[Basa Sunda] Uyah mah tara téés ka luhur…

By | September 30, 2014

[Basa Sunda] Uyah mah tara téés ka luhur – Menjelang sahur Nene selalu mengirim pesan pendek untuk semua anak-anaknya, yang semuanya sudah tidak tinggal bersama Nene dan Abah…

“Banguuunnn… Ceuceu, Teteh, Ade udah bangun? Sahur sama apa?”, seperti itulah pesan pendek yang dikirimkan Nene setiap hari selama sahur.

Ceuceu, si Sulung, sudah siap menyantap hidangan sahur. Ade, si Bungsu, sengaja tidak saya bangunkan. Maklum, umurnya baru 2 tahun, ikut sibuk hanya saat berbuka puasa. Lho, si Tengah kemana? Ah, rupanya setelah dibangunkan tadi, Teteh kembali tertidur.

Akhirnya saya menyuapi Teteh di atas kasur sampai makanannya habis. Kasihan kalau dibiarkan tidak sahur.

Saya pun membalas pesan pendek Nene, “Neee… Teteh mah saurna bari peureuuumm“.

“Da uyah mah tara téés ka luhur”, begitu pesan pendek balasan berikutnya dari Nene.

Like mother, like daughter…

Orang bilang kalau kita mau tahu seperti apa masa kecil kita, tak perlu bertanya kepada orang lain.. lihatlah anak-anak kita sendiri.

Ingatan saya pun terlempar ke masa kecil. Ketika tiba waktu sahur, Nene selalu membangunkan saya. Kalau saya tidak kunjung bangun, Abah yang kemudian membangunkan saya. Kalau usaha Abah ini belum juga berhasil, saya pun disuapi Nene di atas sofa atau malah di atas kasur, masih dengan mata yang terpejam dengan rapat.

Ya, persis seperti Teteh.

Mengingat kembali pesan pendek dari Nene, kemudian saya berkaca. Begitu banyak kebiasaan saya yang ernyata menurun kepada anak-anak.

Segala celoteh, tindak-tanduk, bahkan mimik muka saya hampir semua ditiru anak-anak.

Seperti kemarin, ketika saya membereskan piring ke rak piring. Karena tak mau repot bolak-balik, saya membawa piring dalam jumlah banyak sekaligus. Teteh yang melihat saya kerepotan kemudian menegur saya,

Satu-satu donk mah bawa piringnya… nanti jatuh!”

Duh, persis seperti apa yang saya ucapkan ketika anak-anak membereskan mainan, buku, atau bantal yang seringkali berpindah tempat dari kasur ke ruang tengah. Seringkali mereka menumpuk semua barang sekaligus. Tak jarang akhirnya malah banyak barang yang tercecer.

Meski masih balita, Ade pun rupanya mulai meniru kebiasaan dan juga cara bicara saya.

Benelan, ceu… tadi ada mbe dipotong di pasal”, cerita Ade sepulang menemani saya belanja di pasar. Ade memang melihat kepala domba yang digantung di tempat penjual daging.

Kata beneran ini  seringkali saya ucapkan ketika bercerita kepada anak-anak tentang hal yang kebetulan tidak mereka lihat secara langsung.

Ketika saya menanyakan dimana tadi Ade menyimpan spidol milik Ceuceu, Ade malah memonyongkan bibir sambil bilang “tuh”, untuk menunjukkan letak spidol Ceuceu. Persis seperti saya saat diminta menunjukkan tempat/barang.

Seringkali saya memarahi Ceuceu yang malas mengulang pelajaran sekolah di rumah. Hasilnya ketika waktu ulangan tiba, Ceuceu kerepotan mengulang semua pelajaran dalam satu malam. Ya, Ceuceu memang terbiasa dengan SKS, atau Sistem Kebut Semalam. Bisa jadi kebiasaan Ceuceu ini meniru saya yang selalu menunda-nunda pekerjaan. Misalnya, saya selalu menumpuk baju yang sudah kering dijemur.

“Ah, setrikanya nanti saja deh…”.

Menyetrika baju hanya sampai niat. Hasilnya? Seringkali saya panik ketika di pagi hari tersadar, kalau baju seragam Ceuceu dan Teteh belum disetrika.

Duh, ternyata anak memang meniru kebiasaan orang tua ya?

Mengapa anak meniru orang tua?

Umumnya orang tua dijadikan role model oleh anaknya. Karena orang tualah yang memiliki peran dominan dalam kehidupan sehari-hari anak-anak sejak mereka terlahir ke dunia.

Anak-anak akan meniru dan mempelajari apa yang diperlihatkan oleh orang tuanya. Lihat saja ketika kita mengajari anak kita berbicara, anak akan meniru ucapan kita.

Begitu juga bila orang tua atau lingkungan di sekitar anak-anak terbiasa menggunakan kata-kata kasar saat kesal dengan orang lain. Ketika anak kesal pada temannya, maka dia akan melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan. Memaki orang dengan kata-kata yang kasar.

Sebaliknya jika orang tua mengajarkan untuk saling menghormati, anak pun akan menirunya. Anak akan menunjukkan rasa hormatnya dan bersikap santun pada semua orang.

Ya, jika kita ingin anak-anak memiliki sifat dan kebiasaan yang baik, sebaiknya kita mulai dengan memberikan contoh yang juga baik.

Mengapa “uyah mah tara téés ka luhur “?

Perilaku anak yang meniru orang tua dalam peribahasa Sunda disebut “Uyah mah tara téés ka luhur” (uyah = garam, tara = tidak pernah, téés = menetes/menyerap, ka luhur = ke atas).

Seperti kita tahu, garam lebih banyak dikenal dalam bentuk garam dapur. Secara sederhana, garam bisa diperoleh setelah air laut dijemur di panas matahari, endapan yang tersisa dari hasil penguapan inilah yang dipanen dan diproses agar menjadi  garam.

Petani garam, sumber gambar : Antaranews

Layaknya hukum gravitasi, setiap benda memang memiliki kecenderungan untuk jatuh ke bawah. Begitu pula dengan garam. Lalu kenapa uyah (garam) yang dijadikan perumpamaan?

Garam memiliki rasa yang mandiri, yaitu asin itu sendiri. Garam akan mempengaruhi sifat barang/makanan yang ada di bawahnya. Jika suatu barang atau makanan disimpan di bawah garam, bisa dipastikan barang tersebut juga akan terasa asin, seperti rasa garam.

Begitu juga dengan hal-hal yang ada dalam kehidupan. Garam beserta barang/makanan yang disimpan ini menunjukkan orang yang ada dalam satu keturunan, asin menunjukkan sifat dan kebiasaan. Garam (orang tua)  akan menurunkan asin (sifat dan kebiasaan yang sama) kepada barang/makanan yang ada di bawahnya (anak). Sifat dan kebiasaan orang tua akan terserap oleh anaknya.

Melihat saya sedang menulis tentang peribahasa ini, Ceuceu kemudian mengajak saya melakukan percobaan untuk membuktikan apakah benar uyah tara téés ka luhur?

Dua buah es batu dan garam Ceuceu siapkan.

Satu buah es batu ditaburi garam di atasnya, sementara es batu lainnya disimpan di atas garam.

P_20140927_191448

Hasilnya seperti ini…

P_20140927_191824

Pada es batu yang ditaburi garam, terlihat bahwa garam menyerap ke bagian bawah es batu, merusak bentuk dan struktur es batu.

P_20140927_191838

Sementara es batu yang disimpan di atas garam hanya mencair seperti biasa tanpa mengalami kerusakan.

Tak cukup sampai disini, saya juga melakukan percobaan dengan menaburkan garam di atas nasi dan di atas garam itu saya tuangkan nasi lagi. Nasi bagian atas tidak terasa asin, sementara nasi yang ada di bawah garam terasa asin. Kesimpulannya? Selain yakin bahwa uyah memang tara téés ka luhur, saya pun merasa kenyang… ahaha… kebetulan lagi laper 😀

Jadi, mari kita tinggalkan segala kebiasaan buruk dan mulai memberikan contoh yang baik bagi anak-anak kita… karena uyah mah tara téés ka luhur.

Salam Sadar Hati

Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati

GA SADAR HATI – Bahasa Daerah Harus Diminati

51 thoughts on “[Basa Sunda] Uyah mah tara téés ka luhur…

  1. Dhani Saputra

    Selalu dan selalu bahasa sunda menjadi bahasa international keduanya mbak rinrin di setiap tulisannya. kyknya cocok jdi duta bahasa sunda. hehe. Hebat di Indonesia tercinta bahasa daerah bisa bersanding dengan bahasa indonesia. Di daerah2 khususnya jawa memakai bahasa jawa adalah lumrah bagi anak muda. Namun di beberapa daerah banyak juga yg gengsi memakai bahasa daerah. Namun juga banyak di beberadpa daerah muncul slang2x baru dari bahasa daerah. Semoga bahasa daerah tidak luntur dan ttap lestari.

  2. mrbedelhoki

    walah…
    kalo dipikir2 bener juga ya,
    ah kalo gitu mulai sekarang ane harus berbuat yang baik biar besok yang diikutin yang baik-baik juga 😀

    sukses ya buat artikelnya

    1. oRiN Post author

      betul dhe…. saya mesti sering berkaca nih, anak-anak lebih banyak niru kebiasaan jelek saya… makasih kunjungannya, Pakdhe 🙂

  3. astrid

    Ade Izzan gampang menangis.. dan menjelaskan kenapa dia menangis sambil menangis.. alhasil tidak ada yang mengerti kata-katanya.. Jadi kami berulangkali berkata ‘bicara jangan sambil menangis!’ kadang dengan nada tinggi (duh!)
    Aa Faza pun mengikuti cara kami.. Pernah saya dan suami berada di luar rumah dan mendengar Izzan menangis, Kami juga mendengar Faza berkata, ‘Kenapa nangis De? Tapi bicaranya jangan sambil nangis’ dengan nada lembut.. Kami tersenyum, dan saya tersentak… Faza mengikuti cara kami.. dan kami juga harusnya mengikuti caranya.. bicara lemah lembut pada anak kami 🙂

  4. DESA CILEMBU

    dari pepatah sunda uyah mah tara te’e’s ka luhur berarti warna warni putra putrinya yang 3 itu adalah te’e’s an nana, uyah na ya bu admin na atuh…asiin..:D

  5. Abi Sabila

    satu pembelajaran bagi kita bahwa jangan terburu-buru, apalagi selalu menyalahkan anak dengan perilaku mereka, sebab tidak menutup kemungkinan bahwa mereka hanya meniru, mencontoh dari kita sementara kita tidak menyadarinya.

    1. oRiN Post author

      iya Abi Sabila… kadang kita seringkali memarahi anak yang bersikap kurang enak dilihat… padahal bisa jadi mereka meniru kita..

      terima kasih kunjungannya ya 🙂

  6. Ophi Ziadah

    Aiiih mak nembe terang geuning aya pari basa.. Uyah Mah Tara Tees Ka Luhur, which means … Like mother like daughter atau bisa juga diartian buah takkan jatuh jauh dari pohonnya begitu bukan yaa???

    1. oRiN Post author

      lucu tapi kadang nyebelin banget mak… dan baru nyadar, eh, ternyata kalo saya begitu itu nyebelin ya… hihihi

      makasih kunjungannya, mak 😀

  7. Mang Yono

    Leres pisan uyah mah tara tees kaluhur … sapertos pribahasa ieu
    ” Buah kelapa tak akan jatuh jauh dari pohonnya.. kalau tak hanyut kesungai ” hehehe..

    Kejadiannya Seperti anak saya, kalau selesai makan itu piringnya selalu dilempar .. dulu juga kata nenek dan abah saya seperti itu hehehe..

    semoga lombanya menag ya.. Amiin

    1. oRiN Post author

      hahaha.. atuh piring dilempar mah panginten peupeussssss… ckckckck… aya-aya wae, hoyong nambih mah nyarios we atuh mang hahaha…

  8. merry

    kalo lagi inget,pasti jaim depan anak2 tp klo lg emosi kadang suka lupa deh, makanya tiap mau tidur saya suka bilang” maafin bunda ya uni, aka hari ini belum jadi ibu yang baik, bunda sayang uni, sayang aka”, ,mereka akan jawab bergantian, “maafin uni juga ya bunda masih suka bikin bunda marah, uni sayang bunda juga”, diakhiri dengan pelukan dan kecupan,

  9. Ana Sriwahyuni

    memang rata-rata perilaku anak mencerminkan kebiasaan orang tuanya tapi tidak kesemuanya seperti itu. Seperti halnya buah, tidak selamanya buah itu jatuh di dekat pohonnya, bisa jadi buah tersebut dibawa oleh hewan seperti kelelawar ke tempat yang jauh dari pohonnya.. bisa di tempat yang baik dan bisa ditempat yang tidak baik..
    salam…

    1. oRiN Post author

      di manapun sebaiknya kita tetap berperilaku baik ya, siapa tau dicontoh bukan hanya oleh anak, tapi juga lingkungan sekitar 🙂

      Terima kasih banyak, mak Ana 🙂

Leave a Reply