Pentingnya Air Bersih Untuk Hidup Yang Lebih Sehat

Keceriaan anak-anak di kolam renang Cibinong, sumber gambar : dokpri

IMG_7072(1)

Alhamdulillah, tulisan ini mendapatkan penghargaan sebagai

JUARA 1 ANUGERAH JURNALISTIK AQUA 2014 KATEGORI KARYA TULIS UMUM

23 Oktober 2014, Erasmus Huis Jakarta

Malam itu seperti biasa saya menemani anak-anak belajar di kamar sambil menunggu adzan Isya. Sementara suami baru saja pulang dari kantor. Segelas teh manis hangat sudah saya siapkan di meja. Begitu pun dengan piring dan lauk pauk untuk makan malam. Nasinya tinggal ambil sendiri di alat penanak nasi otomatis.

“Mah, mah… sini cepet!”, setengah berteriak suami yang sedang mengambil nasi memanggil saya.

“Apaan?”, tergopoh-gopoh saya segera menghampiri suami.

“Kata Mamah, ini bau gak?”, tanya suami sambil menyodorkan nasi di piring untuk saya cium baunya.

Segera saya cium nasi itu, dan ternyata memang benar tercium bau tidak enak. Teksturnya juga sudah berubah, sedikit berlendir. Jelas kalau nasi sudah basi.

“Ih… iya. Kenapa ya? Padahal ini nasi baru dimasak tadi pagi. Tadi siang anak-anak makan masih bagus. Terus gimana donk? Sekarang masak nasi lagi ya? Tapi nunggu lama”.

“Gak usah, ini saja. Belum terlalu basi koq”, suami kemudian menambahkan lauk pauk ke atas nasi yang sudah diambilnya tadi.

Tapi saya tetap mencuci beras untuk dimasak, anak-anak memang belum akan makan malam segera, PRnya belum selesai.

Suami menyarankan saya memeriksa alat penanak nasi yang sudah cukup lama kami miliki ini. Meski sedikit mengalami kerusakan di bagian engsel penutupnya, sebetulnya alat penanak nasi ini masih berfungsi cukup baik.

“Coba lihat, siapa tahu ada uap yang terperangkap dan kembali lagi ke bawah. Atau barangkali harus kembali masak nasi manual, pake langseng… bisa gitu pakenya???”, tanya suami dengan tatapan penuh keraguan.

Waduh… pakai langseng? Belum apa-apa sudah terbayang kerepotan yang akan saya hadapi kalau harus menanak nasi dengan langseng. Bukankah teknologi dicpitakan untuk mempermudah kerja manusia, termasuk urusan menanak nasi.

Sementara suami terpaksa makan malam dengan nasi yang bau dan basi.

Continue Reading

Agar tak kecewa saat membeli buku…

Sekarang sudah hari Minggu, janji saya membawa Ceuceu membeli buku di Pameran buku Bandung 2014 Sabtu kemarin belum terlaksanakan. Insha Allah siang nanti baru berangkat…

Tapi sebelum membeli buku, saya harus siap-siap dulu nih. Jangan sampai kebobolan dan kecewa setelah buku di pameran berpindah tempat ke rak buku Ceuceu.

Saat membeli buku, yang jadi pertimbangan pertama kali adalah reviewnya. Kalau menarik ya beli. Tapi seringkali saat berkunjung ke toko buku atau pameran, apalagi banyak diskon, mata mendadak jadi lapar. Buku yang tadinya tidak ada dalam rencana, akhirnya malah dibeli. Pas dibuka dan dibaca, eh ternyata kecewa. Kalau sekarang saya sendiri jarang membeli buku. Membeli buku lebih diutamakan untuk anak-anak. Agar anak-anak semakin sering membaca buku.

Pernah merasa kecewa setelah membeli sebuah buku, gak? Tidak jarang buku yang sudah saya beli, hanya dibaca beberapa halaman saja. Kemudian teronggok tanpa disentuh lagi. Baru baca sedikit saja sudah mengantuk.

Selain isinya yang kurang memuaskan, bahasanya sulit dipahami, berbelit-belit dan membosankan, ada juga buku yang ejaannya banyak yang salah, ada halaman kosong, kertasnya yang buram, tulisannya terlalu kecil atau terlalu besar, ilustrasi covernya yang terkesan menipu, atau bahkan bukunya yang ternyata bajakan. Lho, memang ada ya yang membajak buku? Ada tuh, ternyata bukan hanya film dan lagu saja yang dibajak. Menurut seorang teman yang sudah menulis banyak buku, cukup banyak buku yang dibajak. Padahal masih kata teman saya yang penulis itu, royalti buku tidaklah seberapa.

Terus, gimana donk agar tidak kecewa saat membeli buku? Selain mencari dan melihat reviewnya sebelum membeli, ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi ini, diantaranya adalah :

  • Membeli buku teman. Tak kenal maka tak sayang. Begitu kata pepatah. Demikian juga ketika membeli buku. Kalau kita sudah mengenal pengarang buku tersebut, tentunya kita tahu sejauhmana kualitas buku yang ditulisnya. Membeli buku teman juga bisa berarti sebagai apresiasi atas karyanya. Kalau tidak berteman bagaimana ya? Sekarang ini banyak koq cara untuk mengenal pengarang lebih jauh, lewat media sosial misalnya. Atau memilih buku yang ditulis oleh seorang penulis yang memiliki keahlian di bidangnya
  • Memilih genre buku. Ini penting buat kita yang mau membeli buku tanpa tujuan, semisal gara-gara diskon jadi ngiler dan tergoda ingin memiliki buku itu. Apakah genre bukunya sesuai dengan yang kita minati? Termasuk genre apakah buku itu? Pendidikan, parenting, psikologi, romance, thriller, pendidikan, reliji, sastra, teenlit, novel popular, dan lain sebagainya
  • Mengenal Penerbit. Di Indonesia ada ribuan penerbit. Seperti yang saya tulis kemarin, penerbit yang tergabung pada IKAPI saja ada 1.216 penertbit, dengan jumlah penerbit aktif sebanyak 800. Namun tidak semua penerbit memiliki kemampuan untuk menerbitkan buku yang berkualitas. Biasanya penerbit yang sudah cukup lama, memiliki kemampuan tersebut. Penerbit yang berpengalaman pun umumnya selektif dan memiliki penulis-penulis buku yang baik. Jadi, carilah buku yang diterbitkan oleh penerbit yang berpengalaman dan buku-bukunya terkenal berkualitas. Info buku dan penulis juga bisa diperoleh melalui akun penerbit di media sosial.  Ada banyak akun penerbit seperti @stiletto_book , @GagasMedia, @DivaPress , @nulisbuku, dan masih banyak lagi.
  • Mengenal  desain buku. Coba lihat sepintas isi buku, apakah memudahkan kita membacanya ataukah tidak. Desain yang ditata dengan baik dan indah akan membantu pembaca untuk memahami isi buku dengan lebih baik.P erhatikan juga teks atau huruf isi buku tersebut. Syarat buku yang berkualitas, baik teks isi maupun jenis huruf bukunya membantu pembaca untuk menyerap isi buku tersebut. Sebaiknya, hurufnya tidak terlalu besar ataupun tidak terlalu kecil. Sementara, tipografi atau bentuk hurufnya sederhana namun jelas.
  • Lihat ilustrasi. Saat ini, buku-buku tidak hanya berisi huruf-huruf saja. Apalagi buku untuk anak-anak yang memang sebaiknya didesain dengan banyak gambar untuk menarik perhatian anak. Selain itu penambahan ilustrasi pada buku juga akan memudahkan pembaca lebih memahami isi tulisan. Perlu dilihat apakah ilustrasinya mendukung isi buku ataukah tidak. Percuma saja ilustrasinya bagus, tetapi ilustrasi tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang diterangkan dalam buku. Sebaliknya, meski ilustrasi tersebut sesuai isi buku, jika tidak menarik dan jelas, justru akan mengganggu keseluruhan buku.
  • Lihat sampul/cover buku. Sampul/cover seharusnya mampu mencerminkan isi buku. Kalau sampul bukunya saja sudah tidak menarik, asal-asalan, mudah rusak, bagaimana kita bisa yakin jika buku tersebut berkualitas? Buku yang baik seharusnya memiliki cover yang memiliki desain menarik dan terbuat dari bahan yang kuat atau tidak gampang rusak.
  • Lihat  sinopsisnya. Selain melihat review dari orang yang telah membaca buku tersebut, tak ada salahnya kita juga membaca sinopsis yang berupa ringkasan isi buku beserta kelebihan-kelebihannya. Biasanya isi sinopsis ini ditampilkan pada sampul belakang buku. Cara tersebut akan berguna untuk memastikan bahwa buku tersebut memang sesuai dengan kebutuhan kita.
  • Bergabung di klub buku. Wawasan kita akan semakin luas dengan bergabung di klub buku. Kita bisa ikut sharing, review, atau mencari rekomendasi bacaan yang bagus.

Ternyata tidak susah ya kalau kita mau sedikit jeli memilih buku yang berkualitas. Masalahnya, bagaimana sih proses buku berkualitas ini bisa terbit?

Tentunya ini melibatkan banyak pihak, bukan hanya penerbit dan penulis. Seorang teman yang kebetulan sudah menerbitkan sebuah buku dengan penerbit besar menceritakan perjuangannya sampai dititik ini.

Setelah penulis selesai menulis naskah dan sampai ke tangan editor, editor kemudian melakukan proses mengedit tulisan atau hasil terjemahan. Beberapa waktu yang lalu, ada penerbit besar yang menerbitkan komik serial pengetahuan terjemahan. Sayangnya ada materi yang entah sengaja atau tidak bisa lolos edit. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, “Ini kemana sih editornya? Ngapain aja? Jangan-jangan gak dibaca??”. Di sinilah perlu editor yang handal dan mumpuni. 

Naskah yang sudah diedit ini kemudian proses menunggu persetujuan dari penerbit. Dengan menghitung untung rugi dan perkiraan bukunya sesuai dengan permintaan pasar atau tidak, penerbit akan menentukan buku ini lolos terbit atau tidak. Kalau penerbit setuju, ya buku itu kemudian dicetak dan dipasarkan. Tapi kalau tidak, ya naskah dikembalikan kepada penulis.

Bisa jadi penulis sudah memilih tema yang bagus dengan kualitas yang juga bagus, namun tetap saja peran editor dan penerbit yang menentukan. Seringkali hal ini menjadi sandungan bagi penulis, sehingga sekarang menjamur buku-buku yang terbit melalui self-publisher.

Sayangnya buku-buku self-publisher ini seringkali terbatas pemasarannya. Wajar saja, kalau penerbit besar jaringannya kan luas.

Ya, seperti yang telah saya tulis kemarin. proses mencerdaskan bangsa memang bukan hanya tugas satu pihak saja. Perlu kerjasama dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, penulis, editor, dan juga penerbit.

Tak ada salahnya IKAPI sebagai wadah penerbit di Indonesia terus berusaha merangkul semua penerbit di Indonesia, baik penerbit mayor maupun minor untuk tetap berjuang bersama mencerdaskan bangsa.

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Blog #PameranBukuBdg2014 yang diadakan IKAPI Jabar dan Syaamil Quran

http://syaamilquran.com/wp-content/uploads/widget-lomba.jpg
Continue Reading

IKAPI Untuk Kecerdasan Bangsa

Siapa yang masih ingat dengan slogan “You’re what you eat”? Slogan ini muncul karena apapun yang kita makan dan masukkan ke dalam tubuh, maka itulah yang akan “terpancar” ke luar. Memilih bahan makanan yang baik tentunya akan berdampak baik bagi kesehatan tubuh kita. Sebaliknya, jika kita memilih asupan yang berkualitas buruk, jangan heran jika tubuh kita pun akan rentan terhadap penyakit.

Begitu juga dengan intelektualitas seseorang. Sikap intelektual berkaitan erat dengan bacaan yang dikonsumsi sehari-hari. Jika kita menelusuri sejarah, maka kita akan menemukan bahwa para  founding fathers Indonesia dan juga banyak pemimpin dunia merupakan “kutu buku”.

Sebut saja misalnya Soekarno, Hatta, Syahrir, Yamin, Amir Sjarifoeddin, Sutan Takdir Alisjahbana, M. Jusuf Ahmad, Napoleon Bonaparte, bahkan pendiri negara Amerika, Thomas Jefferson juga seorang kutu buku.

Bacaan/buku yang bagus bisa menyergap dan menyerap pikiran dan perasaan si pembaca. Selain itu pembaca juga bisa merasakan pengalaman pengarang yang tertuang di dalam buku. Melalui membaca, pembaca menjadi tahu apa yang tadinya tidak diketahui. Bacaan juga dapat menghubungkan dunia masa lalu yang sangat berbeda dengan dunia pembaca di masa kini.

Peran IKAPI untuk mencerdaskan bangsa

Hadirnya sebuah buku atau bacaan di tengah masyarakat tentunya tidak terlepas dari peran penulis dan juga penerbit, baik penerbit besar ataupun penerbit kecil. Sampai kini ada 1.226 penerbit yang terdaftar sebagai anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).

Di antara penerbit itu, 800 diantaranya tercatat sebagai penerbit aktif. Penerbit aktif terpusat di 24 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia. Sekitar 1.097 penerbit berada di Pulau Jawa. Keseluruhan penerbit adalah penerbit swasta dan hanya satu penerbit yang tercatat sebagai badan usaha milik negara (BUMN) yaitu Balai Pustaka.

Sebagai wadah penerbit di Indonesia, IKAPI yang didirikan pada tanggal 17 Mei 1950 di Jakarta, merumuskan satu konsep cetak biru cita-cita IKAPI dalam mencerdaskan bangsa dan memajukan perbukuan nasional.

Berikut rumusan Panca Daya IKAPI:

  • usaha memperluas kesempatan membaca dan memperbesar golongan pembaca dengan jalan mendirikan perpustakaan desa;
  • usaha mengembangkan penerbitan buku pendidikan dan pengajaran dengan menarik biaya alat pengajaran;
  • usaha menyebarkan hasil cipta sastrawan indonesia dengan jalan mengekspor hak cipta dan mengekspor buku;
  • usaha melindungi hak cipta serta membantu penerbitan buku universitas dan buku-buku kategori kesusastraan;
  • usaha mengembangkan industri grafika bagi keperluan pencetakan buku.

Dari rumusan Panca Daya IKAPI  tersebut jelas benang merahnya adalah membaca. Sayangnya di negeri ini aktivitas membaca belum tergiatkan. Belum banyak yang menjadikan membaca sebagai menu wajib keseharian. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya buku yang beredar di Indonesia.

Hanya ada sekitar 30.000 judul buku baru per tahun untuk mengcover penduduk Indonesia yang telah mencapai 240 juta jiwa. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan Jepang yang mencapai 40.000 judul buku per tahun, India 60.000, dan China sekitar 140.000 judul buku per tahun.

Sementara jumlah buku yang terjual berdasarkan data dari IKAPI sepanjang tahun 2013 sebesar 33.199.557 eksemplar buku. Rendahnya angka penjualan buku ini  bisa jadi dikarenakan kalangan muda Indonesia yang mencapai kurang lebih 30% jumlah penduduk atau sekitar 75 juta jiwa lebih memilih akrab dengan media sosial dibanding dengan buku.

Terlebih kondisi ekonomi yang membuat orang Indonesia kini lebih mementingkan prioritas utama dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Mahalnya harga-harga kebutuhan pokok membuat banyak orang menahan diri untuk membeli buku yang harganya mencapai puluhan ribu. Bahkan terkadang untuk membeli koran yang harganya ribuan rupiah pun masih menimbang terlebih dulu.

Kondisi perekenomian seperti ini secara tidak langsung menyulitkan pihak-pihak yang berhubungan dengan penerbitan sebuah buku, konsumen dan produsen, dalam hal ini penerbit. Penerbit tentunya mempertimbangkan untung rugi bahkan masalah pembajakan. Jika buku memang tidak menarik dan tidak berkepentingan, maka dijamin buku-buku tersebut hanya akan teronggok di rak-rak toko buku.

Menghadapi masalah seperti ini IKAPI  tidak menyerah begitu saja. IKAPI sudah meminta pemerintah turut campur dalam hal harga kertas. Selama ini pemerintah dianggap tidak turut berperan mengendalikan harga kertas hingga jauh melambung dan tidak terjangkau.

IKAPI juga banyak mengadakan kegiatan-kegiatan seperti pameran/pesta buku di berbagai kota untuk lebih mendekatkan buku dengan masyarakat.

Proses mencerdaskan bangsa melalui buku memang tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Perlu kerjasama dari banyak pihak.

Banyak hal yang bisa dilakukan bersama-sama antara IKAPI, Penerbit, Masyarakat maupun Pemerintah untuk lebih meningkatkan minat baca adalah :

  • Membuat edukasi kepada masyarakat yang berisi penyadaran pada masyarakat arti pentingnya membaca. Edukasi ini bisa dilakukan ke sekolah-sekolah, desa atau kantor pemerintahan lain. Tentunya edukasi dikemas dengan acara yang menarik dan tidak membosankan. Mendatangkan penulis-penulis acara seperti ini juga bisa membuat masyarakat lebih tertarik membaca buku.
  • Perlu adanya gerakan atau aksi nyata. Misalnya melalui Gerakan Nasional Pembudayaan Gemar Membaca, “Membaca buku di mana pun dan kapan pun”. Para pecinta literature sebaiknya membiasakan diri memberi contoh kepada masyarakat. Seperti yang terlihat di Jepang, banyak yang membaca buku di kereta api, sambil menunggu bis, di taman  dan di kafe-kafe.
  • Tak ada salahnya mengadakan gerakan massal seperti “1000 sepatu untuk anak sekolah”, “1000 lampu untuk desa”, atau kegiatan lain yang serupa. Melalui gerakan “1 anak 1 buku”, setiap orang bisa memiliki buku, One Man One Book.
  • Mengadakan pelatihan untuk penulis maupun masyarakat umum, agar tercipta buku yang berkualitas. Sebagai output, setelah pelatihan IKAPI juga bisa memfasilitasi penulis yang hendak menerbitkan buku.
  • Memotivasi masyarakat untuk senantiasa cinta buku dan cinta membaca dengan menyediakan fasilitas seperti rumah baca, perpustakaan keliling, motor baca keliling dan lain sebagainya di berbagai sudut kota maupun desa.

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Blog #PameranBukuBdg2014 yang diadakan IKAPI Jabar dan Syaamil Quran

http://syaamilquran.com/wp-content/uploads/widget-lomba.jpg
Continue Reading

Smartphone + Smartpeople = Smartlive

“Duh, hpku jam pasir mulu nih. Jadi susah kalau mau ikut ngobrol di grup whatsapp. Berat banget”, keluh Indri.

“Yah, itu sih emang penyakitnya. Ganti donk sama hp kaya’ punyaku ini”, kata Mia sambil menunjukkan gadget keluaran terbaru pabrikan ternama miliknya.

“Emang ada aplikasi apa aja sih? Aku cuma perlu buat push email sama chat, medsos sesekali lah”, tanya Indri.

“Ya, yang aku pake juga cuma itu sih… Chat sama medsos doank malah. Gaul donk! Eksis di mana-mana… hehe”, Mia hanya bisa cengengesan menjawab pertanyaan Indri.

“Aku lebih butuh hp buat kerja, jawab email ini itu. Smartphone bukan cuma buat gaya doank kali”, timpal Indri.

Eh, tapi hpku ini suka dipake belajar juga sama anakku. Ada aplikasi do’a harian, tilawah, banyak deh. Jadi bukan cuma gaya doank aku punya hp ini”, Mia buru-buru mengoreksi jawabannya tadi.

Seberapa penting gadget dalam kehidupan?

Dulu kita hanya mengandalkan televisi, radio, dan media cetak untuk update berita, kemudian dunia informasi dan komunikasi dibantu dengan adanya komputer dan internet. Sekarang banyak media elektronik yang bisa diakses dengan mudah melalui smartphone. Bukan hal yang aneh lagi ketika menjelang tidur atau bangun tidur, benda terdekat yang ada di samping kita adalah smartphone.

Perkembangan informasi dan komunikasi yang begitu cepat membuat kita selalu ingin update hal-hal terbaru yang ada di luar secepat mungkin.

Dan ini didukung oleh perkembangan gadget dari masa ke masa yang sangat cepat, bahkan boleh dibilang hampir tidak bisa disamai dengan perkembangan teknologi apapun. Bayangkan saja, baru bulan kemarin pabrikan A mengumumkan teknologi terbaru yang disematkan di  smartphone/gadget  teranyar yang dikeluarkannya dengan harga yang tentu saja mahal. Tak lama banyak beredar gadget yang memiliki teknologi setara dengan harga yang jauh lebih murah.

Sejurus kemudian, pabrikan B mengadakan acara peluncuran  smartphone/gadget dengan teknologi yang lebih canggih. Begitu seterusnya.

Setiap pabrikan tak pernah berhenti melakukan riset terhadap keinginan pasar, memenuhi keinginan pasar. Masalahnya keinginan pasar pun selalu berkembang dan tidak pernah puas dengan produk yang sudah ada.

Tak jarang kita pun seringkali kita tergoda untuk memiliki smartphone/gadget keluaran terbaru.

Smartphone/gadget tak bisa lepas dari konten dan aplikasi yang bisa disematkan. Rasanya sayang jika smartphone/gadget dengan teknologi canggih hanya dipakai untuk menerima/mengirim email, chat atau bermain games. Kalau sudah begini, smartphone menjadi tidak smart lagi.

Padahal tidak hanya teknologi canggih dan terkini, produsen gadget pun terus melakukan inovasi dengan melahirkan konten-konten yang menarik. Beberapa gadget kemudian muncul dengan konten khusus (bundling) sehingga konten tersebut tidak bisa didapatkan pada gadget pabrikan lain. Selain teknologi yang canggih dan aplikasi/konten yang sudah bundling dengan gadget/smartphone yang ada, aplikasi tambahan pun terus bermunculan untuk melengkapi smartphone/gadget.  Ada ribuan aplikasi yang bisa diunduh dengan gratis dan tak kurang dari 400.000 aplikasi yang diunduh setiap harinya.

Dengan adanya aplikasi/konten yang menarik itu, bukan hanya orang-orang kantoran, mahasiswa, atau pebisnis saja yang memerlukan smartphone/gadget. Bahkan ibu-ibu rumah tangga juga membutuhkannya. Meski bukan berupa bantuan tenaga, smartphone bisa membuat pekerjaan ibu-ibu rumah tangga yang bisa dibilang bekerja selama 24 jam penuh lebih efektif dan efisien.

Misalnya ketika saya kebingungan dengan menu masakan hari ini, saya tinggal menggunakan smartphone yang saya miliki, kemudian mencari dan memilih berbagai resep yang tersedia di internet.

Saya juga bisa mengatur berbagai jadwal dan agenda harian/mingguan/bulanan melalui smartphone. Sehingga saya tidak perlu takut terlewat satu pun jadwal yang sudah saya buat.

Atau ketika anak saya bertanya mengenai tugas yang diberikan di sekolah, saya pun tinggal membuka layanan pencari dan menemukan jawaban pertanyaan anak saya.

Tak terkecuali urusan belanja, di mana sekarang ini banyak toko online yang membuat kita bisa berbelanja tanpa meninggalkan rumah. Tinggal sekali klik, maka barang yang kita inginkan siap dikirimkan kapan saja.

Bahkan update blog pun sekarang bisa saya lakukan di mana saja.

Sekarang ini smartphone/gadget tidak dapat terpisahkan dari kehidupan. Tapi yang paling penting, bukan hanya handphonenya saja yang pintar, penggunanya pun harus pintar agar bisa menjalani hidup dengan pintar. Aplikasi dan konten yang beredar di pasaran ini tidak hanya aplikasi yang bermanfaat, banyak juga diantaranya yang bisa berakibat negatif terhadap perkembangan emosi dan psikologis anak-anak.

Sebagai konsumen dan orang tua, tentunya kita harus pintar memilih gadget dan juga konten yang bermanfaat untuk anak-anak dan keluarga. Selain sebagai penunjang komunikasi agar berjalan dengan cepat, sebaiknya smartphone/gadget pun mendukung kebutuhan kita untuk beribadah.

Adalah Sygma Creative Media Corporation (Sygma CMC) sebagai perusahaan penerbit Al-Qur’an digital, yang bisa menutup dan memenuhi kebutuhan seperti ini. Melalui produk terbarunya, Syaamil Tabz dan Syaamil Note.

Syaamil Tabz dilengkapi dengan aplikasi Built in Islami yang berisi konten yang sudah didesain sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan ibadah umat Islam, seperti bacaan sholat, ayat-ayat Al-Quran dan Al-Hadits, dzikir dan do’a, dan pengetahuan Fiqih lainnya.

Tak hanya itu, Syaamil Tabz juga dilengkapi game interaktif tanya jawab seputar pengetahuan agama yang dirancang untuk anak-anak.

Begitupun dengan Syaamil Note, smartphone android yang didalamnya dilengkapi aplikasi built in islami paling lengkap. Dengan Built-in aplikasi seperti Quran Miracle The Practice, Tafsir Ibnu Katsir 30 Juz, Aplikasi Haji dan Umrah, E-book Pustaka Sains Populer Islami, Game A Ba Ta untuk anak, dan masih banyak lagi aplikasi built-in, konten dan bonus yang jika dirupiahkan, maka nilainya mencapai lebih dari Rp 10 juta.

Jika kita bandingkan dengan smartphone lain, ilmu dan manfaat yang diperoleh dari Syaamil Note maupun Syaamil Tabz ini tidak ternilai harganya.

Syaamil Tabz dan Syaamil Note memudahkan kita untuk beribadah dan mempelajari Islam, dimanapun kita berada.

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Blog #PameranBukuBdg2014 yang diadakan IKAPI Jabar dan Syaamil Quran
http://syaamilquran.com/wp-content/uploads/widget-lomba.jpg
Continue Reading

Meningkatkan Potensi Kecerdasan Anak Melalui Buku Anak

Sepulang sekolah kemarin rupanya Teteh teringat janji saya membawanya berkunjung ke Pameran Buku Bandung 2014. Ketika kami masih di atas motor dalam perjalanan pulang ke rumah pun Teteh sudah mengajukan banyak pertanyaan.

“Mah, hari Sabtu jadi kan ke pameran? Teteh boleh beli buku berapa, Mah?”, tanya Teteh.

“Hmm… dua aja ya?”

“Yesss! Kalo Ceuceu berapa?”, masih penasaran Teteh pun kembali bertanya.

“Sama”, jawab saya.

“Tapi nanti boleh kan Teteh pinjem buku Ceuceu?”

Ahaha… Rupanya Teteh merasa dua buku belum cukup.

Saya merasa beruntung memiliki anak-anak yang lebih suka membaca buku dibanding menonton televisi. Ketika teman-temannya dihebohkan dengan tayangan baru di televisi semacam Ganteng-ganteng Serigala, kedua anak saya malah kebingungan.

“Mah, memang ada ya film Ganteng-ganteng Serigala?”, tanya Ceuceu sepulang sekolah.

“Lah, koq Ceuceu tanya Mamah. Mamah kan gak pernah nonton”.

Pulang sekolah, sambil beristirahat melepas penat, Ceuceu lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca. Entah itu komik, komik sains, majalah atau buku cerita anak.

10372751_1417822045159365_5791390604563137227_n

Sagalaherang-20140826-01255 copy Sagalaherang-20140826-01259

Belakangan ini buku anak memang sedang berkembang pesat. Di toko buku, buku anak selalu menjadi buku terlaris yang menempati angka penjualan tertinggi dibanding buku lainnya.

IKAPI melansir data Toko Buku Gramedia, jaringan toko buku terbesar di Indonesia, yang menunjukkan tahun 2012 buku anak terjual hingga 10,97 juta eksemplar dengan hampir 7.000 judul, dan pada 2013 turun sedikit sampai 10,95 juta eksemplar dengan 4.700 judul (Sumber : Tempo)

Jaman dulu, ketika saya masih kecil,  saya hanya mengenal majalah anak-anak seperti Bobo, Donal Bebek, atau Si Kuncung. Sementara buku anak-anak asli Indonesia jarang ditemukan, yang banyak beredar hanya buku anak terjemahan seperti buku-buku Enyd Blyton, Astrid Lindgren, Alfred Hitchcock, atau Laura Ingalls Wilder.

Sekarang bukan sekedar buku anak asli Indonesia, bahkan penulisnya pun anak-anak Indonesia. Seperti Sri Izzati, Keisya dan masih banyak penulis anak lainnya.

Keisya dan buku barunya, sumber : klik di sini
Keisya dan buku barunya, sumber : klik di sini

Dulu buku anak hanya berupa cerita yang diselingi beberapa gambar. Jelas di jaman seperti sekarang ini, buku yang hanya berupa cerita tanpa gambar kurang menarik di mata anak-anak. Anak-anak lebih tertarik dengan tontonan televisi, atau bermain dengan gadget. Meski sebenarnya di gadget pun banyak aplikasi cerita anak yang bisa dengan mudah diunduh.

Mendorong anak agar gemar membaca memang harus didukung banyak pihak. Orang tua, sekolah, lingkungan, dan juga penerbit buku anak. Sehingga anak-anak tidak merasa membaca ini sebagai kewajiban, tetapi kebutuhan. Orang tua perlu menyediakan fasilitas untuk membaca dan mendampingi anak saat membaca. Penerbit pun perlu selektif meloloskan buku yang hendak diterbitkan.

Beberapa waktu yang lalu, dunia medsos gempar dengan adanya temuan buku serial terjemahan yang menyisipkan materi hubungan sesama jenis, sekarang buku tersebut sudah ditarik dari perderan. Padahal buku itu diterbitkan oleh penerbit besar. Saya sendiri memiliki beberapa seri buku serial tersebut, kecuali seri yang ditarik dari peredaran itu.

Anak-anak memerlukan buku-buku yang secara khusus dirancang untuk anak, warnanya atraktif, sedikit tulisan banyak gambar (wordless picture book). Sayangnya buku seperti ini terkadang mahal harganya. Sehingga sulit dijangkau oleh kalangan menengah ke bawah. Sebagai solusi, ada beberapa rumah baca yang menyediakan bacaan gratis untuk anak-anak. Bahkan beberapa waktu yang lalu, ketika saya berkunjung ke rumah orangtua di Bandung, ada motor yang menyediakan bacaan gratis untuk anak-anak di halaman sekolah.

SS 2014-08-27 at 9.38.18 AM

Dengan membaca, anak akan jauh lebih mudah memahami persoalan. Tidak jarang seringkali saya menemukan anak-anak begitu hapal isi buku yang mereka baca.

Ketika pulang sekolah, dengan riang Ceuceu bercerita, bahwa tadi di sekolah Ceuceu berhasil menjawab pertanyaan ibu guru tentang mengapa bulan yang selalu berubah bentuk setiap hari dengan benar.

“Koq Ceuceu tahu? Tahu dari mana?”,

“Kan ada di buku”, kemudian Ceuceu mencari buku yang dimaksud dan menunjukkan halaman di mana dijelaskan alasan bulan berubah bentuk setiap hari.

Atau misalnya ketika saya meminta dicarikan uban yang mulai tumbuh di kepala saya,

“Mah, Teteh tahu kenapa rambut bisa jadi uban”, kata Teteh sambil menelisik setiap helai rambut di kepala saya.

“Kenapa? Karena Mamah udah tua ya?”, tanya saya.

Bukan, soalnya apa sih itu… apa ya namanya, pigmen ya mah? Nah itu katanya kalau mamah udah tua, pigmennya berkurang”.

SS 2014-08-27 at 9.33.26 AM

Ternyata memang benar bahwa buku adalah jendela dunia, anak-anak pun dapat menambah pengetahuan mereka dengan mudah melalui buku. Kalau ada hal-hal berharga yang dapat kita wariskan pada anak-anak, maka percayalah salah satunya adalah kegemaran membaca.  Dan percayalah bahwa kegemaran anak membaca ini layak mendapatkan kucuran investasi waktu dan energi kita.

“Today a reader, tomorrow a leader.” (W. Fusselman)

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Blog #PameranBukuBdg2014 yang diadakan IKAPI Jabar dan Syaamil Quran
http://syaamilquran.com/wp-content/uploads/widget-lomba.jpg
Continue Reading