Beli Baju Baru? Cuci Dulu!

Ini bukan kejadian yang saya alami sendiri. Karena saya sendiri jarang membeli baju di toko. Biasanya saya beli baju dari pasar di dekat rumah. Tapi musibah yang terjadi setelah membeli baju di toko ini menimpa Nene, ibu saya, dan mungkin saja terjadi pada saya atau siapapun yang juga membeli baju tanpa berhati-hati.

Ketika saya berkunjung ke rumah Nene bulan kemarin, Nene cerita kalau sehari sebelum saya datang, Nene baru saja membeli baju di B***a Antapani. Bajunya tidak Nene coba dulu. Nene merasa sudah cocok dengan warna dan modelnya, kemudian baju itu langsung Nene bawa pulang, tentunya setelah dibayar terlebih dahulu. Lagipula Nene hanya membeli daster, “gak perlu dicoba, pilih aja yang ukurannya paling besar,” begitu Nene bilang.

Saat menceritakan hal ini, Nene nampak senang sekali. Maklum saja. Baru kali ini Nene bisa keluar rumah sendiri. Berbulan-bulan Nene tidak bisa keluar rumah karena harus menunggui Abah yang masih belum pulih dari stroke. Nene hanya keluar rumah saat menemani Abah kontrol ke rumah sakit dan terapi akupunktur di Jalan Pajajaran.

Sesampainya di rumah, daster itu langsung Nene pakai. Malah saat saya berkunjung, daster itu masih dipakai Nene.

Empat hari setelah kunjungan saya ke rumah Nene, saya mendapatkan SMS dari Nene.

In, Nene keur di dokter. Panas tiris!” (In, Nene sedang di dokter. Panas dingin!), begitu isi SMS Nene.

Saya hanya berpikir mungkin Nene kecapaian. Bisa dimaklum kalau kondisi kesehatan Nene menurun. Menemani Abah selama 24 jam terus menerus bukanlah hal yang mudah dan pastinya memerlukan banyak tenaga.

Saya pun membalas SMS Nene dan meminta Nene untuk cukup beristirahat, hal yang sulit dilakukan Nene selama menemani Abah. Maafkan saya ya, Ne… tidak bisa ikut menemani Abah juga Nene.

Besoknya, saya kembali menerima SMS dari Nene. Nene bilang kalau sepertinya Nene terkena cacar.

Hah? Maenya nini-nini cacar?“, dengan tidak sopannya saya membalas SMS Nene seperti itu.

Meski  membalas SMS Nene dengan bercanda, tapi rasa khawatir tetap menyelinap di benak saya, karena tidak biasanya Nene mau ke dokter. Nene baru mau ke dokter kalau Nene merasa sakitnya sudah sangat parah. Dulu ketika saya masih tinggal di Bandung, saya seringkali kesulitan membujuk Nene ke dokter, padahal tekanan darahnya sudah sampai 220/100.

Saya pun segera menelepon Nene. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Kata Nene, dokter bilang Nene terkena cacar, sepertinya dari daster yang kemarin Nene beli di toko. Daster itu patut dicurigai jadi media penyebar cacar. Karena Nene memang belum berinteraksi dengan orang lain belakangan ini, dan sekalinya keluar ya kemarin saat membeli daster. Terlebih area yang terkena cacar hanya di daerah punggung, ketiak, dada, dan perut.

Gejala awal yang Nene rasakan sebelum cacarnya menampakkan diri adalah pusing, demam, lemas dan nyeri persendian. Selanjutnya muncul ruam merah dengan lesi di punggung, ketiak, dada dan perut. Penampakannya kurang lebih seperti ini.

Ilustrasi cacar api, sumber gambar : klik di sini

Berdasarkan ilmu dari google, saya menduga kalau Nene terkena cacar api. Persis seperti yang pernah saya alami setelah membersihkan selokan di Jatinangor ketika menjalani mabim 16 tahun yang lalu. Beberapa hari setelah membersihkan selokan itu, saya merasa tidak enak badan. Saya masih ingat, pertama kali menemukan ruam merah berair itu ketika duduk di bangku angkot yang ada di dekat pintu, sesaat sebelum berhenti di Pangdam Jatinangor. Seharian itu saya tidak bisa konsentrasi dan memutuskan pulang ke tempat kost. Karena ruam yang semakin banyak dan berair, saya segera pulang kembali ke Bandung.

Rasanya? Subhanalloh, panas dan menyakitkan sekali. Saat itu, meski sudah berhati-hati dengan mencuci baju sendiri, menjemur baju dan handuk terpisah, rupanya nasib kurang baik juga menimpa kakak pertama yang kemudian tertular cacar dari saya (Informasi lebih lengkap tentang cacar api bisa dilihat di sini)

Itu juga yang Nene rasakan kemarin. Khawatir dengan Abah, saya segera menelepon tukang ojeg langganan di Bandung, meminta dibelikan beberapa botol antiseptik cair untuk bak mandi di rumah Nene.

Tidak lupa saya juga mewanti-wanti Nene dan Abah untuk selalu berhati-hati agar jangan sampai cacarnya pecah. Terbayang sudah kerepotan yang terjadi di rumah Nene. Abah yang belum pulih dari stroke, dan Nene yang terbaring menahan sakit. Berdua saja.

Tapi walaupun sedang  sakit, Nene masih setia menemani Abah terapi dan akupunktur. Sungguh pengorbanan luar biasa. Dan saya tidak bisa berbuat apa-apa… hiks… Maafkan saya (lagi) ya, Ne :(

Genap sebulan dan Nene masih belum pulih juga. Sekarang bekas cacarnya sudah mulai mengelupas, tapi masih sering terasa sakit. Tadi ketika saya melihat bekas cacarnya, duh… ngilu tuh membayangkan sakit yang harus nene rasakan.

Ah, ini gara-gara daster. Nene memang tidak salah membeli daster di toko. Yang perlu diingat adalah kita harus tetap berhati-hati, baik ketika mencoba baju ataupun membelinya. Kita tidak pernah tahu, siapa yang mencoba baju itu sebelum kita. Yakin orang yang mencoba baju itu terbebas dari penyakit mudah menular seperti cacar misalnya?

Sesampainya di rumah, baju yang sudah kita beli sebaiknya tidak langsung dipakai, melainkan segera dicuci. Ya, apapun dan dimanapun kita berada, kebersihan memang harus selalu dijaga.

Cepat sembuh ya, Ne :)

Continue Reading

Pentingkah Share “Berita”?

Bukan hanya satu atau dua kali saya menerima broadcast berita dari beberapa orang teman. Dalam sehari ada beberapa teman yang mengirimkan broadcast yang sama. Saking seringnya saya pernah pasang status di BBM, “duh, plis deh… gak usah broadcast berita“, atau “haduh, mulai deh kebanjiran sampah broadcast“. Dan ini ternyata manjur. Sekarang saya jarang menerima personal message berupa broadcast berita (kecuali broadcast yang jualan). Barangkali teman-teman saya di kontak BBM yang sering broadcast berita  jadi tersinggung… hehe, maaf ya :)

Tapi penyebaran berita ini bukan hanya melalui personal message, di grup atau di media sosial juga banyak. Seringkali berita yang saya terima itu adalah berita yang memang penting, semisal berita kehilangan barang/orang, kecelakaan, bantuan donasi atau keperluan pendonor darah.

Tapi tidak jarang juga saya menerima share berupa berita hoax. Umumnya berita hoax ini berisi sesuatu yang terkesan baik, mengingatkan akan bahaya, penyakit, berita yang bersifat “religius” dan lain-lain.

Terlepas dari maksud baik pembuat berita hoax ini, ternyata banyak juga yang suka, bahkan kecanduan, secara sadar atau tidak, ikut menyebarluaskan berita hoax. Ada semacam kebanggaan bisa menjadi “pahlawan” yang bisa menyebarluaskan berita hoax.

Terakhir berita hoax yang saya terima adalah tentang BPJS yang akan segera berakhir  di bulan Desember, seorang anak yang katanya dirawat di sebuah rumah sakit jiwa, dan juga jumlah surat di Al-Qur’an dikurangi umur kita sekarang.

Saya tidak ikut menyebarluaskan berita tersebut. Kenapa? Karena saya takut ini hanya berupa hoax, dan berujung fitnah. Seperti misalnya tentang jumlah surat di Al-Qur’an yang jika dikurangi umur kita sekarang hasilnya adalah tahun kelahiran kita.

Benarkah? Iya, memang benar. Ketika saya coba 114 dikurangi 33, maka hasilnya adalah 1981. Tapi apa yang terjadi di tahun kemarin (2013) atau tahun yang akan datang (2015)??? Karena di tahun 2015, hasil dari 114 dikurang 34 (umur saya tahun depan) adalah 1980. Wah, kalau begitu jumlah surat di Al-Qur’an salah donk??? Soalnya saya juga gak mau tahun lahir saya malah berkurang. Duh, mudah-mudahan tahun depan broadcast berita seperti ini sudah hilang, dan tidak ada yang berpikiran seperti itu.

Nah, makanya ketika menerima broadcast saya jarang (pernah sekali dua kali) ikut menyebarluaskannya. Yang saya lakukan ketika menerima broadcast seperti ini adalah :

1. Membacanya kalau tidak terlalu panjang, kalau panjang sih biasanya saya skip. Mata saya kesulitan membaca tulisan panjang-panjang dari hp.

2. Berita hoax seringkali mencantumkan nama orang-orang penting. Semisal, “berdasarkan penelitian profesor…. “. Tak ada salahnya mencoba mencari berita pembanding lewat google. Hitung-hitung nambah referensi bacaan. Bisa terima berita berarti bisa juga kan mencari berita pembanding? Jangan-jangan profesor yang dimaksud malah tidak pernah dilahirkan???

3. Berita kehilangan, kecelakaan, bantuan donasi atau keperluan pendonor darah pun tidak serta merta saya sebarluaskan. Capek sedikit tidak apa-apa. Saya usahakan telusuri kebenaran berita tersebut. Misalnya ada yang share berita kehilangan anak dan muncul di timeline saya. Saya telusuri lagi sampai ke akun pertama pembuat berita kehilangan itu. Kalau memang belum ditemukan saya bantu sebarluaskan lagi. Kalau sudah ya alhamdulillah.

4. Berusaha mengambil hikmah dari setiap berita yang diterima.

Terus apalagi ya? Intinya sih ya itu, tetap menyaring setiap informasi dan berita yang masuk. Jangan sampai ketika kita menerima berita hoax, kita malah ikut menyebarluaskan berita tersebut sehingga semakin banyak orang yang percaya “kebenaran” berita hoax tersebut.

Salam Hoax! #eh

Continue Reading

[TIPS] Mengupas Telur Rebus

Kalau bicara soal makanan, boleh dibilang anak-anak tidak ada yang rewel. Apa saja mau dimakan. Tapi diantara banyak makanan, ada satu yang tidak boleh terlewat. Apalagi kalau bukan telur. Anak-anak memang pinter, tahu emaknya pelit. Ya kalau beli ayam seperempat, itu juga harus dipotong kecil-kecil biar semua kebagian, dengan harga yang sama bisa dapet telur setengah kilo, kurang lebih 8 butir telur, cukup untuk makan dari pagi sampai malam. Yang penting masih bergizi. Iya kan? Hahaha

Selain sebagai lauk nasi, telur juga seringkali digado… didadar, dibuat mata sapi, atau sekedar direbus. Semua harus dimasak dulu, soalnya belum ada  yang mau makan telur mentah.

Yang bikin repot kalau anak-anak minta telur puyuh rebus, hiks… capek kupas satu-satu perintilan gitu. Untungnya kalau minta telur rebus, anak-anak maunya kupas telur sendiri. Dulu, sebelum saya tahu tips ini, seringkali anak-anak kesusahan mengupas telur yang masih menempel di cangkangnya. Alhasil, jadinya malah berantakan. Tapi sekarang sih tidak lagi, ada tips biar telur rebus mudah dikupas dan tidak menempel di cangkangnya.

Daripada blognya lumutan lama tidak diisi, berikut saya tuliskan tips mengupas telur rebus, baik itu telur ayam atau puyuh. Telur bebek saya belum percah coba. Yang sudah pasti tidak bisa sih  telur yang katanya keluar dari seorang kakek di Jakarta itu.

Langkah 1. Sebelum dikupas, tentu saja telurnya harus direbus terlebih dahulu. Kalau tidak direbus, ya jadinya bukan telur rebus.

Langkah 2. Masukkan telur ke dalam panci yang berisi air dingin. Sebaiknya sih pancinya yang bertutup, tapi jangan lupa sisakan sedikit lubang di tutupnya.

Langkah 3. Gunakan  mulai dari api kecil, biarkan air mendidih perlahan. Jangan terlalu besar ya, kalau api yang digunakan terlalu besar, nanti cangkang telurnya bisa retak/cracking.

Langkah 4. Tambahkan  1/2 sdt garam, untuk mencegah cracking. Selain itu garam juga bisa membuat cangkang telur lebih mudah dikupas.

Langkah 5. Telur matang sempurna setelah air mendidih kurang lebih selama 5 menit (3 menit setelah air mendidih telur menjadi 1/2 matang, 5 menit setelah air mendidih telur menjadi matang) Kalau telur terlalu lama direbus, kulit ari telur akan menyatu dengan putih telur sehingga menyulitkan pengupasan).

Langkah 6. Ketika telur sudah matang, kurangi panas sedikit demi sedikit sehingga temperatur telur tetap terjaga. Biarkan sampai airnya dingin setidaknya 10-15 menit.

Nah, bagi yang tidak sabaran seperti saya, menunggu 10-15 menit ini cukup lama rasanya. Untuk mempercepat proses pendinginan, telur yang sudah matang ini kemudian dimasukkan ke dalam air dingin dan biarkan sampai cangkangnya benar-benar dingin. Kulit telur yang panas akan rapuh jika tiba tiba di beri air dingin. Masih kurang cepat? Tambahkan es batu atau pakai air dingin dari kulkas!

Hasilnya? Telur bisa dikupas dengan sempurna… eh, tapi perasaan tadi telur puyuh yang direbus ada 20… koq sekarang gak ada satupun ya???

Hadeuuuh… ini sih selesai dikupas langsung dimakan! Dasar bocah! Maaf ya, gak ada fotonya… barang bukti sudah lenyap :))

Continue Reading

Camping yuk??? :D

“Mah, Teteh juga mau camping kaya’ Mamah”, kata Teteh sewaktu melihat saya tersenyum-senyum sendiri membaca komentar teman-teman di foto profil facebook saya.

1454896_571303859665766_3893412804334706980_n
tebak saya yang mana??? 😀

Dulu, saya memang sempat beberapa kali naik gunung bersama teman-teman. Perjalanan terjauh saya hanya sampai ke Gunung Gede – Pangrango. Kalau tidak salah ingat, saya sudah 3 kali naik ke puncak Gunung Gede – Pangrango. Sementara perjalanan terlama adalah ketika menempuh pendidikan dasar kelompok pecinta alam GANALA dari Kiarapayung, Jatinangor sampai ke Maribaya, Lembang lanjut ke Dago selama 5 hari. Setelah saya lulus pendidikan dasar, tahun berikutnya saya juga mengikuti perjalanan yang sama bersama adik kelas saya. Tidak seperti teman-teman lain, saya belum pernah ikut perjalanan ke luar Jawa Barat apalagi lintas pulau. Soalnya susah dapat ijin dari orang tua hehehe…

Meski sudah bertahun-tahun yang lalu, tapi pengalaman selama nge-camp bersama teman-teman ini sangat berkesan dan menyenangkan. Banyak hal-hal yang tidak saya peroleh dari bangku sekolah/kuliah. Misalnya, bagaimana bertahan hidup dengan logistik seadanya selama berhari-hari (survival). Yang lebih menyedihkan adalah saat ene*gen yang saya sembunyikan malah ketahuan oleh senior. Kalau membayangkan keadaan saat survival ini sih, aduh… gak lagi-lagi deh.

Yang ingin saya ulangi saat ini sih hanya melakukan perjalanan ke gunung dan camping, kalau bisa bersama teman-teman seperti dulu. Masalahnya, kalau dulu saya susah mendapat ijin dari orangtua, sekarang setelah jadi orangtua malah susah mendapatkan ijin dari anak-anak. Maklum saja, bagi anak-anak… saya adalah ibu peri baik hati. Makanya kemana-mana ditempel terus -_-

Kalau saya sendiri susah meninggalkan anak-anak, kenapa tidak menghabiskan waktu untuk berkemah bersama mereka saja? Toh selama ini mereka sering berkreasi dengan kain-kain panjang untuk menyelimuti kolong meja dan bermain di dalamnya. Lagipula sekarang saya sudah tinggal di gunung hihihi.

Mumpung hadiah ngeblog beberapa waktu yang lalu sudah cair, sekarang saatnya mewujudkan imajinasi itu dengan berkemah yang lebih nyata. Kemah ini bukan untuk bertahan hidup, tapi sebagai wisata keluarga.

Tapi sebelum merencanakan kemah bersama anak-anak, tentunya banyak hal yang harus dipersiapkan.

Misalnya lokasi camping. Yang paling mudah dan irit tentunya berkemah di pekarangan rumah sendiri. Nah, kalau mau camping di pekarangan rumah sendiri, tidak mungkin donk pakai kain panjang yang dibentang-bentangkan. Dalam rangka memenuhi janji saya kepada anak-anak kalau hadiah ngeblognya sudah cair, saya pun membelikan tenda kecil untuk mereka.

1402_374749569321197_9102957_n1174917_374751102654377_1959536013_n

Sebetulnya kalau ingin petualangan lebih seru, bisa sih memilih alam terbuka khusus untuk berkemah, seperti bumi perkemahan atau lahan perkemahan. Apalagi di dekat rumah kami ini cukup banyak bumi perkemahan, misalnya di Ciater atau di Lembang. Dibandingkan bumi perkemahan, lahan perkemahan lebih kecil dan biasanya dikelola keluarga. Kalau mau berkemah di lahan perkemahan, sebelumnya hubungi pengelola untuk memesan tempat dan memastikan fasilitas air bersih, sanitasi, serta penerangan tersedia. Sebagian besar pengelola memberikan sumber listrik secara gratis atau dengan biaya kecil. Sebagian yang lain bahkan menyediakan mesin cuci yang bagus bagi penyewa yang berkemah cukup lama.

Tapi bukan berarti camping di pekarangan juga kurang seru. Agar lebih seru, bisa koq ajak tetangga dekat berkemah bersama, memanfaatkan lahan kosong di lingkungan sendiri bersama tetangga.

Persiapan perlengkapan camping pada prinsipnya adalah seminimal mungkin tanpa mempersulit kita. Panduan perlengkapan camping pada situs Pramuka Indonesia bisa dibilang cukup lengkap dan bisa disederhanakan untuk tujuan camping rekreasi, mencakup:

  • Tenda, alas tidur, dan selimut
  • Pakaian secukupnya
  • Sepatu dan kaos kaki sesuai medan
  • Jaket atau penghangat tubuh lain
  • Perlengkapan ibadah
  • Perlengkapan P3K
  • Alat makan plastik
  • Peralatan memasak: kompor parafin atau spiritus, korek api, panci
  • Bahan makanan
  • Senter dan alat penerangan portabel
  • Perlengkapan mandi
  • Payung atau jas hujan

Saya meminta Ceuceu dan Teteh menyiapkan semua keperluan di atas sendiri. Saya hanya perlu mengecek kembali. Kalau semua sudah siap, sekarang tiba saatnya camping. Yang namanya camping kurang seru kalau tidak ada api unggun. Membuat api unggun tentu perlu ranting pohon. Tak perlu menyuruh dua kali, Ceuceu, Teteh dan Ade dengan semangat mengumpulkan ranting-ranting pohon untuk api unggun. Mereka juga membantu mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam. Selain menyibukkan mereka dengan aktivitas pokok, kita bisa memanfaatkan siang hari untuk memperkenalkan mereka pada alam dan lingkungan dengan menjelajah area sekitar. Ada baiknya daftar kegiatan dibuat sebelum berangkat dengan alternatif untuk mengantisipasi perubahan cuaca. O iya, sebaiknya camping ini dilakukan bukan di musim hujan. Bisa gawat kalau sedang tidur pulas tengah malam kemudian turun hujan besar!

Camping juga tidak seru kalau tidak kotor-kotoran. Bukan hanya saat berkemah, kegiatan sehari-hari saja anak-anak hobi sekali main kotor-kotoran. Untuk mengajarkan anak-anak nilai tanggung jawab, saya seringkali meminta anak-anak mencucikan baju bekas berlibur, termasuk bekas berkemah seperti ini.

Bukan eksploitasi anak koq. Tenang saja, kami menggunakan mesin cuci yang didesain praktis dan ekonomis. Sebelumnya anak-anak bisa diminta bantuan memisahkan pakaian sangat kotor atau bahkan berlumpur dari pakaian yang tidak terlalu kotor. Kemudian  masukkan baju ke dalam mesin cuci, dan ikuti petunjuk mencuci memakai mesin cuci yang bagus agar cepat selesai dalam keadaan bersih.

10339781_587489501380535_539580215150217141_n

Ya, mudah-mudahan acara camping ini bisa menambah pengalaman anak-anak, saya pun bisa bernostalgia camping di tenda… meski hanya di pekarangan rumah hehehe

Continue Reading

Donor Darah : ACCEPTED!

Setelah ditolak donor darah yang keempat kalinya (baca Donor Darah : FAILED!!!), saya bertekad memperbaiki pola tidur dan pola makan yang selama ini saya jalani. Termasuk makan sayuran hiijau yang tadinya sulit mengisi perut saya.

Rasanya tidak rela saja kalau suami yang baru jadi pendonor beberapa tahun belakangan ini menyusul saya yang sudah mendonor sejak saya masih muda. Eh, lho… sekarang juga masih muda koq -_-

Sayangnya perubahan pola makan dan pola tidur ini juga mempengaruhi berat badan. Bulan Mei 2014 yang lalu berat badan saya masih 55 kilogram, dan 5 bulan kemudian menjadi 62 kilogram… hiks… Bertambahnya berat badan ini wajar mengingat saya semakin banyak makan dan tidur sementara olahraga tidak pernah sedikitpun saya jalani hehehe

2,5 bulan kemarin, ketika sudah tiba waktunya suami donor darah, suami malah lupa mengajak saya. Saya sih curiga, jangan-jangan suami sengaja tidak mengajak saya, agar bisa menyusul saya. Hanya terpaut 4 kali donor antara saya dan suami.

Minggu kemarin, saya ke Bandung, rencananya menengok Abah dan Nene yang kabarnya sedang sakit. Kebetulan sudah agak lama juga tidak ke rumah Abah dan Nene. Di tengah perjalanan, suami mengajak saya sekalian mampir ke PMI.

Hmmm… semalam kurang tidur sih. Saya baru tidur jam 1, tapi ya cukuplah. Lagipula masih bisa melanjutkan tidur di mobil, sementara suami jadi sopir :))

Dari rumah Abah dan Nene, sebelum pulang kami mampir dulu ke PMI. Seperti biasa, mengisi formulir dan ditimbang berat badan. Saya tidak membawa kartu donor, karena memang tidak berencana donor.

Saat menjalani pemeriksaan dokter, pertanyaan-pertanyaan ibu dokter saya jawab dengan jujur, termasuk soal jumlah waktu tidur semalam. Dokter bilang sih segitu masih kurang, tapi bagi saya itu sudah cukup. Alhamdulillah, kali ini normal… tekanan darah saya 120/80.

Setelah sukses melewati pemeriksaan dokter, ini nih yang membuat deg-degan. Periksa hb! Ya, rencana donor terakhir terpaksa buyar gara-gara hb yang rendah.

10436084_576787335784085_175339886471261866_n

Saya tidak mau melihat jalannya pemeriksaan, bukan karena takut ditusuk jarum di ujung jari… tapi…

“Saya gak mau liat pak, takut hb-nya kurang… itu berapa, pak??”

“12,7 bu… boleh donor”

“Alhamdulillah… pak, saya udah berkali-kali ditolak donor! Baru kali ini boleh!”, saking gembiranya saya sampai terloncat dari kursi.

“Alhamdulillah bu, perjuangan ya bu… akhirnya boleh”

Ahahaha… senangnya kali ini boleh donor. Kalau kondisi kesehatan bisa dipertahankan (apalagi gak pake hamil & menyusui… 3x udah dulu lah yaa :p), yakin gak bakal kebalap sama suami…. Eh, ini juga kalau suami gak lupa/sengaja lupa ngajak donor. Yang lebih pasti lagi, donor gak donor, berat badan saya pasti bakal semakin bertambah… heuheuheuheu 😀 😀

10660192_576793649116787_6275541862643796234_n

P_20141020_162558

Btw, ada yang baru nih di PMI Bandung. Kalau biasanya setelah donor, pendonor mendapatkan goodie bag berisi snack dan minuman, sekarang diganti jadi dine in, menunya bubur ayam + teh manis dianterin ke meja sama petugas pantry yang berseragam khusus seperti di hotel.

10689691_590557284407090_4552248936988127244_n

Peningkatan pelayanan seperti ini bagus sih, jadi berasa di hotel…  Hanya saja bagi saya yang seringkali membawa goodie bag sebagai oleh-oleh bagi anak-anak, jadinya gak bawa apa-apa. Sengaja goodie bag nya dijadikan oleh-oleh sebagai pemicu agar kelak anak-anak juga mau ngedonor. Tapi gak apa-apa deh… yang penting masih ada yang bisa dibawa pulang. Apalagi kalo bukan ini…

10383029_590557254407093_5967010941559573317_nBungkuuuuuusssss!!! :))))

Continue Reading