Buka Rekening Di BCA (lagi)

Jadi ceritanya kemaren itu terpaksa buka rekening (lagi) di BCA. Lho, koq lagi? Iya, soalnya saya udah pernah buka rekening di BCA sebanyak 3 kali, dan semuanya berakhir dengan tragis. Kenapa? Ya, kenapa lagi kalau bukan karena minimnya saldo yang tersisa sampai akhirnya 3 rekening itu nutup sendiri, abis dipotong administrasi hihihi..

3 tahun belakangan ini saya jadi nasabah setia BRI. Ini juga terpaksa, karena bank yang paling dekat dari rumah cuma BRI ini. Itu pun jarang bisa dipake setor tabungan, dengan alasan “Maaf, saat ini jaringan sedang offline”. Anehnya, kalau setor pinjaman malah diterima aja tuh. Bukan cuma setor kas-nya yang sering offline, ATM yang ada di halaman BRI pun sering mengalami masalah jaringan offline.

Continue Reading

Forever MG-ers

IMG_20150203_101905

You start your twenties in the midst of two goodbyes. The friends you left behind in high school that you vowed to keep touch with are starting to fade away as trips home get shorter and fewer and further between. In a year or two, you’ll say goodbye to your college group as you move on toward first jobs, old family bedrooms, beginning lives and new friends.

Seperti dikutip dari The Friendship Exodus of Your 20s, “you’ll say goodbye to your college group“… seperti itu pulalah perjalanan kami. Sekelompok perempuan berjumlah 8 orang (yang ngakunya) cantik, dulu pernah sama-sama menimba ilmu di sebuah gedung bernama D5 di daerah Jatinangor, hampir bisa dipastikan kemana-mana kami selalu bersama.

Btw, karena kecantikan kami itulah, akhirnya kami menamakan diri sebagai MG alias Mojang Geulis (gakbolehprotes!)

Continue Reading

Jangan Sungkan #SembuhkanTB

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan status Indri (bukan nama sebenarnya) tentang kesulitan mengobati TB yang dideritanya.

SS 2014-04-02 at 1.55.41 AM

Didorong rasa penasaran, akhirnya saya bertanya kepada seorang teman yang bekerja di layanan kesehatan di sekitar rumah saya. Menurut beliau, orang yang masih berobat TB di pihak swasta boleh meminta dirujuk ke puskesmas/rumah sakit pemerintah, supaya bisa mendapatkan fasilitas pengobatan gratis ini.

Bukan hanya penderita TB biasa yang mendapatkan pengobatan gratis ini, TB MDR (Multi Drug Resistence Tuberculosis)/TB XDR (Extensively/Extremely Drug Resistant Tuberculosis) yang memerlukan biaya sampai ratusan juta juga masih berhak mendapatkan pengobatan gratis sampai sembuh.

Continue Reading

Untuk Jabbar dan Jabbar yang lain

“Mah, mau ikut donor lagi?”, tanya suami beberapa waktu yang lalu.

Saya memang sedang cuti jadi pendonor selama 3 tahun. Karena saya harus memberikan ASI-Ekslusif untuk Si Bungsu yang sekarang berusia 2 tahun 4 bulan.

Saat saya hamil Si Bungsu di bulan-bulan pertama, saya sama sekali tidak menyadari kalau saya sedang hamil, karena tidak ada tanda-tanda seperti umumnya orang hamil. Makanya saya masih mendonorkan darah saya di usia kehamilan 2 bulan. Alhamdulillah, saya dan anak saya tetap sehat sampai sekarang.

Begitu si bungsu menginjak usia tepat 2 tahun, suami pun mengajak saya kembali mendonorkan darah ke PMI.

Suami saya memang baru mengenal PMI beberapa tahun yang lalu. Meski masih baru, boleh dibilang suami sangat disiplin. Tidak pernah sekali pun terlewat dari tanggal yang dianjurkan. Pernah suatu ketika, suami datang satu hari sebelum tanggal yang tertera di kartu dan ditolak oleh petugas PMI. Alhasil, besoknya suami saya kembali datang ke PMI. Padahal jarak antara PMI dan rumah kami sekitar 70 km 😀

Apa yang membuat saya menjadi pendonor?

Saat itu usia saya masih 14 tahun. Suatu malam, kami dikejutkan dengan kedatangan seorang saudara. Beliau menanyakan, apakah di antara kami ada yang bergolongan darah AB? Keponakan kami, Jabbar (5 tahun), memerlukan darah AB karena Leukimia yang dideritanya.

Di keluarga kami ada tiga orang yang bergolongan darah AB, yaitu Abah, kakak ketiga, dan saya sendiri. Karena tidak tahu syarat-syarat donor, saat itu kami semua berangkat menuju UTD PMI Kota Bandung di Jl Aceh No.79

Setelah melalui pemeriksaan kesehatan, Abah dan kakak saya diterima menjadi pendonor. Sementara saya, berdasarkan aturan belum memenuhi. Kecewa. Karena Jabbar sangat membutuhkan darah bergolongan AB seperti yang saya miliki.

Kakak saya sendiri kemudian menjadi pendonor tetap bagi Jabbar. Sayangnya, ganasnya Leukimia membuat Jabbar tidak mampu bertahan. Jabbar berpulang di tahun 1997.

Sejak itu saya bertekad, saat usia saya tepat menginjak angka 17, saya harus jadi pendonor!

Saat itu akhirnya tiba…

Menjelang berangkat sekolah, pikiran saya tidak karuan. Saya ingin segera berkunjung ke PMI. Dengan masih berseragam SMA (ketika itu saya masih kelas 3 SMA), tepat di usia ke-17 akhirnya saya datang ke PMI.

Takut, khawatir, senang, semua campur aduk. Saya mengisi formulir yang disediakan dengan perasaan tidak karuan. Membaca pertanyaan yang ada di formulir membuat saya khawatir, bisakah saya menjadi pendonor?

Saya serahkan formulir itu ke petugas, Pak Ade. Tidak lama kemudian, saya menjalani pemeriksaan kesehatan. Sebelumnya saya ceritakan ke dokter bahwa saya pernah menderita hepatitis A saat SD. Kekhawatiran saya sirna, karena menurut dokter, setelah sembuh < 5 tahun saya bisa mendonorkan darah saya.

Setelah pemeriksaan kesehatan, tibalah saatnya saya duduk di bangku. Meski sering disuntik untuk pemeriksaan laboratorium, ternyata tetap saja deg-degan. Perlahan-lahan darah mengalir memenuhi kantung darah.

Tidak sampai 15 menit, selesai. Menyesal? Tidak sama sekali. Malah saya ketagihan, karena sesudah donor saya mendapatkan banyak makanan hehehe (ini sih kelaparan :D)

Jabbar yang memotivasi saya menjadi pendonor. Meski Jabbar telah berpulang, masih banyak Jabbar-Jabbar lain yang memerlukan setetes darah yang kita miliki.

Page_2
Sumber foto : koleksi pribadi

Continue Reading

Akhirnya #Rendang ini punya nama…

Masih inget kan Sayembara yang saya buat beberapa hari yang lalu? Sebelumnya terima kasih banyak atas bantuannya ya. Berkat ide keren dari teman-teman semua, akhirnya #Rendang asli Sumbar made in Bandung hasil kolaborasi Uni Merry dan Heru Be ini punya nama.

Seperti halnya memberikan nama untuk bayi yang baru lahir, proses pemilihan nama untuk #Rendang ini juga tidak mudah. Beruntung ada bantuan dari teman-teman.

Setelah melalui perdebatan yang alot dan sengit di antara para Rindang (Juri Nama #Rendang), inilah hasilnya…

Jeng jeng…

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Mengingat dan seterusnya

Menimbang dan seterusnya

Memutuskan, menetapkan nama produksi rendang kita ini adalah…

“RENDANG NENDANG”

Semoga Allah meridhoi aktivitas kita.

Ditetapkan di Bandung dan sekitarnya, pada tanggal 13 April 2014

Dewan Juri :

Heru Be – Merry – Ela – oRiN

Nah, usulan siapakah itu? Mengapa kami memilih nama Rendang Nendang sebagai brand untuk #Rendang ini?

Pertama, karena ini Rendang yang lahir di Bandung, jadi nama yang disandangnya sebaiknya mengikuti budaya lokal, seperti nama kebanyakan orang Sunda yang berirama tektek dungdung tek.

Kedua, Rendang Nendang bisa dijadikan tingkat kepedasan rendang

Ketiga, kalo suami pulang gak bawa rendang, bolehlah abang ditendang… #eh

Dan masih banyak lagi alasan-alasan yang jadi pembahasan kami kemarin.

Nama yang gak terpilih bukannya gak keren koq. Beneran, kami kebingungan ketika harus menyenggol satu per satu usulan nama. Menyedihkan dan menyebalkan ketika juri yang lain memilih tega menyenggol usulan nama yang saya pertahankan. Heuheuheu…

Trus 5 orang yang beruntung dapet sample siapa nih?

Biar adil, akhirnya ini dikocok saja, berikut hasil pengocokan komputer zion di negeri antah berantah :

1. Sundo (Utami Wulandari)

2. Rebany (@zoellula)

3. Onde Mande 1 (Imudiar)

4. Onde Mande 2 (Eka Fikry)

5. Raos (aloysia yudhita)

Buat yang merasa memberikan usulan nama di atas, silahkan tinggalkan jejak di sini ya… :)

Terimakasih sudah berpartisi”sapi” ya… Kalian luar biasa #berasaartis

Yang belum beruntung jangan bersedih hati. Next saya mungkin butuh ide juga buat namain semur jengkol hahaha…

Continue Reading