Bingung memilih KB alias alat kontrasepsi yang cocok? Ini pengalaman saya (Bagian 1)

alat kontrasepsi

Sebagai emak dari 3 orang anak, saya paham betul bagaimana perasaan seorang ibu dari bayi yang baru saja dilahirkan. Entah itu melahirkan anak pertama, kedua, ketiga atau bahkan keenam. Apalagi kalau bukan TAKUT KESUNDULUAN hihi…

Gak semua begitu sih. Ada beberapa yang memang gak masalah jika beberapa bulan setelah melahirkan kemudian kesundulan. Saya sendiri termasuk yang menjaga jarak antar kehamilan. Karena itu, sebelum masa nifas habis saya sudah mulai pilah pilih alat kontrasepsi.

Dari keenam alat dan metode kontrasepsi alias KB yang tersedia, saya sudah mencoba hampir semuanya. Kalender? Sudah. Kondom? Pernah. Suntik? Sudah juga. Pil? Hampir bosan tiap hari minum pil. Spiral? Sekarang juga masih pakai spiral. Yang belum hanya steril. Hampir pernah memutuskan untuk steril, tapi dengan pertimbangan ini dan itu akhirnya gak jadi. Mudah-mudahan gak perlu sampai steril. 

Barangkali ada teman-teman yang sedang bingung pilah pilih alat kontrasepsi yang cocok, saya akan ceritakan semua alat kontrasepsi yang sudah pernah saya pakai. Tulisannya saya bagi dua bagian, dimulai dari metode yang tidak lama saya terapkan wkwkwk. Tentu saja ini berdasarkan pengalaman saya sendiri. Keputusan untuk memilih alat kontrasepsi mana yang cocok buat teman-teman, sila konsultasikan dengan bidan/dokter kandungan teman-teman ya.

Pengalaman memakai METODE KALENDER

Metode KB Kalender ini cocok untuk semua umur, tapi dengan catatan… khusus untuk yang cermat, disiplin dan memiliki komitmen yang tinggi. Nah, ini… sudah jelas bukan saya banget haha. 

Dengan metode KB Kalender, pasangan suami istri tidak boleh melakukan hubungan seksual pada masa subur/ovulasi. 

Koq begitu? Soalnya pembuahan memang hanya terjadi pada saat masa subur. Memangnya kapan sih masa subur seorang perempuan? Tepatnya 12-24 jam setelah puncak masa subur (sel telur dilepas). 12-24 jam ini dari masa hidup sel telur rata-rata. Ingat, bukan berarti di luar puncak masa subur tidak bisa terjadi pembuahan, ya…

Jadi kapan donk sebaiknya kita melakukan hubungan seksual dengan pasangan? Buat saya ini cukup merepotkan. Karena kita harus memantau siklus menstruasi sebelum melakukan hubungan seksual. Ok, biar lebih jelas, saya jabarkan langkah-langkah berikut contohnya ya…. 

  • Hitung dan catat siklus menstruasi selama enam – delapan bulan berturut-turut.
  • Perhitungan dimulai dari hari pertama keluarnya menstruasi hingga bulan berikutnya saat menstruasi datang kembali.
  • Lakukan perhitungan sampai enam – delapan bulan berturut –turut.
  • Setelah mencatat jadwal menstruasi selama enam bulan terakhir, jumlahkan hari pertama haid hingga bertemu ke haid pertama berikutnya.
  • Siklus menstruasi yang normal berlangsung antara 21 sampai 35 hari.

Nah, nanti ketahuan apakah siklus menstruasi kita normal atau tidak? Kalau siklus menstruasinya sudah diketahui, baru kita bisa mencari tahu kapan sebaiknya tidak melakukan hubungan suami istri atau sebaliknya.

Pada siklus menstruasi normal, masa kesuburan terjadi pada hari ke 10 hingga hari ke 17 setelah hari pertama haid sebelumnya. Maka pada masa ini sebaiknya tidak berhubungan suami istri.

Contoh:

  • Haid pertama tanggal 10 Agustus 2017, maka masa subur dimulai dari tanggal 20-27 Agustus 2017.
  • Jadi, jika ingin menunda kehamilan sebaiknya berhubungan suami istri di luar tanggal ini.

Pada siklus menstruasi tidak normal cara menghitungnya cukup rumit, yaitu dengan perhitungan seperti ini siklus menstruasi terpendek dikurangi 18. Sedangkan, pada  siklus menstruasi terpanjang dikurangi 11.

Contoh:

Saya memiliki siklus menstruasi terpanjang 40 hari, sementara siklus terpendeknya adalah 30 hari. Maka siklus terpendeknya dikurangi 18  (30 hari – 18 =  12). Lalu  siklus terpanjang dikuragi 11 (40 hari -11=  29).

Jadi, saya dan suami tidak boleh melakukan hubungan suami istri di hari ke 12 sampai 29 dari pertama haid. Kalau keukeuh  ingin melakukan senggama, maka harus menggunakan kontrasepsi tambahan, misalnya kondom atau dengan cara senggama terputus.

Ini nih yang susah dan bikin pusing… saya suka lupa mencatat kapan terakhir haid. Bulan ini dicatat, bulan depan belum tentu. Jadinya ya repot sendiri hihi

Metode kalender ini gak lama saya pakai. Malah belum juga selesai menghitung sampai 6 bulan sudah menyerah duluan haha.

Keunggulan metode kalender ini adalah TIDAK ADA EFEK SAMPING apapun. Selain itu suami istri sama-sama terlibat proses KB. Karena metode ini memerlukan komunikasi yang intens, hubungan suami istri juga jadi semakin erat. Pas udah deket-deket jadwal, degdegannya lebih seru hihihi

Kekurangan metode kalender, ya itu tadi… perlu kecermatan, kedisiplinan, komitmen dan kerjasama yang baik antara suami dan istri. Pokoknya bukan saya banget lah. Resiko kegagalan KB metode kalender ini memang paling tinggi dibanding metode lainnya.

Pengalaman memakai METODE KONDOM

Lepas dari metode kalender, saya berpindah ke kondom. Bukan apa-apa, dulu sih karena takut saja mendengar cerita orang kalau banyak efek samping dari KB hormonal. Mulai dari menggemuk, jerawatan, kokoloteun, sampai kista. Jadi sebisa mungkin saya menghindari KB hormonal.

Metode KB dengan menggunakan kondom cocok untuk usia pasangan 20-30 tahun. Metode ini buat saya cukup efektif mencegah kehamilan. Tapi bukan berarti dengan kondom juga tidak mungkin terjadi kehamilan. Karena menurut penelitian, kondom mempunyai peluang kegagalan sampai 20 persen.

Keunggulan kondom adalah harga yang murah dan relatif mudah mendapatkannya serta tidak membutuhkan kunjungan ke rumah sakit. Kondom juga cukup efektif untuk mencegah penyakit menular seksual. Namun mengingat tingkat kegagalannya yang cukup signifikan, lebih aman jika kondom digunakan secara tandem dengan pilihan lain, seperti pil KB.

Kekurangan metode kondom, kondom yang terbuat dari lateks cukup rapuh dan rentan sobek, sehingga perlu pemasangan dan pelepasan secara hati-hati. Awas, jangan sampai tertinggal di dalam ya… #eh

Efek samping nyaris tidak ada, kecuali pada beberapa orang juga memiliki riwayat alergi terhadap lateks. Jadi jika dirasakan ada keluhan setelah memakai kondom, semisal gatal-gatal dan perih di area yang terkena kondom, sebaiknya sih pemakaian tidak usah dilanjutkan. Jika keluhan tidak kunjung membaik dan kondisi semakin memburuk, segera konsultasi ke tenaga kesehatan.

O ya, buat yang belum tahu, kondom ini gak cuma seperti yang dijual di minimarket aja lho. Tapi ada juga kondom untuk perempuan. Cara pakainya bagaimana? Ya mirip-mirip lah sama kondomnya laki-laki, bedanya yang pakai perempuan duluan. Kalau laki-laki pakainya di luar, perempuan pakainya di dalam hihi…

Metode KB dengan kondom juga tidak lama saya gunakan. Soalnya riweuh, baru juga dipake keburu anak nangis tuh wkwkwk…

Metode KB lainnya saya lanjut di bagian lain saja ya… biar gak kepanjangan. Tapi alasan sebenarnya sih biar tulisannya cepat publish saja. Soalnya tulisan ini sudah berbulan-bulan menginap di draft haha… Sampai ketemu di bagian selanjutnya ya!

4 Replies to “Bingung memilih KB alias alat kontrasepsi yang cocok? Ini pengalaman saya (Bagian 1)”

Leave a Reply

Your email address will not be published.