Bingung memilih KB alias alat kontrasepsi yang cocok? Ini pengalaman saya (Bagian 2)

alat kontrasepsi

Ada yang pernah mendengar tentang Kampung KB? Saya mah baru beberapa hari yang lalu mengetahui adanya Kampung KB ketika ngobrol dengan Kader Posyandu di desa tempat saya tinggal. Awalnya sih hanya bercerita soal imunisasi MMR buat Ade yang terpaksa ditunda karena Ade saat itu sedang kurang sehat. Tapi kemudian obrolan kami berkembang ke jumlah undangan hajatan bulan ini, lanjut ke jumlah anak usia sekolah yang dari tahun ke tahun semakin bertambah, belok ke alat kontrasepsi dan akhirnya membahas Kampung KB. Maklum, namanya juga ibu-ibu. Kalau ngobrol, meski A – Z diulang-ulang juga rasanya masih kurang hehe

Jadi ibu Kader Posyandu bilang kalau Kampung Keluarga Berencana (KB) ini dinilai ampuh untuk menghadapi tahun 2020 mendatang. Hmmm… memangnya ada apa dengan tahun 2020? 

Berdasarkan estimasi para ahli, porsi penduduk usia produktif atau usia kerja antara 15-64 tahun di Indonesia pada tahun 2020-2030 mencapai sekitar 70% dari total populasi. Nah ini yang disebut dengan bonus demografi. Karena itu beban tanggungan penduduk berusia produktif menurun atau menjadi rendah, yakni antara 0,4-0,5. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif hanya menanggung 40-50 penduduk non produktif.

Kalau dihitung sih, 2025 nanti usia saya sudah hampir 45 tahun, suami hampir 50, sementara Ceuceu masuk 20 tahun, Teteh 17 tahun, dan Ade 14 tahun. Boleh dibilang sampai tahun 2030 nanti semua anggota keluarga saya masuk usia produktif.

Infografis Bonus Demografi (Sumber Lembaga Sandi Negara)
Infografis Bonus Demografi (Sumber : Lembaga Sandi Negara)

Di Subang sendiri ternyata sudah ada Kampung KB, tepatnya di Desa Jurutilu, Sukamandi. Nah, saya juga baru tahu kalau ada desa yang namanya Jurutilu. Mungkin desa ini bentuknya segitiga… wkwkwk.

Di Sukabumi dan Cirebon juga ada. Di tahun 2016 yang lalu, satu kabupaten memang punya 1 Kampung KB. Dikutip dari web BKKBN, di tahun 2017 ini rencananya akan ditingkatkan menjadi 1 kampung KB 1 kecamatan.

Ada apa saja di Kampung KB?

Yang jelas sih kegiatan di Kampung KB ini tidak hanya identik dengan penggunaan dan pemasangan kontrasepsi, akan tetapi merupakan sebuah program pembangunan terpadu dan terintegrasi dengan berbagai program pembangunan lainnya. Mudah-mudahan sih hasilnya optimal ya.

Salah satu kriteria ditetapkannya Kampung KB adalah angka capaian partisipasi KB yang rendah. Yang artinya masih banyak pasangan suami istri yang tidak menggunakan alat kontrasepsi. Nah lho…

Berhubung kemarin saya juga sudah membahas beberapa pilihan alat kontrasepsi (baca : Bingung memilih KB alias alat kontrasepsi yang cocok? Ini pengalaman saya (Bagian 1)), sekarang lanjut ke bahasan alat kontrasepsi yang lain ya.

Anak 3, gak sesuai dengan slogan KB Dua Anak Cukup, ngomongin KB… apa gak jadi ironi, Bu? Justru itu… siapa tahu tulisan saya ini jadi pertimbangan buat teman-teman dalam memilih alat kontrasepsi.

Sekali lagi, tentu saja ini berdasarkan pengalaman saya sendiri.

Pengalaman memakai METODE PIL

Tidak cocok dengan Kalender dan Kondom, saya pun beralih ke Metode PIL KB.  Karena masih menyusui, yang saya pakai Pil Kombinasi. KB Pil ini cocok untuk pasangan usia muda (20-30), tapi lagi-lagi dengan catatan… khusus untuk yang cermat, disiplin dan memiliki komitmen yang tinggi. Sudah jelas kan, ini bukan saya banget. Terbukti… lahirlah Teteh dan Ade haha.

Jadi dengan metode KB Pil ini, kita perlu meminum pil di waktu yang sama, rutin setiap hari. Ada pil yang berisi 21, dan ada juga yang berisi 28. Pada pil berisi 21, seluruh pilnya berisi hormon. Sementara pada yang berisi 28, 21 berisi hormon dan 7 berisi plasebo (hanya berisi tepung dan gula). Fungsinya untuk pengingat agar setiap hari minum tanpa jeda.

Kapan waktu terbaik untuk memulai menggunakan pil KB? Teman-teman bisa mulai menggunakan pil KB saat terjadinya menstruasi, yaitu pada rentang waktu hari pertama menstruasi sampai hari kelima. Jadi ketika sudah selesai menstruasi kontrasepsinya langsung bekerja.

Kalau telat atau lupa minum pil bagaimana? Bisa sih dirapel. Tapi, jangan lupa… karena siklus pil ini bekerja harian, pakai kontrasepsi cadangan!

Keunggulan Pil KB. Kalau rutin minumnya, gak repot cari kondom! Ahaha…

Kekurangan Pil KB. Dari cerita saya, sudah tahu lah ya apa kekurangannya.  Yesss… harus disiplin minum Pil KB  setiap hari pada waktu yang sama. Selain itu, beberapa pil memiliki efek samping seperti timbulnya jerawat, mual, dan perasaan murung. Beberapa orang mengalami masalah dengan kulit dan berat badan saat menggunakan pil KB. Tapi yang terjadi pada saya malah sebaliknya.  Ketika saya menggunakan pil KB khusus Ibu Menyusui (untuk merk boleh ditanyakan via komen, kalau di postingan nanti dibilang sponsored post wkwkwk), saya tidak mengalami masalah kulit sama sekali. Malah terbebas dari jerawat dan berat badan tetap terjaga alias langsing buuuuu! Pil kombinasi juga bisa mengurangi risiko kanker rahim, endometriosis, dan kanker kolon.

Beberapa merek pil KB bahkan tidak boleh digunakan penderita penyakit ginjal, penyakit hati, atau penyakit yang berhubungan dengan hormon adrenalin. Jadi sebaiknya konsultasikan dahulu dengan tenaga medis sebelum memutuskan menggunakan pil KB ya.

Pengalaman memakai METODE SUNTIK

Sama seperti pil, KB metode suntik juga cocok untuk pasangan usia muda (20-30)Termasuk metode hormonal, terdapat dua jenis suntik KB yang paling umum digunakan, yaitu suntik KB 1 bulan dan suntik KB 3 bulan.

Suntikan KB 3 bulan mengandung hormon progestin, sementara suntikan KB 1 bulan mengandung kombinasi hormon progestin dan hormon estrogen. Ringkasnya, kalau teman-teman masih menyusui sebaiknya gunakan suntikan KB 3 bulan.

Keunggulan metode Suntik. Jelas donk… pakai metode suntik tidak perlu repot minum pil KB setiap hari.

Kekurangan metode Suntik. Butuh waktu  beberapa bulan untuk mengembalikan kesuburan. Saya sendiri mengalami haid yang tidak lancar. Kalau biasanya tiap bulan haid, ini hanya 2 bulan sekali. Beberapa wanita bisa mengalami sakit kepala, nyeri pada payudara, dan pertambahan berat badan.

O ya, saat menggunakan KB suntik 3 bulan ini saya sedang menyusui Teteh. Seharusnya sih tidak ada pengaruh terhadap ASI ya. Kenyataannya, ASI saya sepertinya malah jadi gak enak. Beberapa minggu setelah suntik KB, Teteh jadi kurang minum ASI. Kayak yang gak enak gitu ASI teh. Sudah pakai daun katuk dan daun-daunan lain biar ASInya kembali kental, tetap saja hasilnya encer. Kasihan banget ngeliat Teteh saat itu. Badan kurus kering, rambut jarang-jarang… huhuhu. Sayangnya saya telat menyadari kalau itu dari suntik KB. Padahal di umur yang sama, Ceuceu malah montok-montok saja.

Ada lagi nih… kalau yang ini bukan sekedar cerita orang. Beberapa orang yang saya kenal dan memakai suntik KB, termasuk saya sendiri, mengalami penambahan berat badan yang sangat signifikan.

Jadi, lanjut gak bu? Gak ah… males juga harus ke bidan buka celana terus disuntik tiap bulan/3 bulan sekali wkwkwk. Mari pindah ke metode selanjutnya…

Pengalaman memakai METODE IMPLAN

Karena implan atau susuk ini termasuk metode KB hormonal, jadi cocok dipakai untuk pasangan usia muda. Kalau yang ini saya pakai setelah konsultasi dengan teman saya yang berprofesi bidan. Kenalnya dari Multiply. Pasangnya gratis. Jaman Multiply memang indah ya. Rasanya? Gak terasa apa-apa.

Saya memutuskan pasang implan setelah 4 metode di atas dirasa gak cocok. Jadilah saat itu Andien, teman saya yang bidan, jauh-jauh dari Jakarta datang ke Bandung hanya untuk memasang alat sebesar korek api sebanyak 3 buah di lengan kiri atas saya. Alat tersebut akan mengeluarkan hormon progesteron selama tiga tahun.

Keluhannya kadang terasa pegal di tangan kiri yang dipasang implan, terutama setelah beraktivitas yang berat seperti… angkut ember cucian dan angkat galon ke dispenser haha.

Setelah hampir setahun pasang implan, ternyata saya tidak kunjung mengalami haid. Periksa ke dokter kandungan, rupanya saya kurang cocok pakai implan. Karena haid yang terhenti malah jadi kista di rahim saya. Tidak mau terjadi hal-hal yang lebih buruk, akhirnya saya pun memutuskan untuk melepas implan di dokter kandungan. Biayanya? 1 juta buuuu… asli, keluar dari ruang dokter saya nangis. Masa udah sakit disayat-sayat ngeluarin korek api di tangan keluar duit 1 juta.

Lebih nangis lagi pas ngobrol sama bidan, kalau ternyata proses mengeluarkan implan di bidan mah gratis. Subhanallah… wkwkwk

Keunggulan Implan. Karena termasuk metode jangka panjang, dengan sekali pemakaian untuk tiga tahun, implan menjadi pilihan yang nyaman tanpa banyak perawatan. Karena hanya mengandung hormon progesteron, cara ini bisa menjadi pilihan untuk ibu menyusui (setelah bayi berusia di atas 6 bulan). Implan juga tidak terlihat dari luar tubuh.

Kekurangan Implan. Pemasangan dan pelepasan implan harus dilakukan dokter atau tenaga ahli seperti bidan. Resikonya, bisa jadi tiap orang berbeda-beda. Tapi yang saya alami seperti yang sudah diceritakan di atas, pegal dan haid tidak teratur.

Pengalaman memakai METODE IUD (Spiral)

Sudah tahu kan ya, kalau IUD ini alat yang dipasang di dalam rahim. Cara kerjanya mengganggu lingkungan rahim, menghalangi terjadinya pembuahan maupun implantasi. Ada yang berbahan dasar hormon, dengan melepaskan progesteron sehingga menghambat ovulasi. Ada IUD yang melepaskan tembaga, menempel di sperma dan menghambat pergerakannya, sehingga mencegah masuk sel telur. IUD bisa digunakan selama 5-10 tahun. Kalau dilihat dari bungkusnya sih, saya pakai yang tembaga.

Sebelum memutuskan memakai IUD, saya sudah dibayangi banyak rasa takut. Ya gimana gak takut… kalau di dalam rahim saya akan dipasang sebuah alat berbentuk T. Huhuhu… Terbayanglah segala rasa sakit, ketika akan dipasang, setelah dipasang, saat kontrol, saat berhubungan intim, sampai nanti saatnya dicabut kembali.

Tapi ternyata ketakutan saya tidak terbukti hehe…

Saya menjalani pemasangan IUD sekitar 5 tahun yang lalu, tepatnya di bulan April 2012. Tidak ada rasa sakit seperti yang saya bayangkan. Hanya agak sedikit ngilu ketika dokter menarik sesuatu yang ada di rahim dan mengikatnya dengan IUD. Gak koq.. gak sakit, ngilu sedikit saja. Beneran. Cuma mesti nahan malu karena harus ngangkang aja sih wkwkwk.

Nah, meski saat itu haid saya sudah hampir berakhir, tapi karena pemasangan IUD, mau gak mau darah yang keluar juga jadi agak banyak. Jadi siapkan pembalut ganti ya.

Setelah IUD dipasang, dokter menyarankan agar jangan dulu berhubungan intim kira-kira 4-6 hari kemudian.

Pas sudah boleh.. deg-degan donk. Bakal kerasa sakit gak sih? Ternyata, amaannnn… baik saya maupun suami tidak merasakan apa-apa. Sebelumnya memang sempat baca pengalaman orang lain kalau suaminya ada yang merasa kesakitan ketika berhubungan intim. Sepertinya sih itu gara-gara benang IUDnya yang masih terlalu panjang.

Sebaiknya dua minggu setelah dipasang, kita kontrol juga ke dokter. Jangan takut. Kontrolnya gak harus ngangkang lagi koq haha… Cuma dipantau saja posisi IUDnya lewat USG. Kalau masih aman, tidak ada keluhan, kontrol lagi 6 bulan kemudian, begitu kata dokter.

Posisi benang IUD juga bisa dipantau sendiri koq, caranya dengan meraba ke dalam rahim. Kalau benang IUD teraba, maka kemungkinan besar Spiral masih tetap pada tempatnya, sehingga bisa bekerja efektif.

Tapi kalau benang IUD teraba lebih panjang atau pendek daripada waktu terakhir kali diperiksa, atau bahkan terasa ada bagian batang yang keras dari ujung Spiral, maka besar kemungkinan posisi spiral sudah bergeser. Solusinya? Segera ke dokter atau bidan ya.

Keunggulan IUD. Buat saya, IUD sangat nyaman. Gak ada keluhan yang berarti dan terutama saya gak perlu repot-repot minum pil tiap hari. Atau panik minum pil rapelan tiap kali terlupa minum pil sejak kemarin.

Kekurangan IUD. IUD tidak direkomendasikan bagi wanita yang memiliki riwayat hamil etopik (hamil anggur), atau mengalami infeksi saluran kemih.

Nah, sedikit tambahan… tiap kali akan datang bulan, saya juga seringkali merasa kesakitan di perut bagian bawah. Rasanya seperti disayat-sayat. Tapi gak lama, begitu haidnya keluar, tidak terasa apa-apa. O ya, yang saya alami juga jumlah darah haid lebih banyak dari sebelum pakai IUD, tapi masa haid lebih pendek.

Dari pengalaman saya ini, teman-teman yang baru akan ber-KB atau pindah alat kontrasepsi sudah tahu mau pilih yang mana? Kalau saya sih sementara ini nyaman dengan IUD dan sepertinya masih akan tetap pakai IUD untuk beberapa tahun ke depan. Bukan apa-apa… Selain usia yang sudah hampir 40, repot membayangkan bagaimana nanti hamil di usia 40, saya juga pasti kebingungan mencari nama bayi perempuan yang sesuai. Lah, anak-anak saja baru dikasih nama setelah usianya 7 hari… pakai tapa dulu sih cari namanya haha.

10 Replies to “Bingung memilih KB alias alat kontrasepsi yang cocok? Ini pengalaman saya (Bagian 2)”

  1. Saya males euy pakai pil. Gak sabaran orangnya. Akhirnya pilih pakai IUD. Keluhannya sama dengan Teteh, darah haid lebih banyak. Tapi masa haidnya jadi lebih panjang. Biasanya 6 hari beres, ini harus nunggu 7-8 hari dulu.

  2. Dulu saya pakai KB suntik, tujuannya supaya badan gemuk. Eh, malah gak ngaruh, tetep aja susah gemuk, malah gak ngalamin haid. Takut kenapa-kenapa, kalau gak haid.
    Akhirnya sekarang pakai IUD, yang Nova T, haid lancar tapi suka ngilu di awal tanggal haid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.