Cerita Yang Tersisa dari AJA (Part 3 ~ Habis)

Cerita sebelumnya bisa dibaca di bagian 1 dan bagian 2… Karena ini bagian terakhir, harap siapkan mata dan nafasnya ya… Terima kasih sudah bersedia membaca seluruh rangkaian Cerita Yang Tersisa dari AJA ini… *lah, kaya’ ada yang mau bacadari awal  sampai selesai ajah :))))

Setelah suami melalui gerbang pemeriksaan, kami pun bergegas menuju tempat di mana banyak orang berkumpul. Bingung juga, ini ke mana ya? Di meja resepsionis ada tulisan media, NGO, dan entah apalagi, tidak semua terlihat karena memang banyak sekali yang antri. Ditambah lagi banyak orang menenteng kamera, sepertinya mereka wartawan gitu deh. Aduh, jadi grogi…

Tidak mau larut dalam kebingungan, saya bertanya ke panitia yang berdiri di pintu.

Mbak Ika dimana ya?“, tanya saya.

Mbak Ika di atas, bu“, laki-laki itu menjawab pertanyaan saya dengan datar.

Nggg… ini, saya dapat undangan masuk nominasi dari AQUA, terus kemana ya?”, tanya saya yang meski sudah pasang muka jaim ternyata masih aja kebingungan.

Oh, ibu pemenang ya??? Tunggu ya bu. Ibu siapa? Dari mana?“, laki-laki itu mendadak heboh dan mengajak saya segera naik ke atas.

Sampai di atas, kami diajak masuk ke ruang VIP. Di ruang VIP ini tersedia banyak makanan dan minuman. Ada Mami Ubii dan temannya, juga terlihat beberapa orang yang sepertinya orang penting. Wah… sumpah, baru kali ini saya dijamu seperti ini. Ah, pokoknya saya yakin muka saya saat itu katro banget deh ahahaha

Sebelum berangkat tadi anak-anak tidak sempat sarapan dan sepanjang perjalanan malah tertidur. Otomatis perut mereka belum terisi makanan apapun. Padahal kami sengaja mampir ke rest area untuk membeli makanan siap saji.

Anak-anak makan sandwich dan cemilan lain. Saya sendiri pilih kopi saja. Kebetulan sedikit pusing. Orang bilang mabok -_-

Orang-orang sudah masuk ke ruangan tempat acara dimulai, tinggal kami dan beberapa orang saja di ruang VIP ini. Tunggu anak-anak selesai makan dulu, kasihan… kelaparan wkwkwkwkwk

Masuk ke ruangan tempat acara, gelap! Yang terlihat hanya 2 MC di depan… Di dekat pintu sudah tidak ada kursi yang kosong. Saya mencari kursi kosong ke bagian kiri panggung. Setelah yakin banyak kursi kosong di sebelah kiri panggung, barulah saya memanggil suami dan anak-anak.

Kami duduk di barisan belakang. Terlihat Mami Ubii dan temannya beberapa baris di depan kami.

Acara dibuka dengan penampilan Emping Percussion. Keren. Modal harmonika, aqua botol dan galon, tak ketinggalan irama suara mulut bisa jadi musik perkusi yang enak didengar.

Emping Percussion, Source : twitter Empink Percussion

MC,  Budi Adiputro dan Louisa Iskandar, yang dua-duanya katanya presenter televisi itu mengumumkan kalau ada lomba live tweet dengan tagar #AJAIV. Harap maklum, jarang nonton, jadi tidak tahu kalau MC ini adalah presenter televisi. Segera saya serius mememperhatikan jalannya acara dengan harapan bisa beruntung menang live tweet. Tapi ternyata saya hanya sanggup serius sampai Vice President Corporate Secretary PT Tirta Investama, Ibu Parmaningsih Hadinegoro kemudian Corporate Communication Director PT Tirta Investama, Bapak Troy Pantouw memberikan sambutan.

Ibu Parmaningsih, Source: twitter Mami Ubii
Bapak Troy Pantouw, Source: dokpri

Setelah itu, saya tidak sanggup mengikuti acara dan melanjutkan live tweet.

Begitu pun ketika pakar jurnalis memberikan paparan mengenai jurnalistik konvensional vs jurnalistik warga. Saya malah sibuk memijat kepala sendiri. Maaf ya, bapak-bapak… huhuhuhu

Diskusi Jurnalisme Konvensional VS Jurnalisme Warga, Source : dokpri

Ruangan yang ber-AC semakin membuat kepala saya terasa berat. Suami yang melihat saya kepayahan kemudian berinisiatif memijat pundak saya. Alhamdulillah, mendingan, tapi tetap tidak bisa memperhatikan jalannya acara dengan baik.

Sampai tibalah waktu pengumuman pemenang. Dimulai dari Kategori Karya Foto Jurnalistik, kemudian Kategori Karya Foto Umum. Eh, ternyata urutan pemenangnya sesuai dengan urutan profil nominator di buklet. Penasaran, saya pun mencari profil saya.

Masya Allah… kalau dilihat urutannya, ini…. hah??? KESATU???? Ah, tidak mungkin.

Melihat profil saya ada di urutan kesatu malah membuat kepala saya semakin berat.

Tibalah pengumuman Kategori Karya Tulis Umum. Nama Mami Ubii disebut sebagai juara ketiga, menyusul Maschun Sofwan sebagai juara kedua (setahu saya Maschun blogger yang aktif berkontribusi di blogdetik). Kemudian nama saya benar-benar diumumkan sebagai juara kesatu. Terlihat profil dan pas foto di layar besar.. haduuhhh… itu pas foto… ckckck… buat KTP banget!

Alhamdulillah… benar-benar tidak menyangka dan sama sekali tidak bisa berkata-kata. Suami pun terbelalak mendengar saya jadi juara kesatu…

Kahijiiii!!!”, begitu katanya.

Sebelum naik ke panggung, salaman dulu sama Mami Ubii… dan kami berdua bersama-sama naik ke panggung.

Trofi dan hadiah yang segambreng itu diberikan oleh Pak Troy Pantouw.

“Ibu dari mana? Subang? Sudah pernah ke pabrik kita yang di Subang? Nanti kita atur jadwal kunjungan ke pabrik kita yang di Subang ya”, sambut Pak Troy dengan ramah.

Kembali speechless… tak heran jika Pak Troy ini dinobatkan sebagai Tokoh PR Terbaik. Ramah sekali (kalau Mas Didiet tipenya Mami Ubii, Pak Troy inilah tipe-tipe idola saya… ahahaha.. ikutan ngelantur)

Bersama Pak Troy, Source : AQUA
Bersama Pak Troy, Source : AQUA

Sumpah, masih pusing… hiks. Hanya berharap muka saya tidak terlalu kacau saat difoto banyak kamera di depan panggung ahahaha…

Kiri ke kanan : Pak Troy, Mami Ubii, Mas Eko "Item", Maschun Sofwan, saya, Mbak Cindy, Source : AQUA
Kiri ke kanan : Pak Troy, Mami Ubii, Mas Eko “Item”, Maschun Sofwan, saya, Mbak Cindy, Source : AQUA

Setelah berfoto bersama dengan Pak Troy, Mas Eko dan Ibu Cindy (Juri AJAIV), saya, Mami Ubii dan mas Maschun turun dari panggung.

Eh, setelah ini masih dijamu makan siang di ruang VIP. Kebetulan ada menu favorit Ceuceu, Teteh dan Ade, nasi goreng & mie goreng. Lumayan, makan gratis hehehe

Di sini kepala saya malah kembali terasa berat. Apa yang saya takutkan hampir saja terjadi. Lari ke toilet. Di toilet malah antri dan banyak yang kasih ucapan selamat. Alamaakkk… ini orang-orang gak liat saya keringetan menahan mual kali ya? Huhuhu…

Ok, bagian ini saya skip.

Handphone yang sudah sejak tadi habis batre ditambah powerbank yang tertinggal kabelnya di tas yang satu lagi membuat saya tidak bisa segera eksis. Beruntung masih ada handphone suami dan juga Mami Ubii yang mengajak foto-foto.

Bersama Mami Ubii, source : Mami Ubii
Bersama Mami Ubii, source : Mami Ubii

Makasih ya Mami Ubii… :*

Terus? Terus ya pulang… eh, ke Cikarang dulu sih. Nganterin barang lelang. Sampe Cikarang dijamu capcin dan dibekali pizza. Makasih Neny 😀

Sungguh sebuah pengalaman yang pastinya tidak akan terlupakan. Lalu bagaimana dengan “proposal” program WASH di desa saya? Karena kemarin di acara malah mabok, jadi tidak sempat ngobrol banyak dengan AQUA.. hiks. Tapi mudah-mudahan ajakan Pak Troy berkunjung ke pabrik AQUA di Subang bisa terlaksana… Aamiin :)

Terus yang ke Paris siapa??? Baru sampai Jakarta saja sudah mabok, ini koq menghayal ke Paris… wakakaka

Yang ke Paris wartawan MetroTV. Yang satu meliput Laskar Pencari Air, saya pernah menonton liputannya. Dan hasil liputannya bagus sekali. Juri juga menilai perlu teknik yang tinggi, perlu momen yang tepat dan sampai nyelip-nyelip di batukarang Gua Waeparoro, Sumba, NTT untuk mendapatkan gambar anak yang sedang mencari air.

Sangat layak jadi juara dan sangat berhak mendapatkan hadiah ke Paris. Ditunggu hasil liputannya, mas… 😀

Bagi saya ini benar-benar pencapaian luar biasa yang tidak terduga. Alhamdulillah… Terima kasih atas semua dukungan dan do’a. Terima kasih BlogDetik. Terima kasih AQUA…

Continue Reading

Cerita Yang Tersisa dari AJA (Part 2)

Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini

Segera saya memberi komentar di postingan Mami Ubii, bahwa saya juga mendapatkan email dari panitia untuk hadir di acara penyerahan hadiah Anugerah Jurnalistik Aqua IV, 23 Oktober 2014 di Erasmus Huis Jakarta.

Penyerahan hadiah? Menang gitu? Ah, beberapa lomba (yang tidak saya ikuti) kemarin ada juga yang mengundang banyak nominator dan tidak semua yang diundang menang. Jangan geer dulu…

Sore itu saya tidak berhenti tersenyum. Lebay ya…

Berulang kali email dari panitia saya buka dan baca. Di email itu tertulis bahwa saya harus menghubungi Mbak Ika. Tapi saya tidak segera menghubungi Mbak Ika. Sampai Mami Ubii mengirim pesan di fb, saya belum juga menghubungi Mbak Ika.

3 hari sesudah menerima email, barulah saya mengirim pesan ke Mbak Ika via whatsapp. Sayangnya, jawaban Mbak Ika pendek-pendek. Membuat saya enggan dan sungkan menghubungi Mbak Ika lebih banyak.

Selanjutnya berbagai informasi saya dapatkan dari Mami Ubii. Termasuk urusan harus membuat cerita di balik karya plus foto yang harus dikumpulkan maksimal tanggal 10 untuk dijadikan buklet, dresscode, sampai urusan bahwa yang diundang adalah pemenang.

Hah? Menang? Alhamdulillah. Jadi nih ke Paris… #eh

Terakhir Mami Ubii mengabarkan kalau transportasi dari Yogya ke Jakarta ditanggung panitia. Sementara saya? Jangankan soal transportasi, cerita di balik karya saja saya tidak diberi tahu tuh… hiks.

Saya yang tadinya semangat mendadak jadi galau. Bagaimana tidak? Mami Ubii mendapatkan banyak informasi dari Mbak Ika, sementara saya kalau bertanya dijawab seperlunya saja.

“Ini benar gak sih kalau saya diundang jadi nominator? Ah, semakin yakin deh kalau Mami Ubii yang dapet juara satu”, begitu pikir saya.

Ya, siapa pun yang membaca tulisan Mami Ubii tentang air ini pasti setuju, kalau Mami Ubii layak jadi juara. Saya sendiri harus bersyukur sudah bisa masuk nominasi. Alhamdulillah.

Tanggal 9, saya baru menanyakan soal “Cerita di balik karya” ini ke Mbak Ika. Dan Mbak Ika bilang, “belum saya kasih tau ya?” ehuehuheu… Untung saya ini penganut deadliner sejati. Jadi ya tidak masalah saat baru diberitahu Mbak Ika sehari menjelang deadline.

Tanggal 10 sore barulah saya membuat “Cerita di balik karya” yang diminta, itu pun lupa tidak sekalian dengan fotonya. Duh…

H-3 Mbak Ika baru menanyakan foto yang diminta. Karena tidak punya stok foto sendiri selain selfie, akhirnya saya kirim pas foto. Sepertinya tidak lucu sekali kalau foto selfie mejeng di buklet. Tapi, pas foto lebih gak lucu lagi… -_-

Saya pun kembali menanyakan, wajibkah saya datang ke Erasmus Huis? Jawaban Mbak Ika cukup jelas, “Wajib mbak”. Titik. Udah gitu aja.

H-1 saya masih juga kebingungan soal transportasi, akhirnya nekat melelang salah satu hadiah lomba ke teman di Cikarang. Maksudnya pulang dari Erasmus mau mampir ke Cikarang, antar barang lelangan, uangnya buat bayar bensin dan sopir. Tadinya sih mau sekalian menagih hadiah lomba beberapa bulan yang lalu ke Serpong, tapi panitia yang ini menghindar terus. Jadi ya sudah… berharap punya ongkos dari hasil lelangan saja deh.

Hari H pun tiba. Alarm lupa dinyalakan! Bangun sedikit kesiangan. Ditambah riweuh bangunin krucils yang biasanya bangun siang, berangkat dari rumah mundur setengah jam dari yang direncanakan. Ini pun yang bungsu malah tidak mandi sama sekali. Sepanjang jalan terus berdoa agar tidak terjebak macet. Menuju Jakarta, dari Bandung jam 7, sepertinya rawan macet. Alhamdulillah… jalanan lancar. Meski pakai GPS, tetap saja sampai Jakarta bingung keluar dari tol mana. Lebih aman tanya yang hafal Jakarta.

Sukses keluar tol Cawang dan sampai di Rasuna Said, kami menepi di sebuah gedung. Berdasarkan petunjuk GPS dan google maps, gedung tempat kami berhenti inilah yang disebut Erasmus Huis. tapi ternyata, satpam gedung bilang “Erasmus Huis udah kelewat Bu!”.

Ternyata benar kata Ghiri, meski sama-sama GPS, tapi jauh lebih tepat Ghiri Positioning System. Haghaghag… Makasih ya Ghir, besek menanti 😛

Halah… kami pun memutari jalan, dan akhirnya ketemu sama Erasmus Huis tepat jam 10. Kedutaan Belanda! Dulu pernah hampir mampir ke sini demi mengejar mimpi, tapi tidak jadi. Sekarang mampir beneran!!!

Sampai di gerbang, di belakang sudah antre kendaraan lain yang mau lewat dan semuanya membunyikan klakson. Harap maklum, jalanan di depan Erasmus Huis hanya cukup untuk satu kendaraan. Repot menggiring krucils turun dari mobil buru-buru. Si bungsu sandalnya tertinggal, saya pun hanya membawa satu tas. Suami dan sopir juga buru-buru meninggalkan kami bertiga di gerbang.

“Masuk duluan aja, cari tempat parkir dulu”, kata suami.

Saya dan anak-anak melewati gerbang pemeriksaan dan disuruh masuk ke bagian kanan gedung. 5 menit, 10 menit, suami tidak kunjung datang. Saya pun mengirim BBM, “masih lama? bawain sandal Ade ya”.

Suami bilang masih cari tempat parkir. Selang 2 menit, eh baru sadar kalau kamera ada di tas yang satunya lagi. Di tas yang saya bawa hanya ada laptop dan lensa cadangan. Segera saya BBM suami, tak kunjung ada balasan, dibaca pun tidak hehehe…

Saat saya telepon meminta dibawakan kamera katanya tanggung sudah jalan kaki, dan tempat parkirnya jauh dari Erasmus Huis. “Kenapa dicicil sih? Ini udah jalan“, tegur suami ^_^

Di bawah celingukan cari Mami Ubii… Eh, ternyata Mami Ubii baru datang, berdua dengan temannya. Karena Mami Ubii mau langsung pulang ke Yogya hari itu juga dan bawa tas besar, setelah cipika cipiki Mami Ubii segera mencari panitia untuk menitipkan tasnya. Sementara saya was-was tunggu suami.

Akhirnya suami sampai juga di Erasmus Huis… plus sandal si bungsu tentunya hehehe

Continue Reading

Cerita Yang Tersisa dari AJA (Part 1)

Ketika saya membaca postingan Grace Melia (Mami Ubii) di KEB yang menanyakan apakah ada Emak Blogger yang mendapat pemberitahuan nominasi Anugerah Jurnalistik AQUA IV, saya masih cuek.

“Ah, ke saya gak ada email nih,” begitu pikir saya.

Saya pun teringat proses membuat tulisan untuk lomba ini. Beberapa minggu sebelum deadline, saya banyak membaca berita kekeringan di daerah Subang Selatan. Saya pikir ini kesempatan bagus untuk dijadikan bahan tulisan. Tapi seperti biasa, saya kebingungan membuat prolog. Ya sudah, berita-beritanya dibookmark saja dulu.

Kemudian saya juga membaca berita tentang program CSR AQUA di daerah Ciater, di mana warga di sekitar Ciater yang memiliki banyak sumber mata air melimpah, malah kekurangan air bersih karena ketiadaan saluran dari sumber mata air ke rumah warga. AQUA melalui program WASH membantu warga di Ciater agar mendapatkan akses menuju air yang bersih dan sehat. Nah ini bagus nih, inginnya sih saya blusukan ke Ciater atau ke Cisalak, tempat di mana AQUA sudah melaksanakan program WASH ini. Meliput hasil CSR AQUA di sana pastinya bakal jadi tulisan yang (menurut saya) bagus.

Duh, tapi rasanya masih kurang jos tuh idenya. Masa gitu doank? Sambil membaca postingan peserta lain dan juga pemenang lomba AJA tahun sebelumnya, saya tanya teman saya, Rina, apakah Rina ikut lomba AJA yang sekarang?

Ternyata Rina bilang tidak, soalnya idenya mainstream katanya. Kalau ada kesempatan, tadinya Rina mau membahas pengolahan air di desa-desa. Sayang Rina tinggalnya di Ciputat, jauh dari desa hehehe

Atas saran dari Rina, keinginan saya untuk blusukan ke Ciater atau Cisalak semakin menguat. Sayangnya meski dekat dengan tempat saya tinggal sekarang, saya tidak sempat ke sana.

Ah, saya jadi ingat kalau desa saya juga memiliki banyak sumber mata air seperti di Ciater. Dan meski banyak sumber mata air, warga desa saya juga masih ada yang harus berjalan berkilo-kilo meter menuju pemandian umum untuk beraktivitas seperti mencuci, mandi, cuci piring dan juga membawa air bersih dari sumber mata air ini ke rumahnya. Jalannya cukup bikin ngos-ngosan, selain jauh dari pemukiman, tanjakannya juga lumayan terjal.

Sampai akhirnya waktu deadline tiba, belum ada satu paragraf pun yang saya tulis. Lalu bagaimana dengan referensi pengolahan air seperti yang Rina sarankan? Aduh, ini sih alamat tidak jadi ikut lomba.

Nah, kalau saya tidak kunjung mendapatkan sumber referensi seperti yang Rina sarankan, kenapa tidak saya manfaatkan saja lomba ini untuk membuat semacam proposal ya? “Proposal” agar AQUA juga membuat program WASH di desa saya. Soalnya saluran dari sumber mata air ke rumah warga ini pernah jadi wacana, hanya saja terkendala dana. Tapi meski sudah cukup sering bermain ke sumber mata air yang dimaksud, saya belum punya fotonya. Padahal untuk membuat “proposal” seperti ini tentunya perlu foto-foto pendukung.

Tepat di hari deadline, pagi-pagi sekali saya meminta ijin kepada suami, mau blusukan sama anak-anak ke sumber mata air yang ada di desa saya. Tidak tanggung-tanggung, 3 mata air yang berjauhan sekaligus, jalan kaki ramai-ramai. Koq anak-anak mau diajak blusukan begini? Berenang di sumber mata air terakhir imbalannya ahahaha

Alhamdulillah, diijinkan. Setelah pekerjaan di rumah selesai, kami pun berangkat jam 11 dan pulang ke rumah jam 5 sore dalam keadaan sangat capai. Bayangkan saja, jalan kaki sekitar 10 kilometer pulang pergi, sambil menggendong si bungsu, jalannya naik turun pula. Beruntung Ceuceu dan Teteh tetap semangat mengantar emaknya sampai selesai.

Setelah urusan makan anak-anak selesai, tanpa sempat mandi saya segera duduk di depan laptop. Halaman yang tadinya kosong perlahan mulai diisi huruf demi huruf, sampai jadilah tulisan saya yang ini beberapa menit sebelum waktu pendaftaran tutup.

Tulis, daftar, lupakan. Tak kunjung ada pengumuman, kecuali pengumuman pemenang yang mengikuti kegiatan offline Ngablogburit ke Pabrik AQUA, membuat saya semakin melupakan lomba ini. Ah, sudahlah… dibaca juri saja sudah lumayan, mudah-mudahan AQUA juga ikut baca.

Saya tidak mau berharap banyak, karena tulisan blogger lain sudah jelas jauh lebih bagus. Hanya saja saya menaruh harapan besar agar tulisan saya dilirik AQUA, tidak lain dan tidak bukan, siapa tahu warga di desa saya juga bisa mendapatkan bantuan seperti warga desa di Ciater dan Cisalak.

Sampai akhirnya siang itu Mami Ubii membuat postingan di KEB, dan ya… saya semakin hopeless karena tidak mendapatkan notifikasi email baru. Menjelang sore, barulah saya cek akun email saya yang lain, dan ternyata ada email berlabel kuning (high priority), dengan nama pengirim lombaaja4. Aduduh… saya lupa, daftar lombanya pakai email yang ini bukan yang itu. Pantas saja tidak ada notifikasi email baru 😀

Continue Reading

Fun Experience with Central Springbed

SS 2014-10-22 at 1.44.26 AM

“JANGAN LONCAT-LONCAT DI KASUUUUUUUUUURRRRRRR!!!!”

Teriakan histeris saya saat melihat anak-anak loncat-loncat di kasur membuyarkan tawa riang mereka. Ceuceu, Teteh, dan Ade mendadak diam seribu bahasa. Semua duduk dengan muka ketakutan.

“Kalian gimana sih? Kasur mamah rusak donk kalau dipake loncat-loncat!!!“, saya masih tidak berhenti memarahi mereka.

Tapi Mah, kalau kita loncat-loncat di kasur di rumah Nene koq gak pernah dimarahin???“, tanya Ceuceu, si Sulung.

Di Nene kasurnya bagus tauk! Dipake loncat-loncat juga gak bakal rusak. Dulu juga Mamah sering loncat-loncat di sana,” saya pun mengenang masa-masa di mana saya memiliki Fun Experience with Central Springbed.

Bukan hanya saya, tapi ketiga kakak laki-laki saya pun memiliki Fun Experience with Central Springbed. Tentunya pengalaman kami berbeda-beda. Seingat saya, Abah dan Nene membelikan kami Springbed Central ukuran Full Size di tahun 1990, bersamaan dengan kepindahan kami ke rumah yang ditinggali Abah dan Nene sampai sekarang. Saat itu saya masih duduk di kelas 4 SD. Masing-masing mendapatkan satu kamar dan tentu saja satu springbed. Tidak hanya mengisi kamar anak-anaknya, ranjang di kamar Abah dan Nene juga menggunakan Springbed Central.

Fun Experience with Central Springbed kakak laki-laki pertama saya adalah saat teman-temannya berkumpul sepulang sekolah hanya untuk bermain gitar atau menonton televisi di atas kasur. Sementara Fun Experience with Central Springbed kakak laki-laki kedua saya adalah saat teman-temannya bermalam di rumah untuk mengerjakan tugas. Tidak tanggung-tanggung, malah bisa sampai 15 orang tiap kali kumpul. Yang membuat geli adalah ketika mereka berebut, siapa yang tidur di atas kasur? Agar adil, siapa yang kebagian tidur di kasur pun akhirnya dijadwal hahaha…

Kakak laki-laki ketiga memiliki Fun Experience with Central Springbed yang lain dari yang lain. Teman-teman kakak ketiga ini seringkali menjadikan kamar kakak sebagai tempat persembunyian untuk… merokok! Tak jarang api rokok dan tumpahan kopi mengenai springbed di kamarnya. Tapi Abah dan Nene tidak membelikan kasur pengganti untuk kakak ketiga. Selain sebagai hukuman, Springbed Central di kamar kakak ketiga ini juga tidak mengalami kerusakan yang berarti kecuali kotor.

Saya sendiri memiliki Fun Experience with Central Springbed yang luar biasa. Selain seringkali dipakai loncat-loncat, Springbed Central kesayangan ini nasibnya sungguh mengenaskan. Bagaimana tidak? Saya memang memiliki kebiasaan buruk, masih mengompol tanpa sadar sampai saya duduk di bangku kelas 1 SMP. Sudah tidak terhitung bekas ompol di Springbed Central saya. Setiap kali Springbed Central basah kuyup terkena ompol, lalu saya membersihkan sendiri bekas ompol di springbed kemudian dibantu Abah menggotong springbed ini untuk dijemur di halaman sampai saya pulang sekolah.

Suatu hari saya kembali mengompol di kasur dan Abah sedang dinas luar kota. Karena tidak kuat menggotong springbed sendirian, setelah dibersihkan springbednya tidak dijemur. Dan ya, sampai malam tiba, springbed saya tidak kunjung kering. Akhirnya saya tidur di kasur Nene. Cihuyy… Fun Experience with Central Springbed kali ini di springbed King Size!!! Nene sudah mewanti-wanti agar saya buang air kecil terlebih dahulu sebelum tidur. Tapi dasar kebiasaan, meski sudah buang air kecil, saya tetap mengompol tuh. Alhasil kasur Abah pun basah kuyup. Padahal saat itu musim hujan, cuaca tidak memungkinkan untuk menjemur springbed. Sementara nanti malam Abah pulang.

Nene berinisiatif menjemur springbed dengan… lampu! Sayangnya panasnya lampu yang terlalu dekat dengan springbed malah merusak kain pelapis Springbed Central milik Abah. Kering sih, tapi bolong besar sekali hahaha. Beberapa bulan kemudian springbed Abah dibawa ke tempat service untuk diganti kain pelapisnya.

Hingga saat ini Springbed Central ini masih dipakai oleh Abah dan Nene, lho. Abah pun menikmati Fun Experience with Central Springbed dengan caranya sendiri. Abah menderita stroke sampai anggota badan bagian kirinya mengalami kelumpuhan. Sekarang kegiatan Abah lebih banyak dilakukan di atas kasur. Ketika kami menawarkan untuk mengganti kasur, Abah menolaknya. Kata Abah, kasur Abah sudah sangat enak dan nyaman. Lagipula ini springbed kenang-kenangan katanya. Kenang-kenangan diompolin saya sampai bolong haha…

Fun Experience with Central Springbed Abah lainnya adalah tidur yang tetap nyaman dan relaks. Meski sudah berumur 24 tahun Springbed Central Abah memang masih nyaman digunakan.

Untuk Abah yang menderita stroke, posisi tidur jelas sangat berpengaruh untuk mempercepat proses penyembuhannya. Jangan sampai gara-gara kasur tidak dapat menyesuaikan lekuk tubuh Abah saat tidur, relaksasi Abah menjadi terganggu. Hasil terapi berbulan-bulan pun bisa sia-sia dilakukan. Untungnya Springbed Central memiliki pegas yang bagus dan membuat kasur nyaman untuk tidur, bisa lentur mengikuti gerakan tubuh sehingga otot-otot tubuh Abah bisa benar-benar santai.

Kemarin ada BBM dari Oomnya Ceuceu, Teteh dan Ade, mengirimkan foto anak-anaknya yang kembar sedang loncat-loncat di atas kasur bekas ayahnya, yang tak lain adalah kakak laki-laki ketiga saya. Benar-benar Fun Experience with Central Springbed!!!

SS 2014-10-22 at 1.39.36 AM
Loncat-loncat aman, tidur tanpa seprei pun tetap nyaman… Central Springbed gak panas tuh :)

Wow! Springbed Central memang dahsyat. Tak heran jika Springbed Central berani memberikan garansi 10 tahun untuk pegas. Buktinya meskipun springbed Central ini terkena api rokok, tumpahan kopi, dan masih dipakai loncat-loncat keponakan padahal umurnya sangat tua untuk ukuran springbed (24 tahun lho!) , Springbed Central belum mengalami kerusakan yang berarti. Bahkan ketika saya coba membalikan Springbed Central, tidak terdengar bunyi pegas yang patah seperti yang terjadi pada springbed di rumah saya. Yang tidak kalah penting, meski boleh dibilang Springbed Central di rumah Abah dan Nene sudah uzur, tapi tidak ada tungau/serangga yang bersarang di Springbed Central. Padahal Springbed Central-nya sudah sering saya ompolin. Keren kan? Yang tak jadi sarang tungaunya yang keren, bukan ompolnya.. hehe

Saat kami berkunjung ke rumah Abah dan Nene kemarin, yang pertama kali diburu oleh anak-anak adalah kamar saya di lantai 2. Tentu saja untuk loncat-loncat di atas Springbed Central milik saya! Hahaha… Have Fun Experience with Central Springbed, ya Kiddos!

SS 2014-10-22 at 1.44.26 AM

Disclaimer : Tulisan ini diikutsertakan pada lomba blog Fun Experience with Central Springbed.

Isi tulisan di luar tanggung jawab PT. Graha Seribusatu Jaya

Fun Experience With Central Springbed
Continue Reading

Mainan baru di Google

Seharusnya sekarang ini saya menyelesaikan tugas, tapi koq ya males? Soalnya harus membuat biografi. Sementara saya bingung menggambarkan seperti apa saya sebenarnya? Ah, ini pasti karena saya kebanyakan menilai orang lain, sementara saya sendiri lupa bercermin. Duh!

Karena belum mendapat satu kata pun untuk biografi, saya malah ingin main game. Tapi, Candy Crush juga belum naik-naik levelnya. Susah. Ditambah sekarang saya sudah tidak pakai cheat. Jadinya harus menunggu kiriman live dari orang lain.

Game apalagi ya? Ah, iya! Tadi sore Ceuceu dengan riang memanggil saya yang sedang masak di dapur. Jangan bayangkan saya masak yang aneh-aneh ya. Cuma telur koq. Itu juga mata sapi, yang tinggal dipecah kemudian ditaburi garam tanpa dikocok.

Ceuceu tadi menunjukkan bahwa di Google juga ada game. Namanya Zerg Rush. Caranya? Cukup klik google.com kemudian masukkan “Zerg Rush” di kotak pencarian.

Nanti keluar beberapa buah huruf O, warnanya kuning dan merah. Huruf-huruf  O ini akan semakin banyak jumlahnya. Dan yang menyebalkan, semua hasil pencarian dihancurkan oleh huruf O ini sampai halaman menjadi kosong.

SS 2014-10-09 at 11.20.13 PM

Setelah menghancurkan hasil pencarian, huruf O ini kemudian berkumpul membentuk 2 buah huruf G. Persis seperti warna huruf G dalam kata Google.

SS 2014-10-09 at 11.18.51 PM

Untuk menyelamatkan hasil pencarian, kita bisa menyerang balik huruf O ini dengan mengarahkan kursor ke huruf O dan meng-klik-nya. Lebih lengkapnya, lihat panduan memainkan Zerg Rush di bawah.

Ah, susaaahhh!!! Ahahaha.. kemana saja saya selama ini? Koq tahunya cuma Google Doodle ya?

Tentang Zerg Rush

Zerg Rush ini merupakan fitur easter egg terbaru yang diluncurkan Google di tahun 2012. Diberi nama Zerg Rush, karena idenya diambil dari game StarCraft 2 yang dibuat oleh Blizzard, perusahaan pengembang game World of Warcraft.

Di Starcraft 2 ada tiga jenis penghuni, yaitu Protoss, Terran dan Zerg. Zerg adalah bangsa alien. Para Zergs ini mempunyai pasukan unik dengan nama “Zergling” yaitu alien kecil yang tugasnya menyerang sebuah bangunan secara berkelompok.

Pasukan Zergling dalam jumlah besar dan menyerang ke arah musuh secara bertubi-tubi inilah yang disebut “Zergling rush“.

Halah, halah… meski sederhana, tapi buat saya game nya bikin penasaran. Gemas karena susah menyerang balik si O yang datang rombongan ini. Alamat biografi yang seharusnya besok dikumpulkan gak kelar-kelar nih… :)))))

Continue Reading