[Basa SUNDA] Cikaracak Ninggang Batu, Laun-laun Jadi Legok

[Basa Sunda] Cikaracak Ninggang Batu, Laun-laun Jadi Legok – Minggu kemarin kan UTS dan anak-anak begitu ketakutan menghadapi pelajaran Bahasa Sunda.

“Mah, besok Bahasa Sundanya yang ada kaya’ peribahasa-peribahasa gitu. Apa sih sundanya… babasan jeung paribasa ya? Gimana atuh? Ceuceu mah gak bisa”, kata Ceuceu sepulang sekolah.

Sebelumnya di ulangan Bahasa Indonesia juga keluar soal peribahasa.

Waktu bahasa Indonesia mah disuruh nerusin soal Di mana bumi dipijak, di situ… Ceuceu jawab Langit dijunjung,” Ceuceu membandingkan soal ulangan bahasa Indonesia kemarin.

Sama ini satu lagi, disuruh ngartiin sedia payung sebelum hujan. Kalau itu mah gampang, ini kan udah sedia payung aja di tas. Padahal belum musim hujan“, kata Ceuceu sambil menunjuk payung di tasnya.

Gak mau bikin Ceuceu tambah stress, saya pun mencari babasan dan paribasa Sunda yang umum digunakan sehari-hari, setidaknya yang saya tahu artinya.

Memangnya babasan apa? Babasan biasanya terdiri dari 2-4 kata dan memiliki arti kiasan. Umumnya menggambarkan sifat manusia. Misalnya beurat birit. Beurat artinya berat, dan birit itu imbit alias pantat. Makna dari beurat birit adalah kedul alias malas.

“Naahh… yang kaya’ Ceuceu itu yang namanya beurat birit. Kalau Mamah minta tolong, susahnya… naudzubillah“, kata saya.

Dan Ceuceu pun hanya bisa cengengesan…

Kalau paribasa Sunda misalnya saja, adean ku kuda beureum yang artinya agul alias sombong dengan barang milik orang lain.

Atau uyah mah tara téés ka luhur yang artinya sudah Ceuceu cari tahu sendiri melalui percobaan es yang ditaburi garam dan garam yang disimpan di bawah es beberapa waktu yang lalu.

“Kalo cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok artinya apa, Mah? Ci itu kan cai, ninggang itu jatuh menimpa, kalau legok?”, tanya Ceuceu.

Hayooo, legok apa ya bahasa Indonesianya? Hihi… saya memang seringkali kesulitan mencari padanan kata  bahasa Sunda dalam bahasa Indonesia.

Dulu di kampung kakek saya ada daerah yang disebut Lebak dan Legok. Daerah yang disebut legok ini berbentuk seperti mangkuk. Jadi legok itu kurang lebih semacam cekungan lah ahaha… maaf kalo salah, maklum… Sundanya KW nih

Kalau diartikan per kata, cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok artinya air yang jatuh ke batu akan menjadikan cekungan. Ceuceu bilang bagaimana bisa air mengalahkan batu yang sedemikian kerasnya?

Nah, lho! Bagaimana menjelaskannya ya? Saya malah jadi bingung sendiri.

Daripada susah menjelaskan, saya kemudian mengajak Ceuceu mengingat kembali pengalaman sewaktu kami berkunjung ke Pangandaran 2 tahun yang lalu.

Di sebuah gua di Pangandaran, ada batu yang menjadi cekung karena terkena tetesan air secara terus menerus.

Batu yang secara alami menjadi legok karena tetesan air (Sumber gambar : mypangandaran.com)

Secara logika, air yang hanya menetes satu-dua kali memang tidak akan mampu membuat perubahan pada batu yang begitu keras. Namun jika terus menerus, air yang menetes mampu menggerus batu sekeras apapun.

Ku dileukeunan mah, batu nu sakitu heurasna oge bisa jadi legok”, begitu kata Nene ketika saya mengeluh habis kesabaran menghadapi sesuatu yang menurut saya mustahil dilakukan.

Nah, makna peribahasa Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok ini kurang lebih usaha yang dilakukan sedikit demi sedikit secara terus menerus akan membuahkan hasil yang luar biasa. Ya misalnya seperti batu di atas.

Soal cikaracak ini memang keluar di ulangan. Tapi Ceuceu hanya diminta meneruskan saja… laun-laun jadi legok. Udah tahu lah ya… gampil kan Ceu? Ceuceu juga tadinya takut banget menghadapi ulangan bahasa Sunda, tapi pelan-pelan belajar sedikit demi sedikit. Malu donk dipanggil Ceuceu tapi gak bisa bahasa Sunda hahaha

Jadi kalau menghadapi sesuatu yang sepertinya susah, jangan menyerah ya… jalani saja dulu dengan penuh kesabaran #lagingomongsambilngaca ahaha

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.