Meningkatkan Potensi Kecerdasan Anak Melalui Buku Anak

Sepulang sekolah kemarin rupanya Teteh teringat janji saya membawanya berkunjung ke Pameran Buku Bandung 2014. Ketika kami masih di atas motor dalam perjalanan pulang ke rumah pun Teteh sudah mengajukan banyak pertanyaan.

“Mah, hari Sabtu jadi kan ke pameran? Teteh boleh beli buku berapa, Mah?”, tanya Teteh.

“Hmm… dua aja ya?”

“Yesss! Kalo Ceuceu berapa?”, masih penasaran Teteh pun kembali bertanya.

“Sama”, jawab saya.

“Tapi nanti boleh kan Teteh pinjem buku Ceuceu?”

Ahaha… Rupanya Teteh merasa dua buku belum cukup.

Saya merasa beruntung memiliki anak-anak yang lebih suka membaca buku dibanding menonton televisi. Ketika teman-temannya dihebohkan dengan tayangan baru di televisi semacam Ganteng-ganteng Serigala, kedua anak saya malah kebingungan.

“Mah, memang ada ya film Ganteng-ganteng Serigala?”, tanya Ceuceu sepulang sekolah.

“Lah, koq Ceuceu tanya Mamah. Mamah kan gak pernah nonton”.

Pulang sekolah, sambil beristirahat melepas penat, Ceuceu lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca. Entah itu komik, komik sains, majalah atau buku cerita anak.

10372751_1417822045159365_5791390604563137227_n

Sagalaherang-20140826-01255 copy Sagalaherang-20140826-01259

Belakangan ini buku anak memang sedang berkembang pesat. Di toko buku, buku anak selalu menjadi buku terlaris yang menempati angka penjualan tertinggi dibanding buku lainnya.

IKAPI melansir data Toko Buku Gramedia, jaringan toko buku terbesar di Indonesia, yang menunjukkan tahun 2012 buku anak terjual hingga 10,97 juta eksemplar dengan hampir 7.000 judul, dan pada 2013 turun sedikit sampai 10,95 juta eksemplar dengan 4.700 judul (Sumber : Tempo)

Jaman dulu, ketika saya masih kecil,  saya hanya mengenal majalah anak-anak seperti Bobo, Donal Bebek, atau Si Kuncung. Sementara buku anak-anak asli Indonesia jarang ditemukan, yang banyak beredar hanya buku anak terjemahan seperti buku-buku Enyd Blyton, Astrid Lindgren, Alfred Hitchcock, atau Laura Ingalls Wilder.

Sekarang bukan sekedar buku anak asli Indonesia, bahkan penulisnya pun anak-anak Indonesia. Seperti Sri Izzati, Keisya dan masih banyak penulis anak lainnya.

Keisya dan buku barunya, sumber : klik di sini

Keisya dan buku barunya, sumber : klik di sini

Dulu buku anak hanya berupa cerita yang diselingi beberapa gambar. Jelas di jaman seperti sekarang ini, buku yang hanya berupa cerita tanpa gambar kurang menarik di mata anak-anak. Anak-anak lebih tertarik dengan tontonan televisi, atau bermain dengan gadget. Meski sebenarnya di gadget pun banyak aplikasi cerita anak yang bisa dengan mudah diunduh.

Mendorong anak agar gemar membaca memang harus didukung banyak pihak. Orang tua, sekolah, lingkungan, dan juga penerbit buku anak. Sehingga anak-anak tidak merasa membaca ini sebagai kewajiban, tetapi kebutuhan. Orang tua perlu menyediakan fasilitas untuk membaca dan mendampingi anak saat membaca. Penerbit pun perlu selektif meloloskan buku yang hendak diterbitkan.

Beberapa waktu yang lalu, dunia medsos gempar dengan adanya temuan buku serial terjemahan yang menyisipkan materi hubungan sesama jenis, sekarang buku tersebut sudah ditarik dari perderan. Padahal buku itu diterbitkan oleh penerbit besar. Saya sendiri memiliki beberapa seri buku serial tersebut, kecuali seri yang ditarik dari peredaran itu.

Anak-anak memerlukan buku-buku yang secara khusus dirancang untuk anak, warnanya atraktif, sedikit tulisan banyak gambar (wordless picture book). Sayangnya buku seperti ini terkadang mahal harganya. Sehingga sulit dijangkau oleh kalangan menengah ke bawah. Sebagai solusi, ada beberapa rumah baca yang menyediakan bacaan gratis untuk anak-anak. Bahkan beberapa waktu yang lalu, ketika saya berkunjung ke rumah orangtua di Bandung, ada motor yang menyediakan bacaan gratis untuk anak-anak di halaman sekolah.

SS 2014-08-27 at 9.38.18 AM

Dengan membaca, anak akan jauh lebih mudah memahami persoalan. Tidak jarang seringkali saya menemukan anak-anak begitu hapal isi buku yang mereka baca.

Ketika pulang sekolah, dengan riang Ceuceu bercerita, bahwa tadi di sekolah Ceuceu berhasil menjawab pertanyaan ibu guru tentang mengapa bulan yang selalu berubah bentuk setiap hari dengan benar.

“Koq Ceuceu tahu? Tahu dari mana?”,

“Kan ada di buku”, kemudian Ceuceu mencari buku yang dimaksud dan menunjukkan halaman di mana dijelaskan alasan bulan berubah bentuk setiap hari.

Atau misalnya ketika saya meminta dicarikan uban yang mulai tumbuh di kepala saya,

“Mah, Teteh tahu kenapa rambut bisa jadi uban”, kata Teteh sambil menelisik setiap helai rambut di kepala saya.

“Kenapa? Karena Mamah udah tua ya?”, tanya saya.

Bukan, soalnya apa sih itu… apa ya namanya, pigmen ya mah? Nah itu katanya kalau mamah udah tua, pigmennya berkurang”.

SS 2014-08-27 at 9.33.26 AM

Ternyata memang benar bahwa buku adalah jendela dunia, anak-anak pun dapat menambah pengetahuan mereka dengan mudah melalui buku. Kalau ada hal-hal berharga yang dapat kita wariskan pada anak-anak, maka percayalah salah satunya adalah kegemaran membaca.  Dan percayalah bahwa kegemaran anak membaca ini layak mendapatkan kucuran investasi waktu dan energi kita.

“Today a reader, tomorrow a leader.” (W. Fusselman)

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Blog #PameranBukuBdg2014 yang diadakan IKAPI Jabar dan Syaamil Quran
http://syaamilquran.com/wp-content/uploads/widget-lomba.jpg

oRiN

oRiN, emak 3 anak, bloggergoler.

2 Comments

  1. selamat malam mbak, terima kasih informasinya ane jadi mengerti setelah mbaca baca tulisan anda yang di tulis di halaman situs ini. salam kenal dari sutopo blogger jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published.