Memenuhi asupan gizi dengan buah lokal

“Ceu, makan sama sayurnya ya!”, kembali saya mengingatkan Ceuceu agar mau menghabiskan sayuran yang ada di atas piringnya. Hari ini saya memang membuatkan sop ayam untuk anak-anak, tentu saja lengkap dengan wortel dan buncis di dalamnya.

Bukannya mengiyakan perintah saya, Ceuceu hanya diam sambil mengernyitkan dahi.

Tidak perlu waktu lama, nasi, potongan ayam dan wortel yang dibuat sop di piring sudah Ceuceu habiskan. Hanya saja… aduuuuuh, lagi-lagi buncisnya masih tetap utuh tanpa tersentuh.

Ceu, kalau kamu tetap gak mau makan sayur, nanti yang rugi kamu sendiri lho! Ingat Teh Salma kan? Waktu kita ke Bandung, Teh Salma sakit gara-gara gak suka makan sayur. Dikit-dikit pingsan. Ceuceu mau kaya’ gitu?”, saya pun akhirnya mengeluarkan jurus omelan tanpa henti buat Ceuceu.

Salma, keponakan saya, memang menderita anemia berat. Penyebabnya sepele, karena sejak kecil tidak suka makan sayur dan buah-buahan.

Tapi kan Ceuceu mah suka makan buah”, timpal Ceuceu.

Ah, kamu mah. Kalo dibilangin ada aja jawabannya. Kamu suka makan buah juga gara-gara takut sakit kaya’ Teh Salma! Dulu mana mau kamu makan buah?”.

Ya, seperti lazimnya anak-anak, Ceuceu juga termasuk anak yang sukar sekali makan sayur dan buah-buahan. Kedua anak saya yang lain, Teteh dan Ade sangat suka makan sayur dan buah-buahan. Tidak perlu memaksa atau mengingatkan mereka untuk menghabiskan sayur di piring, kalau tidak ada sayur mereka dengan senang hati memintanya. Bahkan Ade suka sekali makan sayuran mentah.

kacang panjang mentah juga enak :)
kacang panjang mentah juga enak ๐Ÿ™‚

Tapi sejak mendengar cerita tentang Salma yang seringkali mendadak pingsan saat beraktivitas, perlahan Ceuceu mulai mau makan buah-buahan. Ternyata setelah terbiasa, Ceuceu mulai suka dan jatuh cinta pada buah-buahan. Boleh dibilang tidak ada hari tanpa buah.

Sama seperti Teteh dan Ade, hampir semua buah-buahan jadi kesukaan Ceuceu. Mangga, pepaya, apel , pir, salak, rambutan dan pisang adalah buah-buahan yang setiap hari silih berganti dikonsumsi anak-anak.

Sayuran sih sementara ini baru wortel yang bisa masuk. Lalu bagaimana dengan asupan gizi untuk Ceuceu? Apakah terpenuhi hanya dengan makan buah-buahan dan wortel? Lumayan, daripada tidak sama sekali.

Buah berkualitas baik, lokal atau impor???

Karena saya hanya bisa mengandalkan buah-buahan (dibanding sayuran) sebagai asupan gizi tambahan untuk Ceuceu, pastinya saya harus memilih buah-buahan yang berkualitas baik. Lalu, buah seperti apakah yang disebut berkualitas baik? Buah impor? Atau malah buah lokal yang ada di sekeliling kita sendiri?

Karena kebetulan tinggal di kaki gunung, di mana banyak sekali kebun buah-buahan lokal (milik tetangga), jelas saya memilih buah lokal. Soalnya kalau pilih buah impor, artinya untuk dapat mengkonsumsi buah setiap hari saya harus turun gunung terlebih dahulu. Kalau pohon buah milik tetangga, pas giliran panen tiba, tanpa diminta pun biasanya tetangga seringkali berbaik hati memberi sebagian hasil panen.

Tapi andai dekat pun dengan toko buah-buahan yang menyediakan buah-buahan impor, saya tetap akan memilih buah-buahan lokal. Kenapa?

1. Murah dan mudah didapat

Salah satu alasannya ya itu tadi, buah lokal lebih mudah didapat. Bukan hanya dari tetangga, di pinggir jalan, di pasar, di supermarket atau bahkan di toko khusus buah, buah-buahan selalu tersedia.

Selain itu, dibanding buah impor, buah lokal jelas memiliki harga yang lebih bersaing. Salah satu penyebabnya antara lain karena biasanya beberapa jenis buah tersedia sesuai musim. Biasanya menjelang musim buah tertentu, harga buah masih terasa agak mahal. Pertengahan musim sampai habis masa panen harga buah musiman bisa jauh lebih murah.

2. Variatif

Indonesia sebagai negara tropis menghasilkan buah-buahan lokal yang khas dan sangat variatif, tergantung musim yang sedang berjalan. Satu kali musim bisa ada beberapa jenis buah yang sedang musim. Kalau di negara lain ada musim panas, musim dingin, musim gugur, dan musim salju, sebagai orang Indonesia kita patut berbangga hati karena memliki musim yang lebih banyak. Ada musim mangga, musim rambutan, musim durian, musim duku. Belum lagi masih banyak buah lain yang tidak mengenal musim dan bisa berbuah kapan saja.

3. Lebih Segar

Buah lokal, terutama buah musiman, memiliki manfaat yang lebih banyak karena dipetik dalam keadaan tak jauh dari matang pohon.

Saya sih membayangkan, buah-buahan impor yang berasal dari negara tetangga ini sudah menempuh perjalanan beratus-ratus kilometer. Bisa dibayangkan betapa lelahnya buah-buahan ini. Tapi koq di supermarket sepertinya buah-buahan ini nampak segar? Meski sudah mendapat jaminan bahwa buah-buahan ini tidak diberi zat pengawet atau zat tambahan lain, tetap saja buah-buahan impor memiliki rantai distribusi yang lebih pajang dibanding buah lokal. Bisa jadi kita malah mengonsumsi buah yang sudah tidak memiliki kandungan gizi atau bahkan sudah diberi berbagai zat pengawet, pemanis, dan zat tambahan lainnya.

Belum lagi permasalahan yang beberapa waktu lalu menimpa buah impor, dimana Apel Granny Smith dari Amerika terpaksa ditarik dari peredaran karena kandungan bakteri didalamnya. Hiyy… menyeramkan.

Buah-buahan lokal, yakin aman?

Masih banyak yang meragukan kualitas buah lokal, misalnya saja karena takut petani buah-buahan lokal menggunakan pestisida. Petani lokal umumnya memang belum bisa dipantau sepenuhnya terkait penggunaan pestisida. Penggunaan pestisida oleh petani lokal belum memiliki standar sebaik penggunaan pestisida buah impor.

Untuk memastikan buah-buahan yang kita konsumsi bebas pestisida, sebaiknya buah-buahan dicuci bersih sebelum dikonsumsi. Kalau saya sih biasanya menggosok kulit buah di bawah air mengalir dengan spons biasa yang memang disimpan khusus untuk mencuci buah. Pencucian yang teliti diharapkan mampu membuang pestisida yang menempel di kulit buah.

Mau buah lokal kualitas impor? Ada PT Sewu Segar Nusantara (SSN) yang memproduksi buah-buahan lokal dengan label SUNPRIDE. SUNPRIDE berkomitmen menyediakan buah-buah segar berkualitas dengan lebih dari 20 jenis yang 80%nya adalah buah lokal. Tidak perlu khawatir dengan bahan pengawet atau pestisida, karena buah-buahan yang diproduksi oleh SUNPRIDE secara berkala SUNPRIDE melakukan ujicoba produknya melalui Sucofindo. Hasilnya? SUNPRIDE memiliki sertifikat ‘Bebas Residu Pestisida dan Tanpa Formalin”.

Kalau dulu saya hanya mengenal SUNPRIDE sebagai “merk” pisang, ternyata buah yang diproduksi SUNPRIDE bukan hanya buah. Ada juga anggur, apel, jeruk, kiwi, melon, nanas honi, pear, pepaya, pear, pomelo, semangka dan buah favorit saya sedari kecil, guava.

photo 3(1)

Guava Crystal yang diproduksi SUNPRIDE ini adalah tanaman tropis yang berasal dari Brasil, disebarkan ke Indonesia melalui Thailand. Kelebihannya? Boleh dibilang jambu batu yang ini tidak ada batunya, alias seedless. Jumlah biji Guava Crystal Sunpride memang hanya sekitar 3% dari daging buah. Selain itu Guava Crystal juga memiliki sedikit kandungan air sehingga tekstur jambu menjadi lebih lembut.

photo 4

Kandungan gizinya? Cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Malah guava crystal juga bisa mencegah penyakit kanker. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), Guava Crystal merupakan salah satu buah yang memiliki banyak kandungan antioksidan. Buah ini juga memiliki beta karoten, kalium dan serat larut.

Mengkonsumsi satu buah Guava Crystal sebagai sarapan mampu memenuhi dosis harian yang sangat dibutuhkan tubuh seperti zat besi, asam folat, kalsium, serat, protein, karbohidrat, vitamin A, B dan banyak vitamin C. Setiap Guava Crystal yangย  dikonsumsi mengandung 165 mg vitamin C, yang artinya 5 kali lebih banyak kandungannya dibandingkan buah Jeruk. Sementara, satu jeruk hanya mengandung 69 mg saja. Kandungan vitamin C pada Guava Crystal ini efektif dalam mengobati infertilitas pria. Sementara kandungan lemak total satu Guava Crystal sekitar 0,9 gram atau 84 kalori. Dibandingkan dengan apel, buah ini memiliki 38% lemak dan 42% kalori yang lebih sedikit. (Sumber : Sunpride)

Nah, kan… buah-buahan lokal juga tidak kalah keren dibanding buah-buahan impor. Jadi, masih kurang alasan apalagi untuk mencintai buah-buahan lokal?

Tulisan ini diikutsertakan pada SUNPRIDE: Fruit for Love Blogging Competition

#Fruit4Love

Referensi:

http://www.sunpride.co.id/

http://www.tempo.co/read/news/2014/10/13/090613816/Mentan-Buah-Impor-Hanya-Kuasai-Pasar-Modern

http://www.sunpride.co.id/seputar-guava-crystal/

5 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.