[Tradisi Ramadan] Ngobrog, Keliling Kampung Bangunkan Warga Untuk Sahur

ngobrog

Sudah dua hari ini saya lihat status seorang teman yang isinya kurang lebih mengeluh karena merasa terganggu Pasukan Ngobrog.

Ngobrog? Apa itu?

Orang-orang yang tinggal di perkotaan sih bisa jadi tidak mengenal istilah Ngobrog. Tapi, di bulan Ramadan seperti sekarang ini, ada donk remaja masjid yang keliling kompleks teman-teman dini hari untuk membangunkan kita sebelum waktu sahur berakhir?

Dulu sewaktu saya masih tinggal di Antapani, remaja masjid ini biasanya berkeliling kompleks sambil memukul kentongan. Tak jarang ketika lewat di depan rumah, mereka memanggil nama Nene…  “Bu Rosjid sahur, sahurrrrr…”

Sementara saya, sudah standby di balik tirai jendela, demi mengintip guru ngaji kecengan hahaha… #ups

Nah, kalau di perkotaan mereka yang membangunkan sahur cukup dilengkapi dengan kentongan, lain dengan mereka yang berkeliling membangunkan warga untuk sahur di kampung tempat saya tinggal sekarang. Gak cuma pakai kentongan, bahkan genset pun mereka bawa… Lho, koq genset? Iya, soalnya mereka mah bangunin sahurnya pakai organ tunggal, mirip yang sedang hajatan.

Awalnya sih kaget ketika dini hari saya mendengar sayup-sayup suara organ tunggal.

“Wuiiihhhh… siapa nih yang hajatan saat Ramadan seperti ini? Tengah malam pula?”, begitu pikir saya.

Lama-lama sumber suara organ tunggal itu semakin mendekat dan tepat di depan jendela kamar….

“Hayang kawin, win, win, win… hayang kawin”, suara vokalis Pasukan Ngobrog terdengar ceria menyanyikan lagunya Sule ini.

Oalah, ternyata mereka bukan sedang hajatan. Tapi membangunkan warga kampung agar segera bersiap-siap untuk sahur. Mau gak mau, mata yang sebenarnya masih sepet akhirnya jadi segar dan saya pun malah ikut nyanyi #eh

Nah, mereka yang berkeliling kampung membangunkan warga untuk sahur dengan peralatan seperti organ tunggal itulah yang disebut Pasukan Ngobrog.

Entah darimana asalnya Obrog. Tapi menurut literatur, obrog ini adalah alat musik semacam kendang/gendang. Tradisi obrog sendiri berasal dari Cirebon. Ada juga yang bilang kalau ini tradisi Indramayu. Darimanapun tradisi ini berasal, sepertinya sih ini tradisi Pantura haha… Tradisi ini kemudian “menular” ke daerah-daerah tetangganya, termasuk Subang bagian Selatan.

Dari tahun ke tahun, peralatan yang digunakan oleh Pasukan Ngobrog di kampung saya ini semakin bertambah. Ada gitar elektrik, bas, simbal, kecrekan dan electone lengkap dengan genset sebagai sumber listriknya. Ada juga beberapa anak yang membawa kentongan. Komplit lah. Panjang rombongan Pasukan Ngobrog di kampung saya bisa sampai 5 meter hihi… Seru.

Biasanya mereka mulai berkeliling dari jam 2 sampai jam 3, dua kali keliling kampung. Waktu yang cukup sih sebenarnya. Tidak terlalu cepat.

Buat saya pasukan ngobrog ini cukup membantu. Buktinya selama hampir 10 hari Ramdan, belum pernah sekalipun saya bangun kesiangan. Tapi bukan karena pasukan ngobrognya sih… melainkan karena Ade yang seringkali terbangun karena kaget dengar suara organ tunggal dan kemudian bergegas membangunkan saya. Saya sendiri sih, sekeras apapun suara pasukan ngobrog ini, kalau gak dibangunkan Ade mah angger weh, tibra… wkwkwk

Di hari terakhir Ramadan, biasanya pasukan ngobrog ini berkeliling kampung tengah hari. Kenapa koq tengah hari? Kan besoknya udah lebaran, gak ada sahur lagi… jadi semacam perpisahan gitu sama warga kampung. Sebagai ungkapan rasa terima kasih karena sudah membantu agar sahur tidak kesiangan selama sebulan penuh, beberapa warga biasanya memberi tip alakadarnya buat mereka.

IMG_8967

Iya, serius lho ini speakernya segede ini... gimana gak kebangun coba? Wkwkwk
Iya, serius lho ini speakernya segede ini… gimana gak kebangun coba? Hihi

Lalu kenapa teman saya mengeluh?

Soalnya di kampung teman saya mah pasukan ngobrog ini mulai berkeliling dari jam 1. Waduh… itu sih ngeronda, bukan bangunin sahur haha. Kebayang kan, kalau saja teman saya baru tidur jam 12 karena kesibukannya, terus jam 1 sudah terbangun gara-gara lagu Jug-Gijag-Gijug???

Terus kenapa lagunya harus lagu dangdut sih? Bukannya sholawatan? Keluh teman yang lain. Hmmm… bisa jadi pertimbangannya karena lagu dangdut ini lebih”menggugah selera”. Yang suka dangdut bisa lebih cepat bangun kemudian terus ikut nyanyi. Yang gak suka dangdut juga bisa lebih cepat bangun, kemudian terus membuat status misuh-misuh di medsos hihi

Mungkin keluhan-keluhan ini bisa jadi pertimbangan juga buat para pasukan ngobrog, agar waktu berkeliling kampungnya jangan terlalu cepat. Jam 1 mah atuh imsak masih lama, keburu ngantuk lagi. Sepertinya waktu yang dipilih oleh pasukan ngobrog di kampung saya sudah cukup, sekitar jam 2-3. Sementara untuk  pemilihan lagunya, dangdut bisa diganti dengan marawis mungkin?

Btw, kalau di tempat teman-teman, seperti apa nih “ngobrog”nya?

You may also like

10 Comments

  1. Waduh, dibangunin pake speaker segede gitu mah, gak cuma bangun sigana sayah mah. Ngacleng. Hihihi…
    Di saya mah udah gak ada eung yang gitu. Sekarang mah pake speaker masjid aja. Jadi kangen zaman baheula waktu kecil. Seru..

  2. Kenapa itu tidak sekalian tiang listrik saja yang dibawa. Tanggung amat jika bawa gadset. Ditempat saya, sepi-sepi saja, tidak ada yang keliling membangunkan saur. Mungkin pada asek nonton sinetron sehingga tidak ada waktu lagi keliling kampung. Atau mungkin karena jatahnya yang tidak ada lagi ,sehingga kurang bersemangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.