Pentingkah Share “Berita”?

By | November 27, 2014

Bukan hanya satu atau dua kali saya menerima broadcast berita dari beberapa orang teman. Dalam sehari ada beberapa teman yang mengirimkan broadcast yang sama. Saking seringnya saya pernah pasang status di BBM, “duh, plis deh… gak usah broadcast berita“, atau “haduh, mulai deh kebanjiran sampah broadcast“. Dan ini ternyata manjur. Sekarang saya jarang menerima personal message berupa broadcast berita (kecuali broadcast yang jualan). Barangkali teman-teman saya di kontak BBM yang sering broadcast berita  jadi tersinggung… hehe, maaf ya 🙂

Tapi penyebaran berita ini bukan hanya melalui personal message, di grup atau di media sosial juga banyak. Seringkali berita yang saya terima itu adalah berita yang memang penting, semisal berita kehilangan barang/orang, kecelakaan, bantuan donasi atau keperluan pendonor darah.

Tapi tidak jarang juga saya menerima share berupa berita hoax. Umumnya berita hoax ini berisi sesuatu yang terkesan baik, mengingatkan akan bahaya, penyakit, berita yang bersifat “religius” dan lain-lain.

Terlepas dari maksud baik pembuat berita hoax ini, ternyata banyak juga yang suka, bahkan kecanduan, secara sadar atau tidak, ikut menyebarluaskan berita hoax. Ada semacam kebanggaan bisa menjadi “pahlawan” yang bisa menyebarluaskan berita hoax.

Terakhir berita hoax yang saya terima adalah tentang BPJS yang akan segera berakhir  di bulan Desember, seorang anak yang katanya dirawat di sebuah rumah sakit jiwa, dan juga jumlah surat di Al-Qur’an dikurangi umur kita sekarang.

Saya tidak ikut menyebarluaskan berita tersebut. Kenapa? Karena saya takut ini hanya berupa hoax, dan berujung fitnah. Seperti misalnya tentang jumlah surat di Al-Qur’an yang jika dikurangi umur kita sekarang hasilnya adalah tahun kelahiran kita.

Benarkah? Iya, memang benar. Ketika saya coba 114 dikurangi 33, maka hasilnya adalah 1981. Tapi apa yang terjadi di tahun kemarin (2013) atau tahun yang akan datang (2015)??? Karena di tahun 2015, hasil dari 114 dikurang 34 (umur saya tahun depan) adalah 1980. Wah, kalau begitu jumlah surat di Al-Qur’an salah donk??? Soalnya saya juga gak mau tahun lahir saya malah berkurang. Duh, mudah-mudahan tahun depan broadcast berita seperti ini sudah hilang, dan tidak ada yang berpikiran seperti itu.

Nah, makanya ketika menerima broadcast saya jarang (pernah sekali dua kali) ikut menyebarluaskannya. Yang saya lakukan ketika menerima broadcast seperti ini adalah :

1. Membacanya kalau tidak terlalu panjang, kalau panjang sih biasanya saya skip. Mata saya kesulitan membaca tulisan panjang-panjang dari hp.

2. Berita hoax seringkali mencantumkan nama orang-orang penting. Semisal, “berdasarkan penelitian profesor…. “. Tak ada salahnya mencoba mencari berita pembanding lewat google. Hitung-hitung nambah referensi bacaan. Bisa terima berita berarti bisa juga kan mencari berita pembanding? Jangan-jangan profesor yang dimaksud malah tidak pernah dilahirkan???

3. Berita kehilangan, kecelakaan, bantuan donasi atau keperluan pendonor darah pun tidak serta merta saya sebarluaskan. Capek sedikit tidak apa-apa. Saya usahakan telusuri kebenaran berita tersebut. Misalnya ada yang share berita kehilangan anak dan muncul di timeline saya. Saya telusuri lagi sampai ke akun pertama pembuat berita kehilangan itu. Kalau memang belum ditemukan saya bantu sebarluaskan lagi. Kalau sudah ya alhamdulillah.

4. Berusaha mengambil hikmah dari setiap berita yang diterima.

Terus apalagi ya? Intinya sih ya itu, tetap menyaring setiap informasi dan berita yang masuk. Jangan sampai ketika kita menerima berita hoax, kita malah ikut menyebarluaskan berita tersebut sehingga semakin banyak orang yang percaya “kebenaran” berita hoax tersebut.

Salam Hoax! #eh

4 thoughts on “Pentingkah Share “Berita”?

Leave a Reply