Sudah vaksin campak masih dicampakkan, eh… kena campak? Ternyata bisa!

1b20c5823dcdd1b158d104cc15546321

Disclaimer: postingan ini hanya curhat belaka, bukan untuk memicu perdebatan pro dan kontra imunisasi.

Pernah lihat meme tentang vaksin campak di atas gak?

Dulu mah ada tuh iklan imunisasi campak ini di televisi. Saya tahu iklan itu pas jaman masih SMP dan sampai sekarang masih ingat. Bagian yang paling diingat adalah…

Eeeh, cucuku sudah bisa berdiri sendiri!

Di usia 9 bulan biasanya balita mulai belajar berdiri dan di usia 9 bulan ini balita sudah harus mendapatkan imunisasi campak.

Dari 5 imunisasi dasar lengkap, yang terakhir didapatkan oleh anak-anak adalah imunisasi campak, tepat di usia mereka yang ke-9 bulan. Iya, ketiga anak sama memang diimunisasi. Tapi cuma yang dasar saja, yang tambahan mahal soalnya ahaha

Campak berbeda dengan cacar air

Tadinya sih saya pikir campak/tampek dan cacar air ini sama saja. Tapi ternyata, meski sama-sama disebabkan oleh virus, campak ini beda dengan cacar air. Virusnya juga beda sih, kalau campak disebabkan oleh virus paramyxo, cacar air mah  oleh virus varicella zoster.

Ceuceu dan Teteh masing-masing sudah pernah terkena cacar air di usia 6 dan 3 tahun. Kejadiannya barengan, pas musim liburan. Waktu itu Ceuceu baru saja mau masuk ke kelas 1. Panas berhari-hari kemudian disusul munculnya bentol berair di sekujur tubuh.

Gak lama kemudian, Teteh tertular. Alhasil, hampir tiap malam kedua tangan saya sibuk mengusap-ngusap badan Ceuceu dan Teteh yang terasa gatal. Tidur juga gak bisa lelap, soalnya takut Ceuceu dan Teteh gak sengaja menggaruk cacarnya. Kasihan kan kalau sampai berbekas. Untuk mengurangi gatal, cacarnya saya olesi salep Acyclovir. Waktu itu Abah dan Nene sampai membekali saya 20 bungkus Acyclovir. Sisa Acyclovir yang tidak terpakai saya bagi-bagi ke teman dan tetangga yang terkena cacar beberapa bulan kemudian. Saya sendiri sudah pernah kena cacar air. Lupa tepatnya kapan, yang jelas saya ingat pernah kena cacar karena ada bekasnya di pipi dan di alis. Suami katanya juga sudah pernah. Bekas cacarnya gak tau yang mana, soalnya suami mah banyak bekas luka yang aneh-aneh. Mulai dari jatuh dari sepeda, kena mata bor, kena air panas, sampai kena beling… sama seperti saya yang juga pernah kena beling.

Campak? Baik Ceuceu maupun Teteh belum pernah kena campak. Nah, kalau Ade kebalikannya. Belum pernah terkena cacar air tapi kemarin kena campak.

Tapi kan Ade sudah pernah imunisasi campak? Koq masih kena sih?

Anak yang sudah mendapatkan imunisasi campak masih mungkin terkena virus campak. Hanya saja tidak terlalu parah. Infeksi campak yang mengenai anak yang tidak diimunisasi biasanya akan menyebabkan sakit yang berat, misalnya sampai radang paru, radang otak, infeksi telinga, dan sebagainya. Hiyyy… seram ya?

Gejala campak dan penanganannya

Gejala campak mulai muncul sekitar satu hingga dua minggu setelah virus masuk ke dalam tubuh.

Beberapa hari terakhir Ade mengeluh sakit di bagian dahi. Kalau kata orang Sunda mah, rieut. Ade juga mengeluh matanya sakit kalau terkena cahaya. Katanya kalau lihat banyak orang juga pusing.

Meski begitu, Ade tetap beraktivitas seperti biasa. Makan minum juga gak ada masalah. Sampai hari Selasa, Ade tiba-tiba saja panas tinggi. Karena riwayat kejang demam, otomatis kalau Ade panas saya selalu waspada.

Baca juga: Atasi Demam Pada Anak Dengan Tepat

Selama panas Ade tidak pernah lepas dari obat panas dan kompresan. Hari Rabu Ade mengeluh ada sariawan di dalam mulutnya.

Tiga malam saya begadang mengawasi Ade. Tumben, panasnya susah turun. Jumat pagi, mulai muncul ruam di badan Ade, terutama di bagian kepala dan dada. Khawatir ada sesuatu, saya mengajak suami membawa Ade periksa ke dokter.

Jumat suami pulang lebih cepat dan langsung membawa Ade periksa ke Medika Tambakan. Di sana dokter memeriksa Ade dan mendiagnosis kalau Ade terkena campak. Tapi agar lebih yakin, dokter menganjurkan Ade diperiksa darahnya.

Alhamdulillah, dari hasil pemeriksaan trombosit masih normal. Hanya leukosit yang jumlahnya di bawah standar. Maklum saja, namanya juga kena virus.

Dokter memberi saya resep yang isinya obat penurun panas dan beberapa vitamin. Menurut dokter, anak yang terkena campak akan mengalami demam selama 7-9 hari dan disusul dengan ruam yang muncul di sekujur tubuh.

Berhubung Ade baru panas 4 hari, jadi saya masih harus siaga selama 5 hari ke depan. Baiklah…

Sabtu sore, Ade masih panas dan badannya sudah hampir dipenuhi ruam merah.

img_20161224_133905

Ade bilang kalau Ade sekarang mah gak bagus lagi. Maksudnya gak ganteng gara-gara muka dan badannya merah-merah. Uuuhh… meni sedih, de.

Virus campak ini bisa menular melalui percikan cairan yang dikeluarkan saat mereka bersin dan batuk. Virus campak bisa bertahan di permukaan selama beberapa jam, akibatnya, virus ini bisa bertahan menempel pada benda-benda. Saat kita menyentuh benda yang sudah terkena percikan virus campak, lalu menempelkan tangan ke hidung atau mulut, kita bisa ikut terinfeksi.

Jadi usahakan agar alat makan, minum dan mandi anak yang terkena campak terpisah dari yang lainnya.

Ade tertular dari mana? Wallahu alam…

Berhubung Ade sudah pernah divaksin di usia 9 bulan dulu, jadi saya gak terlalu khawatir sih. Yang penting sekarang mah asupan makanan yang sehat dan bergizi agar Ade bisa melawan virus di dalam tubuhnya.

Hari ke 14, kondisi Ade sudah jauh lebih baik. Yang tadinya rumah sepi karena Ade tiduran terus, sekarang mah sudah rame lagi sama absen Pokemon.

Hampir dua minggu sakit campak, Ade kelihatan kurus banget. Sekarang kulit Ade lagi mengelupas seperti ini nih…

img20170101115832.jpg

Ternyata sakit campak ini berat dan gak bisa disepelekan. Nah… ini membuat saya makin sedih, soalnya saya mah susah banget pengen kurus teh. Kira-kira dikasih vaksin apa ya biar gak terus menggendut? Wkwkwkwk

You may also like

6 Comments

  1. Adeeee cepet sembuh yaaa, Ceu Rinrin jaga kesehatan, teteh aku ngurusin anaknya campak, seminggu kemudian malah ketularan.. hiks.. Sehat2 we lah.. makanya atuh pake sharp plasmacluster #eh huakakakka :p

  2. Glad to see that other commenters realize that the term “fascist” should not be intdacriminsiely applied to anyone that you don’t like. While I’ve that “submission” naturally involves cooperation of business and government, in the Muslim case we’re not talking about the government controlling business – we’re talking about both government and business being controlled by (in their view) a higher power.

Leave a Reply

Your email address will not be published.