Perempuan, Pendidikan dan Sains Demi Kemajuan Bangsa

SS 2014-04-29 at 9.34.56 AMMau tidak mau, suka tidak suka, paradigma seperti ini masih berkembang di tengah masyarakat. Tidak sedikit yang masih memandang rendah peran wanita dan beranggapan bahwa tempatnya wanita itu hanya mengurus pekerjaan di rumah. Titik.

Namun konsep mengenai kodrat wanita yang harus menguasai tiga pakem utama yaitu sumur, dapur dan kasur ini rupanya tidak begitu saja ditelan mentah-mentah oleh Dr. Rani Maharani, M.Si.

Berasal dari keluarga kecil di daerah Bandung Selatan, anak kedua dari (Alm.) H. Osin dan Hj. Diah Mardiah ini sukses menjejakkan langkahnya di dunia pendidikan sebagai dosen dan juga peneliti di salah satu perguruan tinggi ternama di Bandung.

Jejak Rani sebagai Dosen & Peneliti

Langkah Rani sebagai dosen dan peneliti dimulai dengan menyelesaikan S1 Kimia di Unpad dengan predikat Cum laude. Rani melanjutkan S2 bidang ilmu Kimia Organik Bahan Alam di ITB. Di usianya yang ke 32, Rani menyelesaikan studi S3 bidang ilmu Sintesis Organik di La Trobe University, Melbourne, Australia.

Rani Maharani
Dr. RaniΒ  Maharani, M.Si dan pekerjaannya sebagai peneliti, credit

Sekarang Rani mengajar di Unpad dan aktif melakukan berbagai penelitian. Sampai saat ini Rani sudah berhasil membimbing 2 orang mahasiswa menyelesaikan studi S1, dan 4 orang menyelesaikan studi D3.

Di luar kesibukannya sebagai pengajar di Unpad, Rani masih meluangkan waktu untuk mengajar di madrasah dan juga mengajar secara sukarela bagi anak-anak di lingkungan rumahnya setiap penghujung minggu. Pengabdian Rani di masyarakat juga tidak terlupakan. Secara aktif Rani melakukan beragam sosialisasi dan penyuluhan di beberapa desa, diantaranya sosialisasi penggunaan insektisida nabati untuk mengatasi hama serangga, sosialisasi pemanfaatan sayuran yang berpotensi sebagai obat, dan juga melakukan penyuluhan mengenai pengobatan dengan menggunakan buah-buahan.

Lalu, apakah Rani melupakan “kodrat”nya sebagai perempuan?

Menjadi seorang wanita yang sukses di dunia pendidikan dan juga penelitian tidak membuat Rani melepaskan tanggung jawab utamanya sebagai seorang ibu dan istri. Ibu dari 2 anak laki-laki, Alwi Hanifan (10 tahun) dan Nafis Salman (8 tahun), ini memutuskan untuk menikah dengan Deni Dermawan setelah menyelesaikan pendidikan S1-nya. Anak pertama Rani, Alwi, lahir ketika Rani sedang menyelesaikan studi S2.

Keluarga Rani Maharani
Dr. Rani Maharani, M.Si dan keluarga di Australia, credit

Saat ini Rani sedang mengandung anak ketiga, tentunya dengan tidak meninggalkan aktivitasnya sebagai pengajar dan juga peneliti. Keputusan untuk menikah di usia muda memang tidak menghalangi langkah Rani untuk tetap menimba ilmu. Orang tua dan keluarga terutama suami dan anak-anak Rani sangat mendukung langkah Rani untuk bisa sekolah tinggi sampai menjadi peneliti seperti sekarang.

Perempuan, Pendidikan dan Sains Demi Kemajuan Bangsa

Eksistensi perempuan di berbagai bidang, termasuk di bidang pendidikan dan penelitian di tanah air tidak lepas dari peran para pahlawan yang dengan gigih memperjuangkan hak-hak perempuan. Ada RA Kartini yang dikenal sebagai perempuan Jawa yang membukakan jalan untuk perempuan agar memperoleh persamaan hak dalam lingkungan sosial, terutama mengenai hak mendapatkan pendidikan hingga tingkat tinggi. Di Jawa Barat juga ada Dewi Sartika yang mendirikan sekolah khusus perempuan bernama Kautamaan Istri.

Menurut Martha Tilaar, perempuan seharusnya bukan hanya menuntut persamaan hak, tapi juga hak memilih dan menentukan nasib sendiri. Nama Martha Tilaar sudah tidak asing lagi di jaringan usaha kecantikan dengan produknya yang khas, Sariayu Martha Tilaar.

Perempuan yang merupakan komponen terbesar dari penduduk merupakan aset bangsa yang potensial dan kontributor yang signifikan di dalam pembangunan bangsa, baik sebagai agen perubahan maupun sebagai obyek pembangunan.

Salah satu misi dari pemberdayaan perempuan adalah meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan dalam berbagai bidang pembangunan, memberdayakan perempuan dalam bidang pendidikan dan sains mutlak harus dilakukan.

Menurut hasil berbagai riset ternyata wanita lebih tahan berkerja dalam tekanan, teliti dan paham detail. Profesi peneliti memerlukan karakteristik seperti ini. Selama ini keterbatasan sarana dan adanya isu gender membuat perempuan kehilangan kesempatan untuk bisa menunjukkan eksistensinya. Padahal jelas, dalam beberapa hal, jika diberikan kesempatan perempuan pun memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki, bahkan bisa memainkan peran yang lebih besar.

Peran perempuan di dunia pendidikan dan sains bukan hal yang asing lagi. Sampai saat ini banyak peneliti wanita yang meraih Nobel. Sebut saja Marie Curie (1867-1934) yang menjadi wanita pertama peraih Nobel pertama dalam bidang Fisika pada tahun 1903, dan juga wanita pertama peraih Nobel dalam bidang Kimia pada tahun 1911.

Marie Curie, satu-satunya orang yang memenangkan Hadiah Nobel dalam dua bidang sains yang berbeda. Sumber gambar : klik di sini

Irene Joliot Curie (1897-1956), putri dari Marie Curie, berhasil meraih hadiah Nobel bidang kimia pada tahun 1935. Gerty Cori nee Radnitz, peraih hadiah Nobel bidang fisiologi atau kedokteran pada tahun 1947. Maria Goeppert Mayer (1906-1972), peraih hadiah Nobel bidang fisika pada tahun 1963. Dorothy Hodgkin (1910-1994), peraih hadiah Nobel bidang kimia pada tahun 1964.

Rosalyn Yalow (1921-2011), peraih gelar Nobel bidang fisiologi atau kedokteran pada tahun 1977. Rita Levi-Montalcini, peraih Nobel bidang Physiology dan Kedokteran tahun 1986.

Di tanah air juga banyak peneliti-peneliti perempuan yang tidak kalah hebatnya. Dr. Indri Badria Adilina (31) berhasil meraih penghargaan dari L’oreal-UNESCO FWIS 2013 bersama tiga perempuan peneliti lainnya, Dr. Yosi Agustina (32), Yusnita Rifai, Ph.D, Apt. (37), dan Dr. Ratih Asmana Ningrum (34).

Empat perempuan peneliti peraih penghargaan FWIS L’oreal-Unesco 2013, Sumber gambar : klik di sini

Sebelumnya ada Ines Irene Caterine Atmosukarto, seorang warga negara Indonesia yang telah menghabiskan dua pertiga perjalanan hidupnya di luar negeri. Ia berhasil mengalahkan 300 peneliti lain dari seluruh penjuru dunia dan sekaligus menjadi peneliti pertama Indonesia yang mendapatkan penghargaan prestisius. Atau Dr. Fenny Dwivany dari Institut Teknologi Bandung. Selain itu juga ada Made Tri Ari Penia Kresnowati, Ph.D melalui penelitiannya dalam bidang teknologi bioproses dari Universitas Teknologi Delft, Belanda.

Tolak ukur kesuksesan perempuan tidak melulu dalam hal berkarier, emansipasi yang diupayakan Kartini juga menyuarakan kesetaraan hak dan kewajiban dalam keluarga. Perempuan bukan hanya berperan sebagai ibu, tapi juga pendidik generasi bangsa. Hal ini sesuai dengan isi surat yang dikirimkan Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya pada tanggal 4 Oktober 1902,

RA KartiniDi sinilah fungsi pendidikan tinggi yang dicapai oleh perempuan, yaitu untuk sebegai pendidik pertama bagi anak-anaknya. Generasi yang baik bisa menjamin kemajuan bangsa, tapi semuanya tidak akan tercapai kalau pondasinya (yang berawal dari keluarga) tidak ada. Seorang perempuan bisa dikatakan sukses jika sukses yang dicapai bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga sukses mendidik anak-anaknya.

Perlu kita simak sejenak sebuah ungkapan dari negeri Afrika yang dikutip UNESCO, sebuah Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada peringatan berdirinya yang ke-50 tahun 2003 lalu.

SS 2014-04-29 at 9.35.13 AM

Kini perempuan tidak lagi hanya berurusan dengan sumur, dapur, dan kasur. Women Empowerment mampu meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup tanpa meninggalkan tugas dan peran utama perempuan di dalam keluarga.

Rani adalah salah satu contoh sosok perempuan Indonesia masa kini, perempuan yang sukses menyeimbangkan peran antara pendidikan, karier dan keluarga, juga berbagi ilmu dengan sesama.

SS 2014-04-26 at 12.54.24 AM

Referensi :

You may also like

10 Comments

  1. Tulisan yang wow… keren, Mak.
    Perempuan zaman sekarang memang sudah sangat maju. Sudah bisa sejajar dengan kaum pria. Tapi tentu, para wanita harus ingat selalu akan kodratnya. Terima kasih sudah berbagi, Mak. ^^

    1. makasih Mak Nia… “tugas utama” perempuan memang di rumah, tapi bukan berarti tidak bisa berkembang di dunia luar. Seperti Mak Nia ini yang cetar di dunia tulis menulis :)

  2. wah, kereeeen banget mbak, titip salam sama Dr. Rani ya… pasti bangga banget deh punya teman seperti beliau, kapan-kapan mbak Rinrin juga boleh donk dijadiin referensi πŸ˜€

    1. Dr. Rani ngintipin post ini nih… Cuma gak komen-komen… mana ya? πŸ˜€

      Kalo saya gak layak dijadikan referensi, Aida… Kasian yang baca, kebanyakan drama hihihi

    1. iya, yang paling penting sih sekian tahun berlalu dan Dr. Rani masih tetap humble seperti dulu saya mengenalnya :)

      Makasih ya, Sofy :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.