Cara asyik hemat listrik

“Mah, nanti lampu aquarium matikan jam 9 ya! Terus besok nyalain lagi jam 10 pagi,” pesan suami sebelum berangkat kerja.

Setiap hari Selasa suami memang tidak pulang ke rumah, giliran piket di kantor. Padahal suami punya aquarium yang memerlukan perhatian lebih dibanding saya sendiri. Aquariumnya ini tiap hari dipegang dan dipandangi lama-lama… istrinya? Hiks… di dompetnya saja tidak ada foto saya… haha

Jadi saat ditinggal suami, tugas memberi makan ikan, menambah cuka ke aquarium untuk mengurangi nilai No3 & PO4 sampai serendah mungkin, dan mematikan/menyalakan lampu aquarium sudah pasti jadi tugas tambahan saya. Tapi urusan cuka sih masih bisa diakali. Kalau saja terlewat di siang hari, masih bisa saya tambahkan sore… sebelum beliau pulang. Eh… ssst… mudah-mudahan post yang ini tidak dibaca suami :))

Sadar kalau saya pelupa, suami seringkali mengingatkan tugas-tugas  tambahan itu melalui BBM.

Tapi saya memang pelupa. Meski suami sudah mengingatkan untuk segera menambah cuka atau mematikan lampu, selalu ada pekerjaan lain yang saya rasa jauh lebih penting. Mematikan lampu aquarium menjadi pekerjaan yang selalu saya tunda-tunda, sampai akhirnya ya lampunya terus menyala.

Tentu saja suami menggerutu, soalnya aquarium jadi panas, terlihat dari suhu aquarium yang seringkali sampai di angka 30 C. Kebayang donk panasnya itu ikan dan teman-temannya di aquarium? Kipas yang dipasang di sisi kanan dan kiri tidak cukup membantu mengurangi suhu di dalam aquarium. Beberapa coral di dalamnya jadi mengkerut kepanasan. Keseringan lupa mematikan lampu seperti ini juga membuat banyak coral perlahan-lahan mati, ujung-ujung batangnya memutih. Hiks… maafkan ya…

Bukan hanya coral yang mati, tagihan listrik pun selalu membengkak. Terang saja, lampu aquariumnya 152W, menyala terus selama dua hari satu malam, setiap minggu selama suami kebagian piket di kantor.

Tak mau bencana terus berlanjut, suami memutuskan membeli stop kontak timer, dan ini ternyata jauh lebih bisa diandalkan dibanding saya haha

Stop kontak timer ini juga saya pakai untuk dispenser. Soalnya dispenser mengeluarkan energi yang cukup besar, konsumsi dayanya sampai 300 s/d 500W. Karena di malam hari seluruh anggota keluarga tidur dan tidak memerlukan air panas, maka dilakukan pengaturan sebagai berikut:

– setting hidup dari jam 5 pagi sampai jam 9 malam.

– setting mati dari jam 9 malam sampai jam 5 pagi.

Lumayan sih, bisa mengirit tagihan listrik beberapa rupiah. Dan yang lebih penting, pakai stop kontak timer seperti ini, suami tidak perlu repot-repot mengirip pesan lewat BBM…. “lampu sudah dimatikan?” 😀

😀

Continue Reading

Uang Palsu Bikin Malu

“Bapa… cik geura tingali, ieu duit naha asli atawa palsu? Piraku rek dipake balanja ka Alf*, ceuk kasirna cenah ieu mah duit palsu???”, suasana di teras rumah mendadak gaduh.

Mertua yang hendak berbelanja di minimarket dekat rumah terpaksa menanggung malu, karena uang yang dibawa mertua ditolak kasir. Kata kasir minimarket, uang itu palsu!

Padahal mertua sangat yakin kalau beliau membawa uang asli. Uang itu beliau peroleh dari hasil berjualan di pasar. Entah dari siapa. Dalam waktu sehari tentu saja ada banyak pelanggan yang bertransaksi dengan beliau.

Sementara itu, beberapa hari yang lalu, di pasar tempat mertua berjualan, seorang pengedar uang palsu tertangkap basah. Ada ratusan ribu rupiah uang palsu dengan nominal yang berbeda-beda siap ditukar dengan beberapa jenis barang di pasar. Pedagang lengah sedikit, uang palsu itu dengan cepat akan berpindah tangan.

Sial bagi pengedar uang palsu (sebut saja si X), secara kebetulan setelah si X bertransaksi dengan seorang pedagang, ada petugas bank yang hendak mengambil tabungan pedagang itu. Di pasar dekat rumah saya, petugas bank memang bersikap jemput bola. Aktivitas pedagang yang cukup padat tidak memungkinkan mereka melakukan transaksi ke kantor bank. Jadi bank-lah yang mengutus petugasnya untuk mengambil setoran atau bahkan memfasilitasi pedagang yang memerlukan pembiayaan ke bank resmi.

Petugas bank dengan jeli memeriksa setiap lembar uang yang diterima sebelum dimasukkan ke dalam kantong. Dan ya… uang yang diterima pedagang tadi memang uang palsu. Beruntung pedagang ini masih ingat dari mana uang palsu itu beliau dapatkan. Si X berhasil digelandang ke kantor polisi. Tapi ternyata selang beberapa hari kemudian, mertua masih saja kebagian uang palsu.

Wajar saja sih, dalam kondisi transaksi yang serba cepat di pasar, sulit bagi mertua untuk membedakan mana uang yang asli dan mana yang palsu. Dulu saya selalu diwanti-wanti bahwa uang palsu itu yang tidak ada gambar pahlawannya ketika diterawang, kini pembuat uang palsu sudah semakin pintar. Gambar pahlawan di bagian yang kosong itu dengan mudah ditiru. Tidak perlu diterawang, gambarnya samar-samar sudah terlihat. Meski kalau disandingkan dengan uang asli tetap saja terlihat perbedaannya. Menggambarnya sepertinya manual, jadi kadang terlihat kacamatanya yang miring, atau hidungnya yang jauh lebih besar. Pokoknya pahlawan yang ada di kertas uang palsu mukanya tidak prosorsional…

Masih ingat kan dengan rumus 3D untuk memeriksa keaslian uang?

  • Diliat, warnanya pudar atau tidak? Selain itu uang palsu juga akan mudah robek pada bagian lipatannya.
  • Diraba, uang asli dicetak dengan kertas khusus yang bertekstur agak kasar, sementara uang palsu biasanya lebih licin dan halus.
  • Diterawang, pada bagian tanda air, uang asli akan menunjukkan gambar pahlawan yang proporsional, sementara uang palsu seperti yang saya ceritakan tadi… gak ganteng blasss

Sekilas sih uang palsu dengan uang asli tidak terlalu nampak perbedaannya. Maling jaman sekarang memang makin pinter…

Untuk mencegah hal serupa kembali terulang, saya menyarankan mertua membeli alat pendeteksi uang seperti milik petugas bank.

Perbedaan uang palsu dan uang asli, ada gambar yang menyala saat diterangi lampu UV

Nah, selain melalui 3D tadi, uang asli juga dapat dilihat melalui gambar/tulisan yang hanya muncul saat disinari lampu UV. Pada pecahan Rp. 100.000,- di atas, terlihat gambar MPR/DPR di pojok kiri atas, dan nomer seri uang di pojok kanan atas (di bawah tulisan “Bank Indonesia”).

Ada tips lain nih agar kita terhindar dari uang palsu….

  • Uang Rp 1000: Lipat menjadi 4 bagian, tekan kuat-kuat, terus buka lipatannya. Jika pedang Pattimura bengkok berarti Palsu.
  • Uang Rp 5000: Ambil sisir lalu gesek pada uang. Jika jenggot Imam Bonjol rontok berarti palsu.
  • Uang Rp 10.000, 20.000, 50.000 dan 100.000: Letakkan di depan rumah. Jika hilang berarti uang anda asli.

Haha… abaikan. Lebih baik sedia money detector sebelum malu kemudian… Saya mau beliin mertua ah, biar jadi menantu idaman :)

Continue Reading

Andai Serangan Jantung dan Stroke itu tak pernah datang…

“Uwa… Abah, Wa!”, suara saya tercekat menahan tangis.

“Abah kenapa?”, tanya suara di seberang telepon.

“Abah… Abah udah gak adaaaaa!”, tangis pun buyar seketika.

“Gak ada gimana maksudnya?”, berusaha tenang Kakak saya meminta penjelasan.

“Pokoknya cepat pulang!”, pinta saya sambil menutup gagang telepon.

Sambil berlari ke luar, saya berteriak-teriak memanggil satpam. Tak ada satu pun orang di luar rumah. Wajar, siang itu semua orang terutama laki-laki sedang Jumatan. Sementara Nene menangis memeluk Abah, berusaha membangunkan Abah dari tidurnya yang mendadak sekali.

Pagi itu, Jumat, 13 Agustus 2010, Abah terduduk di teras rumah sambil membetulkan gerendel pagar yang susah dibuka. Terselip rokok di tangannya. Padahal saya sudah meminta Abah untuk menyuruh orang membetulkan pagar yang rusak itu. Kalau meminta Abah berhenti merokok sih tidak pernah bosan. Hanya saja Abah saat itu masih tidak bisa terpisahkan dari rokok.

Bukan Abah namanya kalau menyerahkan pekerjaan kepada orang lain sebelum beliau kerjakan sendiri. Sampai akhirnya, saya melihat Abah terhuyung dan duduk di kursi sambil terengah-engah. Segera saya ajak Abah ke klinik untuk berobat. Sampai di klinik, Abah diperiksa dokter umum dan diberi sejumlah obat-obatan. Selesai diperiksa, Abah meminta pulang.

“Mau minum obat, terus bobo. Capek”, kata Abah.

Kondisi Abah saat itu memang lebih payah dari biasanya. Setelah menemani Abah minum obat, Nene kemudian mencari kartu ASKES untuk persiapan ke rumah sakit.

Sayup-sayup terdengar suara Abah memanggil, dan ketika kami hampiri… Abah terlihat kejang-kejang dengan 3 kali tarikan nafas… badannya dingin sekali. Di tarikan nafas terakhir yang cukup panjang, badan Abah kemudian terkulai lemas.

Seketika kami mengucap istighfar. Nene memeluk Abah, mengguncang badan Abah. Sementara saya sambil menangis, segera menelepon kakak-kakak yang sedang dinas di Jakarta. Telepon yang tidak dijawab karena kakak-kakak pastilah sedang sholat Jumat membuat saya semakin panik.

Selesai menelepon saya segera lari ke masjid, meminta jamaah yang sedang khusyu mendengarkan khutbah segera menolong Abah. Beberapa jamaah dan tokoh di masjid yang cukup dekat dengan Abah mengerti kepanikan saya. Khutbah Jumat dipercepat. Segera mereka menyusul ke rumah, beberapa menyiapkan mobil untuk membawa Abah ke rumah sakit.

30 menit setelah tertidur, Abah tersedak. Saya dan Nene segera memeluk Abah, mengucap syukur atas “kembali”nya Abah menemui kami.

Abah setelah terkena serangan jantung, persiapan operasi pemasangan ring
Abah setelah terkena serangan jantung, persiapan operasi pemasangan ring

Continue Reading

Tidur Nyaman Tanpa Gangguan…

“Mah, koq Ceuceu gak boleh ikut naik bis?”, tanya Ceuceu sambil terkulai lemas di pangkuan saya.

Teman-teman dan guru di sekolah Ceuceu saat itu sudah menaiki bis. Sesuai rencana, seharusnya Ceuceu juga ikut bersama mereka, piknik ke Taman Safari. Bekal sudah disiapkan. Hanya saja rencana Ceuceu piknik ke Taman Safari bersama teman-teman sekolahnya terpaksa dibatalkan. Sudah dua hari Ceuceu panas tinggi. Sekujur badannya lemas dan terasa nyeri. Muka Ceuceu memerah, mual dan beberapa kali muntah, mata pun terasa sakit. Yang lebih mengagetkan, ada ruam merah yang muncul di badannya.

Tak mau menunggu waktu lama, segera saya batalkan rencana keberangkatan ke Taman Safari. Yup, meski harus kehilangan uang untuk ongkos ke Taman Safari yang sudah dibayarkan jauh-jauh hari, tapi tidak ada yang lebih penting daripada kesehatan anak-anak.

Sambil meminta ijin batal berangkat ke Ibu guru, Ceuceu saya bawa periksa ke klinik dekat rumah. Sesampainya di klinik, dokter meminta Ceuceu menjalani pemeriksaan laboratorium. Hasilnya bisa dilihat saat itu juga, terlihat ada sel darah putih (leukopenia) yang jumlahnya di bawah normal.

Melihat ruam di badan Ceuceu, dokter meminta saya melakukan tes darah ulang 2 hari kemudian. Selama itu pula kondisi Ceuceu masih belum membaik, makin hari makin lemas karena asupan makanan yang terbatas. Mual dan muntah yang menjadi penyebabnya. Hasil pemeriksaan ulang menunjukkan sel darah putih semakin menurun, sementara jumlah trombosit masih berada di kisaran normal.

Dokter pun mengambil kesimpulan kalau Ceuceu terkena Demam Dengue. Meski bukan Demam Berdarah Dengue (DBD), tetap saja melihat kondisi Ceuceu yang semakin lemah membuat saya panik.

Apa yang membuat Ceuceu terkena Demam Dengue?

Gejala Demam Dengue dengan Demam Berdarah Dengue memang hampir mirip. Gejala yang umum terjadi pada bayi dan anak-anak adalah demam dan munculnya ruam. Sedangkan pada pasien usia remaja dan dewasa, gejala yang tampak adalah demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri pada sendi dan tulang, mual dan muntah, serta munculnya ruam pada kulit. Penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan penurunan keping darah atau trombosit (trombositopenia) juga seringkali dapat diobservasi pada pasien demam berdarah. Pada beberapa epidemi, pasien juga menunjukkan pendarahan yang meliputi mimisan, gusi berdarah, pendarahan saluran cerna, kencing berdarah (haematuria), dan pendarahan berat saat menstruasi (menorrhagia) (Sumber : http://medissain.blogspot.com/).

Sementara gejala yang ditunjukkan oleh penderita demam berdarah dengue (DBD) biasanya sama dengan gejala demam dengue klasik ditambah dengan empat gejala utama, yaitu demam tinggi, fenomena hemoragik atau pendarahan hebat, yang seringkali diikuti oleh pembesaran hati dan kegagalan sistem sirkulasi darah. Adanya kerusakan pembuluh darah, pembuluh limfa, pendarahan di bawah kulit yang membuat munculnya memar kebiruan, trombositopenia dan peningkatan jumlah sel darah merah juga sering ditemukan pada pasien DBD. Salah satu karakteristik untuk membedakan tingkat keparahan DBD sekaligus membedakannya dari demam berdarah klasik adalah adanya kebocoran plasma darah.

Penyebab utama penyakit demam dengue apalagi kalau bukan virus dengue. Masuk ke tubuh manusia melalui gigitan vektor pembawanya yang sudah tidak asing lagi. Siapa lagi kalo bukan Si Nyamuk nakal Aedes aegypti.

Nyamuk dapat membawa virus dengue setelah menghisap darah orang yang telah terinfeksi virus tersebut. Aedes aegypti betina bersifat intermittent feeder, yaitu mengisap darah berulang kali sebelum merasa kenyang. Karena itulah, pada saat yang sama Aedes aegypti dapat menginfeksi beberapa orang dalam satu keluarga atau dalam area yang berdekatan. Ah, ini benar sekali… di sekitar rumah saja, beberapa anak-anak tetangga sudah beberapa orang yang terkena DBD. Bisa jadi saat mereka bermain bersama-sama, satu nyamuk menghisap darah anak yang sudah terkena virus dengue kemudian berpindah ke anak yang lain.

Masalahnya, meski bukan penyakit menular langsung, ketika Ceuceu positif terkena Demam Dengue, di rumah masih ada 4 anggota keluarga lain (termasuk saya) yang menjadi rentan tertular Demam Dengue akibat gigitan si nyamuk betina yang hobinya menghisap darah terus-terusan sebelum kenyang tadi.

Apalagi dengan kondisi si bungsu yang sudah pernah terkena kejang demam dan rentan terkena serangan kejang ulang akibat demam. Setahun ini saja sudah 2 kali Ade kejang demam. Jangan sampai deh Ade juga terkena gigitan nyamuk yang bisa membuat Ade terserang demam.

Fogging, memang cukup?

Setelah mendapatkan laporan adanya warga yang terkena Demam Berdarah, tentu saja di sekitar rumah kami dilakukan fogging. Tapi, apa memang fogging ini bisa membasmi semua nyamuk? Nyatanya setelah dilakukan fogging di siang hari, di malam hari nyamuk-nyamuk itu masih tetap ada dengan jumlah yang tak kalah banyak dengan sebelum fogging. Rupanya selama fogging, nyamuk-nyamuk nakal ini bukannya mati, melainkan pingsan. Lebih parah lagi malah banyak yang bersembunyi ke tempat yang tidak terjangkau asap fogging. Misalnya saja ke sela-sela baju yang digantung, atau malah sembunyi ke kolong kasur… hiyyy. Pantas saja di malam hari nyamuk-nyamuk itu tetap banyak. Yang menyeramkan, di siang hari nyamuk tetap jadi ancaman yang menyeramkan bagi anak-anak.

Pengalaman menyeramkan dengan nyamuk bukan hanya itu saja. Seringkali ketika dibangunkan untuk berangkat sekolah di pagi hari, Teteh mengeluh.

“Masih ngantuk… tadi malem gak bisa bobo…  banyak nyamuk. Eh… nyamuknya sih satu, tapi temannya banyak”, begitu kata Teteh.

Ah, kalau malam tidak bisa tidur dengan nyenyak, bagaimana anak-anak bisa belajar dengan baik di sekolah? Padahal tidur yang nyenyak di malam hari merupakan salah satu bekal agar anak-anak bisa menjalani segala macam kegiatan. Anak-anak tidak bisa menangkap apa yang disampaikan gurunya di sekolah karena mengantuk? Oh, jelas ini bencana buat saya.

Jangankan anak-anak, meski lebih sering begadang, saya juga masih perlu tidur yang nyenyak dan nyaman di malam hari.

Entah kenapa, kalau di malam hari tidur saya terganggu, keesokan harinya saya selalu merasa lapar. Mungkin benar kata Shakespeare, kalau tidur itu benar-benar merupakan “pemberi gizi utama dalam perjamuan kehidupan”.

Bagaimana pun, tidur di malam hari masih merupakan kebutuhan bukan sekedar kepuasan. Lah, kalau kebutuhan itu malah terganggu si nyamuk? Jelas menyebalkan. Biasanya sih kami pakai baygon elektrik seperti ini.

photo(3)

Baygon elektrik ini cukup efektif mengurangi nyamuk, bahkan boleh dibilang tidak ada lagi gangguan nyamuk. Buktinya, tidak kenal siang atau malam, kucing atau orang… semua tetap dapat tidur dengan nyaman… 😀

10484979_540920086037477_3217043053998085935_n(2)

Masalahnya seringkali saya lupa mengganti isinya hehehe

Beruntung sekarang Baygon memiliki inovasi yang mantap, Baygon Liquid Elektrik.

SS 2015-03-17 at 12.11.18 AM

Bukan sekedar nyamuk yang lewat, tapi lewat radar yang kuat nyamuk yang tersembunyi pun dilahap! Baygon Liquid Elektrik efektif mengusir nyamuk, memberi perlindungan terhadap nyamuk secara terus menerus, memakai bahan wick yang berkualitas tinggi sehingga bisa mengatur pengeluaran bahan aktif pengusir nyamuk secara konstan. Isinya? Hemat lah… cukup untuk 45 malam tanpa perlu mengganti isi ulang setiap hari.

Simak videonya di sini ya…

Oke lah urusan nyamuk sudah kita serahkan ke Baygon, tapi kadang ada orang yang tetap sulit mendapatkan tidur yang nyaman dan nyenyak di malam hari. Padahal sudah bebas gangguan nyamuk.

Ada beberapa tips yang sudah saya terapkan agar tidur lebih nyenyak… Mau tau? Begini nih…

1. Olahraga

Tahu kan kenapa olahraga bisa membuat tidur lebih nyenyak? Tentu saja karena capek hehehe… Tapi berolahraga apalagi rutin, memang bisa membantu kita cepat tertidur di malam hari dan memperoleh tidur yang berkualitas. Bangun di pagi hari pun terasa lebih segar.

2. Waktu tidur yang terjadwal

Sebelum ini seringkali saya tidur tanpa jadwal. Hari ini tidur jam 9, besoknya tidur jam 2, besoknya lagi jam 11. Padahal dengan cara seperti ini, metabolisme tubuh juga jadi terganggu. Hasilnya ya seperti yang saya ceritakan tadi. Pas saya tidur jam 2 malam, siangnya itu saya bisa makan berkali-kali. Sekarang saya membuat jadwal rutin, tidur jam 10 malam. Kalau tidak ada keperluan yang sangat penting, maksimal jam 12 malam sudah harus naik ke tempat tidur.

3. Kosongkan perut sebelum tidur

Percayalah, perut yang terlalu penuh tidak akan membuat kita tertidur dengan cepat apalagi nyenyak. Terlalu kosong juga tidak baik, karena suara perut yang keroncongan akan mengganggu konsentrasi. Alih-alih tidur nyenyak, malah menggerutu kelaparan. Isi secukupnya dengan makanan yang ringan, bukan dengan makanan yang terlalu berat dan terlalu banyak.

4. Jauhkan gadget

Dekat dengan komputer atau gadget juga tidak akan membuat kita tertidur dengan cepat. Memang godaan media sosial itu sangat berat. Saya akui itu. Tak jarang saya pun membawa gadget ke atas kasur. Sesampainya di atas kasur, tentu saja kantuk yang tadinya hampir datang malah hilang gara-gara membaca status teman. Penasaran, ikut komentar atau malah membuat kita ikut berpikir. Padahal sebelum tidur, otak kita harus relaks. Perlu waktu mengubah otak dari mode siaga menjadi mode tenang. Otak yang tenang tentu saja membuat kita lebih cepat untuk tertidur.

5. Padamkan lampu

Tadinya saya tidak suka tidur dengan lampu yang dipadamkan. Tapi suami berhasil meyakinkan saya kalau mematikan lampu saat tertidur bisa mempengaruhi kualitas tidur kita, katanya efek cahaya akan merangsang hormon tertentu dan akhirnya mempengaruhi metabolisme di dalam tubuh kita.

Dan benar saja, tidur dengan lampu yang dipadamkan memang lebih nyenyak dan saya jadi jarang terjaga.

6. Perhatikan alas tidur alias kasur

Pernah mengalami terbangun di malam hari gara-gara kaki yang tiba-tiba terasa pegal? Saya pernah. Penyebabnya adalah kasur yang sudah mulai menua dan bagian tengahnya jauh lebih rendah dibanding ujung kasur. Kasur yang nyaman jelas membuat tidur lebih nyenyak., karena kasur akan s tubuh kita lebih baik.

7. Perhatikan suasana dan lingkungan tidur

Pernah terbangun karena kegerahan atau tidak nyaman karena baju yang kita pakai seharian juga dipakai tidur? Duh, sudah gerah… bau pula. Atau malah terbangun dini hari gara-gara kedinginan dan harus mematikan AC/kipas angin? Padahal saat itu tidur kita sedang terasa sangat nyenyak. Saya sering. Soalnya menjelang tidur, cuaca terasa kurang nyaman, jadi saya merasa harus menyalakan kipas. Sementara dini hari, udara terasa menusuk. Kalau punya timer, lebih baik atur timer pada AC/kipas angin atau pakai selimut sebelum tidur agar kita tidak terbangun di tengah malam untuk mematikan AC/kipas angin.

8. Sikat gigi, Cuci Kaki dan Berdoa

Yang tidak kalah penting adalah sikat gigi, cuci kaki dan berdoa sebelum tidur. Sikat gigi sih tidak perlu dijelaskan lagi ya… sudah jelas kalau saat tidur, mulut adalah tempat paling nyaman buat bakteri berkembang biak. Apalagi kalau di sela-sela gigi banyak terdapat sisa makanan yang terselip. Aduh… siap-siap bolong saja itu mah.

Dulu orang tua selalu berpesan, agar saya mencuci kaki sebelum tidur. Kalau saya tidak mau, selalu ada ancaman, “nanti mimpi buruk lho!”. Koq bisa ya?

Ternyata kaki yang kotor membuat kita tertidur di dalam gelombang theta alias tidur-tidur ayam. Di dalam gelombang itu ada berbagai macam mimpi termasuk mimpi yang buruk.

Sementara untuk tidur yang nyenyak dibutuhkan gelombang delta, tenang mendalam dan tidur nyenyak tanpa gangguan  mimpi. Caranya? Dengan cuci kaki sebelum tidur, atau sesuai dengan hadist Nabi SAW, “Jika kamu mendatangi tempat tidurmu, berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Terakhir, tentu saja berdoa… karena Tuhan adalah sebaik-baiknya penjaga.

Selamat tidur :)

Continue Reading

From Zero To Hero…

“Dulu kalo gak junkies, gak funky!”, ujar Dehan ketika menjawab pertanyaan peserta Workshop Blogger #SahabatJKN #lawanTB tentang apa yang pertama kali membuat Dehan menggunakan narkoba suntik.

Tidak bisa dipungkiri kalau menggunakan narkoba memang seolah-olah menjadi gaya hidup anak muda, sejak jaman dulu sampai sekarang. Ya, seperti kata Dehan.  Gak pake narkoba, berarti gak gaul.

“Tapi itu salah. Saya juga menyesal!”, raut muka Dehan menunjukkan penyesalannya.

Dehan sendiri mulai mengenal narkoba suntik sejak tahun 1992 dan menjadi kecanduan karenanya.

“Nyuntik itu keren, Bu. Kalau perlu ngerampok, ya saya ngerampok. Yang penting saya tetap bisa nyuntik”, lanjut Dehan.

Menyeramkan memang. Tapi ya begitulah faktanya. Bahwa seseorang yang sudah kecanduan narkoba tidak akan memikirkan banyak hal dan seolah kehilangan akal. Entah darimana dan bagaimana caranya, mereka harus mendapatkan uang agar bisa membeli narkoba.

Saya jadi teringat kasus begal yang dibakar hidup-hidup di Tangerang beberapa waktu yang lalu. Tanpa bermaksud membenarkan pembakaran terhadap pelaku begal, kehidupan pelaku begal yang dibakar ini cukup banyak diulas di forum-forum. Setelah ditelisik lebih jauh, ternyata pelaku begal itu memang cukup akrab dengan dunia miras dan juga narkoba.

“Kalau jaman sekarang mah gampang cari informasi. Dulu mah boro-boro. Wartel aja kami pakai buat nyuntik”,  seru Dehan.

Wartel???? Di tahun 90-an, saya memang termasuk pelanggan wartel yang seringkali mengantri berjam-jam demi mendapatkan giliran menelepon.

Tapi saya tidak pernah berpikiran kalau box wartel yang cukup tertutup itu ternyata dipakai orang-orang seperti Dehan untuk memakai narkoba. Saya pikir mereka sama seperti saya, pakai telepon di wartel buat sekedar kirim salam lewat radio heuheuheu.

Kembali ke Dehan. Beberapa tahun kemudian, Dehan memutuskan untuk bergabung dengan Rumah Cemara, rumah singgah untuk para pecandu narkoba.

“Saya banyak ketemu teman-teman waktu kecil di sini bu, setelah mereka sama-sama jadi pecandu… hehe”, sambil tertawa Dehan bercerita mengingat masa lalunya yang cukup kelam.

Sayangnya kebiasaan Dehan menggunakan narkoba dengan jarum suntik itu ternyata membuat Dehan tertular HIV.

“Apa reaksi orang saat mereka tahu Dehan terkena HIV?”, tanya Mbak Icha, peserta Workshop.

“Ya, ngejauhin lah. Pasti!”, jawab Dehan.

“Enak donk?”, canda Mbak Icha.

“Iya, bu. Enak. Punya rokok gak ada yang mintain, punya kopi juga awet. Pokoknya pada ngejauhin lah”, Dehan kembali tertawa.

“Tapi itu mah dulu. Orang-orang pada ngejauhin, sekarang mah orang-orang yang cari saya”, kata Dehan.

Kondisi kesehatan Dehan yang terus menurun karena HIV juga membuat Dehan terkena TB. Pada orang dengan sistem imunitas menurun seperti ODHA, infeksi TB laten mudah berkembang menjadi TB aktif. Dari 40 juta orang yang diperkirakan sedang hidup dengan HIV atau AIDS, kurang lebih 13 juta juga menderita TBC.

Keinginan Dehan untuk sembuh dari kecanduan narkoba, membuat Dehan berubah. Bersama Rumah Cemara, perlahan Dehan keluar dari masa-masa kelam sebagai pengguna narkoba jarum suntik.

Begitu juga saat Dehan menjalani pengobatan TB. Jelas tidak mudah, mengingat Dehan juga mengidap HIV. Obat yang harus diminum setiap hari tentu saja jauh lebih banyak. Tapi keinginan Dehan untuk bisa sembuh dari TB mengalahkan rasa enggan Dehan menelan obat-obatan yang banyak itu.

Meski seumur hidup menyandang status pengidap HIV, tapi Dehan yakin punya masa depan. Kini Dehan sudah berkeluarga. Pun ketika Dehan memutuskan untuk memiliki keturunan. Ada banyak tes yang harus dilakukan sebelum rencana Dehan bisa terlaksana. Sekarang Dehan dan istri sudah memiliki 3 anak, dua diantaranya kembar.  Istri dan ketiga anaknya HIV negatif. Dehan dan istri juga memiliki usaha kuliner yang dijalankan secara online.

Dehan sekarang memang jauh berbeda dengan Dehan yang dulu menggunakan narkoba. Jika dulu Dehan seringkali menggunakan narkoba biar dibilang gaul, sekarang Dehan adalah orang yang dengan lantang menyuarakan bahaya penggunaan narkoba.

Tak hanya itu, Dehan juga aktif mendampingi para narapidana di lapas, baik itu memberikan informasi mengenai Napza ataupun HIV.

“Pokoknya dulu saya dianggap sampah sama masyarakat. Tapi sekarang saya bisa bilang, biar lah orang anggap saya sampah, tapi saya mah sampah organik”, terdengar nada optimisme dari suara Dehan.

Masa lalu memang seharusnya jadi pengalaman yang berharga. Dehan orang yang hebat. Pelajaran yang diambil dari masa lalunya yang kelam bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain.

Dehan adalah salah satu dari banyak orang di Rumah Cemara yang sadar betul, bahwa untuk bisa pulih dari kecanduan narkoba itu memang tidak mudah, tapi mungkin sekali dilakukan. Rumah Cemara, yang didirikan berbasis komunitas, kini tak hanya sekedar jadi rumah singgah bagi pecandu narkoba yang ingin sembuh, melainkan juga bagi pengguna narkoba yang masih menggunakan atau yang belum pulih.

Tak hanya sampai di situ, Rumah Cemara juga berhasil menorehkan prestasi di tingkat dunia. Di ajang Homeless World Cup 2014 Santiago, Chile, Indonesia menduduki peringkat ke-10 Dunia (Peringkat 2 Ejercito De Chile Cup) dari 42 team yang berlaga di kategori Pria (Mens Competition).

Terjerumus dalam kubangan narkoba dan mengidap HIV bukanlah akhir dari perjalanan hidup.  Dehan dan Rumah Cemara sudah merasakan bagaimana sulitnya keluar dari kubangan narkoba. Karenanya jangan pernah sekalipun tergoda untuk mencobanya.

Bagaimana kita bisa keluar dari kubangan itu dan kembali berguna di masyarakat? Dehan dan Rumah Cemara telah memberi jawabannya.

Terus berjuang Kang Dehan dan kawan-kawan, kini kalian adalah pahlawan…

Continue Reading