Minimalisasi Risiko Bencana Melalui Inovasi

Upami nu di luhur masihan terang mah, panginten moal dugi ka aya korban jiwa, Neng”, ujar Pak Burhan ketika menceritakan kronologis banjir bandang di Subang beberapa bulan yang lalu.

banjir bandang cisalak
Pak Burhan, sedang istirahat setelah memperbaiki saluran air yang rusak (dokpri)

Ya, banjir bandang yang terjadi di Desa Sukakerti, Cihideung, Cisalak, Subang menjelang bulan puasa kemarin memang seolah datang tiba-tiba.

Beberapa jam sebelum kejadian, warga sempat mendengar dentuman keras dari arah bukit di belakang perkampungan. Namun warga desa sama sekali tidak menyangka akan datang bencana.

Siang teh kadangu aya sora sapertos guludug”, lanjut Pak Burhan.

Setelah mendengar suara besar seperti petir, hujan deras pun turun sejak sore sampai malam.

Derasnya hujan tidak menghalangi niat warga untuk menghadiri acara malam Nisfu Syaban di masjid Al-Ikhlas, satu-satunya masjid yang ada di desa itu. Selepas Isya (Minggu, 22 Mei 2016) seluruh warga kembali ke rumahnya. Belum sempat mereka memejamkan mata, terdengar suara gemuruh dari arah bukit. Jam 9 malam, air menerjang dari arah bukit, memenuhi seisi rumah warga sampai ke langit-langit. Banyak yang terpaksa memecahkan kaca jendela agar bisa keluar dari rumah dan menyelamatkan diri.

Warga desa terpaksa harus berbondong-bondong menyelamatkan diri dari terjangan banjir di tengah kegelapan. Selang 2 jam kemudian, bencana yang lebih besar datang.

Kali ini banjir membawa serta kayu-kayu berukuran besar. Kayu-kayu ini menghantam apa saja yang ada di depannya, meluluh lantakkan hampir seluruh rumah yang ada di Desa Sukakerti. Sebanyak 16 rumah hancur total.

IMG_8003_wm

Beruntung, banyak warga yang masih sempat menyelamatkan diri. Dahsyatnya banjir bandang ini tak hanya menghancurkan Desa Sukakerti. Terhitung ada 6 korban jiwa, termasuk Rizal (9 tahun) yang terbawa hanyut dan ditemukan di Indramayu yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer dari Cisalak.

banjir bandang

Pak Burhan kemudian berandai-andai, andai saja sebelum kejadian ada peringatan dari warga yang berada di kampung yang ada di daerah hulu. Karena suara dentuman yang didengar warga Kampung Sukakerti sebelumnya ternyata merupakan suara longsor dari bukit yang berada dekat dengan kampung di hulu.

Tapi musibah dan takdir memang tidak dapat dihindari. Curah hujan yang tinggi seharian membuat air terbendung oleh longsoran sampai akhirnya ambrol tidak tertahan. Bencana banjir bandang di Cisalak menjadi bencana terbesar yang terjadi di Jawa Barat di tahun 2016.

Hanya berselang beberapa hari setelah kejadian, anak usia sekolah yang berada di Desa Sukakerti terpaksa menjalani ujian kenaikan kelas, tanpa alas kaki, tanpa persiapan yang memadai. Jangankan alas kaki, baju seragam, tas, buku dan pensil pun semua terbawa hanyut.

banjir bandang cisalak
Sisa banjir bandang, sepatu yang hanya sebelah (dokpri)

Hampir 3 bulan setelah kejadian banjir bandang, Desa Sukakerti kini mulai bebenah. Menyongsong kehidupan yang baru dari kondisi yang boleh dibilang masih berantakan dan trauma yang menghinggapi sebagian besar warga ketika hujan turun.

banjir bandang cisalak
Warga Desa Sukakerti bergotong royong membersihkan saluran air (dokpri)

Potensi ancaman bencana di Indonesia

Secara geografis Indonesia terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Kondisi ini membuat Indonesia berpotensi sekaligus rawan mengalami bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor.

Potensi bencana di Indonesia (Sumber BNPB)
Potensi ancaman bencana di Indonesia (Sumber : BNPB)

Indonesia juga terletak di daerah iklim tropis dan sering mengalami perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini ditambah dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam (secara fisik maupun kimiawi) menghasilkan kondisi tanah yang subur. Sayangnya, kondisi ini juga bisa menimbulkan beberapa bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan.

Jumlah kejadian dan intensitas bencana hidrometeorologi diperparah dengan semakin massifnya kerusakan lingkungan hidup.

Pada tahun 2006 misalnya, terjadi bencana tanah longsor dan banjir bandang di daerah Jember, Banjarnegara, Manado, Trenggalek dan beberapa daerah lainnya. Bahkan dari data Kementerian Pekerjaan Umum, terhitung 90 persen bencana alam yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan air (Sumber: Kaleidoskop Kementrian Pekerjaan Umum, Tahun 2011)

Jumlah bencana alam yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2016 (Sumber BNPB)
Jumlah bencana alam yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2016 (Sumber BNPB)
Jumlah kerugian akibat bencana banjir, banjir & tanah longsor, tanah longsor sepanjang tahun 2016 di Indonesia (Sumber BNPB)

Khusus bencana banjir bandang, di tahun 2016 tercatat beberapa daerah di Indonesia mengalami bencana banjir bandang, yaitu Bireun, Aceh (10 Februari 2016), Merangin, Jambi (25 Februari 2016), Merangin, Jambi (26 April 2016), Subang, Jawa Barat (22 Mei 2016), Jawa Tengah (18 Juni 2016), Gampong Beureunut, Aceh (20 Juni 2016), Serang, Banten (25 Juli 2016), dan Kepulauan Sangihe (20-21 Juni 2016).

Jumlah kerugian yang ditimbulkan akibat bencana banjir bandang ini tidak sedikit. Misalnya saja yang terjadi di Subang, Jawa Barat, bencana banjir bandang mengakibatkan kerugian sebesar kurang lebih 15 miliar (Sumber: Tempo)

SS 2016-08-10 at 12.19.47 AM

Sementara banjir bandang yang terjadi di Jawa Tengah dan Sangihe mengakibatkan kerusakan secara nilai ekonomi yang mencapai nilai 302,37 miliar (Sumber: BNPB)

SS 2016-08-10 at 12.23.26 AM

Bencana tidak hanya mengakibatkan kerugian secara nilai ekonomi, bencana yang terjadi juga berdampak pada seluruh aspek kehidupan masyarakat mulai dari kesehatan, pendidikan, sampai korban jiwa dan psikososial.

Minimalisasi Risiko Bencana Melalui Inovasi

Meski tak semua bencana dapat dicegah, namun pengembangan berbagai hasil penemuan dan inovasi mampu meminimalisir risiko bencana yang lebih besar.

Di Pekan Sains Teknologi yang diadakan dari tanggal 9-11 Agustus 2016, kita bisa melihat beragam inovasi infrastruktur terbaru Litbang PU.

Pembangunan rumah berbahan bangunan berbasis limbah

Perkembangan pembangunan tidak dapat dilepaskan dari peningkatkan kualitas infrastruktur. Tidak hanya untuk fasilitas umum namun juga untuk hunian. Begitu juga di tempat terjadinya bencana seperti di Desa Sukakerti kemarin, di mana 16 rumah rusak berat. Tentu saja para pengungsi memerlukan hunian yang baru. Biaya yang diperlukan untuk membangun hunian yang aman dan nyaman juga terhitung tidak murah. Sementara materi yang diperlukan sebagai bahan bangunan (kayu, batu kapur, dan lain-lain) semakin sulit untuk didapatkan. Kendala lain adalah waktu yang sempit dan tenaga yang terbatas.

Sebagai solusi, Puslitbangkim KemenPUPR ini berhasil mengembangkan teknologi pembangunan rumah yang sangat fleksibel; cepat dibangun, dapat berpindah tempat dan tahan terhadap gempa, yaitu RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat).

Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan hunian pasca bencana, RISHA juga diharapkan mampu memenuhi back log perumahan. Pada tahun 2002, target pembangunan sebanyak 130.000 unit hanya 39.797 unit yang terealisasi. Sementara di tahun 2003, target pembangunan 92.500 unit, hanya tercapai 15.126 unit.

Risha dikembangkan dengan sistem modular dengan teknologi konstruksi sistem pracetak yang dapat dibongkar pasang (knock down) dengan menggunakan sistem sambungan kering. waktu yang diperlukan untuk pembangunan setiap  modul adalah 24 jam oleh 3 pekerja. Saat ini telah memiliki 67 aplikator dan diterapkan sebanyak + 10.000 unit di Aceh paska Tsunami (Sumber Puskim PU)

RISHA (Sumber puskim.pu.go.id)
RISHA (Sumber puskim.pu.go.id)

Selain Risha, Litbangkim KemenPUPR juga memiliki RIKa (Rumah Instan Kayu). RIKa merupakan rumah instan yang berbahan dasar kayu kelas rendah yang cepat tumbuh seperti kayu sengon, karet, akasia mangium. Hanya saja kayu-kayu ini diproses dan diolah terlebih dahulu sehingga kualitasnya setara dengan kayu kualitas kelas satu. RIKa ini telah teruji dan diterapkan di daerah rawan bencana.

Di Pekan Inovasi Sains Teknologi, PuslitbangKim KemenPUPR juga mempresentasikan bahan bangunan pracetak berbasis limbah untuk mengurangi masalah lingkungan. Misalnya saja dari Limbah Batubara (Fly ash, bottom ash), Drilling Cutting, Limbah Tambang (tailing/pasir sisa tambang).

Komponen bahan bangunan dari limbah batubara (Sumber Litbang PU)
Komponen bahan bangunan dari limbah batubara (Sumber Litbang PU)
Pengolahan tailing emas Antam menjadi bahan bangunan (Sumber Mongabay)
Pengolahan tailing emas Antam menjadi bahan bangunan (Sumber Mongabay)

Sebagai tambahan, beberapa waktu yang lalu sekelompok pemuda sekelompok pemuda dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjajaran (Unpad) berhasil menciptakan bahan bangunan dengan memanfaatkan materi organik, yaitu dari limbah baglog dan limbah tapioka.

Bahan bangunan organik yang berasal dari limbah (Sumber goodnewsfromindonesia)
Bahan bangunan organik yang berasal dari limbah (Sumber: goodnewsfromindonesia)

Bahan bangunan organik berbasis limbah ini diklaim bisa menggantikan materi batu bata, papan, dan kayu. Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku kayu, bahan bangunan organik juga bisa lebih murah dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Konservasi Tanah dan Air

Banjir bandang di Desa Sukakerti kemarin diawali oleh adanya erosi tanah di lereng bukit. Dari hasil pengamatan tim geologi, ada 100 titik rawan longsor dan 3 titik longsor diantaranya mengakibatkan bendungan di Sungai Cihideung (Sumber: Koran Sindo)

Perlu upaya memperkuat lereng sesegera mungkin untuk mencegah kelongsoran, seperti memasang bronjong, trap terasering, atau dinding penahan sesuai dengan keadaan di lapangan.

Trap terasering dengan bebatuan
Trap terasering dari batu, teras bisa ditanami pohon untuk memperkuat (Sumber : Vetiver Indonesia)

Dinding penahan longsor bisa dibuat dari sabut kelapa yang dibentuk menjadi jaring pengaman.

Pemasangan jaring pengaman dari sabut kelapa
Pemasangan jaring pengaman dari sabut kelapa di Cilacap (Sumber : Mongabay)

Penggunaan jaring pengaman dari sabut kelapa bisa dikombinasikan dengan tanaman Vetiver hidup (Vetiveria zizanioides) atau yang dikenal sebagai Miracle grass oleh para peneliti. Vetiver memiliki kerapatan akar yang sangat baik, mampu mengikat dan memperkuat tanah karena fungsinya menyaring dan memadatkan tanah tempat ia tumbuh (Sumber: Lipi).

Vetiver juga bisa mengurangi beban yang diterima tanah saat mengalami tumbukan dengan hujan, karena air hujan yang jatuh akan disaring terlebih dahulu oleh daun-daun vetiver.

Pusjatan telah memanfaatkan tanaman vetiver untuk menangani erosi di permukaan lereng jalan.

Konservasi vegetatif melalui Vetiver dapat dianalisis terlebih dahulu melalui Aplikasi VETIVER yang bisa diakses di http://rhk.pusjatan.pu.go.id/vetiver/vetiver.php#program.

Flood early warning system

Banjir yang terjadi di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau merupakan indikasi nyata rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS).

Flood Early Warning System yang merupakan salah satu produk unggulan Balitbang PUPR juga perlu diterapkan di daerah hulu sungai.

Seperti yang dituturkan oleh Pak Burhan, terjadinya bencana banjir bandang di Desa Sukakerti diawali oleh tanah longsor beberapa jam sebelumnya. Curah hujan yang tinggi membuat air yang seharusnya mengalir dari hulu sungai, tertahan oleh longsoran tanah, membentuk bendungan sampai akhirnya ambrol dan menerjang Desa Sukakerti.

Pak Burhan berharap adanya pemantauan mengenai kondisi tanah dan hulu sungai yang berada di lembah perbukitan.  Sehingga ketika sungai di daerah hulu sudah mendekati batas aman, warga yang tinggal di daerah aliran sungai menerima peringatan dari flood early warning system dan bisa segera menyelamatkan diri.

Selain itu perlu diberikan edukasi terpadu agar masyarakat memahami cara konservasi tanah dan air, serta mengetahui gejala-gejala bencana alam.

Pemetaan Jalur Evakuasi

Saat terjadi banjir bandang di Desa Sukakerti, Cihideung, Cisalak, warga sempat mengalami kebingungan sebelum akhirnya melarikan diri ke bukit yang ada di samping. Selama berjam-jam warga terisolasi di atas bukit ini dengan kondisi yang memprihatinkan. Beruntung salah satu warga membawa alat komunikasi dan segera mengabarkan kondisi warga ke aparat.

Untuk daerah rawan bencana, perlu segera dibuat jalur evakuasi dengan kondisi jalan yang memadai. Karena ada beberapa rute jalur evakuasi yang kondisi jalannya cukup sempit.

Selain itu, masyarakat mengalami kesulitan dengan penentuan tempat evakuasi sementara. Ketika bencana banjir bandang di Desa Sukakerti kemarin terjadi, selama masa tanggap darurat bencana sebagian besar warga mengungsi di fasilitas umum (Kantor Desa), sebagian lagi mengungsi ke rumah saudara/kerabat.

Untuk masa tanggap darurat yang lebih lama, pengungsi bisa memanfaatkan tenda darurat Huntara temuan Litbang PU yang bisa dibangun dalam beberapa menit saja. Huntara, sebagai inovasi terbaru di bidang kebencanaan dipresentasikan pada Pekan Sains Teknologi 9-11 Agustus 2016 di Jakarta.

Huntara yang dipamerkan di (Sumber Kompasiana)
Huntara, salah satu inovasi Litbang PU di bidang kebencanaan (Sumber Kompasiana)

Minimalisasi risiko bencana memang bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi perlu kerjasama dari berbagai pihak, baik lembaga, industri, institusi pendidikan, swasta, dan juga masyarakat.

Pengaplikasian inovasi terkait kebencanaan temuan Litbang PU di seluruh daerah rawan bencana di Indonesia pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit. Namun jika inovasi bisa mencegah risiko bencana yang lebih besar terjadi, tentunya dampak kerugian yang ditimbulkan pun tidak akan terlalu banyak.

Continue Reading

Masjid Al-Ikhlas, masjid yang tetap berdiri tegak di Cisalak

Tak ada yang menyangka kalau malam Nisfu Syaban kemarin adalah malam terakhir bagi beberapa warga di Desa Cihideung, Cisalak, menempati rumah yang selama ini jadi tempat berteduh selama bertahun-tahun.

Suara gemuruh bak bunyi pesawat terbang, yang sebenarnya jarang mereka dengar karena tak pernah ada pesawat melintas di sini, terdengar dari arah bukit.

Seketika air menerjang dari arah bukit. Warga berhamburan ke luar rumah. Tak sedikit yang kesulitan membuka pintu karena air sudah memenuhi rumah, hingga harus memecahkan kaca jendela hanya dengan tangannya.

Di tengah kegelapan, mereka berlari ke hutan, tanpa sempat membawa apapun kecuali baju di badan yang menempel. Berlindung dari terjangan air yang menghempas apa saja yang dilewatinya.

Selang 2 jam kemudian, batu-batu besar dan kayu-kayu besar terbawa arus, meluluhlantakkan 32 rumah yang ada di Cihideung.

Banjir bandang Cisalak

Meksi hampir seluruh bangunan yang ada di Cihideung hancur terkena banjir bandang, ada masjid yang tetap berdiri dengan kokoh, yaitu Masjid Al-Ikhlas. Seperti yang dituturkan oleh Pak Muhyidin, amil Masjid Al-Ikhlas, bahwa masjid senantiasa dijaga oleh 70.000 malaikat.

IMG_8092

Berada tepat di tepi garis merah yang ditetapkan oleh Basarnas, Masjid Al-Ikhlas pun menjadi tempat berlindung para pengungsi.

13275293_311177125880047_979826210_o

Bagi warga Cihideung, banjir bandang  yang terjadi kemarin membawa sebuah pesan bahwa masjid (Islam) merupakan tempat yang aman bagi siapapun yang mau mengimaninya…

*Jumlah kata  203

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis : 1001 Kisah Masjid”

 

 

Continue Reading

Perjalanan Mudik Hingga Ke Rumah Sakit Bersama #NewMyBlueBird

driverrating

Libur tlah tiba… Libur tlah tiba… hatiku gembira…

Anak-anak sudah selesai dibagi raport hari Sabtu kemarin. Hasilnya? Alhamdulillah… cukup memuaskan. Kalau sudah dibagi raport berarti sudah waktunya liburan, sejenak rehat dari rutinitas sehari-hari. Liburan panjang begini sih enaknya jalan-jalan ya. Tapi berhubung anak-anak sedang puasa, daripada macet-macetan & kehausan di jalan, mending juga liburannya ke rumah Nene saja.

Selasa pagi semua sudah siap. Termasuk baju anak-anak di dalam tas masing-masing. Perjalanan ke Bandung dari Subang lancar tanpa hambatan. Sedikit tersendat di Jalan Raya Tangkuban Parahu, ada perbaikan jalan sebagai persiapan jalur mudik nanti. Belum juga sampai ke Bandung, telepon suami sudah sibuk krang kring. Rupanya ada tamu yang sudah menunggu di kantornya. Akhirnya karena suami sedang sibuk dengan urusan di kantornya, saya dan anak-anak meneruskan perjalanan dari kantor suami ke rumah Nene dengan taksi saja.

Pakai taksi? Mau jalan ke depan? Bisi lama nunggunya“, tanya suami.

Berhubung kantor suami berada di dalam kompleks perkantoran, sulit memang kalau mengandalkan taksi kosong yang lewat. Biasanya ada sih satu atau dua taksi di depan gerbang kompleks, tapi harus jalan dulu agak jauh. Duh, kan capek hihi…

Gak usah, nunggu sini aja. Tinggal pesan. Gampil“, jawab saya sambil mengeluarkan hape dan membuka aplikasi NewMyBlueBird.

NewMyBlueBird

Continue Reading

Aplikasi Kudo, Langkah Mudah Jadi Pengusaha

Pah, pengen jualan lagi,” ujar saya di sela-sela obrolan sore beberapa waktu yang lalu.

Suami hanya menjawabhmmmm….”. Jawaban yang sebenarnya sudah bisa diduga sebelumnya. Mengingat saya memang sudah berkali-kali mencoba berjualan tapi selalu berujung rugi.

2 tahun yang lalu, saya sempat menikmati keuntungan sebagai pedagang minyak goreng kemasan. Biasanya saya berburu minyak goreng kemasan diskon di supermarket, dan dijual kembali sesuai harga pasar ke ibu-ibu di lingkungan rumah. Tak hanya ibu-ibu, warung-warung pun saya supply minyak kemasan dengan harga yang tidak terlalu jauh dibanding harga jual di grosir dekat rumah.

Meski untungnya tak seberapa, suami semangat membantu saya. Tidak hanya urusan modal, suami juga rela berkeliling supermarket dan mengangkut sendiri berbungkus-bungkus minyak dari supermarket ke kantor untuk kemudian dibawa pulang. Kebetulan, di dekat kantornya ada 3 supermarket yang masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Itung-itung olahraga,” kata suami saat itu.

Continue Reading

Aman dan Nyaman Memesan Taksi Melalui Aplikasi My Blue Bird

Screenshot_2016-04-15-22-32-52

Rin, tolong isi pulsa. Nene mau nelepon taksi, Abah mau ke Hermina, agak sesak. Mau diuap”, pesan Nene di BBM.

Setelah membaca pesan ini, segera saya telepon Nene, khawatir dengan keadaan Abah. Saya memang tinggal di Subang. Sementara Abah dan Nene berdua saja tinggal di Antapani, Bandung. Kondisi kesehatan Abah dan Nene sudah menurun. Bulan kemarin saja Abah dan Nene bergantian dirawat di Rumah Sakit.

Ok, dari Nene saya mendapat kabar kalau kondisi Abah sementara ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Abah hanya merasa sedikit kesulitan bernafas. Maklum saja, sepulang dari Rumah Sakit bulan lalu, dokter menyatakan kalau fungsi jantung Abah hanya tinggal 23%. Jadi Abah memang lebih sering merasa sesak.

Kalau Abah mendadak merasa sesak seperti ini, alih-alih menunggu saya atau kakak yang juga tidak tinggal serumah dengan Abah agar segera mengantar ke Rumah Sakit, yang paling bisa diandalkan memang segera memanggil taksi. Sebetulnya Nene sudah hafal betul nomer telepon Blue Bird. Tanpa disimpan di phonebook pun, Nene bisa menyebutkan nomer Blue Bird dengan lancar.

022-7561234″, kata Nene.

Ya wajar, sih hampir tiap minggu Nene memesan taksi. Untuk urusan mendadak seperti ini, atau yang terjadwal seperti kontrol ke dokter. Tapi karena saya sedang di Subang, dan Nene kehabisan pulsa, lebih baik saya memesan taksi melalui aplikasi, apalagi kalau bukan My Blue Bird.

Yup, Blue Bird memang sudah sejak lama meluncurkan aplikasi My Blue Bird. Aplikasi My Blue Bird ini merupakan pengembangan dari Taxi Mobile Reservation yang mulai dikembangkan BlueBird Group di tahun 2011. Selain itu, kalau bicara soal taksi andalan, memang sudah sejak lama saya mengandalkan Blue Bird.

Why Blue Bird

Sejarah taksi yang memiliki pelayanan buruk masih saya ingat dengan jelas.

“Dari Statsiun ke Trans Studio Bandung diminta bayar 150 ribu itu serasa kerampokan. Jalannya muter-muter. Padahal saya juga orang Bandung, tahu lewat jalan mana yang lebih cepat”, keluh teman saya.

Keluhan teman saya ini hanyalah salah satu dari banyak pengalaman buruk menggunakan taksi di Bandung yang dialami oleh orang-orang. Saya juga pernah sih. Dibawa berkeliling kota dengan alasan menghindari jalanan yang macet, seolah-olah saya tidak hafal jalan di Bandung. Alhasil, argo pun membengkak. Dongkol tentu saja. Duh, apalagi kalau penumpangnya bukan orang Bandung ya?

Continue Reading