Belajar Aksara Sunda? Siapa takut???

“Mah, tadi kata Bu Ade, Ceuceu nanti disuruh ikut lomba nulis”, kata Ceuceu sambil tetap asyik membaca komik.

“Lomba nulis apa?”, tanya saya.

Itu kan katanya tulisan Ceuceu udah rapi. Terus disuruh belajar aksara Sunda ke Pak Dadang. Nanti ada lomba nulisnya”, jawab Ceuceu.

“Hah? Aksara Sunda? Itu mah beda atuh Ceu sama tulisan biasa!”.

Heran juga sih, apa yang membuat Ceuceu bisa terpilih Ibu dan Bapak guru di sekolah untuk mengikuti lomba menulis aksara Sunda. Soalnya Ceuceu sendiri kesulitan belajar Basa Sunda. Sudah bukan hal yang aneh lagi, ketika ulangan Basa Sunda tiba, Ceuceu tegang luar biasa. Pelajaran yang paling sulit diantara pelajaran lain katanya.

Basa Sunda saja sudah membuat pusing. Ini ditambah belajar aksara Sunda… Duh!

Ya, meski kami tinggal di tanah Pasundan, tapi kami memang jarang menggunakan Basa Sunda dalam percakapan sehari-hari. Banyaknya tingkatan dalam Basa Sunda membuat saya ragu-ragu menggunakan Basa Sunda saat ngobrol dengan anak-anak.

Dalam basa Sunda, ada bahasa untuk digunakan saat berbincang dengan orang yang lebih tua, orang yang seumur/sepantaran, dan dengan orang yang usianya lebih muda. Sementara saya, hanya bisa Basa Sunda untuk orang yang seumur/lebih muda. Basa Sunda untuk orang yang lebih tua sudah menguap entah kemana.

Daripada salah mengaplikasikan Basa Sunda, atau lebih parah lagi saya menggunakan bahasa kasar yang bisa berakibat buruk jika ditiru anak-anak, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan Bahasa Indonesia saja.

Tapi ternyata ini juga tidak baik. Karena anak-anak malah tidak mengenal bahasa ibunya sendiri. Serba salah jadinya.

Mau tidak mau, daripada anak-anak mendapat nilai yang jeblok di mata pelajaran Basa Sunda, sedikit demi sedikit kami mulai belajar menggunakan Basa Sunda dalam percakapan sehari-hari.

Di Bandung, setiap hari Rabu dikenal dengan #ReboNyunda. Semua percakapan baik percakapan sehari-hari di dunia nyata maupun di dunia maya, wajib menggunakan Basa Sunda. #ReboNyunda ini disosialisasikan sejak Bandung masih dipimpin oleh Dada Rosada. Bahkan saat itu sudah ada Perda #ReboNyunda.

Hasilnya, perlahan Basa Sunda kembali digunakan banyak orang. Dari yang tidak tahu bagaimana menggunakan bahasa loma, sedikit demi sedikit mulai belajar.

Begitu juga dengan Ceuceu dan Teteh. Sekarang tidak hanya belajar Basa Sunda, karena harus ikut lomba, Ceuceu juga mulai belajar aksara Sunda. Tidak hanya Ceuceu, Teteh pun sangat bersemangat mempelajari aksara yang menurut Teteh mirip sama kode-kode misteri yang harus dipecahkan. Malah saya juga harus ikut belajar, karena kalau saja Ceuceu tidak harus ikut lomba, bisa jadi saya tidak akan pernah mau mengenal aksara Sunda.

Tadi pagi, saat dalam perjalanan ke sekolah, Ceuceu bertanya…

Mah, kalau gak jadi lagi lombanya kaya’ OSN Matematika kemarin gimana?

Hmm… yang namanya belajar tak pernah rugi Ceu… begitu juga kalau memang ternyata tidak jadi ikut lomba. Lagipula, Ceuceu kan memang orang Sunda. Kalau bukan orang Sunda sendiri, siapa lagi yang akan melestarikan Basa dan Aksara Sunda??

Meski nampak susah, ternyata aksara Sunda cukup menyenangkan untuk dipelajari… kalau dibiasakan membaca dan menulis aksara Sunda, nanti juga pasti jadi gampang.

Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok…

Hore.... bisa nulis aksara Sunda tanpa contekan... artinya apa coba? :D
Hore…. bisa nulis aksara Sunda tanpa contekan… artinya apa coba? :D

Continue Reading

Pay It Forward

Pernah menonton film Pay It Forward? Kalau sudah tentu masih ingat bagaimana usaha Trevor, mengerjakan tugas sosial dari gurunya. Hanya berbekal petunjuk dari guru, Make an idea and action, perhaps its can be change the world, Trevor kemudian berharap bisa mengubah dunia yang sudah terlalu sakit melalui sebuah gerakan kecil yang diinisiasinya.

Gerakan yang digagas Trevor sederhana. Hanya dengan menolong mereka yang membutuhkan bantuan. Trevor mencatat tiga orang yang dijadikan sasaran bantuan. Setiap orang yang sudah menerima pertolongan harus membalasnya dengan menolong tiga orang lain yang berbeda. Kurang lebih mirip dengan jaringan MLM ya?

Seorang teman di grup WA malam ini membagikan cerita tentang matematika kehidupan. Cerita tentang seseorang yang mengisi bensin 95 ribu rupiah dan membayarnya dengan uang 100 ribu rupiah. Uang kembalian sebesar 5 ribu rupiah diberikan kepada petugas SPBU. Di akhir cerita ada sebuah pesan, bahwa tidak mungkin kita bisa mengikuti semua perintah Allah. Karenanya menjadi penting untuk bisa melakukan hal-hal kecil yang bisa kita lakukan di sekeliling kita, asalkan dilakukan dengan konsisten.

Uang 5 ribu yang diberikan kepada petugas SPBU tadi bisa jadi tidak akan membuat dia kaya, tapi hal-hal kecil seperti ini jelas membantu dia dengan membuat hatinya bahagia.

Grup yang saya ikuti ini beranggotakan teman-teman semasa kuliah dulu. Banyak diantara kami yang berbeda pilihan saat pilpres kemarin, di mana kebanyakan orang sampai memutuskan pertemanan gara-gara pilpres. Tapi tidak di grup ini. Meski seringkali berdebat atau saling mengolok2, jarang yang dimasukkan ke hati. Tiada hari tanpa tawa di sini.

Berbagi bahagia itu memang penting. Saat sedang suntuk atau jenuh, saya hanya perlu menengok grup. Ada ratusan pesan yang tertinggal setiap harinya di sana. Suntuk dan jenuh pun hilang seketika.

Yang lebih menyenangkan adalah belakangan ini hampir setiap hari ada kuis di grup. Hadiahnya boleh jadi tidak seberapa. Ada barang jualan milik teman seperti Rendang/sprei/dompet/kerudung, buku, pulsa, voucher, atau oleh-oleh dari teman yang baru pulang dari luar kota/negeri. Tak jarang kuis yang diadakan sampai berbuntut “kerusuhan”. Tapi ya begitulah, kalau pilpres saja tidak mampu memutuskan pertemanan di antara kami, apalagi hanya sekedar kerusuhan saat kuis :)))

Gak menang kuis gak masalah. Yang penting kita masih bisa tertawa bahagia.

Itu juga yang dilakukan Walikota Bandung, Ridwan Kamil untuk membuat warganya bahagia, berbagi kebaikan yang dengan senang hati diteruskan oleh warga ke warga lainnya. Mulai dari membalas cuitan di twitter, mengajak warga Bandung untuk memungut sampah bersama, berhenti merokok selama satu hari, bersepeda, sampai membuatkan fasilitas umum untuk warga Bandung.

Dari survei yang dilakukan terhadap 1080 warga Bandung selama bulan Juni – Desember 2014, hasilnya menunjukkan warga Bandung kini cenderung bahagia. Bukan karena berlimpahnya materi, tapi karena ada banyak orang-orang yang tergerak untuk mau berbuat baik dan berbagi kebahagiaan…

Kalau saya melakukan survei terhadap 39 orang anggota grup, bagaimana ya? Apakah index of happiness mereka juga mencetak skor tinggi? Mudah-mudahan sih begitu… Setelah merasa bahagia di grup, tak ada salahnya untuk membagikan kebahagiaan sekecil apapun kepada mereka yang bukan anggota grup yang ada di sekeliling kita…

Jika setiap orang mau berbuat baik dan berbagi kebahagiaan kepada orang lain, kemudian orang lain itu melakukan hal sama kepada orang yang lain lagi, begitu seterusnya, maka seluruh dunia ini akan dipenuhi oleh orang bahagia… Menyenangkan bukan?

Continue Reading

Juara yang tertunda

Bu, telepon ke sini/Pak Edi“, demikian bunyi SMS yang masuk ke hp saya siang kemarin jam 11.15.

Segera saya menelepon ke nomer tadi, dan mendapatkan kabar mengejutkan. Bahwa saya harus menjemput Ceuceu yang sedang ikut lomba di kecamatan.

Hah? Lomba? Gak salah?

Jelas saya kaget. Meski sebenarnya sejak sebulan yang lalu, tepatnya ketika Ceuceu dibagi raport semester 1, saya diwanti-wanti oleh salah seorang guru di sekolah Ceuceu, agar Ceuceu bersiap-siap untuk mengikuti lomba PKS (Pekan Kreativitas Siswa).

Selama 3 tahun kemarin, saat duduk di kelas 1-3, Ceuceu selalu ikut lomba PKS, materi calistung. Alhamdulillah, lolos sampai tingkat Kabupaten, meski di Kabupaten hanya bisa masuk sampai 10 besar.

Sekarang Ceuceu sudah kelas 4, yang dilombakan bukan calistung lagi. Beberapa teman sekelas Ceuceu ikut lomba di bidang kesenian, seperti pupuh, pantomim, rampak sekar, dan tari. Sayangnya, berkali-kali saya tanyakan materi apa yang harus disiapkan, tidak pernah mendapat jawaban memuaskan. Sampai 2 minggu kemarin saya kembali dihubungi guru yang lain, katanya Ceuceu ikut OSN Matematika saja. Beberapa lembar soal latihan pun diberikan untuk dipelajari di rumah.

Tadinya Ceuceu dimasukkan jadi salah satu anggota rampak sekar. Tapi karena diminta ikut OSN Matematika, akhirnya Ceuceu keluar dari rampak sekar.

Baiklah, selama 2 minggu kemarin saya intensif mengajarkan banyak materi buat Ceuceu. Mulai dari materi kelas 4 yang di sekolah baru diajarkan sebagian, materi kelas 5 sampai materi kelas 6. Karena menurut informasi dari guru, soal OSN nanti terdiri dari 25% materi kelas 4, 25% materi kelas 5 dan 50% materi kelas 6.

Sampai hari Kamis minggu kemarin, Ceuceu dan satu orang murid kelas 5 dites oleh kepala sekolah. Mereka berdua mengerjakan soal yang sama, yang kurang lebih mirip dengan soal yang akan dilombakan. Ceuceu bilang kalau Ceuceu hanya salah 1 dari 40 soal yang diberikan, sementara murid kelas 5 tadi salah 2.

Hari Jumat saya mendapat informasi, bahwa yang akan dibawa lomba OSN Matematika hanya kelas 5. Kalau bisa 2 orang, Ceuceu sudah pasti akan dibawa. Tapi karena murid-murid dari sekolah lain juga dari kelas 5, akhirnya ya diputuskan hanya murid kelas 5 itu yang ikut lomba.

Hari Sabtu saya konfirmasi lagi, keputusannya masih sama. Murid kelas 5 yang ikut lomba. Malah ketika saya bertemu dengan guru yang mewanti-wanti saat dibagi raport kemarin itu, beliau bilang begini…

Neng, si dede hari Senin ikut kan ke kecamatan?“, tanya ibu guru sambil naik ke atas motor.

Lho, gak tau bu. Kemarin katanya gak jadi, kelas 5 aja“,

O iya, si dede mah kelas 4 sih ya?“, ibu guru itu malah bertanya kembali.

Tapi dari pertanyaan ibu guru itu, saya jadi semakin yakin kalau Ceuceu memang tidak ikut lomba kali ini.

Ya sudah Sabtu dan Minggu saya membiarkan Ceuceu bersenang-senang. Tanpa belajar apa pun. Kasihan juga materi 3 tahun dipaksakan masuk hanya dalam waktu 2 minggu.

Senin pagi kemarin, Ibu Kepala Sekolah memberikan sambutan saat upacara bendera. Salah satu poin yang disampaikan adalah mohon do’a untuk anak-anak yang akan mengikuti lomba PKS. Meskipun Ceuceu tidak ikut lomba, tentu saja saya tetap mendoakan.

Setelah upacara selesai, saya melihat sendiri anak-anak yang ikut lomba bersama ibu guru naik angkot pergi ke kecamatan. Sementara Ceuceu masuk kelas, belajar seperti biasa.

Pulang ke rumah, beres-beres seperti biasa. Baru saja bilang ke Teteh, “Teh, jagain Ade dulu ya… Mamah mau mandi”, ada SMS yang masuk…

Ya, SMS dari Pak Edi tadi. Duh, koq gini sih? Katanya gak jadi? Perasaan saya campur aduk, antara emosi dan khawatir Ceuceu tidak bisa mengerjakan soal lomba. Lahaula wala quwwata illa billah saja.

Bukannya tadi Ceuceu belajar di kelas? Ah, rupanya Ceuceu “digusur” ke kecamatan saat jam belajar sudah mulai. Ceuceu bilang, “tadi Ceuceu lagi ngerjain LKS PPKn, terus disuruh beres-beres. Dianter pake motor Pak Edi ke Kecamatan”.

Terus, bisa gak Ceu? Ada gak yang diajarin di rumah?”, saya mencecar Ceuceu dengan banyak pertanyaan.

Gak ada, kan tadi Ceuceu ikut OSN IPA, bukan Matematika. Soalnya ada Bahasa Inggris 5, tapi yang bisa cuma 1… jawabannya Milky Way“, jawab Ceuceu sambil menunjukkan name tag peserta OSN.

Appaaaaahhh??? Ya sudahlah, sebisanya saja. Tidak berharap terlalu banyak. Materi IPA kelas 4 saja baru diajarkan 1 semester. Soal-soal OSN, kalaupun isinya hanya materi kelas 4 pasti mencakup materi 2 semester. Bekal Ceuceu hanya IPA semester ganjil kemarin, sementara 1 semester berjalan sama sekali belum dikuasai. Apalagi kalau soal-soal OSN juga mencakup materi kelas 5 dan 6. Wassalam saja sepertinya.

Ketika bertemu Ibu Kepala Sekolah, saya menyampaikan keberatan atas kejadian hari ini, di mana Ceuceu harus ikut lomba tanpa persiapan materi sama sekali. Tapi tidak lupa saya juga meminta maaf kalau hasilnya nanti tidak sesuai harapan.

Tadi pagi, didorong rasa penasaran atas hasil lomba kemarin, saya kembali ke kecamatan. Sudah ada Pak Edi yang akan mendampingi anak-anak yang lomba hari ini.

Pak, tos aya hasilna?“, segera saya tanyakan hasil lomba kemarin.

Ka 6, Neng“, jawab Pak Edi datar.

Hmmm… sudah bisa diduga kalau kali ini Ceuceu harus menerima kekalahan. Tahun ini Ceuceu absen ikut upacara di kecamatan. Tahun depan ikut lagi ya, nak!

Mudah-mudahan kejadian ini jadi pelajaran buat semua pihak. Bahwa Ceuceu tidak boleh lagi belajar dengan sistem kebut semalam, hanya belajar saat akan ujian atau lomba. Pihak sekolah juga harus belajar, kalau memang serius ingin mengikuti dan menang lomba, seharusnya anak-anak juga difasilitasi.

Eh, tapi saya juga harus belajar nih. Seharusnya saya belajar untuk tidak memaksakan kehendak dan ego pribadi kepada anak-anak. Anak-anak dituntut ikut lomba, sementara emaknya malah leha-leha saja… hihi… ayo, nak… kita balapan… Emak juga mau ikutan lomba lagi :)))))

Continue Reading

Tetap aman berkendara saat hujan

Bagi pengguna jalan Subang menuju Bandung dan sebaliknya, sebuah tanjakan yang ada di jalan ini sudah tidak asing lagi. Tanjakan Emen. Begitu nama yang disematkan kepada sebuah tanjakan ini.

Saya sendiri cukup sering melalui Tanjakan Emen. Begitu juga dengan suami yang harus berangkat ke kantornya di Bandung dari rumah di Subang. Dalam seminggu, suami harus melalui jalan ini sebanyak 3 kali perjalanan pulang pergi.

Setiap kali melewati Tanjakan Emen, hati terasa cukup ketar ketir. Begitu banyak kecelakaan yang terjadi di sini. Jumlah korbannya pun bukan sedikit. Lihat saja “monumen kecelakaan” yang berupa mobil dalam keadaan sangat rusak di sebelah kiri jalan.

Sejarah mengenai mengapa diberi nama Tanjakan Emen, silahkan cari sendiri. Atau nanti saya buat post tersendiri ya…

Kekhawatiran semakin bertambah ketika musim hujan tiba. Ancaman longsor di sepanjang jalan yang berbukit-bukit juga mengintai pengendara yang lewat. Do’a yang dipanjatkan semakin menguat. Tapi do’a tanpa usaha bagaimana urusannya? Terlebih ketika kita harus tetap berkendara melakukan sebuah perjalanan.

Masa iya hanya gara-gara sedang musim hujan, suami jadi dilarang kerja karena kekhawatiran saya yang terlalu berlebihan?

Sebagai usaha agar tetap aman dan nyaman berkendara saat hujan, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Mau tahu??? Yuk simak tips di bawah ini….

Pertama, tentu saja berdo’a agar selamat selama di perjalanan.

Kedua, periksa kondisi dan tekanan ban. Saat hujan, alur ban akan bekerja membuang air ke samping supaya tidak terjadi gejala mobil mengambang di atas air alias aquaplanning. Makanya, pastikan kembang dan alur ban masih dalam kondisi baik, minimal memiliki ketebalan 50% dari baru. Ini berlaku bagi pengguna motor ataupun mobil.

Ketiga, bagi pengguna mobil, pastikan kondisi kaca dan wiper. Di musim kemarau, bisa jadi kaca terlihat bening dan baik-baik saja. Tapi ketika musim hujan datang, timbul kerepotan dengan kaca yang berjamur. Pandangan jelas jadi terhalangi. Hilangkan jamur di kaca dengan cairan pembersih serbaguna. Selain itu yang juga perlu diperhatikan adalah wiper. Saat hujan, tentu saja fungsi wiper sangat diperlukan untuk menyapu air hujan yang jatuh ke kaca depan. Wiper yang sudah sering dipakai bisa menjadi kaku dan bergelombang, sehingga sapuan wiper di kaca menjadi tidak maksimal. Segera ganti jika wiper sudah tidak berfungsi dengan baik.

Keempat, periksa kebocoran. Mobil baru tidak akan mengalami hal seperti ini. Tapi saya pengguna mobil yang sudah lanjut usia. Saat hujan di perjalanan, anak-anak tiba-tiba heboh di kursi belakang karena air hujan yang bocor dari atap mobil. Tentu saja ini sangat mengganggu konsentrasi.

Kelima, tambah jarak aman. Saat hujan, jalanan tentu saja menjadi basah dan ini akan membuat jarak pengereman menjadi jauh lebih panjang walau mobil telah dilengkapi ABS sekalipun. Oleh karena itu tetap jaga jarak aman dengan mobil yang ada di depan sekitar 3 detik (saat normal 2 detik)

Keenam, nyalakan lampu, bukan Hazard. Pernah kan menemukan orang yang menyalakan lampu Hazard saat hujan lebat? Ternyata ini malah membuat resiko tertabrak dari belakang semakin besar, karena kepekaan pengendara terhadap lampu rem mobil kita menjadi berkurang. Jadi seharusnya yang dinyalakan itu adalah lampu kabut atau lampu besar normal.

Ketujuh, hindari jalur kanan di tol. Kontur jalan tol sedikit cembung, berkendara di jalur kanan rentan menabrak genangan air dan membuat mobil hilang kendali. Selain itu, ketika di jalur kanan, kita juga bisa terkena cipratan air dari jalur seberang, dan ini akan sangat mengganggu daya pandang.

Kedelapan, bagi pengguna motor, gunakan jas hujan setelan, bukan yang berbentuk ponco. Karena jas hujan ponco rentan terbelit di jari-jari atau gir motor.

Sudah cukup? Belum!

Kesembilan, pastikan kendaraan kita mendapatkan perlindungan dari asuransi. Saya sendiri memilih Garda Oto.

Kenapa Garda Oto? Saya memilih Garda Oto karena banyak alasan, salah satunya karena klaim mudah. Pengalaman klaim mudah dari Garda Oto sudah saya ceritakan sebelumnya di sini. Urusan klaim di Garda Oto ini memang yang paling mudah, karena bisa dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:

  1. Bisa langsung datang ke Garda Center terdekat yang berada dibeberapa mall di Jadetabek dan kota di indonesia
  2. Datang ke kantor Cabang terdekat
  3. Datang ke beberapa bengkel yang terdapat piket jaga surveyor Garda Oto

Nah, sekarang sudah cukup tipsnya 😀

Eh, terus kalau musim banjir bagaimana? Teman saya di grup hari Sabtu kemarin terjebak banjir di depan Citraland, Jakarta. Polisi bilang, “maju saja.. nanti juga kalau mogok banyak yang dorong”. Kurang lebih seperti ini lah jadinya…

Mobil terendam banjir, sumber : Detik Oto

Sebetulnya yang seperti ini tidak boleh dilakukan sih. Karena mobil jadi beresiko mogok dan rusak. Tapi kadang karena beberapa hal, kita terpaksa menerobos banjir. Sebaiknya saat terjebak banjir dan kita memutuskan untuk tetap maju, kondisi mobil dalam keadaan mati. Jangan coba-coba untuk menyalakan mesin mobil, karena bisa terjadi korsleting dan air banjir terhisap ke dalam mesin. Selebihnya tips pertolongan pertama mobil yang terendam banjir bisa dilihat di sini.

Lalu, bagaimana kalau mobil tetap terendam banjir? Kondisi kendaraan yang telah terendam banjir pastinya akan mengalami kerusakan. Bagi yang memiliki asuransi sih tenang saja. Karena biaya perbaikan sudah pasti akan ditanggung jika terdapat klausul soal banjir. Apalagi kalau pakai Garda Oto. Mogok karena banjir tengah malam pun selalu siap 24 jam. Ada Garda Siaga 24 jam yang siap membantu pelanggan menghidupkan mobil, membantu ke bengkel terdekat atau bahkan mendereknya jika perlu. Garda Siaga tersebar luas di 20 wilayah se-Indonesia dan siap membantu 24 jam, 7 hari seminggu, 365 hari setahun.

Urusan klaim karena mobil terendam banjir ke Garda Center , pastikan polis asuransi kita sudah termasuk jaminan banjir. Karena asuransi All Risk sebenarnya tidak termasuk talangan banjir, sehingga harus ada klausul tambahan yang bersifat khusus. Selain itu pastikan asuransi yang kita gunakan menjamin penggunaan suku cadang asli/bukan imitasi dan bengkel rekanan yang ditunjuk perusahaan asuransi punya rekor yang baik. Dan Garda Oto lah yang bisa seperti itu.

Okelah pak Suami, silahkan berangkat kerja. Insha Allah aman… karena usaha dan doa sudah maksimal, plus asuransi Garda Oto sudah di tangan 😀

Continue Reading

Asyiknya Kredit Mobil Lewat ACC, Mudah dan Nggak Ribet

Sabtu siang kemarin tidak seperti biasanya, handphone suami berbunyi. Ternyata hal yang di luar kebiasaan ini memberikan kabar gembira bagi kami. Panggilan yang masuk ke handphone suami ini dari ACC, sebuah perusahaan pembiayaan mobil dan alat berat terbesar di Indonesia.

Lho? Memangnya kabar baik apa yang disampaikan ACC? Kredit mobilnya di-acc? Oh, tidak, bukan itu. Kami sudah menjadi nasabah ACC selama 4 tahun untuk mobil yang sekarang kami miliki, dan tidak sedang mengajukan kredit mobil yang lain. ACC menawarkan fasilitas tambahan kredit berupa uang tunai.

Kalau tawaran ACC tersebut akan diambil, uang tunai sejumlah sekian rupiah bisa kami terima sesegera mungkin. Tapi tawaran ini tidak serta merta kami ambil, karena satu dan lain hal yang jadi pertimbangan. Terlebih dalam waktu dekat, bisa jadi kami akan kembali mengajukan kredit mobil lagi. Eh, tapi koq kredit mobil lagi sih?

Begini, entah kenapa kami memang memiliki kendala untuk bisa menabung. Suami bilang, lebih gampang bayar utang daripada menabung. Dan ini memang benar, berapapun uang tabungan yang kami simpan, pada akhirnya selalu habis tanpa jejak. Lain halnya ketika uang lebih yang kami miliki dipakai membayar utang untuk mencicil barang. Setidaknya setelah masa cicilan lunas, barang pun masih kita miliki.

Selain itu, kata suami saya, biaya perawatan mobil semakin tua usianya akan semakin mahal. Nah, daripada dipusingkan dengan biaya perawatan yang mahal itu, lebih baik mobil yang kami miliki sekarang ini kami jual. Sebagian uang hasil penjualannya bisa kami gunakan untuk DP mobil baru, sementara sisanya bisa kami gunakan untuk keperluan yang lain, misalnya renovasi rumah, biaya sekolah anak, atau bahkan bisa jadi modal usaha.

Cara seperti ini juga pernah kami terapkan saat kami berganti mobil beberapa tahun kemarin. Hanya saja, mobil pertama kami kredit melalui perusahaan pembiayaan yang lain. Nah, dari sinilah akhirnya kami tahu, bahwa tidak semua perusahaan pembiayaan memberikan kemudahan baik itu proses pengajuan, akad, bayar cicilan, sampai pelunasan.

Dibandingkan dengan perusahaan pembiayaan sebelumnya, jelas ACC lah yang nggak ribet dan memberikan banyak kemudahan dan keuntungan. Nggak percaya? Saya ceritakan pengalaman kredit mobil dengan ACC deh.

Setelah menjual mobil pertama kami, kami segera memilah dan memilih mobil mana yang kira-kira cocok dengan kebutuhan dan juga budget yang ada. Tak cukup lewat brosur atau informasi lewat internet ternyata. Karena kami pun harus mendatangi banyak pameran dan dealer. Jadilah suami segera mendatangi dealer untuk mencari tahu lebih jauh tentang mobil yang kami impikan, Daihatsu Terios.

Ini memang masih impian. Menurut perkiraan kami, dengan uang yang kami miliki saat itu, jelas mobil impian ini tidak mungkin kami miliki. Tapi tidak ada salahnya kan mencari tahu lebih banyak. Setidaknya, kami masih punya mobil pilihan lain. Tiap dealer pasti punya opsi pembelian mobil dengan cara kredit, baik itu melalui bank maupun perusahaan pembiayaan/leasing.

Meski kredit mobil melalui bank biasanya memiliki rate yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan leasing, kami sendiri memilih leasing dengan alasan prosedur kredit melalui leasing ini lebih mudah. Beruntung dealer mobil yang suami datangi saat itu menawarkan pembiayaan mobil melalui ACC.

Ternyata rate yang ditawarkan ACC untuk kredit mobil baru dengan uang muka yang kami miliki saat itu cukup rendah. Yang lebih menggembirakan lagi, saat itu Daihatsu sedang mengadakan program Paket Kredit Impian, di mana mobil yang kami impikan bisa kami miliki dengan uang muka yang tidak terlalu besar.

Kami hanya perlu menyicil 50% dari harga mobil selama 3 tahun, sedangkan sisanya dapat dilunasi atau dicicil kembali selama maksimal 3 tahun, atau tukar tambah dengan Daihatsu baru. Penawaran yang sungguh menarik untuk memiliki mobil impian. Setelah melengkapi berbagai persyaratan yang diperlukan, kami pun segera membayar tanda jadi sambil menunggu persetujuan kredit dari ACC. Bagi yang belum mengetahui persyaratan kredit dari ACC, berikut rincian dokumen yang harus dipersiapkan:

Dokumen yang harus dipersiapkan saat pengajuan kredit mobil ke ACC. Sumber: ACC

Selanjutnya pihak ACC akan melakukan verifikasi data yang telah kita berikan. Tidak lama, hanya perlu waktu sekitar 5 hari kerja, dengan riang suami mengabarkan bahwa kredit mobil impian kami disetujui. Jadilah saat itu kami sepakat menggunakan seluruh hasil penjualan mobil pertama sebesar kurang lebih 35 juta sebagai uang muka pembelian Daihatsu Terios. Sisanya, kami cicil dengan jumlah cicilan sebesar kurang lebih 3,5 juta. Ini sudah termasuk asuransi.

Aah… senangnya saat impian menjadi nyata.

Setelah resmi menjadi debitur, tentu saja kami menjadi memiliki kewajiban untuk membayar cicilan per bulan.

Urusan pembayaran kredit ACC ini mudah dan nggak ribet. Selain melalui rekening BCA, baik melalui ATM maupun klikBCA, pembayaran kredit ACC dapat dilakukan di kantor pos terdekat. Mudah dan cepat.

Bila ada keterlambatan pembayaran tentu saja ada sanksi berupa denda harian. Besaran denda disesuaikan dengan besaran cicilan bulanan. Yang paling penting, kami tidak perlu khawatir dengan BPKB kendaraan yang kami kredit.

Berdasarkan pengalaman mertua yang juga pernah memiliki kredit kendaraan bermotor di perusahaan pembiayaan lain, sebut saja PT M. ketika mertua sudah melunasi kreditnya, BPKB tidak dapat mertua bawa saat itu juga. Karena BPKB kendaraan mertua ada di perusahaan/bank lain yang kami sendiri tidak tahu ada di mana. Perlu 2-3 hari untuk menerima BPKB kendaraan mertua. Tentu saja mertua harus kembali ke kantor PT M, yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal mertua. Menyebalkan tentu saja. Karena mertua sudah melunasi kewajibannya, sementara haknya tidak dapat mertua terima dengan segera. Belum lagi perasaan khawatir akan keamanan BPKB kendaraan yang kita kredit. Ribet deh pokoknya.

Karena ACC merupakan perusahaan pembiayaan mobil dan alat berat terbesar di Indonesia, BPKB tetap berada di perusahaan pembiayaan tersebut dan tidak di-leasing-kan lagi ke perusahaan/bank lain. Bersama ACC, segalanya aman, nyaman dan yang jelas #nggakribet. Nah, mau juga punya mobil impian yang nggak pakai ribet? Ke ACC aja, yuk? Saya sendiri kalau diberikan rejeki dan kesempatan untuk kredit mobil lagi, sudah pasti kembali pakai ACC.

Continue Reading