Category: Lomba

Aplikasi Kudo, Langkah Mudah Jadi Pengusaha

Pah, pengen jualan lagi,” ujar saya di sela-sela obrolan sore beberapa waktu yang lalu.

Suami hanya menjawabhmmmm….”. Jawaban yang sebenarnya sudah bisa diduga sebelumnya. Mengingat saya memang sudah berkali-kali mencoba berjualan tapi selalu berujung rugi.

2 tahun yang lalu, saya sempat menikmati keuntungan sebagai pedagang minyak goreng kemasan. Biasanya saya berburu minyak goreng kemasan diskon di supermarket, dan dijual kembali sesuai harga pasar ke ibu-ibu di lingkungan rumah. Tak hanya ibu-ibu, warung-warung pun saya supply minyak kemasan dengan harga yang tidak terlalu jauh dibanding harga jual di grosir dekat rumah.

Meski untungnya tak seberapa, suami semangat membantu saya. Tidak hanya urusan modal, suami juga rela berkeliling supermarket dan mengangkut sendiri berbungkus-bungkus minyak dari supermarket ke kantor untuk kemudian dibawa pulang. Kebetulan, di dekat kantornya ada 3 supermarket yang masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Itung-itung olahraga,” kata suami saat itu. Read More

Screenshot_2016-04-15-22-32-52

Aman dan Nyaman Memesan Taksi Melalui Aplikasi My Blue Bird

Rin, tolong isi pulsa. Nene mau nelepon taksi, Abah mau ke Hermina, agak sesak. Mau diuap”, pesan Nene di BBM.

Setelah membaca pesan ini, segera saya telepon Nene, khawatir dengan keadaan Abah. Saya memang tinggal di Subang. Sementara Abah dan Nene berdua saja tinggal di Antapani, Bandung. Kondisi kesehatan Abah dan Nene sudah menurun. Bulan kemarin saja Abah dan Nene bergantian dirawat di Rumah Sakit.

Ok, dari Nene saya mendapat kabar kalau kondisi Abah sementara ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Abah hanya merasa sedikit kesulitan bernafas. Maklum saja, sepulang dari Rumah Sakit bulan lalu, dokter menyatakan kalau fungsi jantung Abah hanya tinggal 23%. Jadi Abah memang lebih sering merasa sesak.

Kalau Abah mendadak merasa sesak seperti ini, alih-alih menunggu saya atau kakak yang juga tidak tinggal serumah dengan Abah agar segera mengantar ke Rumah Sakit, yang paling bisa diandalkan memang segera memanggil taksi. Sebetulnya Nene sudah hafal betul nomer telepon Blue Bird. Tanpa disimpan di phonebook pun, Nene bisa menyebutkan nomer Blue Bird dengan lancar.

022-7561234″, kata Nene.

Ya wajar, sih hampir tiap minggu Nene memesan taksi. Untuk urusan mendadak seperti ini, atau yang terjadwal seperti kontrol ke dokter. Tapi karena saya sedang di Subang, dan Nene kehabisan pulsa, lebih baik saya memesan taksi melalui aplikasi, apalagi kalau bukan My Blue Bird.

Yup, Blue Bird memang sudah sejak lama meluncurkan aplikasi My Blue Bird. Aplikasi My Blue Bird ini merupakan pengembangan dari Taxi Mobile Reservation yang mulai dikembangkan BlueBird Group di tahun 2011. Selain itu, kalau bicara soal taksi andalan, memang sudah sejak lama saya mengandalkan Blue Bird.

Why Blue Bird

Sejarah taksi yang memiliki pelayanan buruk masih saya ingat dengan jelas.

“Dari Statsiun ke Trans Studio Bandung diminta bayar 150 ribu itu serasa kerampokan. Jalannya muter-muter. Padahal saya juga orang Bandung, tahu lewat jalan mana yang lebih cepat”, keluh teman saya.

Keluhan teman saya ini hanyalah salah satu dari banyak pengalaman buruk menggunakan taksi di Bandung yang dialami oleh orang-orang. Saya juga pernah sih. Dibawa berkeliling kota dengan alasan menghindari jalanan yang macet, seolah-olah saya tidak hafal jalan di Bandung. Alhasil, argo pun membengkak. Dongkol tentu saja. Duh, apalagi kalau penumpangnya bukan orang Bandung ya?

Read More

Asus Zenfone 2 Laser: Desain Elegan, Fitur Menawan dengan Harga Bikin Nyaman

Pernah gak merasa kesal karena kehilangan momen untuk diabadikan? Bukan karena gak ada perangkat yang mendukung, tapi karena sibuk menghidupkan smartphone yang sedang dipegang hanya saja smartphonenya dalam keadaan standby. Atau kamera sudah standby, tapi… susah fokus. Atau kesulitan berpindah ke kamera dari aplikasi yang sedang dipakai karena smartphone mulai lambat.

Saya sering. Sedang jalan bersama suami, ada kejadian unik. Mau laporan di twitter, tekan tombol power, buka smartphone yang terkunci, masuk ke kamera. Pas udah siap jepret… aduh… masih susah fokus. Huaaa… akhirnya malah kelewat tuh. Mobil juga udah jalan. Gak mungkin minta suami berhenti dulu demi saya yang selalu ingin eksis hihi…

Pernah juga pas kumpul keluarga bareng, welfie rame-rame. Sudah susah mengatur pose, yang itupun pakai dempet-dempetan… eh, ternyata gak semua anggota keluarga terbawa dalam foto.

Sebagai ibu masa kini, saya juga tentunya gak mau ketinggalan berita. Meski sudah jarang menonton televisi, saya masih bisa update semua berita lewat timeline yang kadang lebih lengkap dan seru dibanding berita di televisi ahaha. Kalau ada berita hangat di timeline, mendadak saya sibuk buka semua aplikasi medsos. Twitter, Facebook, Path, Instagram, sampai sibuk ngerumpi di Whatsapp.

Selain eksis di medsos, kesibukan lain saya sebagai seorang ibu adalah jadi guru bagi anak-anak. Bukan hanya anak saya saja sih. Karena tiap akhir pekan ada teman-teman Ceuceu yang belajar bersama di rumah. Meski bukan guru betulan tapi saya harus sigap dengan segala pertanyaan dari anak-anak. Baik pertanyaan akademis maupun pertanyaan yang di luar jangkauan. Agar anak tidak  menunggu terlalu lama, saya pun harus segera mencari jawaban. Dari mana? Googling donk. Baca-baca blog teman-teman, atau sekalian minta tolong ke teman-teman dengan membuat pertanyaan di status/lewat grup whatsapp.

Belum cari resep, cari bahan buat ikut lomba, nonton Adam Levine atau tayangan The Voice 9 lewat Youtube, sampai belanja… sekarang hampir semua dilakukan lewat smartphone. Makanya  semua aplikasi pendukung kegiatan sehari-hari saya pasang di smartphone. Aplikasi email, ngeblog, edit foto, game youtube-an, putar lagu, dan tentu saja gak  ketinggalan, medsos. Sayangnya banyaknya aplikasi yang dipakai malah sering membuat smartphone jadi lelet dan kehilangan kecerdasannya.

Yup. Di era digital seperti sekarang ini, mau  reporter,  guru, blogger, pelajar, mahasiswa, tukang ojek, bahkan ibu rumah tangga biasa seperti saya pun harus punya senjata yang mumpuni. Read More

Asyiknya Lovetalgia dengan LangitMusik

Sebuah lagu yang tidak asing di telinga mengalun dari radio yang sedang saya dengarkan bersama suami di perjalanan pulang menuju rumah. Kaget karena lagu ini lagu sangat lawas. Kami pun lantas bernyanyi bersama…

“Malam makin meninggi, desir angin pun kian terasa…

Anak-anak yang berada di jok belakang pun penasaran… “Koq Mamah sama Papah tau sih lagu ini? Lagu baru ya?”

Yup, lagu Angin malam – Sahara ini memang sama-sama kami sukai. Dirilis di tahun 1993, jauh sebelum kami saling mengenal. Boleh dibilang selera kami soal musik sama. Bisa jadi karena itu pula kami berjodoh hehe

Dulu sebelum saling kenal, saya dan suami sama-sama mengoleksi kaset lagu yang kami sukai. Cara kami menghafal lagu pun sama. Melalui teks yang ada di  bungkus kaset. Sampai-sampai bungkusnya penuh dengan selotip 😀

Tinggal tekan tombol STOP dan REW (rewind) di tape untuk mengulang bagian yang belum dihafal. Atau kalau ada lagu baru yang belum kami punya kasetnya, kami dengar di radio. Caranya? Siapkan dulu secarik kertas dan pulpen. Lalu ketika lagunya diputar oleh penyiar, siap-siap menulis cepat… 😀

Ketika kami pacaran, saya diberi kado berupa walkman“biar makin pinter ngapalin lagu”, begitu kata mantan pacar saya itu.

Walkman kado dari suami… masih awet tapi susah cari kasetnya 😀 (dokpri)

Walkman ini untuk kaset dan juga radio. Sampai sekarang radionya masih bisa dipakai. Pemutar kasetnya juga. Hanya saja saya kesulitan menemukan kaset sekarang.

Read More

Garda Oto “Peace of Mind”, Ketenangan dalam Genggaman

“Pah, motor mogok. Anak-anak disuruh pulang duluan pake ojeg. Mamah dorong motor cari bengkel”

SMS itu saya kirim ke suami. Tak lama kemudian suami memberondong saya dengan banyak pertanyaan.

“Mogok dimana? Kenapa? Udah dicoba diselah? Anak-anak pake ojeg siapa? Di rumah nanti gimana?”

Wajar kalau suami khawatir, anak-anak tidak biasa saya tinggal sekarang malah pulang duluan pakai ojeg, sementara saya masih di jalan mendorong motor mencari bengkel dan entah sampai ke rumah jam berapa. Read More

1 2 3 4 5 13