Asus Zenfone 2 Laser: Desain Elegan, Fitur Menawan dengan Harga Bikin Nyaman

Pernah gak merasa kesal karena kehilangan momen untuk diabadikan? Bukan karena gak ada perangkat yang mendukung, tapi karena sibuk menghidupkan smartphone yang sedang dipegang hanya saja smartphonenya dalam keadaan standby. Atau kamera sudah standby, tapi… susah fokus. Atau kesulitan berpindah ke kamera dari aplikasi yang sedang dipakai karena smartphone mulai lambat.

Saya sering. Sedang jalan bersama suami, ada kejadian unik. Mau laporan di twitter, tekan tombol power, buka smartphone yang terkunci, masuk ke kamera. Pas udah siap jepret… aduh… masih susah fokus. Huaaa… akhirnya malah kelewat tuh. Mobil juga udah jalan. Gak mungkin minta suami berhenti dulu demi saya yang selalu ingin eksis hihi…

Pernah juga pas kumpul keluarga bareng, welfie rame-rame. Sudah susah mengatur pose, yang itupun pakai dempet-dempetan… eh, ternyata gak semua anggota keluarga terbawa dalam foto.

Sebagai ibu masa kini, saya juga tentunya gak mau ketinggalan berita. Meski sudah jarang menonton televisi, saya masih bisa update semua berita lewat timeline yang kadang lebih lengkap dan seru dibanding berita di televisi ahaha. Kalau ada berita hangat di timeline, mendadak saya sibuk buka semua aplikasi medsos. Twitter, Facebook, Path, Instagram, sampai sibuk ngerumpi di Whatsapp.

Selain eksis di medsos, kesibukan lain saya sebagai seorang ibu adalah jadi guru bagi anak-anak. Bukan hanya anak saya saja sih. Karena tiap akhir pekan ada teman-teman Ceuceu yang belajar bersama di rumah. Meski bukan guru betulan tapi saya harus sigap dengan segala pertanyaan dari anak-anak. Baik pertanyaan akademis maupun pertanyaan yang di luar jangkauan. Agar anak tidak  menunggu terlalu lama, saya pun harus segera mencari jawaban. Dari mana? Googling donk. Baca-baca blog teman-teman, atau sekalian minta tolong ke teman-teman dengan membuat pertanyaan di status/lewat grup whatsapp.

Belum cari resep, cari bahan buat ikut lomba, nonton Adam Levine atau tayangan The Voice 9 lewat Youtube, sampai belanja… sekarang hampir semua dilakukan lewat smartphone. Makanya  semua aplikasi pendukung kegiatan sehari-hari saya pasang di smartphone. Aplikasi email, ngeblog, edit foto, game youtube-an, putar lagu, dan tentu saja gak  ketinggalan, medsos. Sayangnya banyaknya aplikasi yang dipakai malah sering membuat smartphone jadi lelet dan kehilangan kecerdasannya.

Yup. Di era digital seperti sekarang ini, mau  reporter,  guru, blogger, pelajar, mahasiswa, tukang ojek, bahkan ibu rumah tangga biasa seperti saya pun harus punya senjata yang mumpuni.

Continue Reading

Asyiknya Lovetalgia dengan LangitMusik

Sebuah lagu yang tidak asing di telinga mengalun dari radio yang sedang saya dengarkan bersama suami di perjalanan pulang menuju rumah. Kaget karena lagu ini lagu sangat lawas. Kami pun lantas bernyanyi bersama…

“Malam makin meninggi, desir angin pun kian terasa…

Anak-anak yang berada di jok belakang pun penasaran… “Koq Mamah sama Papah tau sih lagu ini? Lagu baru ya?”

Yup, lagu Angin malam – Sahara ini memang sama-sama kami sukai. Dirilis di tahun 1993, jauh sebelum kami saling mengenal. Boleh dibilang selera kami soal musik sama. Bisa jadi karena itu pula kami berjodoh hehe

Dulu sebelum saling kenal, saya dan suami sama-sama mengoleksi kaset lagu yang kami sukai. Cara kami menghafal lagu pun sama. Melalui teks yang ada di  bungkus kaset. Sampai-sampai bungkusnya penuh dengan selotip 😀

Tinggal tekan tombol STOP dan REW (rewind) di tape untuk mengulang bagian yang belum dihafal. Atau kalau ada lagu baru yang belum kami punya kasetnya, kami dengar di radio. Caranya? Siapkan dulu secarik kertas dan pulpen. Lalu ketika lagunya diputar oleh penyiar, siap-siap menulis cepat… 😀

Ketika kami pacaran, saya diberi kado berupa walkman“biar makin pinter ngapalin lagu”, begitu kata mantan pacar saya itu.

Walkman kado dari suami… masih awet tapi susah cari kasetnya 😀 (dokpri)

Walkman ini untuk kaset dan juga radio. Sampai sekarang radionya masih bisa dipakai. Pemutar kasetnya juga. Hanya saja saya kesulitan menemukan kaset sekarang.

Continue Reading

Garda Oto “Peace of Mind”, Ketenangan dalam Genggaman

“Pah, motor mogok. Anak-anak disuruh pulang duluan pake ojeg. Mamah dorong motor cari bengkel”

SMS itu saya kirim ke suami. Tak lama kemudian suami memberondong saya dengan banyak pertanyaan.

“Mogok dimana? Kenapa? Udah dicoba diselah? Anak-anak pake ojeg siapa? Di rumah nanti gimana?”

Wajar kalau suami khawatir, anak-anak tidak biasa saya tinggal sekarang malah pulang duluan pakai ojeg, sementara saya masih di jalan mendorong motor mencari bengkel dan entah sampai ke rumah jam berapa.

Continue Reading

Enakin Harimu dengan Nevramin

Pernah tiba-tiba merasa kesemutan atau kram? Ada otot tubuh yang ujug-ujug berkedut? Mata kanan berkedut terus, jangan-jangan mau ketemu saudara jauh ya?

Atau malah sebagian anggota tubuh mati rasa? Saya sering. Gak cukup kesemutan di kaki dan tangan, semut-semut ini mulai mencari tempat di kepala. Karena kesemutan di kaki dan tangan terlalu mainstream.

Rasanya? Gak enak! Sumpah deh.

Saat kaki atau tangan saya mengalami kesemutan, saya tidak bisa menggerakkan kaki dan tangan saya. Begitu juga kalau saya mengalami kesemutan di kepala.

Biasanya kesemutan di kepala ini terjadi setelah saya beraktivitas seperti lari atau bersepeda. Kadang sedang asyik mengetik pun kepala tiba-tiba serasa dikerubungi semut. Akhirnya saya terpaksa menghentikan segala aktivitas. Mencoba menikmati kesemutan yang rasanya  sangat mengganggu.

Barangkali dari situ pulalah lahir istilah kram otak. Tadinya saya pikir kram otak hanya sebuah istilah untuk suatu kondisi yang memerlukan otak bekerja lebih keras. Tapi ternyata kram otak dan juga kesemutan di kepala itu memang ada.

Karena saya cukup sering mengalami kesemutan dan kebas, baik itu di tangan, kaki maupun kepala, saya pun curiga… jangan-jangan saya menderita diabetes? Sampai akhirnya saya memeriksakan diri ke apotek hanya untuk mengecek kadar gula darah. Tapi ternyata kadar gula darah saya masih berada di batas normal.

Lalu, kenapa saya sering kesemutan dan kebas? Ternyata bisa jadi itu tanda-tanda tubuh terkena Neuropati. Lho, memangnya apa sih Neuropati itu?

Continue Reading

Atasi Demam Pada Anak Dengan Tepat

“Awwwww…”, jerit suami membangunkan saya yang baru saja terlelap sambil memeluk Ade yang sedang panas tinggi.

Sontak saya memeluk Ade lebih erat.

Di samping saya, suami meringis kesakitan. Rupanya jarinya digigit Ade.

Aduh! Ade kejang demam! Padahal saya sudah mengompres dahinya sebelum saya terlelap.

Sudah dua malam suhu tubuh Ade meninggi. Selama itu juga saya waspada. Tidur hanya sebentar-sebentar. Tapi saya tetap kecolongan.

Untungnya suami masih terjaga. Melihat Ade menunjukkan gejala kejang, suami lantas memasukkan jari telunjuknya ke mulut Ade. Alhasil, suami kesakitan digigit Ade yang giginya sudah penuh. Suami bilang daripada nanti lidah Ade yang tergigit?

Iya sih. Saat sedang kejang demam, bisa saja Ade mengigit lidahnya sendiri. Ketika Ade kejang demam pertama kali, suami juga melakukan hal yang sama, memasukkan jari ke dalam mulut Ade. Bedanya, saat itu gigi Ade belum penuh. Padahal ini salah, karena bisa menghalangi jalan pernafasan anak yang sedang kejang.

Kejang demam pertama kali dialami Ade Juni 2013. Jelas panik. Karena kedua anak saya yang lain, Ceuceu dan Teteh tidak pernah kejang demam.

Masih teringat, saat suhu mencapai 41, badan Ade kejang selama 3-5 menit, disusul muka dan badan yang membiru, bola mata terbalik ke atas, sampai kehilangan kesadaran selama hampir 30 menit. Segera kami bawa ke Puskesmas. Karena di Puskesmas belum tersedia obat untuk mengatasi kejang demam, kami dirujuk ke RSUD. Berbekal surat rujukan dari Puskesmas, tengah malam kami menuju RSUD. Padahal besoknya suami saya ulang tahun. Kado yang mengesankan.

Selang 1,5 tahun kemudian, awal Januari 2015, Ade kembali kejang demam. Kami pun segera membawa Ade ke Puskesmas. Sampai di Puskesmas Ade masih belum siuman. Suster segera memberi Ade oksigen. Ade juga diberi diazepam dan diinfus.

10386281_620721361390682_6088998863798104664_n

Dokter yang menangani Ade menanyakan riwayat kejang demam dan mewanti-wanti agar jangan sampai terjadi kejang demam ketiga.

Seharusnya kejang demam pertama juga tidak perlu sampai terjadi. Karena begitu anak terkena kejang demam untuk pertama kali, ini berarti membuka jalan untuk terjadi kejang demam berikutnya,” begitu pesan dokter.

Penyebab demam pada anak bisa macam-macam. Orangtua perlu waspada jika anak  sering mengalami kejang demam. Karena saat anak kejang demam, susunan syaraf di dalam otak juga terganggu. Selama dua kali Ade kejang demam, 2 kali pula wajah dan badan Ade membiru karena kekurangan oksigen. Sementara otak memerlukan asupan oksigen yang memadai. Tak hanya itu, kejang demam juga bisa mengakibatkan kematian.

Wajar jika banyak orang tua yang panik ketika anaknya diserang kejang demam.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mencegah anak kejang demam?

Berbekal pengalaman menghadapi anak kejang demam, saya meningkatkan kewaspadaan saat Ade mulai demam. Berikut cara saya mengatasi demam pada anak :

1. Selalu sedia termometer. Suhu tubuh tidak bisa diukur hanya menggunakan tangan. Sebaiknya gunakan termometer digital untuk pengukuran lebih akurat dan aman untuk anak.

2. Jangan panik berlebihan. Jika pada suhu tidak terlalu tinggi anak masih riang, aktif dan mau main, maka kita tidak perlu panik.

3. Beri obat jika perlu. Batas toleransi kejang demam pada anak berbeda-beda. Beri obat penurun panas bila suhu tubuh mencapai lebih dari 38.5. Jangan tunggu suhu tubuh yang lebih tinggi jika anak sudah pernah menderita kejang demam sebelumnya.

4. Kompres dengan air hangat di bagian dahi dan ketiak untuk membantu menurunkan panas. Jangan gunakan air dingin, karena bisa memicu stress pada otak akibat perbedaan suhu yang ekstrim.

5. Berikan anak baju yang sejuk dan nyaman. Jangan membungkus anak dengan selimut yang terlalu rapat.

6. Usahakan anak tetap minum yang cukup untuk mencegah dehidrasi.

7. Jika anak kejang demam, segera kunjungi layanan kesehatan terdekat.

Minggu kemarin, Ade kembali panas. Tak hanya Ade, Ceuceu dan Teteh juga.

11018088_687059401423544_5070787088915454193_n
Ade dan Teteh kompak :D

Ketiga alat di bawah ini harus selalu ada di meja dekat tempat tidur. Termometer, oksigen, dan Tempra.

IMG_20150608_213334

Alhamdulillah, kali ini Ade tidak mengalami kejang demam. Tiap kali suhu tubuh Ade mencapai lebih dari 38.5, saya segera memberi Ade Tempra. Begitu juga dengan Teteh.

Kenapa Tempra? Tempra mengandung parasetamol yang direkomendasikan banyak dokter dan terbukti aman karena tidak merusak lambung dan tidak menyebabkan diare. Tutup botol Tempra yang berdesain CRC (Child Resistant Cap) unik dan tidak mudah dibuka oleh anak-anak. Pemberian obat dengan dosis yang tepat bisa lebih terjaga dengan gelas takar yang disertakan pada kemasan.

Sekarang anak-anak sudah kembali sehat dan tersenyum. Senyum ceria yang membuat ibu bahagia. Terimakasih Tempra.

Continue Reading