Sehari di Klinik TB RSHS (Bagian II)

By | March 8, 2015

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, pasien yang dinyatakan gagal menjalani pengobatan TB Kategori 2 kemudian dirujuk ke Klinik TB-MDR.

Bagaimana seseorang bisa didiagnosis TB-MDR? Selain karena pengobatan yang gagal (TB menjadi resisten terhadap obat), orang juga bisa tertular TB-MDR dari orang yang sebelumnya sudah terinfeksi TB-MDR.

Kasus pasien TB-MDR baru ini cukup besar ternyata. Di awal kunjungan peserta Workshop #SahabatJKN #lawanTB kemarin, Dr. Arto Yoewono, Sp.PD, KP menjelaskan bahwa 1,9% pasien TB MDR merupakan pasien baru (belum pernah terkena/menjalani pengobatan TB sebelumnya), sementara 12% pasien TB-MDR sudah pernah menjalani pengobatan sebelumnya.

Dulu, sebelum dipastikan terkena TB-MDR pasien harus menunggu hasil pemeriksaan dengan DST (Drug Susceptibility Data) yang bisa memakan waktu sampai 3 bulan. Bisa dibayangkan selama 3 bulan itu pasien tidak tertangani dengan baik.

Sekarang, RSHS sudah memiliki alat pemeriksaan TB-MDR berbasis PCR (Poly Chain Reaction), The Magic Gene Xpert. Dengan alat ini pasien cukup menunggu selama 1 jam 45 menit.

IMG_5562

The magic Gene Xpert (dokpri)

Jelas magic dan expert donk ya… menyulap waktu dari 3 bulan sampai menjadi 1 jam 45 menit ūüėÄ

Klinik TB-MDR I

Memiliki ruang yang sangat terbuka, sekilas Klinik TB-MDR RSHS terlihat seadanya. Tapi memang seperti inilah Klinik TB-MDR yang sesuai dengan PPTI, berada di ruang terbuka dengan pencahayaan dan sirkulasi udara yang cukup.

Di Klinik TB-MDR I ini kami disambut oleh sederet tas yang bergantung di dinding.

IMG_5571

Tas tempat masker petugas Klinik TB-MDR I RSHS (dokpri)

Menurut Mas Varrel, tas ini tempat para petugas Klinik TB-MDR I menyimpan maskernya. Jadi masker yang digunakan tidak dibawa pulang. Setiap tas diberi label nama agar tidak tertukar.

Selanjutnya ada tempat pasien membuang dahak mereka untuk diperiksa.

Tempat membuang dahak di Klinik TB-MDR I RSHS (dokpri)

Tempat membuang dahak di Klinik TB-MDR I RSHS (dokpri)

Terlihat beberapa pasien yang sedang mengantri, seorang dokter yang sedang memberikan penjelasan kepada pasien, juga ada pasien yang menunggu giliran disuntik. Pasien TB-MDR memang harus menjalani suntikan selama 6 bulan setiap hari sebelum masuk tahap konversi. Selain suntikan, pasien juga harus tetap minum obat setiap hari.

Psien TB-MDR yang akan disuntik di Klinik Tb-MDR I RSHS (dokpri)

Psien TB-MDR yang akan disuntik di Klinik Tb-MDR I RSHS (dokpri)

Setelah selesai menjalani masa pengobatan dengan disuntik selama 6 bulan, pasien TB-MDR melanjutkan pengobatan di Klinik TB-MDR II.

Menurut cerita bapak entah siapa namanya (maaf ya, pak… saya lupa menanyakan nama bapak :D), ada sekitar 70 pasien yang datang ke Klinik TB-MDR. Dari tahun 2012 sampai 2014, ada 300 pasien TB-MDR, dan hanya 50 orang yang berhasil sembuh. Sisanya? Ada yang masih berobat dan ada yang hilang alias putus berobat. Kalau sudah putus berobat begini, hanya ada 2 kemungkinan, masih hidup tetapi dengan kondisi kesehatan terus menurun atau meninggal. Lebih parah lagi mereka yang putus berobat ini bisa menularkan TB-MDR kepada orang-orang di sekitarnya.

Klinik TB-MDR II

Selesai menjalani pengobatan TB-MDR dengan disuntik setiap hari di Klinik TB-MDR I selama 6 bulan, pasien kemudian diperiksa ulang. Jika hasil pemeriksaan BTA sputum atau kultur pertama menjadi negatif, maka pasien dirujuk ke Klinik TB-MDR II untuk menjalani pengobatan dengan minum obat setiap hari sampai paling sedikit 18 bulan.

IMG_5563

Klinik TB-MDR II RSHS (dokpri)

Seperti halnya Klinik TB-MDR I, Klinik TB-MDR II juga memiliki pencahayaan yang cukup terang dan sirkulasi udara yang cukup baik.

Di sini pasien mendapatkan obat dan obatnya harus diminum di tempat, tidak boleh dibawa pulang.

IMG_5565

tuh… obatnya gak boleh dibawa pulang (dokpri)

Dari pengalaman para pasien, masa-masa pengobatan TB-MDR ini memang cukup menyiksa. Selain obat yang diminum cukup banyak (bayangkan ketika kita harus minum obat sebanyak 12 butir dalam satu waktu setiap hari), beberapa pasien juga mengalami efek samping mulai dari mual, gatal-gatal, lemas, nyeri sendi. Seperti yang diceritakan oleh Teh Rini, seorang pasien di Klinik TB-MDR II yang sudah menjalani pengobatan selama 10 bulan.

“Yang paling menyiksa mah 3 bulan pertama. Kalau sekarang abis minum obat suka¬†nyeri sendi, lemes, pengennya tidur aja. Baru normal lagi yaa… jam 3-an lah. Terus saya paling gak mau minum obat pake air putih, hiyyy…”, ujar Teh Rini sambil bergidik.

Pasien TB-MDR di Klinik TB-MDR II (Sumber : Eyang @anjarisme)

Di sinilah pentingnya peranan PMO (Pendamping Minum Obat). Pasien mungkin saja menolak minum obat, pasien juga bisa mengalami banyak efek samping, diantaranya gangguan berupa halusinasi. Pernah ada pasien yang setelah menjalani suntikan dan minum obat seolah-olah dipanggil seseorang agar ikut ke suatu tempat. Ketika sadar, ternyata pasien ini sudah ada di pinggir jurang. Khusus untuk pasien TB-MDR, PMO tidak boleh berasal dari keluarga, melainkan tenaga kesehatan langsung.

Selain kehadiran PMO, tentu saja keinginan yang kuat dari pasien untuk sembuh dan dukungan dari keluarga juga bisa membuat pasien melewati masa-masa sulit pengobatan TB-MDR.

“Saya ingin sembuh, soalnya kan saya punya anak juga, jangan sampai anak saya juga terkena TB”, jawab Teh Rini ketika salah seorang peserta Workshop menanyakan apa yang membuat Teh Rini bisa bertahan menjalani pengobatan sampai 10 bulan.

Sekedar diketahui, Indonesia menduduki peringkat keempat dengan jumlah kasus terbanyak di dunia setelah India, Cina dan Afsel.

Angka kematian akibat TB di dunia mencapai 1,3 juta jiwa per tahun, 410.000 pada wanita dan 74.000 pada anak-anak. Sebanyak 1,1 juta Orang dengan HIV menderita TB atau 13%, dengan kematian sekitar 320.000 jiwa. Untuk kasus TB resistan obat dari 450.000 kasus, 170.000 meninggal akibat penyakit ini.

Di Indonesia, setiap tahun terdapat 67.000 kasus meninggal karena TB atau sekitar 186 orang per hari. TB adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan peringkat 3 dalam daftar 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia (SKRT 2004). Selain itu pada usia 5 tahun ke atas, TB merupakan penyebab kematian nomor 4 di perkotaan setelah stroke, Diabetes dan hipertensi dan nomor 2 dipedesaan setelah stroke (Riskesdas 2007).

Beban TB di Indonesia sendiri masih sangat tinggi mengingat setiap tahun masih ada 460.000 kasus baru dan jika tidak ditangani dengan baik, setiap 1 pasien TB bisa menulari 12-15 orang per tahun.

Meskipun pengobatan TB Resisten Obat, TB-MDR, TB-XDR ini cukup rumit dan tentu saja obat-obatannya juga menelan biaya yang cukup banyak, namun semuanya gratis dan dijamin oleh Pemerintah. Hanya saja pasien TB jenis apapun harus mau menyelesaikan pengobatannya sampai tuntas sesuai dengan anjuran, agar TB tidak berkembang semakin parah.

Lebih jauh lagi, TB bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga memiliki dampak yang sangat luas terhadap kehidupan para pasien dan orang-orang di sekitarnya.

Perjalanan ke Klinik TB RSHS ini membuka mata saya dan juga peserta workshop #SahabatJKN #lawanTB lainnya, bahwa memang perjuangan para pasien TB untuk bisa sembuh ini panjang sekali. Mereka tidak bisa berjuang sendiri. Begitu juga dengan tenaga kesehatan yang cukup terbatas. Seyogyanya kita semua  bahu membahu memberantas TB.

11046923_645623005567184_8607320382964257470_n

6 thoughts on “Sehari di Klinik TB RSHS (Bagian II)

  1. Yuni andriyani

    TB memang menjadi penyakit pembunuh setelah jatung, kanker dan stroke mbak…perlu perhatian khusus dan kesadaran masyarakat akan faktor-faktor resiko penyebabnya,,,

  2. evrinasp

    Memang seram ya kalau sudah terkena TB, efek menularnya itu, badan juga jadi tidak fit seperti seharusnya, penting banget peran keluarga dalam mendampingi pasien

  3. Lilihnuraeni

    Info dong saya dari sukabumi kemarin ke klinik tb cek dahak hasilnya 4 hari,karna jauh jadi katanya nanti hasilnya via telpon tapi gak ada telpon dari klinik nya..no hp klinik tb mdr nya berapa ya..biar bsa sya hubungin..

    1. oRiN Post author

      Haturnuhun sudah mampir sini, teh. Saya sudah tanya, tapi kebetulan katanya Contact Center RSHS sedang offline. Jadi tidak bisa dihubungi via telepon dan harus datang ke RSHS. Nanti saya coba cari info lagi ya, Teh. Mudah2an segera pulih seperti sedia kala ^_^

Leave a Reply