[Basa Sunda] Kapeurih sing jadi peurah

[Basa Sunda] Kapeurih sing jadi peurah  – “Kebanyakan gula, diabetes. Kebanyakan garam, darah tinggi,” begitu komentar salah seorang penumpang yang kebetulan naik angkutan umum yang sama dengan saya.

Ketika itu saya naik elf menuju Subang setelah menghadiri sebuah acara. Elf yang ngetem cukup lama membuat saya bisa ngobrol santai dengan penumpang lain. Dari 12 penumpang ada di mobil, 3 orang yang duduk sejajar dengan saya terlibat pembicaraan yang seru. Mulai dari membahas hasil panen, kebakaran lahan, banjir, sampai rokok.

Seorang bapak (saya lupa namanya), yang berasal dari Pamanukan, bercerita kalau beliau hampir setiap hari bolak balik Pamanukan – Bandung – Pamanukan. Lusa si Bapak harus ke Tangerang, menengok anaknya yang bekerja dan menetap di sana.

Orang kedua yang duduk sejajar dengan saya juga berasal dari Pamanukan. Hanya beda kecamatan saja dengan si Bapak yang tadi.

Bapak, yuswa sabaraha?“, tanya Bapak kedua.

“62 tahun”, jawab Bapak pertama.

Wow… saya takjub mendengar pengakuan si Bapak pertama. Di usianya yang ke 62 ini, fisiknya nampak segar sekali.

Bayangkan saja, kalau si Bapak pertama ini masih sanggup bolak balik Bandung – Pamanukan, sementara jarak dari Subang ke Bandung (kurang lebih 40 km) ini hampir sama dengan jarak dari Subang ke Pamanukan. Kalau soal waktu tempuh, ke Bandung memang sedikit lebih cepat dibanding ke Pamanukan. Dan saya yang menempuh setengah perjalanan si Bapak sudah merasa gempor. Padahal belum tentu juga tiap hari saya bolak balik Subang – Bandung – Subang.

Bapak pertama kemudian bercerita kalau saudaranya baru saja dioperasi jantung, dipasang ring di jantungnya. Usianya lebih muda dari si Bapak pertama. Hmmmm… saya jadi ingat Abah yang sudah pasang ring sebanyak 3x, sementara usia Abah hampir sama dengan Bapak pertama.

Bapak pertama ini banyak menyampaikan pesan kepada saya, yang katanya masih muda, agar mau mengikuti pola hidup dan pola makan leluhur.

Karuhun kita dulu mengajarkan kita mengkonsumsi makanan dengan seimbang. Bukan hanya yang manis saja, atau yang asin saja”, kata Bapak pertama.

Saya dan bapak-bapak yang lain mendengarkan dengan seksama.

Buktinya lidah kita bisa mengecap 5 rasa, manis, asin, gurih, asam, dan pahit. Malah ada pahang juga”, lanjut Bapak pertama.

Bapak pertama kemudian menuturkan, kalau makanan pahit inilah yang bisa menyeimbangkan dan menetralisir rasa manis/asin/gurih/asam yang berlebihan di dalam tubuh. Imbangi juga dengan banyak gerak alias olahraga, gak perlu yang berat-berat. Banyak jalan kaki juga cukup.

Aih, si bapak. Tahu saja kalau saya memang terlalu malas untuk bergerak.

Bukan hanya pada makanan,  seyogyanya perjalanan hidup juga perlu merasakan hal-hal yang pahit, agar hidup kita lebih seimbang“, sela Bapak ketiga.

Ah, saya pun jadi ingat sebuah pepatah Sunda, kapeurih sing jadi peurah, yang artinya kurang lebih sakit hati atau kesusahan yang kita alami sebaiknya jadi pelajaran yang sangat berharga. Peurah yang berarti bisa ular memang bisa menjadi penawar racun bagi orang yang sudah tergigit ular. Bagaimana rasanya tergigit ular? Tentu saja, peurih Jenderal! Dari kepedihan yang kita rasakan itu pula, seharusnya bisa menjadi cambuk agar kita bisa menjadi orang yang lebih maju.

Sayang, obrolan saya dengan bapak-bapak ini terpaksa tidak bisa dilanjutkan karena mobil elf sudah sampai di Jalancagak, tempat saya berhenti dan melanjutkan perjalanan ke rumah dengan ojeg.

Mudah-mudahan ketika saya menemukan kapeurih dalam hidup saya, saya bisa menjadikannya peurah. Mudah-mudahan juga, saya mulai suka paria dan peuteuy seperti pesan bapak-bapak di elf tadi 😀

3 Replies to “[Basa Sunda] Kapeurih sing jadi peurah”

Leave a Reply to Cerita Bahasa Cancel reply

Your email address will not be published.