Kejutan Mengerikan di Dalam Lemari

“Mah, di lemari Ceuceu kaya’ ada bau gitu”, kata Ceuceu setelah mengambil baju ganti di lemarinya.

“Masa sih? Gak kecium ah sama Mamah mah”, saya yang memang memiliki sedikit masalah dengan indera penciuman berusaha keras mengendus sesuatu di dalam lemari yang menurut Ceuceu bau.

Ah, menyerah deh. Tulang hidung yang sedikit bengkok ditambah adanya benjolan yang menutup hampir seluruh bagian kiri lubang hidung membuat saya benar-benar kehilangan sensitifitas terhadap bau.

Terus kenapa tidak ke dokter? Apalagi alasannya kalau bukan takut… hehe

Continue Reading

Belanja baju di Bandung? Pahami seninya!

Riuhnya suasana Bandung seminggu terakhir kemarin sudah jelas menjadi perhatian warga, bukan hanya warga Bandung, tapi juga warga luar kota Bandung bahkan luar negeri. Ya, apalagi kalau bukan karena peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60.

Sebagai tuan rumah yang baik, sudah seharusnya kota Bandung berbenah mempercantik diri. Berkat kerja keras Kang Emil beserta staff dan jajaran aparat lain, juga bantuan dari relawan yang bekerja siang malam tanpa kenal lelah, Bandung tidak hanya berubah menjadi jauh lebih cantik, perhelatan ini juga berjalan dengan sukses. Alhamdulillah.

Gedung Merdeka, sumber foto : FB Kang Emil

Kini, Bandung yang someah hade ka semah semakin dikenal dunia. Dan bukan rahasia pula kalau Bandung merupakan salah satu surga buat para penggila belanja, terutama belanja pakaian. Mereka tidak hanya berasal dari kota-kota sekitar Bandung, tapi juga dari luar provinsi sampai luar Jawa.

Sepertinya sih mereka tergiur karena banyak pilihan tempat belanja di Bandung, mulai dari FO, distro, mal, sentra kerajinan, sampai pasar tradisional. Selain itu, harga pakaian di Bandung juga boleh dibilang relatif lebih murah dengan kualitas yang bagus.

Pilihannya juga banyak. Mau belanja jeans? Tinggal pergi ke Cihampelas sekalian mampir ke Taman Pasupati. Kalau mau sepatu tinggal ngesot ke Cibaduyut, kalau mau pakaian sisa ekspor tinggal melenggang ke Dago, melipir sedikit sampai di Tebing Keraton yang sedang kekinian itu. Perlu pakaian bekas impor biar tampil gaya dengan budget minimal? Tinggal blusukan ke Pasar Induk Gedebage

Ah, saya mah perlunya bahan buat bikin baju. Kainnya aja gitu beli dimana?  Mampir deh ke ITC Kebon Kalapa atau ke Pasar Baru. Tapi jangan harap bisa menemukan payung-payung manis berwarna warni yang sempat  bergelantungan di sepanjang jalan Otista seperti ini ya…

Suasana Pasar Baru menjelang perayaan KAA, sumber foto : FB Kang Emil

Sudah raib tanpa jejak itu mah! Sayang sekali ya… mudah-mudahan kalau diganti lebih awet dan warga Bandung bisa menjaganya dengan baik.

Mau belanja sambil kongkow-kongkow dan ngadem tinggal masuk mall. Ada mall pertama di Bandung BIP yang masih kokoh berdiri sampai sekarang, ada PVJ, Braga Citywalk,  dan masih banyak lagi. Tidak hanya pakaian, barang-barang elektronik—seperti gadget terbaru, TV, mesin cuci, kulkas, dan lain-lain—juga gampang ditemukan.

Kalau mau barang elektronik dengan harga yang sedikit miring sih mampir saja ke IBCC di Jalan Ahmad Yani, atau ke Jalan ABC yang tidak terlalu jauh dari Gedung Merdeka. Kemarin juga saya beli mesin cuci di Jalan ABC.

Baru pertama kali beli mesin cuci dan gak tahu cara kerja mesin cuci? Gak usah malu tanya ke penjaga toko. Pasti dijawab dengan ramah. Namanya juga urang Bandung, pasti someah hade ka semah 😀

Kalau canggung, cari tahu saja cara kerja mesin cuci di situs-situs yang bisa dipercaya. Hampir semua lokasi belanja ini memungkinkan calon pembeli menawar harga.

Nah, biar dapat barang idaman dengan harga terbaik dan sesuai kantong, pelajari tips tawar-menawar berikut ini.

  1. Senyum! Senyum ini trik utama saat menawar harga. Kalau pembeli murah senyum, penjual juga pasti kasih harga murah. Ingat, pedagang juga manusia! Sikap ramah biasanya akan berbuah manis dan membuat proses tawar-menawar jadi lebih mulus. Sebaliknya, pembeli yang jutek dan suka bentak-bentak biasanya gak dapat tanggapan bagus dari penjual atau malah bisa-bisa diusir dari tokonya. Kalau penjual yang jutek? Udah tinggalin aja! Hehe
  2. Jangan tawar barang-barang yang sudah dipasangi banderol harga! Tapi, ada juga penjual di pasar tradisional yang pasang label harga hanya untuk patokan harga awal, jadi masih bisa ditawar terutama untuk pembelian dalam jumlah besar. Pengetahuan harga sebelum masuk toko juga bermanfaat jadi bekal. Tanya teman atau penduduk lokal yang sudah biasa belanja di Bandung, jadi kalau pedagang kasih harga awal di atas harga normal, tidak perlu ragu-ragu menawarnya. Browsing harga melalui internet juga lumayan membantu.
  3. Keluarkan jurus basa-basi dan humor. Di tengah proses tawar-menawar yang seru, cairkan suasana dengan humor-humor andalan untuk melepas ketegangan si penjual yang mungkin sudah jaga toko dari pagi atau menghadapi banyak pembeli rewel seharian. Selain humor, basa-basi terkait barang yang akan dibeli juga bisa membantu. Misalnya, tanyakan cara kerja mesin cuci dan cara merawat mesin cuci biar awet.
  4. Tunggu sampai tidak ada calon pembeli lain nguping. Tentunya pedagang gak mau kasih harga rendah kalau ada calon pembeli lain di sekitar. Karena kalau satu pembeli dapat harga rendah, yang lain juga bakal minta. Tunggu sampai agak sepi atau jauh dari calon pembeli lain, baru ajukan harga tawaran.
  5. Siap-siap pindah ke toko sebelah. Kalau harga tetap tidak cocok, daripada bikin kantong jebol, mending tinggalkan toko dengan tangan kosong. Untung-untungan juga sih, penjual bisa jadi memanggil lagi buat kasih kesempatan terakhir. Kalau gak dipanggil lagi, pindah ke toko sebelah. Capek?? Demi harga murah atuh lah… 😀

Dengan banyak pilihan barang ketika belanja di Bandung, kadang jadi sulit menentukan pilihan dan berujung bikin kalap. Biar tetap terkontrol, ikuti tips umum ini:

  • Beli pakaian bekas impor dari Pasar Induk Gedebage tidak ada salahnya asalkan pakaian yang kita beli tidak cacat, bersih, dan harganya masuk akal. Baru atau bekas, pakaian yang baru dibeli dari toko perlu dicuci ulang untuk menghilangkan tumpukan debu dan sisa-sisa bahan kimia selama proses produksi.
  • Banyak jeans atau sepatu dipasangi label merek-merek terkenal, padahal sebenarnya palsu. Daripada beli barang bermerek palsu, mending beli jeans atau sepatu yang tidak bermerek atau bermerek lokal tapi berkualitas. Walaupun kecil kemungkinan pembeli barang palsu berurusan dengan hukum, membeli barang palsu tetap melanggar hukum. Lagian, malu dong pakai sendiri atau kasih oleh-oleh barang palsu. Bayangin aja kalau kita juga dapat cinta yang palsu, gimana tuh rasanya? Uhuks… :)

Sebelum keriuhan dan sisa-sisa perayaan KAA di Bandung hilang, hayu atuh kita belanja… happy shopping ya… 😀

Continue Reading

Goyang Dumang Bareng Si Lumba-lumba

“Ceeeuuu… injekin Mamah donk? Pegel banget nih”, pinta saya ke Ceuceu sambil setengah berteriak.

Maklum, Ceuceu sedang asyik membaca komik di kamarnya. Kalau bicara pelan-pelan, dijamin tidak akan terdengar. Tapi rupanya meski suara sudah dinaikan beberapa oktaf, Ceuceu masih asyik dengan komiknya. Terpaksa saya kembali berteriak… kali ini bukan setengah-setengah…

“Ceuuuuuuu!!! Injekin Mamaaahhhh!!!!!”

Tapi masih hening, teriakan saya masih tidak terjawab.

Pepatah Sunda bilang sih uyah itu tara tees ka luhur. Apa yang Ceuceu lakukan sekarang ini memang sebuah cerminan atas kebiasaan saya dulu, saat saya seumuran Ceuceu.

Ketika saya masih kecil, Nene berjualan beberapa alat rumah tangga. Rumah kami dulu memang dekat dengan pasar, tapi agar bisa mendapatkan barang yang harganya lebih murah dari pasar dekat rumah, mau tidak mau Nene harus ke Pasar Baru atau ke Kosambi. Jaraknya lumayan jauh lah, apalagi kalau pakai kendaraan umum, bisa naik turun 3-4 kali ganti angkot. Biasanya Nene belanja barang seminggu sekali. Pulang belanja, Nene seringkali meminta saya memijat atau menginjak punggungnya.

Karena ketiga kakak laki-laki yang sudah beranjak remaja jarang di rumah, alhasil saya yang seringkali kebagian disuruh memijat Nene. Nene bilang sih, hal yang paling nikmat di dunia adalah dipijat dan diinjak punggung.

Dulu saya malas sekali kalau disuruh Nene. Selalu saja ada alasan yang saya buat. Ketika saya menurut untuk segera menginjak punggung Nene pun, tidak pernah sampai tuntas. Begitu ada kesempatan, saya pasti kabur dengan berbagai alasan. Hih… anak macam apa saya ya?

Selain berjualan, Nene mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Bahkan saya sebagai anak perempuan satu-satunya seringkali dibebas tugaskan dari pekerjaan rumah. Kalau kebetulan Nene meminta bantuan saya, sebisa mungkin saya menghindar. Akibatnya ya seperti sekarang ini, saya sangat mudah capek.

Sekarang, belum juga saya seumur Nene ketika Nene meminta saya menginjak-injak punggung Nene, saya merasa sudah harus sering diinjak anak-anak. Padahal pekerjaan yang saya lakukan tidak seberat pekerjaan Nene yang isi lemari pun dibersihkan tiap hari, tapi badan saya terasa sangat pegal. Apalagi bagian punggung. Itu cuma gara-gara sapu-sapu atau ngepel… huhu

Benar kata Nene, kalau sudah capek begitu, hal yang paling nikmat di dunia adalah dipijat dan diinjak punggung.

Hanya saja karena dulu saya juga sering kabur saat disuruh Nene, sekarang saat saya menyuruh Ceuceu, Ceuceu selalu beralasan macam-macam. Bukan hanya Ceuceu, tapi juga Teteh dan Ade *shocked

Terus siapa donk yang bisa disuruh memijat saya kalau bukan anak-anak? Tiap hari bayar tukang urut datang ke rumah juga gak mungkin banget kan?

Akhirnya mau tidak mau suami yang kebagian jadi tukang pijat tiap kali beliau pulang dari kantor. Padahal saya tahu, perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya cukup menguras tenaga, Seharusnya sih saya yang memijat beliau… hihi…

Kalau kebetulan jalan-jalan ke game center di mall, suami memilih melipir ke kursi pijat. Cukup bayar 5000 udah bisa dapat pijatan enak katanya. Hanya saja ini juga bukan solusi yang baik, mengingat kalau mampir ke game center tidak cukup sampai di kursi pijat. Sementara bapaknya dipijat, ini 3 anak berebut naik odong-odong. Duh, bangkrut donk!

Sadar kalau saya tidak mungkin disuruh jadi tukang pijat dan juga tidak mungkin tiap hari melipir ke game center, suami berinisiatif membeli alat pijat elektrik. Bentuknya seperti lumba-lumba.

Suami bilang sih pas dicoba lumayan enak. Cukup ditempelkan sedikit, si lumba-lumba langsung bergoyang dumang. Perlu pijatan yang lebih terasa, cukup beri sedikit tenaga saat menekan si lumba-lumba.

Rasanya saya beruntung punya suami pengertian… atau sebenernya suami malas disuruh mijat ya? Hihihi… Yang jelas, sekarang saya gak perlu menyuruh Ceuceu, Teteh, Ade atau malah suami untuk memijat punggung saya. Sudah ada si lumba-lumba yang menbuat saya jadi emak multitasking… ngeblog sambil goyang dumang… haha

Pijat sambil ngeblog... bisaaaa... :P
Pijat sambil ngeblog… bisaaaa… :P

Continue Reading

Rintangan Journalist Wannabe adalah…

Gak nemu colokan listrik! 

Haha… buat saya yang memang selalu ingin eksis dimana pun saya berada, colokan listrik adalah hal yang sangat penting dan harus ada. Jadi kalau tidak ada colokan listrik, cita-cita saya jadi wartawan jadi-jadian jelas bisa terhambat.

Kemanapun saya pergi, saya selalu membawa sebuah ransel yang berisi laptop yang baterainya mulai sering sekarat dengan cepat, masih kamera DLSR (maklum, lensa telenya belum terbeli :P), beragam kabel USB dan charger.

Bulan Maret kemarin saya mengikuti Workshop #SahabatJKN #LawanTB yang dihadiri oleh blogger-blogger dari seluruh daerah di Indonesia. Dari acara workshop ini pula saya jadi tahu kalau bukan hanya saya yang mengalami ketergantungan terhadap colokan, tapi juga blogger-blogger lain ahaha

Di ruangan tempat workshop diadakan, panitia sibuk menyiapkan sambungan listrik yang segera dipenuhi berbagai macam adaptor. Alhamdulillah, saya masih kebagian satu slot colokan yang saya prioritaskan untuk laptop. Laptop jadi prioritas untuk mencatat beberapa poin penting yang disampaikan pembicara saat workshop. Maklum, penyakit tua mulai menyerang. Kalau tidak segera saya tulis, bisa-bisa saya tidak ingat sama sekali materi workshop yang saya ikuti hihi

Workshop hari pertama berjalan aman tanpa gangguan. Rintangan mulai terasa saat workshop hari kedua yang berjalan di luar ruangan karena peserta harus berkeliling ke Klinik TB di RSHS. Alamat gak bakal nemu colokan nih… 

Duh… padahal hape saya hanya bisa bertahan beberapa jam dan pasti bakal cepat soak kalau dipakai mengunggah foto bahan live tweet. Sebelum keluar rumah menuju tempat workshop sih baterai hape sudah terisi penuh. Mengandalkan power bank? Power bank paling hanya bisa dipakai sekitar 1-2 jam. Sesudah itu, pasti saya termangu dan menggalau.

Kekhawatiran saya terbukti. Workshop baru berjalan setengah hari dan saya sudah kehabisan semua energi cadangan. Semua baterai baik itu hape dan power bank sudah habis.

Galau donk!!! Bagaimana tidak galau, orang lain sibuk live tweet dan juga foto-foto dengan tongsisnya, saya malah gak bisa apa-apa. Menyesal saya tidak melirik tawaran seorang teman yang berjualan power bank tenaga surya.

Maklum, sebagai emak-emak yang hobinya ngeblog sambel gegoleran di atas kasur dan memang jarang kemana-mana, saya pikir saya akan selalu menemui colokan lisrik di mana pun saya berada 😛

Kata teman sih pengisian power bank tenaga surya ini menggunakan tenaga matahari. Ya iyalah, kalau pakai tenaga air namanya juga pasti lain lagi hihi. Lumayan nih buat mengirit penggunaan listrik. Meski hanya menggunakan sedikit energi listrik saat pengisian power bank atau baterai hape, tapi kalau sering dipakai ya jadinya banyak juga. Coba kalau semua bisa diisi dengan tenaga matahari ya… bisa irit listrik berapa banyak tuh…

Jadi inget jaman masih kecil dulu… masa di mana saya sering menjemur baterai jam atau game boy buat main tetris di bawah matahari. Konon, baterai yang dijemur bisa kembali terisi setelah dijemur di bawah terik matahari. Ada yang punya pengalaman yang sama??? 😀

 

Continue Reading

Tetap enak tanpa MSG

Beberapa hari yang lalu, seorang teman di grup WA melempar sebuah survey. Surveynya menanyakan, bagaimana kebiasaan memasak anggota grup yang lain? Apakah memakai bumbu instan, ditambah MSG, atau cukup gula dan garam?

Jawaban dari teman-teman di grup tentu saja cukup beragam. Namanya juga beda kepala, pastilah beda juga lidahnya. Ada yang menjawab hanya gula dan garam, ada yang selalu pakai bumbu instan, ada yang tidak pernah ketinggalan memakai MSG, ada juga yang mengharamkan pemakaian MSG.

Saya sendiri saat memasak hanya memakai garam murni. Untuk beberapa masakan ditambah gula. Hasilnya memang kurang enak dibanding masakan Nene atau masakan mertua. Maklum saja, terasa kurang enak karena sejak kecil memang terbiasa dengan masakan yang memakai MSG.

Padahal saya sendiri tahu bahayanya mengkonsumsi MSG secara berlebihan, salah satunya sih katanya membuat orang menjadi bodoh. Hmmm… benar tidak ya? Yang jelas, sekarang saya mulai sering pikun… hihihi.

Ketika mengkonsumsi MSG secara berlebihan, perut saya sering terasa mual, kepala juga terasa pusing.

Lain lagi dengan cerita salah seorang teman di grup yang sudah jelas-jelas mempunyai alergi, termasuk alergi MSG. Saat beliau mengkonsumsi masakan yang mengandung MSG, beberapa bagian tubuhnya menderita gatal-gatal. Gatalnya bisa sampai seminggu katanya, padahal makanan yang masuk ke perutnya itu hanya sedikit.

Sementara Aldebaran, si bungsu juga punya alergi. Alergi terhadap MSG sih belum terlihat, hanya saja ketika Aldebaran mengkonsumsi seafood, sekujur tubuhnya langsung dipenuhi kaligata. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bukankah lebih baik mencegah kemungkinan terjadinya alergi MSG itu menyerang Aldebaran? Kan kasihan juga kalau Aldebaran sampai gatal-gatal hanya gara-gara emaknya teledor memberi MSG di masakan yang disantapnya.

Godaan untuk memberi MSG di setiap masakan memang kadang tidak bisa ditolak. Apalagi ketika kebetulan jajan di luar dan entah kenapa masakan orang lain koq rasanya jauh lebih enak ya? Sementara saat mencoba resep yang sama, rasanya tidak sesuai harapan. Anak-anak malah kurang lahap makannya.

Terus gimana donk mensiasati masakan agar tetap terasa enak meski tanpa MSG? Seorang teman di grup kemarin membahas pembuatan kaldu sendiri. Sebenarnya ide untuk membuat kaldu sendiri sudah pernah saya lakukan, duluuu sekali.

Sayangnya, membuat kaldu itu tidak cukup dengan sepotong dua potong daging ayam atau sapi. Sementara di keluarga saya, jarang yang suka makan daging ayam. Apalagi suami saya, wah… kalau hanya ada ayam goreng di meja makan, sepertinya beliau memilih makan sama garam saja heuheuheu…

Daging sapi? Hanya sesekali saja kami menyantap daging sapi. Suami dan anak-anak lebih memilih ikan dibanding daging-dagingan.

Jadi kalau hanya perlu kaldu untuk membuat tumisan terasa enak misalnya, rasanya ya sayang saja kalau harus membuat kaldu sendiri. Untungnya sekarang ada kaldu non msg yang banyak dijual di pasaran.

Jadi saya masih bisa membuat masakan enak tanpa khawatir anak-anak terkena alergi MSG atau malah jadi cepat pikun seperti saya… dan yang penting sih, tidak perlu jajan di luar untuk bisa makan enak… haha… antara irit dan pelit memang beda tipis :)))

Continue Reading