakan. Artinya ada satu kasus ledakan dari setiap dua juta kompor yang menggunakan elpiji. Berdasarkan data dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, sebanyak 70 persen kasus ledakan elpiji berasal dari aksesori kompor gas yang tidak memenuhi standar.

Kenali Penyebab Kebocoran Gas

Sebagian besar kejadian tabung gas meledak dan kebakaran disebabkan adanya kebocoran gas. Bisa jadi dari tabung maupun aksesoris pendukung kompor gas seperti selang dan regulator.

Regulator berfungsi  menyalurkan gas dari tabung ke kompor gas. Nah, pada regulator inilah kerap terjadi kebocoran karena seal yang kendor dan kunci regulator yang aus.

Seringkali saya dibekali seal cadangan ketika membeli gas di warung. Tapi kadang seal cadangannya juga sudah jelek. Akhirnya saya membeli satu pak seal cadangan dari situs belanja online.

2017_1031_13174600

Selain itu kebocoran gas juga bisa terjadi pada selang, baik itu karena kualitas yang buruk, digigit tikus maupun usia selang yang sudah getas atau rapuh. Untuk mengurangi resiko kebocoran selang akibat digigit tikus, saya memakai pengaman selang gas seperti ini.

2017_1031_13194900

Seal sudah oke, selang masih bagus, tapi gas masih bocor. Wah… ini sih sepertinya regulatornya yang sudah gak oke. Wajar, karena sering dibuka tutup, kunci regulator pun jadi aus sehingga regulator pada ujung tabung tidak mengunci dengan baik.

Memilih regulator berkualitas

Resiko kebocoran dapat dihindari dengan pemilihan regulator berkualitas. Nah, seperti apa sih regulator berkualitas itu? Regulator yang berkualitas tentu saja terbuat dari bahan yang tahan lama dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Kualitas regulator ditentukan dari kemampuannya menyalurkan dan mengatur tekanan aliran gas agar stabil. Sebaiknya pilih regulator yang terbuat dari bahan kuningan yang kuat, tahan lama, dan antikarat.

Ada beberapa hal yang harus dihindari ketika memasang regulator, yaitu

  1. Hindari pemasangan regulator secara paksa pada mulut tabung gas. Karena halini bisa mengakibatkan rusaknya regulator dan berpotensi kebocoran gas.
  2. Penggunaan regulator yang sudah kendur dan tidak bisa mengikat sempurna. Biasanya umur regulator berkisar satu-dua tahun.  Daya tahan regulator berkisar antara satu hingga dua tahun. Tapi kalau belum setahunregulator sudah kendur, sebaiknya cepat ganti dengan yang baru.
  3. Pemasangan regulator pada tabung tanpa ada seal karet di mulut tabung gas. Karet seal ini berfungsi sebagai pengikat antara tabung dan regulator, sekaligus pencegah bocornya gas dari celah pertemuan tabung dengan regulator.

Tadinya saya memakai regulator yang seperti ini

memilih regulator

Tapi dengan beberapa pertimbangan, terutama karena regulator yang seperti ini hanya “mengunci sebagian mulut tabung, sementara sebagian lain tidak terkunci, akhirnya saya mengganti regulator dengan yang seperti ini.

2017_1031_13144300

Dengan regulator seperti ini, semua bagian mulut tabung gas terkunci dengan baik. Putar kunci regulator di bagian atas sampai berbunyi klik. Sebelum menyalakan kompor, pastikan tabung gas tidak mengeluarkan bunyi mendesis.

Pemasangan regulator seperti ini memang sedikit lebih repot dan relatif memakan waktu yang lebih lama. Tapi setidaknya resiko kebocoran gas karena mulut tabung yang terkunci sebagian bisa saya hindari dan saya jadi merasa lebih aman.

Nah, kalau di dapur kembali tercium bau gas, sebaiknya apa sih yang harus kita lakukan? Simak tips berikut ini ya.

  1. Yang jelas jangan coba-coba menyalakan kompor!
  2. Padamkan semua hal yang menyangkut api seperti kompor. Korek api, lilin, lampu, bahkan senter dan saklar listrik.
  3. Lepaskan regulator dari tabung agar klep tabung tertutup secara otomatis
  4. Buka semua jendela dan pintu lebar-lebar agar ada sirkulasi udara di dapur. Hal ini pula yang sebaiknya jadi pertimbangan saat memutuskan posisi dapur. Sebaiknya dapur diposisikan di bagian rumah yang memiliki akses ke ruangan terbuka.
  5. Agar gas lebih cepat netral, sebaiknya gunakan kardus atau kipas tangan.
  6. Gas yang bocor biasanya selalu berada di area bawah dan tidak melebihi lutut orang dewasa. Karena berat jenisnya lebih berat dari udara. Itulah sebabnya ketika terjadi kebocoran gas, permukaan lantai jadi lebih dingin.
  7. Biarkan dapur tidak digunakan sementara sampai benar-benar tidak tercium bau gas.
  8. Silakan berdayakan warung nasi tetangga untuk sementara waktu, lumayan kan hitung-hitung membantu perekonomian tetangga hehe.

Begitulah… semua antisipasi sudah dilakukan, jadi seharusnya sekarang tidak ada alasan lagi bermalas-malas ke dapur.

Tapi kalau saya jadi rajin ke dapur, kasihan Ma Iyah ah… kehilangan pelanggan setianya ^_^

You may also like

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.