Category: Donor Darah

SS 2015-12-29 at 11.16.54 PM

Dibalik Kopdar Dondar bareng Facebookers Subang

Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba saja seorang teman menarik saya masuk ke sebuah grup di Facebook. Dari namanya sudah jelas kalau sebentar lagi akan ada acara kopdar buat member FBS (sekilas cerita tentang FBS bisa dibaca di sini).

Wah… ada kopdar! Dekat rumah!

Kaget sekaligus senang luar biasa, karena saya yang selama ini hanya bisa riweuh di kolom komentar dan belum bertemu secara langsung dengan teman-teman di FBS, sebentar lagi mendapat kesempatan bertemu dengan mereka.

Iya, saya memang jarang bikin status di grup, tapi tetap eksis dengan jadi TR alias Tukang Recok/Tukang Riweuh dan apalah itu namanya. Sampai-sampai TS alias Thread Starter pun kalah eksis hahaha Read More

Donor Darah : ACCEPTED!

Setelah ditolak donor darah yang keempat kalinya (baca Donor Darah : FAILED!!!), saya bertekad memperbaiki pola tidur dan pola makan yang selama ini saya jalani. Termasuk makan sayuran hiijau yang tadinya sulit mengisi perut saya. Rasanya tidak rela saja kalau suami yang baru jadi pendonor beberapa tahun belakangan ini menyusul saya yang sudah mendonor sejak Read More

Donor Darah : FAILED!!!!

DonorIni kali keempat saya ditolak donor darah. Padahal bukan sekali dua kali saya menjadi pendonor. Saya mulai (memberanikan diri) jadi pendonor tepat di usia saya yang ke 17 tahun.

Peristiwa ditolak donor pertama kali karena umur yang belum mencukupi. Saat itu saya memang belum tahu syarat-syarat menjadi pendonor (Lihat syarat donor darah di sini).

Saya masih ingat momennya, yaitu ketika paman meminta kami yang bergolongan darah AB jadi donor untuk anaknya yang membutuhkan darah untuk transfusi (adik sepupu, Jabbar, seorang penderita leukimia). Di keluarga Abah, ada 3 orang yang bergolongan darah AB: Abah, kakak ketiga, dan saya sendiri,

Karena ketidaktahuan kami soal syarat-syarat jadi pendonor, jadilah saat itu kami semua berangkat ke UTD PMI. Sesampainya di UTD PMI, hanya saya yang ditolak. Saat itu umur saya masih 14 tahun. Abah dan kakak ketiga sukses mendonorkan darahnya.

Jabbar sendiri hanya sanggup bertahan beberapa bulan setelah transfusi darah pertama. Sayang, saya tidak sempat ikut mendonorkan darah untuk Jabbar.

Penolakan yang pertama kali ini jadi motivasi buat saya. Jadilah saat itu saya berjanji, tepat di usia 17 tahun saya harus jadi pendonor. Read More

Untuk Jabbar dan Jabbar yang lain

“Mah, mau ikut donor lagi?”, tanya suami beberapa waktu yang lalu. Saya memang sedang cuti jadi pendonor selama 3 tahun. Karena saya harus memberikan ASI-Ekslusif untuk Si Bungsu yang sekarang berusia 2 tahun 4 bulan. Saat saya hamil Si Bungsu di bulan-bulan pertama, saya sama sekali tidak menyadari kalau saya sedang hamil, karena tidak ada Read More

1 2