Selamatkan Satwa, Selamatkan Hutan, Selamatkan Dunia

By | September 22, 2014

Juara Pertama Forest Fire Campaign Kit Competition 2014, Greenpeace Indonesia

Berita mengenai kabut asap yang terjadi di Riau beberapa waktu yang lalu cukup menarik perhatian Ceuceu, anak pertama saya yang sekarang berusia 9 tahun.

“Mah, orang-orang itu kan tinggal di kota. Kebakarannya di hutan. Di kota saja asapnya segitu tebal. Kasihan harus pakai masker terus. Terus, Mah… bagaimana dengan hewan-hewan di hutan?”, tanya Ceuceu dengan mimik muka penuh rasa khawatir.

Asap pekat dari kebakaran lahan gambut di Plintung, Medan Kampai, Dumai, Riau, Selasa (18/3). Sumber gambar : Kompas

Ceuceu kemudian secara aktif mencari informasi sendiri melalui internet. Dan akhirnya, Ceuceu menemukan berita adanya harimau Sumatera yang keluar hutan akibat habitatnya hangus terbakar di hutan Bengkalis (Sumber : Tempo)

Kekhawatiran Ceuceu akan keselamatan hewan saat hutan terbakar bukan tanpa alasan. Apalagi sejak kunjungannya ke Taman Safari beberapa waktu yang lalu, Ceuceu pun jadi tahu kalau harimau Sumatera dan orangutan saat ini merupakan satwa kritis yang terancam punah (critically endangered).

“Kenapa harimau bisa terancam punah? Tadi kata oom keeper orangutan, orangutan juga sama, hampir punah. Gajah Sumatera juga katanya terancam punah 30 tahun lagi. Padahal hutan di Indonesia ini kan luas??? Seharusnya mereka aman di rumah mereka”, begitu tanya Ceuceu ketika melihat poster Save The Sumatran Tiger di sekeliling Taman Safari.

IMG_8202

Harimau Sumatera memang hanya dapat ditemukan di pulau Sumatera, Indonesia. Jumlah populasinya di alam bebas hanya sekitar 400 ekor.

Begitu pun dengan orangutan yang hanya ada di Borneo dan Sumatera yang juga terancam punah. Orangutan adalah pemelihara hutan. Orangutan membantu menyebarkan biji tanaman dengan mengeluarkan biji buah yang mereka makan bersama kotoran. Biji akan tumbuh menjadi pohon baru. Dalam pertumbuhannya, pohon kecil memerlukan sinar matahari. Karena hutan sangat lebat, sinar matahari terhalang sampai ke tanah. Saat makan atau membuat sarang, orangutan mematahkan dahan pohon dan mengambil daun-daunan. Bagian atas pohon menjadi terbuka sehingga sinar matahari dapat sampai di permukaan tanah.

Di habitat alaminya, jumlah orangutan di Borneo sekitar 23.000 dan orangutan Sumatra sekitar 12.000.

Kelangkaan satwa khas Indonesia ini terjadi karena mereka menghadapi dua jenis ancaman untuk bertahan hidup: mereka kehilangan habitat karena tingginya laju deforestasi dan terancam oleh perdagangan illegal dimana bagian-bagian tubuhnya diperjualbelikan dengan harga tinggi di pasar gelap untuk obat-obatan tradisional, perhiasan, jimat dan dekorasi.

Indonesia memiliki hutan dengan luas sebesar 99,6 juta hektar atau 52,3% luas wilayah Indonesia (data : Buku Statistik Kehutanan Indonesia Kemenhut 2011 yang dipublikasi pada bulan Juli 2012). Dari jumlah tersebut, 20,6 juta hektar atau sekitar 10,8% dari luas daratan Indonesia merupakan lahan hutan gambut. Dari luasan tersebut sekitar 7,2 juta hektar atau 35%-nya terdapat di Pulau Sumatera.

Lahan rawa gambut merupakan bagian dari sumberdaya alam yang mempunyai fungsi untuk pelestarian sumberdaya air, peredam banjir, pencegah intrusi air laut, pendukung berbagai kehidupan / keanekaragaman hayati, pengendali iklim (melalui kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan karbon) dan sebagainya.

Lahan gambut di Indonesia menyimpan hampir 60 miliar ton karbon, hampir enam kali lipat lebih banyak dibanding emisi karbon yang dihasilkan oleh seluruh umat manusia sepanjang tahun 2011.

Dalam kurun waktu selama 12 tahun (1990 – 2002) telah terjadi penyusutan cadangan karbon di Pulau Sumatera sekitar 3.470 juta ton atau rata-rata 289,16 juta ton per tahun. (Sumber : Wetlands)

Penyusutan ini terjadi diduga sebagai akibat adanya perubahan penggunaan lahan dan vegetasi penutup (land use and land cover changes) yang umumnya digunakan untuk pengembangan pertanian/ perkebunan maupun oleh akibat adanya kebakaran lahan dan hutan.

Berdasarkan temuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 99% kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan karena sengaja dibakar dan mereka tetap melakukannya meskipun musim hujan. Titik panas kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan masih bertambah hingga bulan September 2014 ini. Seperti tanggal 13 September kemarin, titik panas keseluruhan terpantau sebanyak 351 titik, tapi pada tanggal 15 September menjadi 1.694 titik. (Sumber : Detik)

Berdasarkan pantauan Green Peace, dari 2.140 titik api sepanjang Februari 2014, 857 di antaranya berada di habitat harimau Sumatera. (Sumber : Tempo)

Selama 16 tahun masyarakat di Sumatera, Kalimantan bahkan negara tetangga terkurung asap, sementara seluruh penduduk dunia mulai merasakan efek hilangnya cadangan karbon di dunia karena deforestasi. Apakah kita hanya akan berdiam diri?

Ya, ancaman terbesar pada hutan alam Indonesia adalah alih fungsi hutan menjadi perkebunan, penebangan liar, perambahan, kebakaran hutan serta eksploitasi hutan secara tidak lestari untuk pengembangan pemukiman dan industri.

Ceuceu pun kemudian bertanya, kenapa orang-orang membakar hutan dengan sengaja?

Kemudian saya jelaskan bahwa masih banyak orang-orang yang memakai produk yang berasal dari hutan, misalnya tissue, dimana 20 sheet tissue atau satu bungkus kertas tissue memerlukan satu pohon.

“Oh, kalau begitu Ceuceu gak mau pakai tissue lagi ah, pakai handuk kecil saja”.

Pertanyaan lanjutan dari Ceuceu adalah, kalau memang dilarang, mengapa orang-orang yang membakar hutan itu tidak dihukum?

Rasanya sulit menjelaskan kepada anak seusia Ceuceu mengenai tumpulnya regulasi dan kebijakan terhadap pelaku eksploitasi hutan. Disinilah perlunya peran aktif pemerintah. Pemerintah  perlu melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di sekitar mengenai peran penting masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan dan kesalahan-kesalahan saat mengelola tanaman yang bisa berdampak negatif terhadap hutan.

Selain edukasi terhadap masyarakat di sekitar hutan, juga perlu sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat untuk mengurangi penggunaan produk yang berasal dari hutan dan perkebunan kelapa sawit yang tidak dikelola dengan prinsip ramah lingkungan (berkelanjutan) yang dihasilkan oleh perusahaan yang mengeksploitasi hutan.

Yang paling penting, diperlukan tindakan yang tegas dari pemerintah untuk menanggulangi masalah penebangan liar dan eksploitasi hutan secara besar-besaran.

Presiden SBY berkomitmen untuk menanggulangi kebakaran hutan mulai dari pemadaman, pencegahan, hingga penindakan terhadap pihak yang terlibat dalam kerusakan hutan maupun lahan gambut tanpa pandang bulu.

Kini, era pemerintahan SBY hampir berakhir. Tentunya sebelum masa tugas SBY selesai diharapkan komitmen SBY tadi ditindaklanjuti dengan aksi nyata. Selain itu banyak yang berharap pergantian kepemimpinan dari SBY ke Jokowi menuju perubahan yang lebih baik.

Kepemimpinan Jokowi diharapkan bisa menjalankan kebijakan pemerintah yang selaras dengan alam. Menggunakan sumber daya alam dengan bijak, menghemat penggunaan energi, melestarikan alam sekitar, mendukung inovasi yang berkaitan dengan sumber energi alternatif dan lain-lain.

Salah satu kebijakan yang tidak kalah penting untuk diwujudkan di era kepemimpinan Jokowi adalah menyangkut ketahanan pangan. Berdasarkan survey, warga Sanggau Kalimantan Barat, daerah yang didominasi perkebunan karet dan minyak sawit, menjadi salah satu yang paling tidak aman pangan. Hal ini karena adanya pergeseran lahan menjadi perkebunan sawit.

Tak hanya di Sanggau, warga Batang pun terancam mengalami hal yang serupa jika PLTU Batubara yang hendak dibangun di atas ratusan hektar lahan persawahan produktif beririgasi teknis jadi didirikan.

Meski penggunaan PLTU sebagai sumber energi terbarukan menjadi salah satu kebijakan yang harus diambil agar stabilitas perekonomian negara terjaga, namun pemanfaatannya harus tetap memperhatikan aspek-aspek lingkungan sekitar.

Jika populasi gajah, harimau Sumatera dan orangutan di habitat alami di mana mereka seharusnya berada saat ini terancam punah, dan Ceuceu dan anak-anak lain hanya bisa melihat harimau Sumatra dan orangutan di Taman Safari atau di kebun binatang… lalu apakah generasi yang akan datang hanya akan bisa melihat cerita tentang mereka dari buku/foto/televisi/internet atau bahkan di museum? Semoga saja tidak terjadi…

Pertanyaan terakhir dari Ceuceu, jika orangutan saja mampu menjadi pemelihara hutan, lalu mengapa kita tidak???

photo

Ceuceu sedang kampanye Save The Tiger dengan gambar buatannya sendiri 🙂

www.100persenindonesia.org

Referensi:

1. Greenpeace

2. Kompas

3. Tempo

4. Berita Iptek

5. Detik

11 thoughts on “Selamatkan Satwa, Selamatkan Hutan, Selamatkan Dunia

Leave a Reply