Kisah Si Beling #3, Debridement di Ruang Operasi

By | October 21, 2016

Bayangan dinginnya ruang operasi kembali menyelimuti pikiran saya sejak semalam. Meski debridement ini operasi kecil, tapi saya tetap tegang. Terbayang ketika beberapa tahun yang lalu saya mengalami kecelakaan dan harus menjalani operasi tulang hidung. Kali ini mungkin lebih dramatis, karena saya hanya akan dibius spinal. Jadi saya bisa menyaksikan langsung jalannya operasi Debridement. Pengalaman operasi tulang hidung akan saya ceritakan di tulisan yang lain.

Jumat malam. Setelah dokter dan perawat keluar dari kamar. Saya kembali menangis di balik guling. Operasi? Berapa biayanya? Duh, ini dirawat aja udah bikin pusing, soalnya klinik gak bisa terima BPJS atau asuransi lain. Lagipula, saya memang hanya punya BPJS. Klinik ini jadi pilihan karena perawatannya yang bagus dan paling dekat dengan rumah. Soalnya kalau jauh-jauh dari rumah, kasihan anak-anak. BAru kali ini juga mereka saya tinggal lama-lama. Setidaknya kalau rumah dan tempat saya dirawat dekat jaraknya, anak-anak masih gampang ketemu saya. Ada rumah sakit yang bisa BPJS, jaraknya dari rumah bisa 1 jam perjalanan. Klinik ini kebetulan hanya 15 menit dari rumah.

03_big

Sabtu shubuh. Tidak seperti hari sebelumnya, shubuh ini tidak ada perawat yang menyuntikkan obat. Terakhir perawat menyuntik obat lambung jam 10 malam dan berpesan kalau saya sudah harus puasa sejak jam 2.

Jam 6 ada perawat yang datang membawa berkas-berkas untuk ditanda tangani suami sambil memastikan kalau saya masih puasa dan siap menjalani operasi jam 10 nanti. Wah, serius ini mah operasi… hiks. Maunya sih gak jadi. Cukup dijahit ulang saja. Tapi ya gimana lagi…

Sabtu pagi. Setengah 10, Teh Reni, perawat perempuan yang paling baik datang ke kamar bareng sama perawat laki-laki yang Kamis pagi kemarin pencet-pencet kaki sekuat tenaga.

Ibu siap-siap ke kamar operasi ya”, kata perawat laki-laki.

Jalan kaki aja boleh gak A? Gak mau pake brankar”, pinta saya

Dua perawat ini saling melirik satu sama lain. Sama-sama kebingungan. Dan akhirnya saya tetap harus pakai brankar, gak boleh jalan. Padahal ruang operasi hanya beberapa langkah saja dari kamar. Serem katanya, soalnya kan jahitannya baru dibuka kemarin.

Karena jahitan yang dibuka kemarin ini, darah masih rembes sampai ke luar perban. Bahkan seprai dan selimut di bagian bawah juga penuh dengan darah. Suster nanya sih, seprai sama selimutnya mau diganti gak? Tapi ah, biarin saja lah, toh sebentar lagi pulang. Kasihan tiap hari harus nyuci. Ya, meski nyucinya juga gak susah. Menghilangkan noda seperti darah yang menempel di kain mah tinggal rendam dan kucek aja pake detergen anti noda.

Saya pun pindah ke brankar. Pamitan ke suami yang sendirian menunggu di kamar.

Bismillahirrohmanirrohiim

Sampai di ruang operasi, saya diminta mengganti baju dengan baju operasi, dibantu Teh Reni. Setelah selesai, saya pun berjalan ke meja operasi.

Gak lama, Dokter Risman datang ke ruang operasi.

Ibu, gimana bu? Siap ya operasi?”, sapa Dokter Risman ramah.

Yaaah… dibilang gak siap juga gimana dok.

Teh Reni menyiapkan tensimeter. Operator yang lain nampak sibuk menyiapkan peralatan operasi. Saya sendiri hanya boleh tiduran sambil menunggu Pak Udi, bagian anestesi.

Gak lama Pak Udi datang dan menyiapkan perlengkapan untuk anestesi.

Melihat saya yang agak pucat, Dokter Risman dan Pak Udi tebak-tebakan, berapa jumlah hb saya. Setelah memeriksa kelopak mata, Pak Udi menebak hb saya hanya 8,9. Dokter Risman menebak 9.0. Dokter Risman pun meminta perawat memeriksa darah usai operasi nanti dan juga menyiapkan 1-2 labu darah untuk transfusi.

Setelah memeriksa tekanan darah, Pak Udi meminta saya duduk sambil agak membungkuk.

Jangan bergerak ya, Bu”, pinta Pak Udi sambil menyuntikkan obat bius ke tulang punggung. Setelah disuntik, saya diminta segera berbaring kembali.

Sementara Dokter Risman meminta operator menyiapkan jolang. Iya, gak salah. Jolang! Loh, ini mau operasi apa mau mandiin bayi? Koq pake jolang segala?

Ini kita mau cuci-cuci nih, bawa jolang. Jolang ya, jangan ember”, kata Dokter Risman dengan tegas.

Saya yang sudah dibius diminta mengangkat kaki. Aduh, berat… gak bisa diangkat sama sekali.

Yakin kalau bius sudah bereaksi, dokter dan operator pun dengan sigap memulai operasi, tepat di jam 10.00. Tidak terasa apa-apa. Saya juga tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan dengan kaki saya. Saya hanya bisa mendengar bunyi denting gunting, pisau, dan peralatan operasi lain yang saling beradu sambil membayangkan kaki saya dibeset-beset… hiyyyyy

O ya, Teh Reni hanya bertahan selama 5  menit di ruang operasi.

Pak, Reni mah lieur ningali getih… hoyong kaluar”, kata Teh Reni.

Akhirnya Teh Reni keluar dari ruang operasi dan digantikan oleh perawat yang lain. Dokter Risman, operator, dan Pak Udi melakukan tindakan operasi sambil ngobrol random. Mulai dari bahas operasi terakhir, mutasi pegawai, sampai bahas penampungan air.

Guyur, guyur!”, perintah Dokter Risman.

Gak lama terdengar suara guyuran air yang jatuh ke jolang. Meski sudah dibius, saya masih bisa meraba-raba apa yang mereka lakukan. Misal saat luka di kaki dibersihkan dengan cara digosok pakai perban, Gak sakit sih, cuma kedengeran aja perban digosok2… sreeet… sreeetttt… hihihi

Ada sedikit sakit yang saya rasakan, sekitar 3-4 kali. Rasanya seperti tertarik dan kesetrum sampai ujung kaki. Beberapa kali juga terlihat lampu yang menyala sambil mengeluarkan bunyi. Di saat yang bersamaan, saya juga sempat mendengar Dokter Risman dan operator beberapa kali bilang Eyyyy…., iyyyyy…. aduuuuh…. kemudian bisik-bisik.

Duh, jadi penasaran. Itu nemu apa sih di kaki? Koq reaksinya sampai begitu?

Tepat jam 10.35, operasi Debridement akhirnya selesai. Dokter Risman pun menghampiri saya.

Ibu, jadi tadi lukanya saya bersihkan. Darah yang kotor juga sudah saya keluarkan. Jadi tadi pembuluh darah yang putus dan membusuk saya bakar agar jaringannya kembali bagus. Otot yang putus sudah saya aproksimasi. Gak bisa tepat, tapi nanti juga nyambung sendiri. Jahitannya gak bisa rapih karena sudah banyak jaringan yang rusak. Tapi masih lebih bagus dari yang Puskesmas koq. Ibu bisa sembuh sekitar 2 minggu sampai 1 bulan”, ujar Dokter Risman.

Beberapa obrolan dokter Risman tidak tertangkap karena saya sendiri mulai kliyengan, sepertinya kehabisan banyak darah dan juga lemas karena masih harus istirahat sampai 1 bulan. Tambah sedih karena selama 24 jam ini saya belum boleh bangun. Makanya sampai pakai kateter. Gustiiii… seumur-umur, baru sekarang pakai kateter!

Karena saya masih harus menginap 2-3 hari lagi di klinik, dan anak-anak hari Minggu mah libur, setelah operasi selesai saya meminta suami menjemput anak-anak. Nginep aja deh semunya di klinik, nemenin saya yang cuma bisa tiduran. Mereka malah ketawa-ketawa liat pipis mamah di kantung plastik yang baru sebentar udah banyak aja hahahaha

One thought on “Kisah Si Beling #3, Debridement di Ruang Operasi

  1. kurnia amelia

    Teh Orin waktu syaa sakit sebulan itu pake kateter klo dah 4 hari ganti kateter yang baru, terus aja gitu sampe sebulan.Sok di tunggu ya cerita selanjutnya, cerita bagian operasi ini juga ngingetin saya yang udah beberapa kali operasi mulai dari cesar, usus buntu, operasi gigi.

    Semoga cepet sembuh yakkkk .

Leave a Reply