Inspirasi 60 Tahun ASTRA : Dari Desa untuk Indonesia

“Yang penting saya bisa sekolah. Meski jaraknya cukup jauh, tapi fasilitas di sekolah yang ini jauh lebih bagus dibanding sekolah di Pringkasap”, ungkap Dani Jaya.

Dani Jaya adalah salah seorang siswa sebuah SMK di Cibatu Purwakarta yang berasal dari Pringkasap, Cipeundeuy, Subang. Selain Dani, sebanyak 80% siswa SMK di Cibatu juga berasal dari Kabupaten Subang.

Beberapa tahun yang lalu, Dani dan teman-temannya harus rela menempuh perjalanan lintas kabupaten agar bisa menikmati sekolah dengan fasilitas yang memadai. Jarak yang cukup jauh antara Pringkasap dan Cibatu tidak memutuskan semangat Dani dan teman-temannya untuk tetap menimba ilmu. Dani hanyalah salah satu siswa yang beruntung bisa melanjutkan pendidikan meski harus menempuh perjalanan yang cukup jauh. Masih banyak siswa seusia Dani yang terpaksa putus sekolah karena terkendala jarak dan biaya.

Data Dinas Pendidikan, Kabupaten Subang tahun 2013 menunjukkan, APM untuk tingkat SMA di Kabupaten Subang baru mencapai 58 persen. APM (Angka Partisipasi Murni) merupakan perbandingan jumlah siswa dengan jumlah penduduk pada usia sekolah tertentu (Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2013/03/08/226155/sebelas-persen-pelajar-subang-tak-melanjutkan-ke-smp)

Rendahnya APM untuk tingkat SMA ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti masih minimnya kesadaran orang tua, sampai belum meratanya sarana dan prasarana pendidikan di daerah. Ya, sarana dan prasarana memang menjadi salah satu kendala besar bagi warga di pedesaan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Di Pringkasap, daerah tempat asal Dani Jaya, sekarang sudah ada sekolah dengan sarana dan prasarana yang memadai dan berkualitas. Tak hanya itu, bahkan siswa siswi SMKN 1 Cipeundeuy yang berlokasi di Desa Kosar Pringkasap Kalijati dan jarak terdekat ke jalan raya sejauh 15 km ini juga merupakan sekolah binaan Honda.

Sekolah binaan, antara harapan dan impian

Saat ini kemajuan dalam industri otomotif sudah cukup jauh. Dari data yang dirilis Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), selama bulan Januari – Mei 2016 saja PT Astra Honda Motor  berhasil meraih  total penjualan 1.778.369 unit atau mengantongi 72,76 % market share.

Dari data penjualan di atas, bisa dibayangkan jika jumlah teknisi terbatas. Terlebih di pedesaan yang kondisi jalannya kurang layak untuk kendaraan bermotor. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, sekedar ganti oli pun kadang sukar dilakukan karena jarak yang cukup jauh dengan bengkel resmi yang biasanya ada di daerah perkotaan.

Sementara jika memakai tenaga mekanik dari bengkel yang ada di pedesaan seperti yang ada di dekat rumah, kebanyakan hanya berdasarkan pengalaman tanpa dibekali pengetahuan yang cukup. Lain halnya jika mekanik dibekali pengetahuan dan juga skillnya terus diasah dan dikembangkan seperti para siswa dari SMKN 1 Cipeundeuy.

SMKN 1 Cipeundeuy merupakan pengembangan dari kelas jauh yang diadakan oleh SMKN 2 Subang, Jawa Barat.  SMKN 2 Subang sendiri merupakan salah satu dari 130 SMK di Jawa Barat yang merupakan sekolah binaan  Honda.

PT Astra Honda Motor (AHM) tentu tak ingin ”hit and run” dalam membina siswa Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK) yang mengimplementasikan Kurikulum Teknik Sepeda Motor (KTSM) Honda. Banyak jenjang disiapkan setelah para siswa mendapat bekal.

Dari data kasar PT Astra Honda Motor, lulusan SMK yang menerapkan KTSM Astra Honda, 70 persennya bekerja, dan tentu saja di berbagai bidang dan perusahaan, termasuk bengkel resmi Honda yang kerap disebut AHASS.

Sementara 5 persen di antara mereka memilih untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, atau masu ke perguruan tinggi. Kemudian 25 persen sisanya berwirausaha, terutama di bidang perbengkelan.

”Kami meminjam akronim ’BMW’, yaitu Bekerja, Melanjutkan (jenjang pendidikan), dan Wirausaha,” kata Gunardi, MD Tech. Training Center Sr. Analys AHM

 

Lebih jauh lagi, lulusan SMK yang terserap untuk bekerja di AHASS ternyata sangat banyak. AHM baru efektif menghitungnya sejak akhir 2016 hingga sekarang, tercatat 1.640 lulusan SMK dengan KTSM Honda sudah terserap di bengkel resmi Honda itu.

Lain halnya dengan siswa SMK yang menjadi pemenang Astra Honda Technical Skill Contest (AH-TSC) yang rutin dilaksanakan tiap tahun. Dari sini, para pemenang atau yang berhasil masuk ke kontes tingkat nasional akan lebih banyak mendapat kemudahan bekerja di PT Astra Honda Motor.

Atau, jika ingin berprestasi lebih tinggi, AHM menyiapkan jalur beasiswa untuk belajar di Politeknik Manufaktur (Polman) Astra. ”Jadi, menang atau masuk final kontes, bisa dikatakan sebagai jalur pintas untuk bekerja,” kata Gunardi.

Melakukan pembinaan langsung di sekolah-sekolah lanjutan atas merupakan salah satu program CSR PT Astra Honda Motor (AHM). Melalui program kurikulum yang dijalankan di sekolah binaan ini akan dihasilkan lulusan yang siap pakai, sehingga diharapkan gap atau perbedaan antara dunia industri dan pendidikan semakin mengecil.

Sekolah-sekolah ini akan langsung mendapatkan program kurikulum setara dengan pendidikan yang diberikan untuk mekanik AHASS (Astra Honda Authorized Service Station) atau Technical Training Level Satu (TTL 1),” beber Manager Technical Development PT Daya Adicipta Motora (DAM), Yudi Heriyadi

Berbekal kecakapan dan keahlian yang diperoleh dari sekolah binaan Honda, siswa SMK ini bisa membuka usaha secara mandiri terkait teknik sepeda motor. Suka atau tidak, lulusan siap pakai memang diperlukan oleh industri, khususnya industri otomotif.

“Ini salah satu bentuk komitmen MWS dalam upaya meningkatkan kemampuan para siswa SMK, baik negeri maupun swasta. Harapannya, berbekal kecakapan dan keahlian yang mumpuni, mereka dapat membuka usaha secara mandiri terkait teknik sepeda motor. Tetapi, kami juga tidak menutup kemungkinan menjadi “pengijon”. Maksudnya, para siswa yang memiliki prestasi terbaik, kami menyalurkannya untuk bekerja di unit-unit operasional yang ada,” jelas Wiyanto lagi.

Implementasi KTSM Astra Honda kini sudah diimplementasikan di 616 SMK yang tersebar di 30 provinsi di Indonesia. Selain mendapatkan materi kurikulum dari AHM dan jaringan main dealernya, SMK KTSM Astra Honda juga mendapatkan sepeda motor Honda dan special tools untuk membantu praktek para siswa di laboratorium sekolah masing-masing.

Untuk mendukung kesuksesan kegiatan ini, AHM memberikan pelatihan, serta sertifikasi untuk para guru. Upaya terintegrasi pendidikan teknik sepeda motor untuk SMk juga diwujudkan dengan membentuk Tempat Uji Kompetensi (TUK) KTSM Astra Honda yang saat ini telah ada di 47 SMK binaannya.

Untuk mengembangkan Program Pendidikan Satu Hati ini, AHM juga membuat proses monitoring dan evaluasi yang efektif. Pada tahun ini AHM membangun sistem data base dan E-Learning khusus untuk mendukung implementai KTSM Honda di sekolah binaan. Sistem data base baru ini akan menjadi sarana informasi dan update teknologi baru Honda yang bisa dimanfaatkan oleh para Guru sebagai materi ajar kepada para siswa di masing-masing sekolahnya. Dengan E-Learning ini para guru dengan sangat mudah memperoleh materi-materi dan update teknologi Honda terbaru dengan cara mengunduhnya.

Tak seperti Dani Jaya yang harus menempuh perjalanan sampai ke luar kota untuk bisa mendapatkan pendidikan, adik-adik Dani Jaya di Pringkasap, Pabuaran, Subang bisa memperoleh pendidikan lebih baik, lebih mudah dan lebih dekat.Dengan adanya sekolah binaan, impian anak-anak desa seperti Dani Jaya untuk menuntut ilmu bukan lagi sekedar impian. Bahkan harapan untuk bisa mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih layak pun semakin mudah untuk dicapai.

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published.