DF Clinic, One Stop Solution For Your Health

By | August 15, 2015

“Si Teteh teh geulis nya, bersih… “, samar terdengar bisik-bisik ibu-ibu yang duduk di belakang saya ketika saya menghadiri acara pengajian di dekat rumah.

Merasa jadi obyek perbincangan ibu-ibu ini, saya pun menoleh ke belakang dan bertanya… “aya naon bu?”

“Eta Teteh, ayeuna mah geulis.. bersih”, ujar seorang ibu menjawab pertanyaan saya.

Waduh jadi sebelum ini saya gak cantik gitu, bu? Ah… ibu mah. Membuat saya jadi berpikiran macam-macam.

Segera saya mengirim BBM kepada suami, meminta maaf… sadar diri kalau saya memang banyak salah. Suami pun terheran-heran, minta maaf untuk apa?

Kemudian saya jelaskan, kalau saya takut umur saya gak panjang… karena tadi tiba-tiba dibilang cantik oleh ibu-ibu di pengajian. Baru kali ini mereka bilang begitu, padahal sebelumnya hampir tiap hari juga kami bertemu.

“Tuh kan… baru tiga minggu ngurangin kopi, udah ada yang bilang cantik. Coba kalau berhenti sama sekali, pasti jadi cantik banget”, begitu balasan BBM dari suami.

Oooo.. iya, saya baru ingat. Kalau sudah 3 minggu ini saya memang berhenti ngopi.  Bukan tanpa alasan, tapi karena anjuran dari dr. Sherley Nugraha ketika saya berkunjung ke DF Clinic beberapa waktu yang lalu.

“Elu banyakin minum deh”, kata dr Sherley setelah mengamati wajah seorang blogger.

“Elu, kurangin pedes!”, dr Sherley pun mengamati wajah blogger yang lain

Tak lama kemudian dr Sherley mengamati wajah saya.

kebanyakan tahi lalat aja kamu mah, jadi kusam“, kata dr Sherley

Saya pun protes… “tapi dok, ini di muka udah mulai banyak bintik hitam yang gak merata. Kenapa ya?”

“ah… elu harus kurangin yang manis-manis”, begitu ujar dr Sherley setelah lebih lama mengamati kulit wajah saya. Selanjutnya dokter cantik ini menyarankan agar saya mengurangi kopi. Kalau mau ngopi juga maksimal 2 cangkir dan tanpa gula!

Heh? Jangan-jangan ampas kopi mulai pindah ke muka nih? Hahaha…

Aneh juga sih… koq dokter ini bisa tahu kalau saya terlalu banyak ngopi? Dan, eh saya baru tahu kalau ternyata terlalu banyak gula tidak hanya mengakibatkan obesitas seperti yang saya alami, tetapi juga membuat kulit menjadi terlihat kusam.

Duh, kalau sebelumnya saya abai dengan masalah berat badan yang semakin bertambah karena terlalu banyak ngopi, kali ini saya memutuskan untuk mulai mengurangi jumlah kopi yang saya konsumsi. Kalau bisa sih berhenti saja, gak usah ngopi lagi sekalian.

Saya memang jarang melakukan perawatan terhadap kulit, baik wajah maupun badan. Paling untuk wajah pun hanya cuci muka dengan facial foam yang menurut saya sih cocok-cocok saja. Yang penting tidak mengundang jerawat nemplok di wajah saya. Foundation? Cream siang malam? BB Cream? CC cream? Ah, membeli pun tidak pernah. Padahal kulit lah bagian tubuh yang pertama kali menerima “siksaan” dari luar seperti cuaca panas, antioksidan, radiasi, dan lain sebagainya.

Ketika dr Sherley bisa dengan mudah menebak bahwa saya terlalu banyak ngopi hanya dengan melihat kulit wajah, saya pun sadar kalau saya harus mulai peduli dengan kulit saya sendiri. Saya harus segera melakukan perawatan terhadap kulit dan badan saya.

Tapi kan… perawatan itu mahal? Lagipula belum tentu saya cocok dengan perawatan yang saya jalani?

Sudah banyak cerita yang saya dengar tentang perawatan di salon kecantikan terkenal dengan biaya yang tidak murah tapi hasilnya mengecewakan. 

Atau cerita teman yang menjalani perawatan di klinik kecantikan selama beberapa waktu, tapi ketika perawatan dan obat dihentikan, kulit wajahnya kembali bermasalah, malah bertambah parah.

Koq bisa begitu ya? Itulah yang membuat saya enggan menjalani perawatan di salon ataupun klinik kecantikan.

Tapi ternyata, menurut Kang Charenza Firman, Chief Operating Officer DF Clinic, hal seperti ini bisa terjadi karena di salon ataupun klinik kecantikan yang lain, perawatan yang dilakukan tidak berbasis diagnosa. Di DF Clinic, perawatan yang dilakukan harus menjalani serangkaian pemeriksaan dokter terlebih dahulu.

Misalnya nih, kita datang ke salon/klinik kecantikan dengan keluhan wajah yang berjerawat. Di klinik lain, wajah yang berjerawat ini pada umumnya diobati dengan menggunakan krim. Sementara di DF Clinic, sebelum menjalani perawatan, pasien harus  berkonsultasi dulu dengan dokter untuk menentukan perawatan seperti apa yang diperlukan.

Jadi kita tidak bisa menentukan sendiri perawatan seperti apa yang akan kita jalani. Pada beberapa kasus, kita tidak bisa langsung menjalani perawatan. Sebagai gantinya kita akan diberikan obat luar atau  obat oral selama jangka waktu tertentu. Ini pun harus dibarengi dengan perawatan dari dalam diri kita. Misalnya menjaga asupan makanan dan minuman.

Koq begitu? Menurut Kang Renza, penyebab utama jerawat itu ada tiga, yaitu cabai, coklat dan kacang. Dengan melakukan pre-treatment sesuai anjuran dokter di DF Clinic, kita bisa tahu apa yang menyebabkan wajah kita berjerawat sehingga perawatan yang dijalani pun jadi lebih optimal.

Nah, makanya klinik ini dinamai DF yang merupakan kepanjangan dari Doctor First. Karena diagnosa dokter menjadi hal pertama yang wajib dijalani.

Tak perlu khawatir dengan kualitas dokter yang  praktik di DF Clinic. Buktinya dr Sherley tuh.. hanya melihat sekilas saja tebakannya jitu sekali hihi…

Dokter-dokter yang praktik di DF Clinik sudah mengantongi sertifikat langsung dari Amerika Serikat, yaitu American Board Certified for Aesthetics and Anti Aging. DF Clinic juga memiliki peralatan dengan teknologi modern dan fasilitas terlengkap.

ADA APA DI DF CLINIC?

Apa saja sih yang bisa kita dapatkan di DF Clinic ini? Ini nih treatment yang menjadi unggulan di DF Clinic…

  • Hair Expert, yaitu program pertumbuhan rambut termasuk pertumbuhan alis dan bulu mata. Treatment ini memberikan garansi lho. Ada perjanjian di atas materai, jika ternyata setelah mengalami treatment masalah rambut rontok dan kebotakan tidak juga teratasi, DF Clinic akan mengembalikan biaya treatment.
  • Facelift, terapi ini berguna untuk mengencangkan kulit wajah dengan berbagai varian
  • Perbaikan scars, bekas luka atau jerawat
  • Antiaging medicine
  • Stemcell
  • Baby Spa
  • Terapi Alergi.

Terapi alergi di DF Clinic dilakukan dengan mengambil sampel darah kita. Nanti sampel darah kita akan diteliti dan hasilnya  akan keluar setelah  3 minggu. Nantinya akan diketahui apa saja yang menjadi pemicu alergi. Ada 200 jenis makanan yang dijadikan pembanding. Lumayan kan.  Mahal ya? Untuk tes alergi seperti ini kita harus metogoh kocek sekitar 3 juta rupiah. Ya, hitung-hitung investasi saja. Cukup sekali seumur hidup menjalani cek alergi, dan kita pun bisa lebih waspada dengan jenis makanan yang dipilih.

Sementara konsultasi dengan dokter di DF Clinic,  rate  yang berlaku  umum adalah sebesar  50 ribu dan untuk kasus anti aging dikenai charge  150 ribu karena  diperlukan  lebih  banyak waktu dan pengecekan  yang lebih detil.

Produk DF Clinic… Aman?

Menurut Kang Rhenza, Indonesia  merupakan pangsa  pasar  yang  menarik bagi produsen kecantikan. Mau tampil cantik dengan instan? Gampil. Tapi resikonya ya itu. Begitu kita lepas dari pemakaian produk kecantikan ini, wajah kita kembali bermasalah. Malah jauh lebih buruk.

Ternyata menurut Kang Rhenza, sebanyak  80%  produk kosmetik yang dibuat  produsen kebanyakan mengandung steroid yang dirancang  untuk membuat kita ketergantungan. Dalam dosis  yang benar, penggunaan steroid bisa jadi obat, tapi dalam jangka waktu yang panjang malah jadi bisa racun. Yang lebih menyeramkan adalah efek jangka panjangnya, yaitu kulit beresiko terkena kanker kulit. Duuuuuuhhh…

Di DF Clinic, memang ada produk-produk yang mengandung steroid. Hanya saja semua diaplikasikan harus dengan pengawasan dan resep dari dokter serta dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu.

Begitu juga dengan produk DF Clinic lainnya seperti toner, pelembab, krim malam, dan lain-lain. Tidak semua memerlukan produk yang sama, tergantung kebutuhan kulit kita sendiri.

Saya sendiri mendapat paket perawatan dasar seperti sabun, toner, krim malam dan gel organik. Blogger lain berbeda lagi. Ada yang sampai mendapatkan 7 macam produk 😀

Produk yang bersifat obat diimport langsung dari Kanada dan Australia. Sementara produk kosmetik diproduksi sendiri oleh DF Clinic.

Bagaimana kalau tidak cocok dengan obat ataupun treatment dari DF Clinic?

DF Clinic  akan memberikan referensi  sebagai rujukan kalau kita ingin pindah ke klinik lain. Setiap kali kita melakukan treatment di DF Clinic, dokter akan mencatatnya sebagai panduan sejauh mana  perkembangan yang kita dapatkan selama  berobat di sana.

Di DF Clinic, penggunaan krim adalah opsi terakhir. Karena yang harus dicari tahu adalah penyebab utamanya. Bisa jadi karena memang salah kosmetik, atau  malah gaya hidup seperti saya yang terlalu banyak minum kopi padahal sebenarnya tubuh tidak memerlukan itu.

Saya jadi penasaran. Kalau hanya dengan mengikuti saran Dr Sherley untuk mengurangi kopi plus memakai perawatan dasar dari DF Clinic saja muka saya bisa bersih, bagaimana kalau saya benar-benar menjalani pola hidup sehat ya?

Alamat DF Clinic Bandung
Jalan Leumah Neundeut no 10, setrasari
Bandung 40164
Phone (022) 2010593
Pin BB: 2290FF6F
Mon – Fri: 9:00 am – 8:00 pm
Sat – Sun: 9:00 am – 5:00 pm

Leave a Reply