Ojeg oh ojeg…

Gara-gara ngomongin ojeg di postingan sebelumnya, saya jadi inget kalau dulu jaman kuliah saya sering banget kesiangan. Entah itu karena berangkat dari rumahnya yang kesiangan, sudah berangkat lebih cepat tapi jalanan macet luar biasa, gak kebagian angkot atau bis lah, dan masih banyak alasan lainnya. Pokoknya baru sampai gerbang saja sudah kesiangan titik. Makanya tukang ojeglah yang sangat berjasa meminimalisir waktu kesiangan.

Gak peduli si tukang ojeg menjadi gak berbudaya karena menyerobot hak pejalan kaki dengan naik ke atas trotoar, saya cuek saja kalo ada yang mengeluarkan sumpah serapah saat haknya terampas. Harap maklum… sedang buru-buru 😀

Tapi akhirnya saya pun kena batunya…

Continue Reading

Jatuh di aspal tak seindah jatuh cinta

Seorang teman mengunggah gambar di atas di akun FBnya. Menurut saya gambarnya lucu dan sangat sesuai dengan kenyataaan…. “Jatuh di aspal memang tidak seindah jatuh cinta”

Kalau jatuh cinta mampu membuat hati berdebar-debar setiap saat, makan gula jawa pun terasa jadi coklat, tidak demikian dengan jatuh di aspal.

Continue Reading

Preman Pensiun: Don’t Judge a Book By It’s Cover

Sekarang di televisi sedang re-run sinetron kekinian Preman Pensiun 2. Padahal jujur saja, tadinya saya anti nonton televisi selain acaranya Adam Levine :PI

Selama bulan puasa, acara ngabuburit dan sahur pasti ditemani Kang Mus dan anak buahnya di Preman Pensiun 2. Iya… Kang Mus alias Muslihat, tangan kanannya almarhum Kang Bahar.

Kang Mus yang disegani banyak anak buahnya tapi sangat sayang kepada keluarganya, termasuk kepada Nini, mertuanya yang seringkali kesasar. Apapun dilakukan Kang Mus untuk membahagiakan Ceu Esih, Nini, dan anaknya, Eneng.

Saya sendiri baru mulai menonton Preman Pensiun 2 setelah Didi Petet alias Kang Bahar meninggal. Untuk mengejar ketertinggalan cerita, saya menonton Preman Pensiun melalui streaming. Perlu 4 hari untuk menyelesaikan 36 episode Preman Pensiun yang cukup mengaduk-ngaduk perasaan.

Continue Reading

Bukan hanya manusia yang butuh air…

Belakangan ini cuaca rasanya tidak menentu. Pagi sampai siang panasnya bukan kepalang, menjelang sore awan mulai mendung. Tapi sampai matahari terbit kembali keesokan harinya hujan tak kunjung turun.

Wajar sih, kalau dihitung dari nama bulan, hujan memang baru akan turun bulan September nanti hehe…

Memang begitu kan cara menghitung musim hujan/panas jaman dahulu. Mulai bulan September, Oktober, November, Desember itu pasti musim hujan. Dan hujan akan berhenti di bulan Maret. “Ret weh raat”, begitu kata orang Sunda.

Dari bulan Maret sampai Agustus baru mulai lagi musim panas.

Tapi perhitungan musim seperti ini belakangan tidak berlaku. Menurut berita, badai el Nino mulai masuk ke Indonesia hingga awal November 2015. Otomatis, musim hujan pun mengalami kemunduran.

Bagi saya, musim kemarau yang cukup panjang kali ini lumayan menyiksa. Air yang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia mulai jadi barang langka. Apalagi saya hanya mengandalkan air PAM untuk kebutuhan air di rumah. Itu pun hanya mengalir malam hari. Kalau siang bisa dipastikan tidak ada satu tetes pun yang mengalir dari pipa PAM ke bak penampung.

Tak heran beberapa waktu yang lalu saya melihat status seorang teman yang mengeluh, betapa mudahnya tetangga dekat rumahnya membuang-buang air untuk menyiram tanaman dan jalan. Please use ur brain, katanya… orang lain sedang kekeringan ini koq malah dibuang-buang?

Hmm… saya sih melihatnya dari sisi lain, karena bukan manusia saja yang memerlukan air. Tanaman juga sangat memerlukan air untuk kehidupannya. Kalau tidak ada air, bagaimana mungkin tanaman itu bisa hidup? Mengandalkan air hujan? Ah, kan sekarang masih musim kemarau. Jadi tanaman yang ada di halaman rumah si ibu tetangga teman saya itu tentu saja mengandalkan air yang sengaja disiramkan.

Ok, tanaman memang butuh air. Tapi untuk apa ibu itu menyiram jalan? Jalanan di musim kemarau pastinya berdebu. Sungguh tidak enak melewati jalan berdebu di siang hari. Apalagi disertai angin yang kencang. Batuk-batuk deh…

Tak ada salahnya koq menyiram tanaman dan jalan di musim kemarau seperti sekarang ini. Karena bisa jadi air yang digunakan oleh si ibu tetangga teman saya itu menggunakan air bekas pakai. Bisa jadi air bekas wudhu, atau malah air bekas cucian.

Yup, air bekas cucian juga masih bisa dipakai untuk mengepel, mencuci sepeda/motor/mobil, bahkan menyiram tanaman. Kalau mencuci dengan mesin cuci misalnya, tampung air bekas bilasan ke dalam jolang/ember untuk digunakan menyiram tanaman. Air bekas bilasan relatif lebih bersih dan mengandung sedikit sabun bukan? Terlebih sekarang banyak koq detergen yang ramah lingkungan. Ingat, bukan berarti semakin banyak busa cucian semakin bersih! Yang ada busa yang banyak malah semakin merusak lingkungan.

Kalau air sedang kritis, saya juga mensiasati mencuci piring dengan menggunakan air yang sudah ditampung di dalam ember/baskomYa, anggap lah sedang hajatan hihi… orang kalau sedang hajatan kan cuci piringnya ditampung gitu, bukan pakai air mengalir di bawah keran.

Masih banyak koq cara menghemat dan menggunakan air bekas pakai hingga bisa digunakan untuk keperluan lainnya, termasuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup lain terhadap air. Karena bukan manusia saja yang butuh air. Lebih penting lagi, ketika air sedang melimpah, jangan lantas dibuang-buang deh… Kita tidak pernah tahu betapa berharganya air sampai kita benar-benar kehilangan air. ..

Continue Reading

Lebaran tetap senang meski tanpa baju lebaran

Ceu… nanti gak usah beli baju lebaran ya?”, tanya saya ke Ceuceu yang sedang asyik ngabuburit sambil membaca komik.

Emangnya kenapa?”, bukannya menjawab pertanyaan saya, Ceuceu malah bertanya balik.

“Gak apa-apa sih, sayang aja baju lebaran yang dipakai sholat Ied tahun kemarin kan masih cukup.  Terus sekarang harus beli seragam buat sekolah, seragam Ceuceu kan udah kecil. Belum lagi seragam pramuka juga kan ganti model, jadi harus beli lagi”, saya memberikan alasan kenapa tahun ini memilih tidak membeli baju lebaran.

Kalau Teteh? Gak beli baju lebaran juga?“, tanya Teteh.

Baju lebaran Teteh yang kemarin juga masih cukup. Teteh sekarang harus pake rok panjang, jadi sama harus beli seragam baru”, jawab saya.

“Ade gimana?”, tanya Teteh lagi.

Continue Reading