Eksplorasi Budaya Karuhun Melalui Limbah

Perlahan alunan suling terdengar merdu di telinga. Adalah Sandy, seorang siswa SMKN 8 Kliningan Bandung yang sedang mengalunkan lagu Manuk Dadali dari suling yang ditiupnya. Tapi siapa sangka kalau suling yang ditiup Sandy ini bukan suling biasa. Melainkan suling yang terbuat dari limbah. Ya, suling ini terbuat dari limbah otomotif. Barang yang dianggap sudah tidak berguna oleh kebanyakan orang.

Sandy (siswa SMKN 8 Bandung) meniup suling dari limbah otomotif
Sandy (siswa SMKN 8 Bandung) meniup suling dari limbah otomotif (Sumber : Facebook Rusi Hartati)

Namun di tangan guru Sandy yang juga aktif di Padepokan Mayang Sunda Bandung, limbah otomotif ini menjadi barang yang kembali berguna. Malah bisa memanjakan telinga, bahkan sampai terkantuk-kantuk dibuatnya. Merdunya alunan suling disertai semilir angin sepoi-sepoi memang perpaduan sempurna untuk mengundang rasa kantuk.

Mengolah limbah otomotif menjadi suling bukan satu-satunya inovasi yang dilakukan Padepokan Mayang Sunda. Pernahkah terbayang apa yang bisa kita buat dari limbah SIM Card?

Yup, limbah SIM Card. Kalau biasanya kita hanya menggunakan bagian SIM Card yang memiliki chip, sementara yang lainnya dibuang, maka di Padepokan Mayang Sunda limbah SIM Card ini bisa menjadi alat musik tiup tradisional khas Sunda, Karinding.

Tentang Karinding

Pecinta Noah (dulu Peterpan) pastinya sudah tidak asing lagi dengan Karinding Attack Feat Peterpan di lagu Sahabat…

Dahulu karinding digunakan untuk mengusir hama di sawah. Biasanya karinding dibuat dari pelepah kawung (enau), atau dari bambu. Karinding yang dibuat dari bambu digunakan oleh perempuan, bentuknya seperti tusuk agar mudah ditusukkan di sanggul rambut. Sementara karinding dari bahan enau kebanyakan dipakai oleh kaum pria. Bentuknya lebih pendek dari karinding bambu.

Karinding (Sumber : Warta-24)
Pemain karinding (Sumber : vovworld)

Karinding buhun mengeluarkan bunyi ketika disimpan di bibir dan ditepuk bagian pemukulnya sehingga tercipta resonansi suara. Selama ini karinding dikenal sebagai alat musik yang hanya bisa memainkan satu nada saja. Oleh karena itu, agar bisa memainkan sebuah lagu, biasanya karinding dimainkan secara berkelompok.

Card-Too, Karinding Towel dari limbah SIM Card

Di tangan Asep Nata dari Padepokan Mayang Sunda, karinding dari limbah SIM Card ini bisa menghasilkan berbagai nada. Sehingga satu orang pemain bisa mengeluarkan nada yang sifatnya melodik harmonis. Tak hanya itu cara memainkannya pun berbeda dengan karinding buhun. Card-Too, demikian nama karinding dari limbah SIM Card ini dinamakan, bisa mengeluarkan bunyi tanpa dipukul, melainkan cukup dengan ditowel alias disentuh. Tentu saja masih harus ditiup, namanya juga mouth harp... :)

Penasaran? Lihat videonya di sini ya :)

 

Continue Reading

Ngangkot di Bandung? Jangan Bingung!

Kalau tidak ada halangan, insha Allah hari Selasa nanti saya akan menghadiri sebuah acara di daerah Cihampelas, Bandung. Sebagai mantan orang Bandung, tentu saja saya masih hafal rute angkot yang melalui Cihampelas dari Antapani, rumah orang tua sekarang tinggal. Maklum. Cihampelas dan sekitarnya pernah jadi daerah jajahan.

Tinggal pakai angkot Antapani – Ciroyom (warna krem strip hijau), berhenti di Pabrik Kina (perempatan Pajajaran – Cihampelas), jalan sedikit ke arah Cihampelas, sampai deh di lokasi.

Angkot Antapani – Ciroyom (Sumber : reyza120045.wordpress.com)

Atau bagaimana ke Cihampelas dari Ledeng? Gampil, pakai angkot Ledeng – Abdul Muis/Kalapa (warna hijau strip biru muda, jangan yang strip hitam atau merah ya… nanti nyasar)

Angkot Ledeng – Kalapa (Sumber : ekkiijumaati.wordpress.com)

Atau dari Stasiun ke Cihampelas pakai angkot apa? Ini juga gampil. Jalan kaki aja, gak usah pakai angkot hehehe… Deket koq, paling jauh kira-kira setengah jam perjalanan jalan kaki plus foto-foto di jalan.

Continue Reading

Memenuhi asupan gizi dengan buah lokal

“Ceu, makan sama sayurnya ya!”, kembali saya mengingatkan Ceuceu agar mau menghabiskan sayuran yang ada di atas piringnya. Hari ini saya memang membuatkan sop ayam untuk anak-anak, tentu saja lengkap dengan wortel dan buncis di dalamnya.

Bukannya mengiyakan perintah saya, Ceuceu hanya diam sambil mengernyitkan dahi.

Tidak perlu waktu lama, nasi, potongan ayam dan wortel yang dibuat sop di piring sudah Ceuceu habiskan. Hanya saja… aduuuuuh, lagi-lagi buncisnya masih tetap utuh tanpa tersentuh.

Ceu, kalau kamu tetap gak mau makan sayur, nanti yang rugi kamu sendiri lho! Ingat Teh Salma kan? Waktu kita ke Bandung, Teh Salma sakit gara-gara gak suka makan sayur. Dikit-dikit pingsan. Ceuceu mau kaya’ gitu?”, saya pun akhirnya mengeluarkan jurus omelan tanpa henti buat Ceuceu.

Salma, keponakan saya, memang menderita anemia berat. Penyebabnya sepele, karena sejak kecil tidak suka makan sayur dan buah-buahan.

Tapi kan Ceuceu mah suka makan buah”, timpal Ceuceu.

Ah, kamu mah. Kalo dibilangin ada aja jawabannya. Kamu suka makan buah juga gara-gara takut sakit kaya’ Teh Salma! Dulu mana mau kamu makan buah?”.

Ya, seperti lazimnya anak-anak, Ceuceu juga termasuk anak yang sukar sekali makan sayur dan buah-buahan. Kedua anak saya yang lain, Teteh dan Ade sangat suka makan sayur dan buah-buahan. Tidak perlu memaksa atau mengingatkan mereka untuk menghabiskan sayur di piring, kalau tidak ada sayur mereka dengan senang hati memintanya. Bahkan Ade suka sekali makan sayuran mentah.

kacang panjang mentah juga enak :)
kacang panjang mentah juga enak :)

Tapi sejak mendengar cerita tentang Salma yang seringkali mendadak pingsan saat beraktivitas, perlahan Ceuceu mulai mau makan buah-buahan. Ternyata setelah terbiasa, Ceuceu mulai suka dan jatuh cinta pada buah-buahan. Boleh dibilang tidak ada hari tanpa buah.

Sama seperti Teteh dan Ade, hampir semua buah-buahan jadi kesukaan Ceuceu. Mangga, pepaya, apel , pir, salak, rambutan dan pisang adalah buah-buahan yang setiap hari silih berganti dikonsumsi anak-anak.

Sayuran sih sementara ini baru wortel yang bisa masuk. Lalu bagaimana dengan asupan gizi untuk Ceuceu? Apakah terpenuhi hanya dengan makan buah-buahan dan wortel? Lumayan, daripada tidak sama sekali.

Buah berkualitas baik, lokal atau impor???

Karena saya hanya bisa mengandalkan buah-buahan (dibanding sayuran) sebagai asupan gizi tambahan untuk Ceuceu, pastinya saya harus memilih buah-buahan yang berkualitas baik. Lalu, buah seperti apakah yang disebut berkualitas baik? Buah impor? Atau malah buah lokal yang ada di sekeliling kita sendiri?

Karena kebetulan tinggal di kaki gunung, di mana banyak sekali kebun buah-buahan lokal (milik tetangga), jelas saya memilih buah lokal. Soalnya kalau pilih buah impor, artinya untuk dapat mengkonsumsi buah setiap hari saya harus turun gunung terlebih dahulu. Kalau pohon buah milik tetangga, pas giliran panen tiba, tanpa diminta pun biasanya tetangga seringkali berbaik hati memberi sebagian hasil panen.

Tapi andai dekat pun dengan toko buah-buahan yang menyediakan buah-buahan impor, saya tetap akan memilih buah-buahan lokal. Kenapa?

1. Murah dan mudah didapat

Salah satu alasannya ya itu tadi, buah lokal lebih mudah didapat. Bukan hanya dari tetangga, di pinggir jalan, di pasar, di supermarket atau bahkan di toko khusus buah, buah-buahan selalu tersedia.

Selain itu, dibanding buah impor, buah lokal jelas memiliki harga yang lebih bersaing. Salah satu penyebabnya antara lain karena biasanya beberapa jenis buah tersedia sesuai musim. Biasanya menjelang musim buah tertentu, harga buah masih terasa agak mahal. Pertengahan musim sampai habis masa panen harga buah musiman bisa jauh lebih murah.

2. Variatif

Indonesia sebagai negara tropis menghasilkan buah-buahan lokal yang khas dan sangat variatif, tergantung musim yang sedang berjalan. Satu kali musim bisa ada beberapa jenis buah yang sedang musim. Kalau di negara lain ada musim panas, musim dingin, musim gugur, dan musim salju, sebagai orang Indonesia kita patut berbangga hati karena memliki musim yang lebih banyak. Ada musim mangga, musim rambutan, musim durian, musim duku. Belum lagi masih banyak buah lain yang tidak mengenal musim dan bisa berbuah kapan saja.

3. Lebih Segar

Buah lokal, terutama buah musiman, memiliki manfaat yang lebih banyak karena dipetik dalam keadaan tak jauh dari matang pohon.

Saya sih membayangkan, buah-buahan impor yang berasal dari negara tetangga ini sudah menempuh perjalanan beratus-ratus kilometer. Bisa dibayangkan betapa lelahnya buah-buahan ini. Tapi koq di supermarket sepertinya buah-buahan ini nampak segar? Meski sudah mendapat jaminan bahwa buah-buahan ini tidak diberi zat pengawet atau zat tambahan lain, tetap saja buah-buahan impor memiliki rantai distribusi yang lebih pajang dibanding buah lokal. Bisa jadi kita malah mengonsumsi buah yang sudah tidak memiliki kandungan gizi atau bahkan sudah diberi berbagai zat pengawet, pemanis, dan zat tambahan lainnya.

Belum lagi permasalahan yang beberapa waktu lalu menimpa buah impor, dimana Apel Granny Smith dari Amerika terpaksa ditarik dari peredaran karena kandungan bakteri didalamnya. Hiyy… menyeramkan.

Buah-buahan lokal, yakin aman?

Masih banyak yang meragukan kualitas buah lokal, misalnya saja karena takut petani buah-buahan lokal menggunakan pestisida. Petani lokal umumnya memang belum bisa dipantau sepenuhnya terkait penggunaan pestisida. Penggunaan pestisida oleh petani lokal belum memiliki standar sebaik penggunaan pestisida buah impor.

Untuk memastikan buah-buahan yang kita konsumsi bebas pestisida, sebaiknya buah-buahan dicuci bersih sebelum dikonsumsi. Kalau saya sih biasanya menggosok kulit buah di bawah air mengalir dengan spons biasa yang memang disimpan khusus untuk mencuci buah. Pencucian yang teliti diharapkan mampu membuang pestisida yang menempel di kulit buah.

Mau buah lokal kualitas impor? Ada PT Sewu Segar Nusantara (SSN) yang memproduksi buah-buahan lokal dengan label SUNPRIDE. SUNPRIDE berkomitmen menyediakan buah-buah segar berkualitas dengan lebih dari 20 jenis yang 80%nya adalah buah lokal. Tidak perlu khawatir dengan bahan pengawet atau pestisida, karena buah-buahan yang diproduksi oleh SUNPRIDE secara berkala SUNPRIDE melakukan ujicoba produknya melalui Sucofindo. Hasilnya? SUNPRIDE memiliki sertifikat ‘Bebas Residu Pestisida dan Tanpa Formalin”.

Kalau dulu saya hanya mengenal SUNPRIDE sebagai “merk” pisang, ternyata buah yang diproduksi SUNPRIDE bukan hanya buah. Ada juga anggur, apel, jeruk, kiwi, melon, nanas honi, pear, pepaya, pear, pomelo, semangka dan buah favorit saya sedari kecil, guava.

photo 3(1)

Guava Crystal yang diproduksi SUNPRIDE ini adalah tanaman tropis yang berasal dari Brasil, disebarkan ke Indonesia melalui Thailand. Kelebihannya? Boleh dibilang jambu batu yang ini tidak ada batunya, alias seedless. Jumlah biji Guava Crystal Sunpride memang hanya sekitar 3% dari daging buah. Selain itu Guava Crystal juga memiliki sedikit kandungan air sehingga tekstur jambu menjadi lebih lembut.

photo 4

Kandungan gizinya? Cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Malah guava crystal juga bisa mencegah penyakit kanker. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), Guava Crystal merupakan salah satu buah yang memiliki banyak kandungan antioksidan. Buah ini juga memiliki beta karoten, kalium dan serat larut.

Mengkonsumsi satu buah Guava Crystal sebagai sarapan mampu memenuhi dosis harian yang sangat dibutuhkan tubuh seperti zat besi, asam folat, kalsium, serat, protein, karbohidrat, vitamin A, B dan banyak vitamin C. Setiap Guava Crystal yangย  dikonsumsi mengandung 165 mg vitamin C, yang artinya 5 kali lebih banyak kandungannya dibandingkan buah Jeruk. Sementara, satu jeruk hanya mengandung 69 mg saja. Kandungan vitamin C pada Guava Crystal ini efektif dalam mengobati infertilitas pria. Sementara kandungan lemak total satu Guava Crystal sekitar 0,9 gram atau 84 kalori. Dibandingkan dengan apel, buah ini memiliki 38% lemak dan 42% kalori yang lebih sedikit. (Sumber : Sunpride)

Nah, kan… buah-buahan lokal juga tidak kalah keren dibanding buah-buahan impor. Jadi, masih kurang alasan apalagi untuk mencintai buah-buahan lokal?

Tulisan ini diikutsertakan pada SUNPRIDE: Fruit for Love Blogging Competition

#Fruit4Love

Referensi:

http://www.sunpride.co.id/

http://www.tempo.co/read/news/2014/10/13/090613816/Mentan-Buah-Impor-Hanya-Kuasai-Pasar-Modern

http://www.sunpride.co.id/seputar-guava-crystal/

Continue Reading

Ada apa di Basmal Steak House Lembang?

“Mah, makan di mana nih?”, tanya suami.

“Terserah”, jawab saya, jawaban standar seorang perempuan.

“Mau nyobain tempat makan baru deket Indomaret Lembang gak?”, suami menawarkan tempat makan yang sama sekali belum pernah kami kunjungi.

“Ada yang baru ya? Apaan?”, kembali saya bertanya meski sebenarnya kurang tertarik dengan tawaran suami.

“Basmal Steak gitu kalo gak salah. Gimana? Ayo, bentar lagi nih”, suami meminta saya segera memutuskan, plang Indomaret sudah terlihat jelas di depan mobil…

“Gak ah, perlunya makan nasi. Dari siang kan belum makan nasi”, akhirnya saya menolak tawaran suami makan di resto baru tadi. Namanya juga orang Sunda, kalau belum makan nasi ya belum makan ๐Ÿ˜›

Lagipula, saya belum mau makan bakso… padahal sedang tidak hamil. Saya memang berhenti makan bakso sejak hamil si bungsu, dan mabok baksonya masih berlanjut sampai sekarang si bungsu berumur 3 tahun.

“Tadi katanya terserah! Ya udah makan di rumah aja…”, tegur suami.

Dan akhirnya perut yang belum diisi sedari siang terpaksa harus menahan lapar selama 1 jam perjalanan ke depan. Gara-gara terserah… ๐Ÿ˜€

Continue Reading

Akhirnya punya mesin cuci lagi… :)

Menjelang akhir tahun kemarin, seolah-olah semesta sedang menguji saya. Setelah kipas angin rusak, tiba-tiba saja mesin cuci juga ikutan rusak. Kipas angin dalam 3 tahun ini sudah ganti 3 kali. Maklum, dipakai siang malam tanpa henti. Untungnya sekarang musim hujan yang dinginnya lumayan membuat saya selalu ingin selimutan. Jadi saya belum terlalu memerlukan kipas angin baru.

Lain halnya dengan mesin cuci, yang juga saya pakai hampir tiap hari. Sebetulnya bukan tiba-tiba juga sih, soalnya mesin cuci yang berumur 6 tahun lebih ini sudah pernah diservice berkali-kali. Masalahnya banyak, mulai dari sensor air tidak berfungsi, motor yang mulai mengalami gangguan, tombol power yang tidak bisa ditekan. Sampai beberapa minggu terakhir tiap kali dipakai mencuci, mesin cuci ini berisiknya minta ampun… kalau nyuci tengah malam, sepertinya bisa terdengar satu kampung. Saya memang sering mencuci tengah malam, soalnya hanya di tengah malam air PAM mengalir sangat deras. Pagi-pagi? Jangan harap air bak bisa terisi pagi-pagi. Dan si mecin cuci pun tidak bisa diperbaiki sama sekali. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…

Almarhum mesin cuci... Terima kasih sudah menemani selama 6 tahun ya... :(
Almarhum mesin cuci… Terima kasih sudah menemani selama 6 tahun ya… :(

Continue Reading