Jeli Memilih Perumahan Murah Bersubsidi

perumahan-subsidi

Jeli Memilih Perumahan Murah Bersubsidi – Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengunggah foto surat pernyataan pengunduran diri dari pengambilan rumah di sebuah perumahan.

Pengunduran diri ini bukan tanpa alasan. Uang down payment (DP) yang sudah masuk sebesar 23,5 juta sejak setahun yang lalu, sampai hari ini belum ada realisasinya. Jangankan berbentuk bangunan rumah yang utuh, sekedar pondasinya pun tidak ada. Wajar kalau teman saya sampai gusar.

Surat pernyataan pengunduran diri pembelian rumah yang diunggah teman

Kejadian yang mirip hampir saja saya alami. Hanya saja saya belum memberikan uang DP maupun booking fee sepeser pun.

Tahun lalu, saya sempat tergiur dengan tawaran perumahan murah di dekat tempat saya tinggal sekarang. Rumah tipe 29 dengan luas tanah 60 harganya 120 juta dengan DP sebesar 2,5 juta dan booking fee 1 juta. Yah, walau hanya tipe 29 dan luas tanahnya hanya 60 meter, rasanya akan jauh lebih nikmat tinggal di rumah milik sendiri.

Didorong keinginan untuk memiliki rumah sendiri ini, kemudian saya survey ke lokasi. Akses menuju lokasi memang agak sulit jika tidak memiliki kendaraan sendiri. Ya, maklum saja, perumahan yang saya maksud ini berada di tengah kebun teh. Jalannya sendiri masih berupa bebatuan khas perkebunan. Di lokasi saya lihat sudah ada beberapa pekerja yang sedang mengerjakan pembangunan pondasi. Tapi setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya saya tidak jadi mengambil perumahan di situ.

Belakangan, saya merasa lebih beruntung dibanding teman saya tadi. Karena meski sudah lebih dari 1 tahun, pembangunan rumah di lokasi yang sudah saya survey ini tidak ada yang selesai satu pun, selain rumah contoh. Padahal, sesuai janji tim marketing, pembangunan akan selesai dalam waktu kurang dari 1 tahun. Ketika saya survey dulu, beberapa calon pembeli terlihat sudah melengkapi berkas-berkas dan melunasi booking fee. Untungnya, saya belum setor uang booking fee maupun DP sedikit pun.

Memilih rumah memang tidak bisa dilakukan sembarangan. Meskipun keinginan untuk memiliki rumah sendiri sudah sampai di ubun-ubun, sabar dulu… jangan grasak grusuk. Perlu beberapa pertimbangan sebelum memutuskan membeli sebuah rumah. Apa saja yang harus dipertimbangkan? Yuk, simak satu per satu

  • Reputasi pengembang

Kalau ada pepatah malu bertanya sesat di jalan, maka pepatah ini pun berlaku saat kita mencari rumah. Gak mau kan kejadian seperti teman saya di atas yang gusar menunggu realisasi pembangunan sampai bertahun-tahun? Salah satu cara untuk menghindarinya adalah dengan banyak bertanya, baik melalui internet ataupun dengan survey langsung ke lokasi perumahan yang sedang/pernah dibangun oleh pengembang yang sama. Kalau pengembang sudah pernah membangun perumahan sebelumnya, kita juga bisa cek reputasi pengembangnya seperti apa. Ada masalah atau tidak? Kalau di perumahan sebelumnya ada masalah, sebaiknya pengembang seperti ini dicoret dari daftar.

Pengembang yang nakal juga biasanya memberi informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya tertulis di brosur, jarak ke pusat perbelanjaan terdekat hanya 5 menit, padahal kenyataannya akses menuju lokasi perumahan saja susahnya minta ampun.

Sering juga ditemukan pengembang yang menurunkan spesifikasi yang tertera di brosur demi harga yang lebih murah. Misalnya saja, di brosur tertera toilet T*T*, tapi ternyata yang dipasang malah merk lain. Atau bahkan menurunkan kualitas bahan bangunan seperti pasir dan semen. Padahal ini bahaya lho. Yang namanya rumah itu kan buat tempat berlindung dan ditinggali bertahun-tahun. Jangan sampai baru setahun tinggal di rumah baru, tembok sudah retak dimana-mana. Survey ke lokasi juga akan membuat kita mengetahui kualitas bangunan seperti apa.

Di kasus yang lain, ada juga pengembang yang membangun proyek tidak sesuai dengan ijin dan peruntukannya.

Yang tidak kalah penting, ketika kita memutuskan memberi uang Booking Fee ke pengembang, jangan lupa untuk meminta PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual-Beli). Karena tanpa PPJB, uang yang sudah kita serahkan tidak akan bisa kembali jika di kemudian hari ada masalah dengan pembangunan perumahan ini.

Jadi, lebih baik bersusah payah terlebih dahulu mencari informasi mengenai pengembang sebanyak-banyaknya, sebelum uang kita melayang kemudian.

  • Lokasi dan Fasilitas

Lokasi yang strategis dan fasilitas yang lengkap tentu saja akan meningkatkan harga jual sebuah rumah. Tapi jika kita memiliki dana yang terbatas, tak ada salahnya memilih perumahan murah bersubsidi meski fasilitas yang ditawarkan tidak selengkap perumahan non-subsidi.

Perhatikan akses menuju lokasi perumahan. Kalau terlalu sulit tentunya ini juga akan menyulitkan mobilitas kita sebagai penghuni. Ada berapa banyak unit yang sudah terjual? Soalnya berada di perumahan yang masih sangat sepi dan jauh kemana-mana dalam jangka waktu bertahun-tahun, bisa stress lho

Jangan lupa, perhatikan apakah lokasi perumahan berada di kawasan banjir atau tidak? Murah bukan berarti harus kebanjiran tiap musim hujan tiba, iya kan? Lebar jalan dan drainase di perumahan juga tidak boleh dilewatkan.

Bagaimana lokasi dan status rumah yang kita tempati nanti? Apakah nanti kita mendapatkan SHM atau hanya berupa HGB?

  • Harga dan Cara Pembayaran

Diantara beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum memilih rumah, ada satu yang paliiiing penting. Yaitu… uang! Ya iyalah, kalau gak punya uang, mana bisa punya rumah? Tunggu warisan? Bagaimanapun, rasanya pasti berbeda dengan memiliki rumah dari hasil keringat sendiri hihihi

Biasanya di brosur sudah tertera berapa harga jual rumah, baik itu harga cash maupun harga kredit melalui KPR/Pengembang. Namun, biasanya harga yang tertera di brosur ini belum termasuk biaya lain-lain. Misalnya saja, ketika saya meminta rincian biaya yang harus saya bayar kalau mengambil rumah tipe 29/60 tadi, ada beberapa biaya di luar brosur yang harus saya bayar.

Jika di brosur tertera harga jual sebesar 120 juta dengan DP 2,5 juta dan booking fee 1 juta, pada kenyataannya saya harus membayar sebesar 6 juta di muka, dengan rincian DP 2,5 juta + booking fee 1 juta + tabungan pribadi 2,5 juta.

Selain itu saya juga harus membayar biaya administrasi (untuk proses KPR, surat tanah) dan biaya peningkatan mutu (listrik, air, material bangunan seperti untuk dapur dan benteng belakang) dengan total biaya 15 juta.

Jadi, total yang harus saya bayar di muka adalah 21 juta yang bisa dicicil dalam waktu 4 bulan. Sementara sisanya yang 117,5 juta (120 juta – DP 2,5 juta) bisa dicicil melalui KPR. Jika dalam waktu 4 bulan ini ternyata proses KPR ditolak, maka uang yang sudah disetor tidak bisa dikembalikan.

Hal inilah yang membuat saya memutuskan untuk tidak meneruskan proses pembelian rumah di pengembang yang ini.

Bagaimana kalau proses KPR saya ditolak? 21 juta hilang begitu saja. Padahal mengumpulkan 21 juta dalam 4 bulan itu harus memeras keringat sampai berdarah-darah. 

Lain halnya jika kita berurusan dengan pengembang yang memiliki reputasi bagus. Mencicil rumah melalui pengembang bisa jadi pilihan. Prosesnya juga biasanya lebih mudah. Sementara di tengah banyaknya pengembang yang nakal, mencicil melalui KPR ini jauh lebih aman dibanding mencicil ke pengembang. Rumah bersubsidi juga memiliki suku bunga yang lebih rendah dibanding bunga rumah non subsidi dan Fixed sepanjang waktu kredit, yang artinya bunga KPR tidak terpengaruh oleh inflasi, dari awal sampai selesai bayarnya tetap sesuai kesepakatan.

Pokoknya daripada menyesal, lebih baik banyak-banyaklah bertanya. Gak usah malu atau takut merepotkan, karena ini merupakan hak kita sebagai pembeli.

Nah, kalau sudah mempertimbangkan hal-hal di atas dan siap memiliki rumah sendiri, yuk mulai hunting perumahan dari sekarang. Ingat, hari Senin harga naik!!!

You may also like

3 Comments

  1. Iya, cari rumah emang gampang2 susah. Ada temen juga yg ngebet beli rumah, trus sembarangan akhirnya 10jt melayang. Bukan karena ditipu tpi karena menyesal, lingkungan rumahnya gak sesuai sama harapannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.