Tips mengajarkan anak bersepeda

“Mah, Teteh mau belajar naik sepeda roda dua!”, ujar Teteh ketika umurnya masih sekitar 5 tahun.

Keinginan Teteh belajar sepatu roda dua ini muncul saat melihat Ceuceu asyik bermain sepeda roda dua di GOR dekat rumah. Selama ini Teteh memang masih pakai sepeda roda 2… plus 2 di samping ūüėÄ

Kaget juga sih dengan permintaan Teteh, apalagi melihat Ceuceu yang baru bisa dan berani naik sepeda roda dua di umur 7 tahun. Itu pun perlu latihan dan bujukan ekstra serta pengalaman yang cukup memalukan buat Ceuceu

Ketika Ceuceu ditunjuk ikut karnaval sepeda hias saat peringatan HUT RI beberapa tahun yang lalu, hanya Ceuceu yang masih memakai sepeda roda empat! Padahal sepeda Ceuceu memang sepantasnya sudah lepas dari roda tambahan.

Tak mau mengecewakan Ceuceu yang sudah kegirangan ikut karnaval, susah payah saya menghias sepeda Ceuceu sampai begadang semalaman. Tapi ternyata sesampainya di sekolah Ceuceu malah mogok ikut karnaval.

303731_229537167175772_1092506693_n

Iya, Ceuceu jadi mogok ikut karnaval karena merasa malu dengan ejekan teman-temannya yang sudah mahir memakai sepeda roda dua. Tidak mau hasil begadang saya sia-sia, akhirnya saya menemani Ceuceu naik sepeda roda empatnya sambil sesekali mendorong Ceuceu dari belakang. Jalanan yang harus dilalui peserta karnaval menanjak!

Huaaa…¬†mendorong sepeda dari belakang ini rasanya jauh lebih capek dibanding goes sepeda sendiri. Akhirnya ikut karnaval bukannya senang… sepanjang jalan itu saya malah marah-marah dan ngedumel tanpa henti.

Sadar kalau saya marah-marah gara-gara sepeda roda empat, selesai karnaval Ceuceu meminta saya membuka roda tambahan yang ada di samping sepeda.

“Mah, besok mah buka aja rodanya. Ceuceu mau belajar pakai sepeda roda dua”, kata Ceuceu.

Perasaan saya saat itu terharu¬†sekaligus merasa bersalah hihihi… Tapi tanpa pikir panjang, saya segera membuka roda tambahan ini. Tentu saja¬†membukanya harus pakai kunci pas.¬†Tidak perlu waktu lama, hanya sekitar seminggu belajar dan latihan terus menerus, meski tadinya takut dan ragu-ragu, akhirnya Ceuceu bisa juga pakai sepeda roda dua.

Makanya ketika Teteh meminta saya membuka roda tambahan di sepedanya, saya pun segera menuruti keinginan Teteh. Apalagi ini¬†tanpa paksaan, tanpa ejekan dan tanpa pengalaman memalukan hehe…

Tidak seperti Ceuceu, Teteh lebih cepat belajar sepeda roda dua. Hanya perlu 3 hari latihan, Teteh sudah lancar naik sepeda. Bisa jadi karena ukuran sepeda Teteh juga lebih kecil dibanding sepeda Ceuceu, jadi Teteh lebih percaya diri dan merasa aman saat dirinya kehilangan keseimbangan. Selain itu ada beberapa tips agar anak lebih mudah belajar sepeda, diantaranya :

  • Tempatkan badan pada posisi yang tepat dan siap di atas sepeda
  • Ajarkan anak untuk menempatkan kaki kiri menjejak permukaan tanah, dan kaki kanan di atas pedal
  • Dorong sepeda dengan kaki kiri dan kaki kanan mengayuh pedal
  • Bantu anak dengan memegang bagian belakang sepeda. Ketika dirasa anak sudah cukup seimbang, lepaskan pegangan itu
  • Ulangi terus sampai 3-5 kali putaran dan anak bisa melakukan dorongan sendiri tanpa dipegang
  • Latihan di permukaan yang empuk seperti tanah atau rumput bisa membantu anak lebih percaya diri. Bayangan anak, jatuh di aspal jauh lebih sakit dibanding jatuh di atas rumput
  • Gunakan perangkat keamanan untuk bersepeda, seperti helm, dan pastikan ukurannya sesuai.
Continue Reading

Punya halaman buku yang terlepas? Tembak aja!

“Mamaaah… bukunya sobek sama Adeeee!”, teriak Teteh ketika melihat buku yang baru saja dibeli sobek dan berceceran.

Duh, mentang-mentang buku diskonan… baru juga dibuka satu dua lembar, eh isinya sudah berantakan. Jadi buku itu sobek bukan gara-gara Ade, melainkan karena kualitas lemnya saja yang jelek. Cuma kebetulan saja Ade yang jadi tersangka… heuehu.. kasihan.

Padahal isi¬†buku ini¬†lumayan bagus, dari penerbit besar pula… makanya saya beli. Apalagi kemarin di toko buku memang sedang ada diskon besar-besaran.¬†Kalau gak ada diskon sih, mana mau saya beli buku…¬†ūüėõ

Sudah jadi emak-emak begini setiap pengeluaran rasanya memang diperhitungkan baik-baik. Ya bagaimana tidak diperhitungkan, satu anak minta 3¬†buku saja, anak yang dua¬†jadi ikut-ikutan. Terus kapan emaknya bisa ke salon? Ish… padahal udah ngirit juga gak pernah ke salon tuh ūüėõ

Kebetulan di grup WA yang saya ikuti membahas diskonan dari toko buku yang sama. Seorang teman yang juga penulis merekomendasikan beberapa buku bagus. Kebetulan salah satunya sama dengan buku yang saya beli. Kebetulan lagi, buku yang dimaksud ini yang hancur berkeping-keping hihi

Teman yang lain mencatat buku-buku yang direkomendasikan, dan juga membuat catatan kalau khusus buku yang sama dengan yang saya beli harus sekalian beli paper clip. Adalagi yang menyarankan agar buku yang baru saja keluar dari toko buku itu semua dibawa ke tukang fotokopi, di streples ulang.

Lain lagi dengan saran dari Bunda HanHil. Katanya sih halaman yang lepas dari jilidnya ini bisa diperbaiki dengan lem tembak. Dor! Dor! Dor!!!

Ah, ya… pakai lem tembak sepertinya jauh lebih baik daripada harus¬†memperbaiki buku yang rusak ini ke tukang¬†fotokopi.

Sesuai saran Bunda HanHil, begitu lem tembak ditembakkan, harus segera diapply dengan bagian yang akan ditempel. Kata Bunda HanHil sih kalau terlalu lama dibiarkan, lem tembaknya nanti keburu mendingin, dan tentu saja tidak akan bisa ditempeli apapun.  Daripada membuang-buang lem, lebih baik saya turuti saja saran beliau hehe

IMG-20150429-WA007
tembakkan lem di bagian tengah buku

IMG-20150429-WA005
segera tempel halaman yang lepas pada lem yang baru ditembakkan

Nah, sekarang halaman buku yang terlepas bisa dengan mudah saya tempel lagi. Terus lem tembak ini bisa buat apa lagi ya? Di tangan Bunda HanHil yang kreatif, lem tembak ini bukan hanya untuk memperbaiki buku yang rusak. Tapi juga bisa dipakai untuk membuat barang-barang unik, misalnya saja tempat pensil warna gulung tanpa jahitan seperti ini…

IMG-20150428-WA001
No sew colour pencils roll , sumber gambar : @hanhilhen

Lucu ya? Saya juga mau coba buat tempat pensil warna gulung seperti itu ah. Mudah-mudahan pensil warna Teteh jadi lebih awet kalau disimpan di situ. Secara sekarang kalau pulang dari sekolah, pas tempat pensilnya di cek itu pensil warna mesti hilang satu per satu… hiks, gimana bisa irit kalau harus beli pensil warna terus??? :)))

Continue Reading

Journalist wannabe…

“Teh, dipanggil sama Pak Lurah ke desa”, seorang petugas desa menghampiri saya yang sedang memberi makan ikan di kolam depan.

Waduh, saya punya salah apa ya sama Pak Lurah? Lagipula boleh dibilang saya ini orang baru disini. Pak Lurah gak mungkin lah kenal saya. Nama saya saja pasti Pak Lurah gak tahu. Kalau kenal sama mertua ya mungkin saja… soalnya mertua dan anak mertua kan lebih lama tinggal di desa yang sama hihi…

Dengan perasaan tak menentu saya pun menghadap Pak Lurah di kantornya. Setelah basa-basi ngobrol ini itu, ternyata Pak Lurah meminta saya untuk meliput acara di desa. Rencananya acara ini akan dihadiri oleh Pak Bupati dan beberapa panitia MDGR (Masyarakat Desa Gotong Royong). Jadi Pak Lurah meminta saya melakukan dokumentasi foto dan video sekaligus.

Hmm… koq bisa Pak Lurah meminta saya melakukan tugas liputan seperti itu? Ternyata Pak Lurah mendapatkan laporan kalau saya seringkali datang ke acara-acara di kelurahan, di kecamatan, di sekolah, bahkan sekedar sisingaan tiapkali ada tetangga yang hajatan¬†sambil membawa kamera besar alias DLSR, kaya’ wartawan.

Bahaha…¬†Padahal bukan untuk meliput seperti tugas wartawan sih, suka saja foto-foto kegiatan yang bisa jadi tidak akan bisa saya temui lagi di kesempatan yang lain. Meski kualitas fotonya juga seadanya, tapi berkat sering bawa kamera kemana-mana ini, saya jadi punya pekerjaan sampingan. Jadi tukang foto keliling! Hihihi..

Selain Pak Lurah, beberapa tetangga meminta saya mendokumentasikan acara sunatan dan ulang tahun. Yaaa… lumayan lah, yang penting dapur tetap ngebul dan saya pun semakin eksis haha

Kalender dan DVD dokumentasi ulang tahun seorang anak teman :D
Kalender dan DVD dokumentasi ulang tahun seorang anak tetangga… mau dibikinin juga??? :D

Tapi membawa kamera kemana-mana itu tidak selamanya enak. Terutama ketika saya ingin segera mengunggah hasil jepretan saya ke medsos. Bayangkan saja, dari kamera harus saya pindahkan dulu ke laptop. Padahal laptop saya juga tidak punya Card Reader. Jadi alternatifnya harus pakai card reader tambahan atau langsung dari kamera ke laptop dengan memakai kabel data. Dari laptop kemudian diunggah melalui modem atau teethering lewat HP. Masih mending kalau di sekitar ada Wifi. Ah, pokoknya repot!

Unggah foto hasil jepretan kamera HP? Meski kamera HP saya sudah cukup canggih, tapi tetap saja tidak secanggih kamera DSLR, terutama untuk hasil jepretan makro dan jarak jauh.

Kemarin suami baru saja mencoba membeli lensa makro untuk kamera HP. Hasilnya memang berbeda dengan hasil jepretan tanpa lensa makro.

Kalau saya sih lebih tertarik dengan lensa tele untuk kamera HP. Sebagai journalist wannabe, saya memang lebih suka mengambil momen yang terjadi tanpa diketahui objek foto dari kejauhan. Eh, ini sebenarnya journalist wannabe atau paparazzi wannabe ya??? :)))

 

Continue Reading

Cara asyik hemat listrik

“Mah, nanti lampu aquarium matikan jam 9 ya! Terus besok nyalain lagi jam 10 pagi,”¬†pesan suami sebelum berangkat kerja.

Setiap hari Selasa¬†suami memang tidak pulang ke rumah, giliran piket di kantor. Padahal suami punya¬†aquarium yang¬†memerlukan perhatian lebih dibanding saya sendiri. Aquariumnya ini tiap hari dipegang dan dipandangi lama-lama… istrinya? Hiks… di dompetnya saja tidak ada foto saya… haha

Jadi saat ditinggal suami, tugas memberi makan ikan, menambah cuka ke aquarium untuk mengurangi¬†nilai No3 & PO4 sampai serendah mungkin, dan mematikan/menyalakan lampu aquarium sudah pasti jadi tugas tambahan saya.¬†Tapi urusan cuka¬†sih masih bisa diakali. Kalau saja terlewat di siang¬†hari, masih bisa saya tambahkan sore… sebelum beliau pulang. Eh… ssst… mudah-mudahan post yang ini tidak dibaca suami :))

Sadar kalau saya pelupa, suami seringkali mengingatkan tugas-tugas  tambahan itu melalui BBM.

Tapi saya memang pelupa. Meski suami sudah mengingatkan untuk segera menambah cuka atau mematikan lampu, selalu ada pekerjaan lain yang saya rasa jauh lebih penting. Mematikan lampu aquarium menjadi pekerjaan yang selalu saya tunda-tunda, sampai akhirnya ya lampunya terus menyala.

Tentu saja suami menggerutu, soalnya aquarium jadi panas, terlihat dari suhu aquarium yang seringkali sampai di angka 30¬†C. Kebayang donk panasnya itu ikan dan teman-temannya di aquarium? Kipas yang dipasang di sisi kanan dan kiri tidak cukup membantu mengurangi suhu di dalam aquarium. Beberapa coral¬†di dalamnya jadi mengkerut kepanasan. Keseringan lupa mematikan lampu seperti ini juga membuat banyak coral¬†perlahan-lahan mati, ujung-ujung batangnya memutih. Hiks… maafkan ya…

Bukan hanya coral yang mati, tagihan listrik pun selalu membengkak. Terang saja, lampu aquariumnya 152W, menyala terus selama dua hari satu malam, setiap minggu selama suami kebagian piket di kantor.

Tak mau bencana terus berlanjut, suami memutuskan membeli stop kontak timer, dan ini ternyata jauh lebih bisa diandalkan dibanding saya haha

Stop kontak timer ini juga saya pakai untuk dispenser. Soalnya dispenser mengeluarkan energi yang cukup besar, konsumsi dayanya sampai 300 s/d 500W. Karena di malam hari seluruh anggota keluarga tidur dan tidak memerlukan air panas, maka dilakukan pengaturan sebagai berikut:

– setting hidup dari jam 5 pagi sampai jam 9 malam.

– setting mati dari jam 9 malam sampai jam 5 pagi.

Lumayan sih, bisa mengirit tagihan listrik beberapa rupiah. Dan yang lebih penting, pakai stop kontak timer seperti ini, suami tidak perlu repot-repot mengirip pesan¬†lewat BBM…. “lampu sudah dimatikan?”¬†ūüėÄ

ūüėÄ

Continue Reading

Mau belanja online? Pakai kupon iPrice donk!

Confessions of a Shopaholic

Pernah menonton film “Confession of a Shopaholic?”. Film ini¬†bercerita tentang Rebecca¬†Bloomwood (diperankan¬†oleh Isla Fisher), seorang jurnalis yang mengalami kecanduan belanja hingga hutang kartu kreditnya menumpuk dan tentunya¬†dikejar-kejar¬†tagihan.

Terbayang¬†gak kalau ini terjadi di dunia nyata? Hiyy… amit-amit deh.

Sebagai perempuan, yang tentu saja tidak bisa dipisahkan dari yang namanya belanja, saya sendiri menganggap sudah sewajarnya saya menghibur dan menghadiahi diri sendiri dengan berbelanja beberapa barang yang saya idamkan. Apalagi di jaman seperti sekarang ini, mau belanja apa saja tak perlu repot keluar rumah. Cukup buka situs belanja online, pilih barang yang kita perlukan, transfer, terus tunggu barang dikirim.

Yang harus tetap saya ingat adalah, bagaimana caranya agar hobi saya berbelanja tersebut tidak membuat saya terjerumus seperti Rebecca Bloomwood?

Ada beberapa tips nih, agar keinginan membeli barang idaman tapi tetap terhindar dari jeratan hutang. Berikut ini tipsnya :

  • Membuat post anggaran

Setelah gaji masuk, segera pisahkan bagian-bagiannya, termasuk juga untuk berbelanja.  Tidak ada salahnya setiap bulan menyisihkan jatah untuk belanja barang idaman.  Nah, kalau sudah terkumpul banyak kita bisa dengan bebas menggunakan uang yang sudah disisihkan tersebut. Mau sampai habis sekalipun tidak masalah, karena memang peruntukannya untuk berbelanja.

  • Membuat list belanja

Seringkali saat berbelanja, apalagi tanpa catatan yang berisi daftar barang apa saja yang kita perlukan, kita malah membeli barang lain yang sebetulnya gak perlu-perlu amat. Nah, itulah sebabnya kita perlu membuat catatan, barang apa saja yang diperlukan. Jangan lupa sesuaikan dengan anggaran, seberapa besar kemampuan kita dan berusahalah untuk mematuhi anggaran tersebut.

  • Memilih waktu yang tepat untuk berbelanja

Toko-toko yang ada, baik itu offline maupun online, seringkali menawarkan diskon/potongan harga yang besarnya cukup lumayan. Tidak ada salahnya memanfaatkan momen seperti ini. Yang harus diperhatikan adalah kualitas barangnya. Ada beberapa toko yang memang menawarkan diskon untuk barang dengan kualitas bagus karena sudah terlalu lama, tetapi ada juga yang menawarkan diskon untuk barang yang cacat produksi. Tinggal kita sebagai pembeli yang harus pintar memilih.

Selain itu, sekarang ada cara baru yang lebih praktis untuk berbelanja. Yaitu dengan kupon!

Saat ini banyak yang menawarkan kupon/voucher untuk belanja. Tapi tahu gak sih, kalau ada situs yang menawarkan voucher gratis?

Lho, memangnya ada ya yang ngasih voucher gratis?

Ada donk. Dimana lagi kalau bukan di iPrice.

Di iPrice kita tidak perlu membeli voucher, tinggal cari voucher yang kita mau.

iPrice ada di 8 negara, termasuk Indonesia, dan kupon atau voucher yang ditawarkan oleh iPrice  memberikan penawaran terbaik berupa, promosi, voucher, dan kupon. Untuk saat ini, iPrice berafiliasi dengan beberapa situs belanja online ternama di Indonesia, seperti Zalora, Lazada, Expedia, Qoo10, Expedia dan Streetdeals. Jadi, voucher yang tersedia di iPrice ini bisa digunakan di online shop itu.

Daftar toko iPrice
Daftar toko iPrice

Penasaran gimana cara pakainya?

Tinggal klik web iPrice di http://www.iprice.co.id, lalu cari voucher yang diinginkan. Kalau mau cari berdasarkan toko juga bisa koq.

iPrice
iPrice

Nah, di halaman depannya sudah terlihat kode voucher dan penawaran dari beberapa situs belanja online¬†yang berafiliasi dengan iPrice. Tinggal klik “Dapatkan Kodenya”,¬†nanti akan keluar kode voucher seperti ini :

Kode voucher iPrice
Kode voucher iPrice

Kode voucher inilah yang nanti dimasukkan saat berbelanja di onlineshop.

Belanja dengan kode kupon iPrice
waahh.. ternyata kode voucher iPrice-nya beneran berlaku

Selain voucher, kita juga akan mendapatkan info untuk penawaran terbaru dan terbaik. Saat kita klik penawaran terbaik, nanti akan langsung diarahkan ke web online shop yang memberikan penawaran tersebut.

Gampang kan? Yuk ah, belanja pintar dengan iPrice. Tinggal cari vouchernya lalu masukkan kodenya. 

Continue Reading