Jangan Percaya Sama Tulisan Blogger!!!

By | December 8, 2015

Jangan percaya sama tulisan blogger. Blogger itu pembohong. Tulisannya kan dibayar, jadi ya pasti tulisannya dibagus-bagusin”, tulis seorang teman di statusnya.

Kalau gak salah ingat sih itu juga. Soalnya saya baca statusnya dulu banget. Tapi intinya ya begitu, jangan percaya sama tulisan blogger.

Teman ini¬†pasti bukan blogger. Iya, kan? Eits, jangan salah. Teman saya ini… blogger juga, terkenal pula ūüėÄ

Saya sih tidak tersinggung dengan status teman saya ini. Toh nyatanya sekarang memang banyak blogger yang mendapatkan uang dari blognya alias tulisannya dibayar seperti yang dikatakan teman saya tadi. Malah banyak yang menjadikan blog sebagai sumber penghasilan utama. Ada yang mendapatkan uang dari Google adsense, job review, reportase acara, atau hadiah lomba. Gak masalah blognya gratisan atau berbayar. Tapi biasanya sih tawaran job review lebih banyak didapatkan oleh blogger yang memakai domain berbayar. Seperti blog saya ini yang alhamdulillah pernah beberapa kali mendapatkan tawaran job review. Padahal blog saya ini pakai fake-TLD. Seolah-olah berbayar, aslinya cuma numpang di domain suami. Ada yang mau numpang juga gak? Banyak domain nganggur nih ahaha

Terus, benarkah blogger itu tidak jujur dengan tulisannya?

Sumber gambar : http://image.shutterstock.com/z/stock-photo-life-style-concept-pixelated-words-truth-or-lie-on-digital-screen-d-render-106221095.jpg

Bisa jadi memang ada yang begitu. Demi sejumlah bayaran, blogger menulis di luar fakta produk/jasa yang direview. Begitu juga ketika ikut lomba. Yang ditulis yang bagusnya doank. Tapi pas kalah… beuh… itu timeline medsos penuh sama caci maki produk yang mengadakan lomba. Serius, ada blogger yang seperti itu.

Tapi tenang, tidak semua blogger seperti itu. Dari ratusan, bahkan ribuan blogger, blogger seperti itu mah bisa dihitung dengan jari. ¬†Masih banyak koq blogger yang menulis dengan jujur. Misalnya saja, saya… hahaha.

Kalau soal “dibagus-bagusin” demi menyenangkan pemilik brand, selama memang pakai produknya dan merasa cocok, sepertinya sah-sah saja ya? Iya gak sih? Tapi ya bukan berarti melebih-lebihkan, dari gak ada jadi ada atau sebaliknya.

Nah, kalau ada kekurangan, sampaikanlah dengan eleikhan… begitu pesan para pakar blogger. Toh gak ada yang sempurna di dunia ini. Benar apa betul? ūüėÄ

Tapi saya mah kalau beneran pakai produknya dan suka, yang ditulis ya memang yang bagusnya. Soalnya kalau ketemu yang jeleknya, pasti sudah saya cari gantinya yang lain. Itu juga kalau masih kebeli :p

Buat lomba juga begitu. Pas kebetulan punya produknya, apalagi cocok pakai produk itu… ya wajib ikutan.¬†Saking cocoknya, nulisnya malah¬†jadi hard selling. Menang? Kalah dong. Katanya sih, nulis review atau buat¬†lomba, soft selling lebih disukai dan berpeluang menang.

Terus menyesal gak udah bagus-bagusin produknya tapi malah kalah? Ya gak lah… kan¬†memang senang¬†pakai produknya. Nulisnya sih sudah pakai hati, hanya saja kurang strategi.

Susah donk kalau mau ikut lomba tapi mesti punya produknya? Gampil. Kalau harganya masih terjangkau, beli aja. Tapi kalau mahal, pinjem aja ke tetangga.

Pernah saya¬†sengaja membeli sebuah produk yang kebetulan ada lombanya. Udah niat pake banget lah mau ikut lombanya. Tapi pas saya coba, ternyata produknya kurang memuaskan. Akhirnya saya memilih tidak jadi ikut lomba ini. Produknya dikemanakan? Dibuang? Iya, dibuang… ke perut. Sayang soalnya, dibelinya pakai uang, bukan pakai daun.

Terus koq blogger lain bisa sih menulis yang bagus tentang produk ini? Namanya juga beda kepala, tentu saja beda selera. Bahan boleh sama, pengolahan berbeda tentu hasilnya juga beda. Kalau saya memang gak pintar mengolah produk ini. Lebih tepat lagi… gak kreatif alias malas hihihi

Ada juga yang sengaja saya beli sampai difoto sama anak-anak. Tulisan sudah jadi, foto sudah ok. Tapi ternyata ada kabar kurang menyenangkan. Ada yang menanyakan sertifikat halal dari MUI. Admin menjanjikan akan segera menunjukkan sertifikat halal dari MUI ini dalam waktu 2 minggu, sementara waktu DL sudah tinggal hitungan hari. Berpegang pada janji admin, saya ikut lomba ini. Kalah ternyata. Tapi ini bukan alasan untuk membuang produknya. Produk ini masih saya simpan sambil menunggu janji admin menunjukkan sertifikat halal MUI. Ternyata sampai 3 bulan berlalu, sertifikat yang dijanjikan tidak kunjung ada. Ya, sudah… akhirnya dengan sedih hati, karena ketidak jelasan status halalnya, produk ini saya buang saja ke tempat sampah. Tulisannya? Tetap tayang¬†dengan menghapus bagian ulasan produk. 2 tahun lebih berlalu, kemarin iseng mampir ke halal.org, alhamdulillah… produk ini sudah punya sertifikat halal MUI.

Ada lagi produk yang sengaja saya beli untuk properti lomba. Itu juga minta dibelikan sama suami. Sementara sehari-hari saya pakai produk yang lain. Di tulisannya sih saya tidak terlalu banyak mengulas produknya. Kalau curhat mah sudah pasti. Pas kebetulan produk yang saya pakai habis dan malas beli ke luar, saya coba properti lomba tadi. Deg-degan sih. Takutnya malah gak cocok. Tapi ternyata alhamdulillah, cocok. Lain lagi pengalaman teman saya yang ikut lomba yang sama. Karena kalah, katanya produknya langsung dibuang ke tempat sampah. Ssssst… iya, ini teman saya yang bilang kalau blogger itu pembohong :))

Tapi kan saya pernah ikut lomba apartemen? Punya apartemen? Ya gak lah. Tulisan saya tentang apartemen ini memang hanya berdasarkan hasil googling. Sebelum membuat tulisan tentang apartemen, saya cari dulu rekam jejak dan review pengembang apartemen ini. Beneran, saya serius ikut lomba yang ini. Malah sampai gunting artikel di koran langganan kantor suami buat dokumentasi rekam jejaknya.

Menang/kalah urusan nanti. Yang jelas, saat itu saya tidak menemukan tulisan berbentuk kekecewaan terhadap pengembang ini. Lombanya sendiri ada 8 sesi. Saya? Pernah menang beberapa sesi, sisanya kalah tentu saja. Apartemen yang saya tulis ini memang selesai tepat waktu. Beberapa teman blogger malah kemarin terlihat mendapat undangan review apartemen yang sudah jadi dan siap isi. Alhamdulillah, ikut senang.

Review hape bagaimana? Kalau gak punya, paling pinjam dulu ke tetangga buat difoto dan tentu saja saya coba untuk mencari apa kelebihan dan kekurangannya. Tapi hapenya baru launching, tetangga belum ada yang punya. Ada lombanya nih? Gampil. Sudah banyak blogger reviewer beneran yang seringkali menyampaikan hasil reviewnya apa adanya. Jelek ya dibilang jelek. Kalau bagus, ya semua ditulis kelebihannya. Gak ada yang ditambah, atau dikurangi. Kumpulkan semua review itu, baca, catat, dan olah lagi sesuai gaya kita. Tapi tetap, kalau ada kurangnya ya sampaikan saja.

Saya juga pernah review mobil. Punya sendiri? Gak donk. Hebat amat mobilnya ganti-ganti. Sebagai pengantar alias curhat, saya tulis pengalaman pribadi pakai mobil dari pabrikan yang sama. Kalau foto mobil yang dilombakan sih saya minta dari teman suami yang kerja di dealer. Hasilnya, lombanya sih kalah dan suami yang dikejar-kejar marketing mobil ini sekarang huahaha

Pernah dapet produk perawatan kulit wajah buat direview. Meski baru pertama kali mencoba produk ini, tapi alhamdulillah cocok. Malah jerawat yang biasanya hadir tiap tiga minggu sekali, sudah 2 bulan ini absen hadir. Sip, gak bohong kalau begitu.

Pernah juga dapet sample untuk direview. Make up cleanser. Tapi karena saya gak pernah pakai make-up, jadinya produknya malah saya pakai buat membersihkan lensa kamera.¬†Hasilnya? Lensa kamera aja kinclong… apalagi muka wahahaha. Daripada gak terpakai, make-up cleansernya saya kasih saja ke teman yang suka dandan, insha Allah lebih bermanfaat. Teman saya sendiri bilang, kalau produknya bagus… tapi, mahal! Hahaha…

Selain job review dan lomba, saya juga pernah menulis¬†testimoni produk brand besar yang ¬†dibuat¬†berdasarkan pengalaman saya sendiri. Dibayar? Gak tuh. Tapi saya suka sih pakai produk ini. Lho, memangnya produk apa? Mesin cuci! Haha…

Kebetulan kalau saya lihat di dashboard blog dan cpanel, tulisan saya tentang mesin cuci ini lumayan banyak yang nyari. Beberapa malah terus konsultasi. Meskipun gak dibayar, saya sih senang kalau memang tulisan saya bisa membantu teman-teman yang mencari informasi tentang produk ini.

Kalau teman-teman, gimana¬†nih? Menulis review atau ikutan lombanya pakai jujur atau bohong? Kalau ikut lomba, pas kalah produknya digimanain? Ngomel di medsos? Dibuang? Dibakar? Kalau masih ada, bolehlah dihibahkan ke saya… haha

Yang jelas, sekarang banyak brand yang menggunakan jasa blogger untuk mengenalkan produknya. Soal jujur atau tidak… katanya sih apa¬†yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dan dituangkan dengan jujur akan lebih mudah diterima pembaca. Dan saya yakin, blogger yang menulis dengan jujur itu masih sangat banyak.

Jadi gimana… masih percaya kan sama blogger?

13 thoughts on “Jangan Percaya Sama Tulisan Blogger!!!

  1. sutopo sasuke

    hehe , kalau produknya bagus menurutku gak papa reviewnya dibagus2 kan, toh bagus…? tapi kalau jelek ya tak jelek an wkwkwk :v wong jelek kok minta bagus :3 ntar kasian yang beli wkwkw

  2. Hendi Setiyanto

    Berdasar pengalamnku, nulis review ya sesuai dengan apa yang rasakan, pokoknya ga mau dilebihin atau dikurangin hahaha. mau menang atau kalah terserah. sempat kecewa juga pas kalah, apalagi yang menang blogger yang terkenal gitu

  3. Akarui Cha

    Sejujurnya, aku belum pernah dapat tawaran langsung untuk meriview produk di blogku. Beberapa memang ada, tapi dari lomba. Selama aku merasa nyaman sama produknya, aku bisa curhat. Tapi kalo ga nyaman sama produknya, aku ga berani review. Kasian sama produknya.

  4. Keke Naima

    Kalau saya tipe orang yang males menjelaskan apabila ada yang gak percaya. Kecuali kalau orang tersebut dekat dengan saya. Tapi orang yang dekat harusnya tau apakah saya berbohong atau enggak,

    Jadi apabila ada yang berpendapat seperti itu, biasanya saya akan berpikir ada 2 kemungkinan. Blogger tersebut belum pernah merasakan nikmatnya dibayar. Jadi positive thinking gitu, deh. Atau sudah menikmati tapi (mungkin) dia yang berbohong. Tapi dia generalisir menjadi semua blogger itu pembohong hehehe.

Leave a Reply