Es Krim, Yes or No?

Tak peduli musim kemarau atau musim hujan, yang namanya es krim selalu bikin berliur. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa seperti saya juga sangat suka dengan yang namanya es krim. Kalau sedang jalan-jalan di mal, kita pasti ketemu berbagai jenis es krim, baik yang dijual dalam kemasan maupun yang dijual per cedok di contong. Walaupun bermacam-macam, ada satu persamaan es krim yang saya yakin semua orang setuju: sama-sama enak! Lalu di mana bedanya?

Jenis-jenis es krim

Perbedaan satu jenis es krim dengan yang lain terletak pada bentuk, rasa, dan teksturnya. Ada tiga jenis utama es krim, yaitu es krim lunak, es krim padat, dan es krim batang. Es krim yang sering dijual memakai mobil keliling atau di restoran cepat saji kebanyakan adalah es krim lunak yang murah meriah. Saking lunak dan halusnya, es krim jenis ini bisa mengalir dari mesin dispenser dan mudah dibentuk seperti puncak Monas. Tinggal pencet tombol, es krim langsung keluar jatuh ke contong.

Jenis kedua adalah es krim yang lebih padat dan lebih mahal. Gampang saja menandainya, di mal-mal biasanya es krim tipe ini dipajang di etalase dalam wadah-wadah terpisah menurut rasanya. Teksturnya lebih kasar daripada es krim lunak. Harganya biasanya per cedok ditambah harga contong dan taburan seperti saus stroberi, kacang kenari, atau butiran cokelat. Kalau mau lebih wah, es krim jenis ini bisa dipesan dalam gelas tinggi atau yang disebut sundae di restoran-restoran. Sebagian besar es krim yang dijual dalam kemasan gelas kertas, seperti Walls, di toko-toko juga merupakan es krim tipe ini.

Es krim batang biasanya punya gagang kayu untuk pegangan. Sebenarnya es krim batang yang bening rasa buah tidak layak disebut es krim karena tidak mengandung krim atau susu. Kalau mau adil, es batang semacam ini seharusnya disebut es loli, sedikit lebih keren lah daripada es lilin yang dijual di termos es di luar pagar sekolah.

Lalu, apakah es krim itu baik?

Bisa dibilang, es krim sudah dituduh sebagai penyebab kegemukan dan noda pada baju anak-anak. Tuduhan yang pertama tidak terlepas dari nama es krim itu sendiri. Krim selalu diasosiasikan dengan tinggi kandungan lemak, padahal tidak selalu demikian, terutama pada es krim modern. Susu sebagai bahan utama es krim menyumbang protein dan kalsium. Lemak susu pun tidak sepenuhnya merugikan karena mengandung vitamin A dan D. Kebaikan es krim sebagai suplemen bisa dirasakan para penderita radang tenggorokan atau pasien operasi gigi dan mulut yang tidak bisa mengunyah dan menelan makanan padat. Tentu saja segala hal kalau berlebihan juga akibatnya tidak baik. Begitu juga dengan es krim.

Tuduhan kedua terkait noda pada pakaian akibat es krim juga bisa dibilang berlebihan. Asalkan tahu cara menggunakan mesin cuci, noda-noda mudah dihilangkan. Yang namanya anak-anak, apa pun bisa menempel di baju dan meninggalkan noda, jadi bukan cuma es krim. Noda es krim tergolong noda protein yang bisa diatasi dengan deterjen berenzim dan cara menggunakan mesin cuci yang tepat, misalnya hindari pemakaian air panas yang malah bisa membuat noda semakin menempel. Saran yang praktis adalah pilihlah es krim berkualitas yang mengandung pewarna alami sehingga nodanya lebih mudah disingkirkan.

Tanya jawab tentang es krim

Selain tuduhan sebagai biang kegemukan dan noda, banyak persepsi dan kesalahpahaman mengenai es krim. Berikut ini tanya jawab terkait es krim:

T: Apakah es krim mengandung gelatin?

J: Iya sebagian. Gelatin tidak lagi dipakai secara luas seperti dulu. Produsen sekarang banyak menggunakan bahan-bahan nabati seperti rumput laut sebagai stabiliser (penstabil tekstur es krim agar tidak mengendap selama proses produksi, transportasi, dan penyimpanan). Agar lebih pasti, periksa bahan-bahan es krim pada label kemasan atau tanyakan pada penjual es krim yang tidak berkemasan.

T: Apakah es krim mengandung telur?

J: Beberapa resep es krim memakai telur sebagai emulsifier (penyatu bahan minyak dan air), namun sebagian besar tidak mengandung telur. Jika alergi telur atau vegetarian, cek komposisi es krim sebelum membelinya.

T: Apakah semua es krim dibuat dari susu?

J: Tidak. Es krim yang tidak berlabel ‘dairy’ kemungkinan besar dibuat dari santan kelapa atau minyak sayur seperti minyak kelapa sawit. Bagai dua sisi mata uang, ini bisa menjadi alternatif bagi penderita intoleransi terhadap laktosa dan, pada sisi lain, menipu penggemar es krim yang mengharapkan kandungan susu. Jadi periksa atau tanyakan bahan-bahannya.

You may also like

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.