Untuk Jabbar dan Jabbar yang lain

By | April 17, 2014

“Mah, mau ikut donor lagi?”, tanya suami beberapa waktu yang lalu.

Saya memang sedang cuti jadi pendonor selama 3 tahun. Karena saya harus memberikan ASI-Ekslusif untuk Si Bungsu yang sekarang berusia 2 tahun 4 bulan.

Saat saya hamil Si Bungsu di bulan-bulan pertama, saya sama sekali tidak menyadari kalau saya sedang hamil, karena tidak ada tanda-tanda seperti umumnya orang hamil. Makanya saya masih mendonorkan darah saya di usia kehamilan 2 bulan. Alhamdulillah, saya dan anak saya tetap sehat sampai sekarang.

Begitu si bungsu menginjak usia tepat 2 tahun, suami pun mengajak saya kembali mendonorkan darah ke PMI.

Suami saya memang baru mengenal PMI beberapa tahun yang lalu. Meski masih baru, boleh dibilang suami sangat disiplin. Tidak pernah sekali pun terlewat dari tanggal yang dianjurkan. Pernah suatu ketika, suami datang satu hari sebelum tanggal yang tertera di kartu dan ditolak oleh petugas PMI. Alhasil, besoknya suami saya kembali datang ke PMI. Padahal jarak antara PMI dan rumah kami sekitar 70 km 😀

Apa yang membuat saya menjadi pendonor?

Saat itu usia saya masih 14 tahun. Suatu malam, kami dikejutkan dengan kedatangan seorang saudara. Beliau menanyakan, apakah di antara kami ada yang bergolongan darah AB? Keponakan kami, Jabbar (5 tahun), memerlukan darah AB karena Leukimia yang dideritanya.

Di keluarga kami ada tiga orang yang bergolongan darah AB, yaitu Abah, kakak ketiga, dan saya sendiri. Karena tidak tahu syarat-syarat donor, saat itu kami semua berangkat menuju UTD PMI Kota Bandung di Jl Aceh No.79

Setelah melalui pemeriksaan kesehatan, Abah dan kakak saya diterima menjadi pendonor. Sementara saya, berdasarkan aturan belum memenuhi. Kecewa. Karena Jabbar sangat membutuhkan darah bergolongan AB seperti yang saya miliki.

Kakak saya sendiri kemudian menjadi pendonor tetap bagi Jabbar. Sayangnya, ganasnya Leukimia membuat Jabbar tidak mampu bertahan. Jabbar berpulang di tahun 1997.

Sejak itu saya bertekad, saat usia saya tepat menginjak angka 17, saya harus jadi pendonor!

Saat itu akhirnya tiba…

Menjelang berangkat sekolah, pikiran saya tidak karuan. Saya ingin segera berkunjung ke PMI. Dengan masih berseragam SMA (ketika itu saya masih kelas 3 SMA), tepat di usia ke-17 akhirnya saya datang ke PMI.

Takut, khawatir, senang, semua campur aduk. Saya mengisi formulir yang disediakan dengan perasaan tidak karuan. Membaca pertanyaan yang ada di formulir membuat saya khawatir, bisakah saya menjadi pendonor?

Saya serahkan formulir itu ke petugas, Pak Ade. Tidak lama kemudian, saya menjalani pemeriksaan kesehatan. Sebelumnya saya ceritakan ke dokter bahwa saya pernah menderita hepatitis A saat SD. Kekhawatiran saya sirna, karena menurut dokter, setelah sembuh < 5 tahun saya bisa mendonorkan darah saya.

Setelah pemeriksaan kesehatan, tibalah saatnya saya duduk di bangku. Meski sering disuntik untuk pemeriksaan laboratorium, ternyata tetap saja deg-degan. Perlahan-lahan darah mengalir memenuhi kantung darah.

Tidak sampai 15 menit, selesai. Menyesal? Tidak sama sekali. Malah saya ketagihan, karena sesudah donor saya mendapatkan banyak makanan hehehe (ini sih kelaparan :D)

Jabbar yang memotivasi saya menjadi pendonor. Meski Jabbar telah berpulang, masih banyak Jabbar-Jabbar lain yang memerlukan setetes darah yang kita miliki.

Page_2

Sumber foto : koleksi pribadi

2 thoughts on “Untuk Jabbar dan Jabbar yang lain

  1. Raisa Hakim

    Jadi terharu teh, saya belum pernah dan mau sebenarnya donor tapi masih terhambat tekad yang belum mantap “takut jarum suntik” malu-maluin ya…

Leave a Reply